Sunday, May 17, 2020

Review: Pelajaran Hidup dari The World of the Married


Bukan sekadar drama pelakor, the World of the Married memberikan banyak pelajaran hidup


Drama Korea (drakor) The World of the Married (TWOTM) besutan JTBC yang menjadi perbincangan sejak awal tayang, menutup episode final dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan. Bukan sesuatu yang aneh, drama ini benar-benar memberikan cerita yang tidak bisa ditebak dan penuh plot twist sepanjang episodenya. Menonton setiap episode TWOTM tidak memberi ruang penonton untuk berpaling sedetikpun, karena setiap adegannya sangat bermakna walaupun tanpa dialog. Saya sendiri merasakannya terutama di episode 10, apalagi di menit-menit akhir. 

TWOTM memang konsisten mencatat rating tinggi sejak episode pertama, dan terus memiliki rating dua digit di episode ketiga sampai terakhir pada tanggal 16 Mei kemarin. Tidak hanya itu, di Indonesia pun, setiap akhir pekan TWOTM selalu memuncaki trending topic twitter. Banyak orang Indonesia yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti drakor, penasaran dengan drama ini dan memutuskan menontonnya. Saya sendiri yang sudah sekitar satu tahun tidak menonton drakor, akhirnya turun gunung juga karena melihat seringnya berseliweran di timeline haha.

Adaptasi dari serial BBC UK - Doctor Foster

TWOTM diadaptasi dari serial Doctor Foster yang ditayangkan BBC UK. Apabila Doctor Foster terdiri dari dua musim dengan total episode 10, maka TWOTM memiliki jumlah 16 episode. Menilik dari posternya yang terfokus akan adanya darah pada cincin pernikahan, sudah terlihat garis besar cerita yang akan terpusat pada dunia pernikahan. Serial Koreanya memiliki fokus pada pasangan menikah yang tinggal di kota kecil Gosan, tidak hanya pada masalah sang tokoh utama seperti serial aslinya. Perbedaan tersebut membuat drakor ini memiliki banyak pelajaran hidup yang dapat ditarik.

Postingan ini mungkin mengandung spoiler, karena mengandung semua yang terjadi dari episode awal sampai terakhir. Jadi, silakan berhenti di sini apabila belum menonton drakornya dan tidak mau tahu lebih jauh ya.

Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Lemah, Melainkan Awal dari Berdamai dengan Diri Sendiri

ki-ka Da Kyung, Ye Rim dan Sun Woo

Ji Sun Woo, Yeo Da Kyung dan Go Ye Rim terlihat sebagai wanita yang kuat dengan pendirian masing-masing yang sulit digoyahkan. Ketiga wanita ini berusaha mempertahankan harga diri masing-masing, dengan berbagai cara, yang akhirnya malah menjerumuskan mereka pada penderitaan lain. Saat kita mampu mengakui kelemahan diri, jalan menuju kedamaian hidup pun tercipta. Ketiga wanita ini contohnya. 



Ji Sun Woo yang tidak lagi memiliki keluarga, hanya punya Joon Young sang anak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keberadaan sang anak di sisinya. Keinginannya ini diwujudkan dengan berbagai cara, mulai dari memastikan Tae Oh sang mantan suami menjauh dari hidup anaknya (dengan membuat sandiwara yang hampir menewaskan dirinya), melabrak pembuat gosip yang mengganggu pikiran anaknya (yang ujung-ujungnya justru membuat sang anak malu), menyalahkan rekan psikiaternya karena menyembunyikan konsultasi yang dilakukan Joon Young sampai membela anak sepenuh hati tanpa pernah paham masalah yang menimpa anaknya serta mengatur seluruh aspek kehidupan si anak.

Ketika Joon Young muak dan akhirnya memilih tinggal dengan sang ayah, barulah Sun Woo terpuruk. Ia pun mencari bantuan ke psikiater. Sayangnya, di sini Sun Woo masih menyalahkan dirinya sendiri yang berujung dengan keputusasaan yang kembali hampir merenggut jiwanya. Pada episode final, ketika Joon Young yang kembali tidak tahan dengan sang ibu memilih melarikan diri, Sun Woo menyerah dan mengakui kesalahan dirinya. Selama ini ia selalu berusaha mempertahankan banyak hal namun tidak tahu apa yang sebenarnya penting untuk dirinya. Kali ini, Sun Woo membiarkan Joon Young dengan kehidupan barunya (dan cukup melihat dari kejauhan) dan menunggu sampai anaknya itu siap kembali ke pelukannya.



Yeo Da Kyung terus memiliki kecurigaan akan kelakuan suaminya, Tae Oh. Da Kyung curiga Tae Oh masih berhubungan dengan mantan istrinya, Sun Woo. Da Kyung bahkan menugaskan salah satu karyawan Tae Oh untuk memata-matai suaminya itu. Berbagai bukti yang diterima dari si karyawan, peringatan Sun Woo bahkan Ye Rim, yang terus menyebutkan tentang kelakuan Tae Oh yang tidak akan pernah berubah tidak digubrisnya. Salah satu langkah yang dilakukan Da Kyung untuk menyelamatkan pernikahannya adalah membawa Joon Young, anak Tae Oh dan Sun Woo, ke rumahnya. Da Kyung bahkan menyelamatkan Joon Young dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah demi membuat Tae Oh terkesan.

Da Kyung juga masih memberi Tae Oh kesempatan walau suaminya telah mengakui berselingkuh dengan Sun Woo. Ia melakukan apapun demi mempertahankan imej pernikahan yang sempurna. Namun, semuanya jatuh ketika Sun Woo kembali memperlihatkan pada Da Kyung seperti apa pribadi asli Tae Oh. Saat itu juga Da Kyung menyadari kebodohannya, dan memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan Gosan (untuk kedua kalinya). Memulai kehidupan barunya, Da Kyung kembali ke bangku kuliah dan melupakan cinta untuk sementara waktu.


Go Ye Rim adalah perempuan lain yang berusaha keras mempertahankan pernikahannya. Saya sempat kesal melihat perempuan ini mau saja menjadi bulan-bulanan suaminya. Je Hyuk, sang suami, terang-terangan memuji wanita lain di hadapan Ye Rim. Je Hyuk bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya didengar sang istri. Je Hyuk memperlakukan Ye Rim seperti pembantu, dan tidak pernah mau mendengar keinginan sang istri. Ye Rim pun bukan tidak tahu semua kelakuan sang suami di belakangnya, namun ia memilih bertahan. Ketika Je Hyuk berselingkuh dengan Sun Woo pun, dengan pongahnya Ye Rim mengatakan pada Sun Woo kalau hal itu tidak akan menghancurkan pernikahannya. 

Penyesalan pertama Ye Rim muncul ketika Je Hyuk yang tidak pernah menginginkan kehadiran anak, tiba-tiba saja menyetujui keinginan sang istri memiliki anak. Kebahagiaan Ye Rim bersifat sementara, karena di tengah-tengah euforia proses persiapan memiliki anak, Ye Rim kembali mengetahui sang suami selingkuh. Saat itulah Ye Rim memutuskan bercerai. Je Hyuk yang tidak ingin kehilangan Ye Rim, terus berusaha mendekati mantan istrinya itu sampai akhirnya mereka menikah kembali. Namun, sejarah perselingkuhan Je Hyuk membuat Ye Rim trauma dan memilih meninggalkan Je Hyuk (dan Gosan) selamanya. Melalui episode terakhir, terlihat Ye Rim bahagia dengan keputusannya ini, dan sang mantan suami malah sepenuhnya belum bisa move on.

Setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya dan Terkadang Karma itu Nyata Adanya




Melihat Lee Tae Oh terpuruk di episode 15 dan 16 pasti membuat semua penonton TWOTM bersorak gembira, saya salah satunya haha. Laki-laki yang sudah memiliki segalanya, dan melepas semua namun pada akhirnya tidak bisa sepenuhnya melepaskan kehidupan yang sudah ditinggalkannya ini benar-benar bikin emosi. Maunya apa? Sebelumnya sudah punya keluarga yang sempurna, namun ditinggalkan. Keluarga baru yang dimilikinya pun tak kalah sempurna, tapi masih saja ingin memiliki keluarga yang lama. Kan maruk ya. Sempat terpikir apakah pria ini akan menerima karmanya, karena setiap episode kok malah semakin jemawa dan enggak tahu malu ya. Namun akhirnya episode 15 memberikan jawabannya, Tae Oh kehilangan semua yang dimilikinya dalam satu hari. Salah satu adegan yang paling memorable buat saya ketika ia memungut uang yang dilemparkan Sun Woo, sungguh harga dirinya sudah jatuh ke titik terendah.

Kehidupannya semakin menyedihkan di episode 16, ketika ia memohon kepada Sun Woo untuk menerima dirinya kembali. Konsisten enggak tahu malu sampai episode terakhir ya pria ini. Namun, kepergian Joon Young akhirnya membuat Tae Oh sadar untuk menata kembali hidupnya.  Ia mulai mencari pekerjaan dan berusaha hidup lebih baik.


Episode 9 tentu paling ditunggu-tunggu untuk semua penonton drakor ini yang kesal banget sama Da Kyung. Kali pertama Da Kyung mengetahui kalau sang suami, Tae Oh, masih terobsesi pada mantan istrinya. Penggambaran adegannya pun persis sama ketika Sun Woo mengetahui perselingkuhan suaminya dulu di episode 1. Da Kyung yang terus mengabaikan semua peringatan orang tentang perangai Tae Oh yang tidak mungkin berubah (once a cheater, always a cheater), akhirnya merasakan akibatnya.

Walaupun banyak penonton mengutarakan kekecewaan mereka akan ending drama ini yang dinilai menguntungkan Da Kyung, mengingat ia mendapat kesempatan kembali ke bangku kuliah dan ditaksir cowok tampan pula, namun saya justru berpikir sebaliknya. Masa muda Da Kyung yang seharusnya menyenangkan, malah hancur karena bertemu Tae Oh. Da Kyung harus menerima kenyataan menjadi dewasa lebih cepat, memiliki anak sekaligus bercerai di usia muda. Saya pikir konsekuensi itu cukup berat untuk seorang perempuan yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, namun menghancurkannya karena salah mengambil keputusan.



Walaupun kelihatannya hidup Son Je Hyuk baik-baik saja setelah berpisah (kedua kalinya) dengan sang istri, Yerim, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Je Hyuk tersiksa. Salah satu adegan di episode terakhir memperlihatkan Je Hyuk mengamati kue kesukaan sang mantan istri cukup lama. Ini sejalan dengan pernyataan Je Hyuk di salah satu episode, pria tidak akan mudah melupakan cinta yang datang sebelumnya. Walaupun saat mengatakannya, Je Hyuk merujuk pada kondisi Tae Oh, tapi di episode 16 ini terlihat kalau sebenarnya kata-kata itu lebih cocok disematkan untuk dirinya. 

Je Hyuk memang memiliki banyak ucapan yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada episode awal, pria ini juga menyebutkan tentang pria yang tidak mungkin bisa hidup dengan satu perempuan saja. Nyatanya, saat Yerim minta cerai pertama kali, Je Hyuk langsung tertekan dan kemudian berusaha memenangkan hati Ye Rim. Kim Young Min (pemeran Son Je Hyuk) memang sangat baik berakting sebagai pria playboy yang berhati Rinto, tidak heran kalau tahun 2020 ini ia pun menyabet nominasi Baeksang untuk kategori Best Supporting Actor.

Jadi, hati-hati dengan ucapan ya.


Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Jahat (atau Baik)

Tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau baik di drama ini, termasuk Sun Woo. Namun, kudos terbaik saya berikan untuk dr. Sul Myung-Sook! dr Sul yang merupakan rekan Sun Woo di rumah sakit ini sejak episode satu sudah terlihat bermuka dua, kalah pokoknya ular. Sun Woo sampai bilang kalau temannya ini seorang agen ganda, terlihat mendukung Sun Woo namun di belakangnya, siap menjatuhkan. Perempuan ini pun konsisten melakukan peran agen ganda ini selama sembilan episode pertama, benar-benar definisi orang paling cari aman sedunia. Pokoknya apa yang akan dia lakukan, tergantung situasi mana yang menguntungkannya.

Episode 10 mengubah semuanya.



dr. Sul yang tertarik menggantikan posisi Sun Woo sebagai associate director di Rumah Sakit, tersinggung dengan ucapan dr. Kong (pemimpin rumah sakit) yang menolak permohonan naik jabatannya. Menurut dr. Kong, dr. Sul harus ingat kalau perempuan tidak seharusnya memiliki ambisi yang berlebihan, apalagi kalau single, tidak ada orang lain pula yang harus dinafkahi. Padahal, sebelumnya dr. Kong menawarkan posisi yang sama pada dr. Kim yang juga single, namun karena pria jadi dianggap lebih cocok memegang posisi tinggi.

Selepas kejadian itu, terlihat dr. Sul mengalami perubahan karakter. Ia mulai berempati pada Sun Woo yang harus menanggung stigma perempuan bercerai, karena dirinya pun memiliki stigma perempuan lajang yang ditempelkan padanya. Beberapa episode selanjutnya menunjukkan dr. Sul yang lebih positif dan bahkan memiliki teman kencan. Salah satu adegan yang saya sukai ketika dr. Sul minum-minum dengan Sun Woo dan Ye Rim (dimana keduanya telah bercerai), dia senang sekali karena akhirnya punya teman-teman yang lajang haha. 

Berikut beberapa kata-kata yang diucapkan dr.Sul untuk Sun Woo dan Ye Rim.




Saat Pernikahan Berakhir, Hubungan itu Tetap Ada dan (ketika ada) Anak Akan Menjadi Korban



Sesuai dengan judul drakor, The World of the Married, cerita yang disuguhkan di dalam drama ini semuanya terpusat pada dunia pernikahan. Awal cerita memang banyak fokus pada kemelut cinta segitiga Sun Woo - Tae Oh - Da Kyung, lalu merembet ke hubungan rumah tangga Ye Rim dan Je Hyuk, kemudian melebar ke beberapa hubungan tidak sehat. Seperti pernikahan Ketua Choi yang dipertahankan sang istri walau ia tahu suaminya selingkuh, hubungan pacaran Park In Kyu dan Min  Hyun Seo yang penuh kekerasan emosional sampai kehidupan dewasa lajang yang diwakili oleh dr. Kim dan dr. Sul. 

Saat Sun Woo dan Ye rim memutuskan bercerai, bukan berarti hubungan mereka dengan sang mantan suami putus. Sebaliknya, ikatan itu tetap ada. 



Ketika memiliki anak, maka relasi itu semakin nyata adanya dan tidak akan terputus. Satu ungkapan yang saya ingat, ada sebutan mantan istri atau suami, tapi tidak ada sebutan mantan ayah, ibu bahkan mantan anak. Sun Woo dan Tae Oh terus mengalami naik-turun hubungan karena adanya Joon Young di antara mereka. Mereka berdua berebut menunjukkan siapa yang pantas menjadi wali Joon Young, tanpa menyadari sang anak memiliki luka yang dalam

Luka pertama ditunjukkan Joon Young ketika Sun Woo melarikannya jauh dari ayahnya. Joon Young yang selama ini memang lebih dekat dengan sang ayah tentu saja protes. Tanpa berusaha memahami alasan Joon Young, Sun Woo malah merasakan ini sebagai ancaman akan kehilangan hak asuh sang anak, Ujungnya, seperti saya ceritakan sedikit di atas, Sun Woo merancang skenario yang membuat Tae Oh kehilangan hak asuh sekaligus hak mengunjungi. 

Luka berikutnya terus terjadi karena hubungan Sun Woo dan Tae Oh yang tidak stabil. Tanpa mereka berdua sadari, Joon Young harus menghadapi konflik batin tersendiri. Semakin mendekati episode final, semakin terlihat nyata kalau Joon Young adalah korban sebenarnya dari perseteruan ayah dan ibunya. 

Jeon Jin Seo si aktor cilik yang sangat baik memerankan konflik internal anak korban perceraian

karena itu, akhirnya...

Anak Juga Manusia


Walaupun anak berbeda usia jauh dengan orangtuanya, bukan berarti mereka tidak paham akan masalah yang menimpa kedua orang tuanya. Joon Young pertama kali mengungkapkan kekesalannya pada kedua orangtuanya ketika Sun Woo dan Tae Oh dipanggil ke sekolah karena laporan kekerasan yang dilakukan Joon Young (episode 13). Alih-alih mencoba memahami apa yang terjadi pada sang anak, baik Sun Woo maupun Tae Oh sama-sama tidak sabar mencoba mencari tahu penyebab sang anak melakukan kekerasan tersebut. 

Sebelumnya, dalam episode-episode awal, diceritakan Joon Young tidak pernah punya pilihan dalam berbagai kesempatan. Sun Woo selalu memilihkan kegiatan untuknya, sementara sang ayah tidak memiliki hak bicara sama sekali ketika Sun Woo sudah bertitah. Pada episode akhir, terlihat Sun Woo pun masih memilihkan pakaian untuk Joon Young. Namun karena hubungan mereka yang membaik, Sun Woo akhirnya mengalah dan mengatakan Joon Young dapat membeli pakaiannya sendiri.  



Hubungan yang baik antara Sun Woo dan sang anak, Joon Young, tentu tidak tercipta begitu saja. Semua dimulai ketika Sun Woo jujur menceritakan permasalahan dirinya. Tidak bersikap diktator seperti biasanya, Sun Woo memperlakukan Joon Young sebagai teman. Perlakuan ini pun terus diterapkannya ketika ia meminta pendapat Joon Young. Ia menyerahkan keputusan penting, yang juga terkait akan hidupnya sendiri, ke tangan sang anak.

Penting sekali untuk orang tua menyadari, kalau anak juga manusia. Mereka memiliki keinginan dan aspirasi sendiri. Awalnya memang berat untuk orangtua menyadari kalau keinginan anak mungkin tak sejalan dengan keinginan mereka, namun pada akhirnya, kepercayaan sang anak adalah taruhannya. Saat orangtua memperlakukan anak sebagai rekan satu level, saat itulah sang anak juga akan menghargai orangtuanya.

Pada akhir drama ini, Joon Young kembali terpuruk ketika melihat ibunya tidak dapat memenuhi janjinya. Sang ibu yang sudah berkata hubungannya dengan sang ayah berakhir ternyata masih terlihat gamang, dan akhirnya Joon Young memutuskan untuk melarikan diri. Lepas dari kekalutan hubungan kompleks ayah dan ibunya.


Masih banyak banget sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari drama ini, tapi nanti tulisan saya jadi essay ya haha. Satu yang pasti, pantas sekali untuk drakor ini memegang rating tertinggi pada setiap episodenya, terutama episode akhir. Episode akhir mengandung banyak sekali petuah-petuah hidup yang sampai saya menulis ini saja membuat saya banyak berpikir. 

Terutama ini:

Ngena banget ini kata-kata :(

Satu yang pasti, kita tidak pernah tahu perjuangan setiap orang. Dalam hidup, lakukan saja yang terbaik. Ikuti petuah istri ketua Choi berikut agar hidup (sedikit) lebih tenang, enggak perlu misuh-misuh ngomongin orang kalau diri sendiri saja masih punya banyak masalah.



Kalau Anda sendiri, apa yang terkenang dari drama ini?



Thursday, May 7, 2020

Sejarah Republik Korea Selatan



Sebagai penyuka banyak hal terkait negara ginseng ini, selalu menjadi pertanyaan dalam hati mengenai sejarah terbentuknya Korea Selatan. Apalagi para penikmat drama korea, pasti sangat familiar dengan genre drama saeguk. Drama saeguk adalah sebuah drama yang berlatar-belakang sejarah Korea, paling sering tentu dengan latar belakang kerajaan. Melihat banyaknya kerajaan yang berkuasa - jadi bertanya-tanya sejak kapan sebenarnya Korea Selatan ini terbentuk menjadi Republik? Bergeser model pemerintahan dari kerajaan ke sistem Republik.

Alhasil, ke-kepo-an tersebut belanjut pada baca dan nonton sana-sini untuk tahu sejarahnya. Luar biasa banget deh, panjang juga ya sejarah Republik Korea Selatan itu haha. Secara garis besar, mungkin bisa dibagi dalam empat linimasa.


Tiga Kerajaan Besar Korea



Sejarah di Semenanjung Korea dimulai dari tahun pertama masehi (1 M). Semenanjung Korea dan sebagian Manchuria (yang sekarang menjadi wilayah milik Tiongkok dan Rusia) terbagi menjadi tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah Baekje (백제, 百濟), Silla (신라, 新羅) dan Goguryeo (고구려, 高句麗). Kerajaan Baekje dan Silla menempati bagian selatan Semenanjung Korea dan Tamna (sekarang: Pulau Jeju), sementara Kerajaan Goguryeo menguasai area yang lebih besar di Semenanjung Liaodong, Manchuria dan bagian utara Semenanjung Korea.

Ketiga kerajaan besar ini saling bersaing dalam sektor ekonomi dan militer, dengan Baekje dan Goguryeo yang dianggap dua kerajaan yang lebih kuat dibandingkan Silla. Salah satu penyebabnya mungkin karena Baekje dan Goguryeo berbagi mitos pendiri yang kemungkinan besar berasal dari Kerajaan Kuno Buyeo. Walau pada akhirnya nanti, Kerajaan Silla yang mampu menyatukan tiga kerajaan ini menjadi Silla Bersatu di tahun 676 M.

Di Tiongkok, tiga kerajaan Korea ini dikenal dengan sebutan Samhan sejak awal abad ke-7. Penggunaan nama Samhan ini merujuk kepada lokasi tiga kerajaan ini yang berada dalam area Dinasti Tang. Dinasti Tang sendiri adalah salah satu dinasti Tiongkok terbesar. Fun fact, "Han" yang sering disebut pada Kekaisaran Korea, Daehan Jeguk, dan Republik Korea (Korea Selatan), Daehan Minguk atau Hanguk, dinamai sesuai dengan Tiga Kerajaan Korea.

Catatan mengenai tiga kerajaan besar ini dapat ditemukan melalui catatan sejarah bernama Samguk sagi (tertulis dalam bahasa Mandarin) serta Samguk yusa yang memuat detail lebih lengkap, seperti periode sebelum dan sesudah Samhan.

Aliansi Kerajaan Silla dengan Dinasti Tang dari Tiongkok akhirnya membuat Kerajaan ini mampu melumpuhkan dua kerajaan lain, serta beberapa kerajaan kecil lainnya, di tahun 668 SM. Untuk pertama kalinya, Semenanjung Korea disatukan dalam Kerajaan Silla Bersatu (Later Silla/Unified Silla).

Kejayaan Dinasti di Korea


Walaupun secara politis, Silla Bersatu tidak stabil, namun Kerajaan itu merupakan kerajaan yang makmur. Ibukota Silla Bersatu di Seorabeol (sekarang: Gyeongju) adalah kota terbesar keempat di dunia saat itu. Sayangnya, Raja terakhir Silla Bersatu (Raja Gyeongsun) akhirnya menyerah kalah pada Wang Geon (penemu Dinasti Goryeo). Setelah jatuhnya Silla bersatu di akhir abad ke-9, muncullah Dinasti pertama yang memimpin Korea, Dinasti Goryeo. Sejarah Korea modern bahkan mendebat, Dinasti Goryeo lah yang sebenarnya dapat disebut menyatukan Semenanjung Korea untuk pertama kalinya, bukan Kerajaan Silla Bersatu.

Dinasti Goryeo disebut-sebut sebagai 'true national unification' (penyatuan nasional sejati), karena tidak hanya menyatukan tiga kerajaan besar sebelumnya, namun juga menggabungkan banyak kelas penguasa kerajaan Utara. Asal nama Korea yang kita kenal saat ini pun berasal dari 'Goryeo' (dieja Koryo) yang pertama kali digunakan pada abad ke-5 oleh Goguryeo.

Selama masa pemerintahan Goryeo, berbagai macam hal berkembang pesat, hukum dibuat, pelayanan masyarakat terbentuk dan penyebaran agama Buddha merebak. Masa kekuasaan Dinasti Goryeo adalah periode emas penyebaran agama Buddha di Korea. Sekitar 70 kuil Buddha dibuat hanya di pusat pemerintahan saja di abad ke-11. Seni dan budaya juga berkembang cukup pesat di masa ini, dengan munculnya banyak kerajinan tembikar dan porselen yang disebut Koryo Celadon, serta terciptanya Tripitaka Koreana.

Dinasti Goryeo yang berusia 400 tahun mulai mengalami kemunduran pada akhir abad ke-14 karena dilemahkan oleh perebutan kekuasaan internal dan pendudukan nominal oleh Kekaisaran Mongol. Dinasti baru, Dinasti Joseon (tahun 1392), didirikan oleh  Jenderal Yi Seong-Gye (kemudian dikenal sebagai Raja Taejo). Raja Taejo memindahkan ibukota ke Hanyang dari sebelumnya di Kaesong, lalu membangun Istana Gyeongbokgung serta mengesahkan Konfusianisme sebagai agama nasional, menggantikan agama Buddha yang sebelumnya mayoritas.

Dinasti Joseon disebut sebagai awal dari sejarah Korea modern. Dinasti ini memiliki usia pemerintahan terpanjang di Asia Timur selama lima abad, mulai dari bulan Juli 1392 sampai dengan Oktober 1897 dengan total 27 raja yang memimpin. Perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan budaya juga terjadi selama periode kekuasaan dinasti ini. Satu yang terbesar tentu saja penemuan abjad asli Korea (Hangeul) oleh Raja Sejong. Raja Sejong sendiri salah satu raja yang kuat selama masa pemerintahan Dinasti Joseon, patungnya yang terkenal sampai sekarang terdapat di Gwanghwamun Square yang terletak di pusat kota Seoul.

Perkembangan pesat dalam budaya selama masa Dinasti Joseon terdapat dalam enam aspek: pakaian, seni, arsitektur, literasi, pendidikan, agama (utamanya Buddha dan Konfusius), serta musik. Sisi arsitektur tentu menjadi salah satu peninggalan penting dari periode ini, mengingat lima istana (Five Grand Royal Palaces) yang berlokasi di Seoul - Istana Gyeongbokgung, Istana Changdeokgung, Istana Changgyeonggung dan Istana Deoksugung, serta Kuil Jongmyo. Saya sendiri sempat menulis pengalaman mengunjungi salah satu Istana tersebut - Istana Changdeokgung - di sini. Lima tempat ini masuk sebagai salah satu destinasi wajib wisatawan yang berkunjung ke Seoul sampai sekarang.

Dinasti Joseon di bawah pemerintahan Raja Sejong yang Agung adalah periode kemajuan ilmiah terbesar di Korea, yang terjadi di abad ke-15. Salah satu penemuan terbaik terjadi di bidang astronomi, yaitu terciptanya perangkat seperti bola langit yang menunjukkan posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Sejarah Korea pada masa Kerajaan dan Dinasti ini sebenarnya begitu pelik, saya hanya mencoba menceritakan garis besarnya saja. Lebih lengkapnya dapat merujuk pada video di bawah ini yang runut memberi informasi dan cukup mudah dimengerti.


Era keemasan Dinasti Joseon, yang membawa begitu banyak sumbangan budaya untuk bangsa Korea sampai dengan masa sekarang, akhirnya berakhir di tangan Jepang yang memang berkali-kali berusaha menginvasi Korea. Periode terganas terjadi pada tahun1592-1598, ketika dinasti Joseon banyak mendapat serangan dari Jepang. Periode ini dikenal dengan sebutan Perang Imjin (invasi Jepan ke Semenanjung Korea). Tepat pada tahun 1910, setelah Korea terpaksa menandatangani  Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai  protektorat Jepang, Jepang resmi menjajah Korea.

Perang Dunia II


Awal terbentuknya Korea Selatan yang ada saat ini bermula ketika Perang Dunia Kedua pecah. Masa pendudukan Jepang selama 35 tahun di Korea Selatan penuh gejolak penolakan dari rakyat Korea sendiri. Korea sampai mendirikan Pemerintahan Sementara Korea (Korean Provisional Government/KPG) yang bermarkas di Tiongkok. Korea akhirnya terlepas dari penjajahan Jepang ketika negara Sakura tersebut kalah dalam Perang Dunia Kedua.

Menyerahnya Jepang di tahun 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk kelanjutan Semenanjung Korea, namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana. Apa yang terjadi berikutnya malah sebaliknya, dua negara tersebut malah membagi kekuasaan atas Semenanjung Korea, tanpa melibatkan pendapat dari rakyat Korea sama sekali. Selama tiga tahun ke depan (1945-1948), tentara dan perwakilan Soviet, membangun rezim komunis di wilayah utara. Sementara di bagian selatan, pemerintah militer dibentuk (didukung oleh Amerika Serikat).

Kedua wilayah Semenanjung Korea (yang kemudian dikenal dengan Korea Utara dan Korea Selatan) tersebut dibagi oleh garis lintang 38 derajat (38th parallel - yang kemudian akan dikenal dengan sebutan DMZ - demilitarized zone saat ini).

Tiga tahun masa pendudukan sementara oleh Soviet dan Amerika Serikat selesai di tahun 1948, Amerika Serikat meminta PBB untuk melakukan pemilihan suara di Korea. Namun, pihak Utara menolak berpartisipasi yang menyebabkan pihak Selatan membentuk pemerintahannya yang berpusat di Seoul – dipimpin oleh Syngman Rhee. Area utara juga tidak mau kalah dan mendirikan negara komunis yang berpusat di Pyongyang, dengan Kim Il Sung sebagai perdana menteri pertama.

Ketegangan antara kedua negara Korea tersebut terus berlanjut sampai Perang Korea meletus tahun 1950, ketika pihak Korea Utara menyerang Korea Selatan. Perang Korea disebut-sebut sebagai perang paling destruktif di era modern, dengan sekitar 3 juta kematian akibat perang dan jumlah kematian warga sipil proporsional yang lebih besar dibandingkan korban Perang Dunia II atau Perang Vietnam. Gambaran kekejaman Perang Korea salah satunya dapat dilihat dalam film Taegukgi.

Perang Korea tidak bisa dikatakan benar-benar berhenti sampai sekarang, yang terjadi saat ini hanyalah gencatan senjata lanjutan dari yang terjadi di tahun 1953 untuk mengakhiri konflik. Saat itu Zona demiliterisasi (DMZ) didirikan untuk membelah semenanjung Korea dan membuat perbatasan yang jelas. Hingga saat ini, tidak ada perjanjian damai yang ditandangani.

Video berikut menjelaskan dengan lebih detail bagaimana akhirnya Semenanjung Korea dapat terbagi dua (hingga sekarang).


Video tersebut dibuat tahun 2018 lalu, namun sampai tulisan ini dibuat di tahun 2020, keadaan kedua Korea masih cukup sama seperti tergambar dalam video.

Republik Korea Selatan


Semenanjung Korea bagian selatan dengan pemimpin pertama Syngman Rhee, akhirnya memiliki wujud sebagai negara Republik Korea Selatan pada tahun 1948. Masa-masa pembangunan Korea Selatan menjadi negara yang dikenal masyarakat umum seperti saat ini tidak mudah. 

Lepas dari pembagian wilayah Semenanjung Korea sepeninggalan Jepang, wilayah Selatan yang ditempati Korea Selatan saat ini mendapatkan pembagian wilayah pertanian, yang meskipun produktif, tetapi ini hampir tidak cukup untuk memberi makan populasi padat penduduk yang tumbuh di negara tersebut. Berbeda dengan wilayah utara yang mewarisi sebagian besar industri yang ditinggalkan oleh kolonial Jepang, termasuk 80 persen sumber pembangkit listrik. 

Linimasa perkembangan Korea Selatan menjadi negara yang sangat diperhitungkan dunia dapat dlihat di sini. Titik balik kecepatan industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan terjadi sejak masa kepemimpinan Jenderal Park Chung-hee mulai tahun 1961. Percepatan kemakmuran yang dialami Korea Selatan sekitar 50 tahun terakhir ini sering disebut sebagai Keajaiban Sungai Han (The Miracle of Han River). 

Demikian sedikit sejaran Republik Korea Selatan yang dapat saya ceritakan kali ini. Semoga sehabis membaca tulisan ini, banyak hal yang dapat kita tarik hikmahnya. Misalnya saja kekuatan rakyat Korea Selatan akan harapan, optimis, keinginan kuat, dan kerja keras yang dapat kita contoh. Yah, setidaknya saya juga tidak penasaran lagi dengan sejarah negara ini haha. 

Siapkah kita menjadi maju seperti Korea Selatan?



Monday, May 4, 2020

Tokyo Love Story 2020 vs 1991

Tokyo Love Story - semua versi

Masih ingat kisah Rika Akana dan Kanji Nagao?

Remake, recycle, aransemen ulang, versi baru, daur ulang, tribute, adaptasi, adopsi, yah apapun namanya, intinya bukan versi pertama. Mungkin kedua, ketiga atau lebih. Sudah lama cara ini ditempuh industri hiburan dengan dalih membuat versi baru yang lebih modern, supaya mudah diterima generasi baru sekaligus menimbulkan nuansa nostalgia untuk generasi sebelumnya.

Tokyo Love Story tidak luput dari tren tersebut. Anak-anak 90an pasti sedikit banyak ingat akan dorama satu ini.

Awal dekade 90an, tepatnya tahun 1994, dorama (serial Jepang) produksi Fuji TV ini tayang pertama kali di stasiun TV swasta, Indosiar. Tokyo Love Story mengawali hujan dorama di tv Indonesia yang mengikuti setelahnya. Sampai saat ini, dorama ini masih dikenal sebagai salah satu dorama terbaik yang pernah diproduksi, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu drama romansa Jepang terbaik sepanjang masa.

Soundtrack drama ini yang berjudul Love Story wa Totsuzen ni yang dinyanyikan Kazumada Oda adalah lagu terlaris ke-sembilan sepanjang masa di Jepang. Saat ditayangkan di tv swasta Indonesia, Tokyo Love Story dialihbahasa ke bahasa Indonesia, termasuk lirik lagu temanya.


di hari itu dan di tempat itubila kita tak pernah berjumpamungkin kita tak akan percayakau dan aku saling suka dan cinta
Siapa yang otomatis menyanyi saat membaca lirik lagu di atas?

Tokyo Love Story - yang diangkat dari manga berjudul sama karangan Saimon Fumi (1988 - 1990) -bercerita tentang Mikami, Kanji, dan Satomi yang telah berteman sejak mereka masih kanak-kanak dan tumbuh di kota kecil yang sama di Prefektur Ehime di pulau Shikoku. Sekarang, ketiganya telah berusia awal 20-an dan pergi ke Tokyo karena berbagai alasan. Kanji terakhir tiba, setelah pindah ke kantor Tokyo. Di tempat kerja, ia bertemu dengan kolega baru yang lincah, Rika, serta dipersatukan kembali dengan teman-teman baiknya dari rumah — Mikami dan Satomi. Mikami adalah teman pria terbaik Kanji dan Satomi adalah teman wanita platonis mereka yang keduanya taksir sejak SMA.

Empat tokoh utama Tokyo Love Story versi Manga
Dorama ini berjumlah 11 episode dan saat ditayangkan pertama kali di tahun 1991, rating Tokyo Love Story selalu tinggi. Puncaknya, ratingnya mencapai angka 32% di episode terakhir. Pantas saja kalau serial ini terus dikenang hingga sekarang. Tidak heran juga kenapa setelah hampir 30 tahun tayang, akhirnya Tokyo Love Story kembali dibuat ulang.

Tokyo Love Story 2020 dijanjikan membawa nuansa modern yang berbeda, di antaranya memasukkan unsur smartphone dan SNS (social networking site - sejauh yang saya tonton sampai episode 2, tentu saja Line Messenger buatan Jepang yang dipakai). Sepertinya akan banyak sekali debat-debat lucu Rika dan Kanji melalui SNS, yang dulunya hanya dilakukan melalui cordless phone.

Langsung saja kita bandingkan empat tokoh pemeran utama versi 1991 dan 2020 sekarang ya...


Rika Akana yang super ikonik dulunya diperankan oleh Honami Suzuki. Suzuki berhasil menghidupkan tokoh Rika yang ceria, bawel, energik, dan spontan. Susah sekali menampik pesona Rika Akana yang diperankan Suzuki di sini, apalagi senyumnya yang khas dan seperti menularkan radiasi. Ishibashi Shizuka akan mengemban misi sulit untuk memerankan seorang Rika yang sangat melegenda. Ini adalah peran utama Shizuka di layar kaca, setelah sebelumnya sempat membintangi banyak film layar lebar.

Sosok Rika Akana versi Shizuka lebih cuek, to the point dan santai. Pada versi 1991, Rika terlihat langsung terobsesi pada Kanji sejak episode pertama, pada versi baru ini - Rika terlihat santai dan belum terlalu menunjukkan perasaannya pada Kanji. Dengan cueknya, Rika bisa mengajak Kanji berhubungan seksual untuk membantu Kanji melupakan Satomi. Rika juga terlihat lebih bebas menunjukkan affairnya dengan sang atasan, dibandingkan versi lama. Mungkin pengaruh budaya yang sudah semakin terbuka juga ya sekarang ini.

Rika Akana yang ikonik

So far sih, Shizuka masih harus berusaha lebih keras untuk mengambil hati penonton. Entah karena saya sudah terbiasa dengan Rika versi lama, atau karena peran Rika di 2 episode pertama Tokyo Love Story 2020 masih kurang banyak, yang jelas Rika versi Shizuka butuh upaya keras untuk membuat penonton memihaknya.


Kanji Nagao tetap seorang pemuda naif, polos, kaku dan sederhana. Pada versi 1991, Yuji Oda memerankan Kanji yang selalu tampak terganggu dengan kehadiran Rika. Kerutan di dahinya selalu muncul setiap bertemu Rika, bahkan ada adegan di mana ia pura-pura tidak melihat keberadaan Rika (karena malu kayaknya sama kelakuan Rika haha). Walaupun begitu, saat tidak sedang berdebat, keduanya bisa saling menghibur satu sama lain.

Pemeran Kanji di seri baru adalah Ito Kentaro, yang terus terang saja dibandingkan dengan Oda yang terlihat dewasa - Kentaro masih terlihat anak-anak di sini. Namun hal ini membuat posisi Rika-Kanji di kantor sebagai senior-yunior lebih tampak terlihat. Entah apakah sengaja dibuat berbeda atau ada maksud lain, Kanji versi Kentaro sangat canggung setiap berhadapan dengan Rika. Berbeda dengan Kanji versi Oda yang tidak butuh waktu lama untuk membalas godaan-godaan Rika, Kanji versi Kentaro masih terlihat bingung dan gugup setiap Rika menggodanya. Akibatnya, Kanji versi baru ini lebih sering mengikuti maunya Rika (sejauh episode 2 ini).



Satomi Sekiguchi yang ditaksir Kanji sejak duduk di bangku sekolah, sekarang adalah seorang guru taman kanak-kanak. Pekerjaan yang pas sekali dengan sosok Satomi yang lembut, sopan, manis dan terus terang saja - labil, haha. Satomi yang berhasil membuat persahabatan Kanji dan Mikami sempat goyah ini tidak banyak berbeda di versi 1991 dan 2020. Narimi Arimori yang memerankan Satomi di tahun 1991 terlihat lebih plinplan, irit bicara dan sering salah menangkap maksud perkataan orang lain.

Sementara Satomi di Tokyo Love Story 2020 yang diperankan Ishii Anna - walau sebagian besar perilakunya sama - nampak lebih memiliki keberanian dalam berpendapat. Salah satunya, Satomi versi Anna mampu menghardik Mikami yang tidak mengindahkan pesan orangtuanya. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan Satomi di tahun 1991. Sepertinya sedikit perbedaan karakter ini membuat saya bisa sedikit menyukai sosok Satomi.

Satomi versi 1991 itu klemer-klemer banget ampun deh, sebel lihatnya lambat banget gerakannya haha.



Kenichi Mikami adalah sosok bad boy berhati rinto yang disukai banyak perempuan, tapi pada akhirnya tidak akan ada yang memilihnya sebagai pasangan hidup. Kalimat itu keluar dari mulut Mikami sendiri sebenarnya, menyadari dengan sepenuhnya kalau dirinya bukan pria yang bisa dibanggakan. Mikami 1991 yang diperankan oleh Yosuke Eguchi ini sungguh bad-boy dan menyebalkan sekali perangainya. Tingkah lakunya seenaknya, walaupun terhadap Satomi, perempuan yang sebenarnya ia taksir.

Berbeda dengan versi 1991, Kiyohara Sho memerankan Mikami versi bucin Satomi. Baru 2 episode saja, mereka berdua sudah pacaran dan Mikami dengan sukarela langsung meninggalkan semua perempuan-perempuan lain yang dekat dengannya, Menarik melihat perkembangan sosok Mikami di Tokyo Love Story 2020 ini.

Kisah Rika-Kanji yang everlasting
Saya sudah menonton dua episode awal Tokyo Love Story 2020 dan sedang menonton-ulang Tokyo Love Story, untuk membandingkan dari segi cerita. Sejauh ini, versi 2020 memiliki pace cerita yang lebih cepat dan selain lebih modern, juga lebih vulgar. Adegan seksual Rika dengan sang atasan dan Kanji sudah menghiasi dua episode awal serial ini. Jadi, hati-hati ya kalau ingin menonton versi 2020 ketika di tempat umum LOL.

Tokyo Love Story 2020 baru saja tayang 29 April 2020 lalu, dan seterusnya akan tayang seminggu sekali setiap hari Rabu sebanyak 11 episode (plus 1 episode spesial kalau mengikuti versi 1991). Dorame versi baru bisa ditonton di viu dengan teks bahasa Indonesia atau Inggris. Sementara untuk yang penasaran dengan versi lamanya, bisa cek di vidio (mumpung ada yang upload lengkap).

Berikutnya teaser Tokyo Love Story 2020


Sejauh ini saya sangat menikmati dua versi dorama ini. Dua-duanya sangat menyegarkan untuk saya. Tokyo Love Story untuk saya selalu identik dengan Rika Akana yang enerjik dan membuat saya selalu tersenyum melihat tingkahnya. Sementara Tokyo Love Story 2020 membawa saya menikmati kehidupan kaum muda urban di Tokyo, dengan tidak adanya satu tokoh pun yang mencolok, sehingga saya bisa menikmati interaksi di antara mereka.

Kamu sendiri, lebih suka versi yang mana?

Simak juga cerita remake versi Mamah Merah selanjutnya ya!

Saturday, March 28, 2020

Taegukgi - Ketika Perang Menghancurkan Persaudaraan





Sewaktu mendapat tugas untuk membuat rekomendasi film Korea, ingatan langsung terbang ke tahun 2004 ketika saya menonton film ini langsung di cinema. Enam tahun setelah Saving Private Ryan, saya kembali ke cinema seorang diri untuk sebuah film perang.

Taegukgi (judul dalam bahasa Inggris - The Brotherhood of War) bukan film perang biasa. Film besutan Kang Je-Gyu (terkenal dengan Shiri - film Korea pertama yang dibuat dengan gaya Hollywood - dan menjadi satu-satunya film buatan tahun 90an yang masuk di 50 besar film Korea terlaris sepanjang masa) ini disebut-sebut sebagai film perang yang cukup berani karena mengungkap sisi buruk Perang Korea di tahun 1950, baik dari sisi Selatan maupun Utara. Menonton film ini, audiens seakan-akan dibawa ke kursi depan untuk langsung menyaksikan Perang Korea di depan mata.

Jang Dong Gun (di mana salah satu film layar lebarnya, Friend, menumbangkan Shiri dari puncak box office di tahun 2001) berperan sebagai Jin-Tae, seorang penyemir sepatu yang bekerja keras demi bisa mengirim adiknya kuliah. Won Bin (aktor Korea Selatan paling pemilih sepanjang masa - baru bermain enam film layar lebar sepanjang karirnya, terakhir di tahun 2010) berperan sebagai Jin-Seok, adik Jin-tae, yang masih berusia 18 tahun dengan masa depan yang cerah.


Sayangnya, invasi Korea Utara ke Korea Selatan - tempat tinggal kakak beradik Lee - memaksa keduanya harus bergabung untuk ikut berperang. Sebenarnya kewajiban ini hanya berlaku untuk Jin-Tae, sang kakak yang secara fisik lebih siap berperang, hanya saja sebuah kesalahan membuat Jin-Seok juga ikut terbawa ke barak tentara. Jin-Tae kemudian melobi pimpinannya untuk bisa mengeluarkan Jin-Seok. Sang atasan setuju, asalkan Jin-Tae dapat meraih penghargaan tertinggi untuk prajurit Korea Selatan bertitel Taeguk Cordon of the Order of Military Merit.

Usaha Jin-Tae demi mendapatkan penghargaan tersebut menimbulkan kesalahpahaman di mata Jin-Seok, ia menganggap sang kakak sudah berubah. Jin-Seok menuduh Jin-Tae haus kekuasaan dan menjadi tidak berperasaan, tanpa tahu alasan asli di balik sikap kakaknya. Ketika akhirnya Jin-Tae berhasil meraih penghargaan Taeguk, masalah lain muncul. Tunangan Jin-Tae, Young-Shin (diperankan oleh Lee Eun-Ju - yang satu tahun setelah film ini rilis memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena depresi), diduga bergabung dengan partai Komunis. Jin-Tae dan Jin-Seok yang berusaha menyelamatkan Young-Shin ditangkap pihak berwajib, sementara Young-Shin tertembak.

Usaha Jin-Tae untuk membebaskan Jin-Seok kembali menemui halangan, ketika pemimpin penjara memutuskan untuk meledakkan penjara tempat kedua kakak beradik berada. Berpikir ia telah kehilangan Jin-Seok yang tidak berhasil diselamatkannya, Jin-Tae akhirnya berbelot ke Korea Utara. Ia berpikir untuk apa setia kepada negara yang telah merengut tunangan dan adik kandungnya.


Jin-Seok yang ternyata berhasil diselamatkan mengetahui kakaknya telah bergabung dengan Korea Utara. Jin-Seok kembali bergabung dengan militer dengan harapan dapat bertemu sang kakak di medan perang. Pertemuan Jin-Tae dan Jin-Seok di tengah-tengah peperangan adalah adegan paling mengharukan dari film ini. Dua kakak-beradik yang berada di bawah bendera yang berbeda, bertemu dalam satu waktu. Semua emosi tergambar dalam satu adegan ini; rindu, terkejut, kasih sayang, kecewa, bahagia bercampur jadi satu.

Percakapan berikut sangat menggambarkan adegan di atas:

Jin-Tae: I found this in the fires, I've been holding onto this for you (sebuah pulpen dengan grafir nama Jin-Seok, yang disimpan Jin-Tae sebagai hadiah kelulusan Jin-Seok nantinya)
Jin-Seok: Give it to me --- when I see you again (menolak menerima, meminta Jin-Tae memberikannya langsung ketika perang telah berakhir)


Baik RottenTomatoes maupun IMDb memberikan rating yang sangat baik untuk film ini. Kedua situs memberikan nilai di atas 8 (dalam skala 10) atau 80 (maksimum 100%). Beberapa komentar bahkan menyebutkan Taegukgi sebagai film perang terbaik, bahkan jauh melampaui Saving Private Ryan yang tahun itu masih disebut-sebut sebagai film perang terbaik (walau dikalahkan Shakespeare in Love di ajang Oscar). Seorang kolumnis yang rutin menulis tentang apa saja terkait perang (war nerd), John Dolan, juga merekomendasikan Taegukgi sebagai salah satu film perang terbaik. 

Selain sukses secara komersial - film ini masih berada di 15 besar film Korea Selatan terlaris sepanjang masa - Taegukgi juga berhasil meraih banyak penghargaan. Tiga penghargaan film besar - Baeksang Art Awards, Blue Dragon Film Awards dan Asia Pacific Film Festival - menobatkan Taegukgi sebagai Film Terbaik

Film ini dapat disaksikan gratis di Youtube (dalam bahasa aslinya) atau mengaksesnya melalui Amazon dan atau Netflix (cek apakah film ini dapat ditonton di area anda). 


Salah satu quote terbaik yang muncul dari film ini - diucapkan oleh Jin-Seok - mempertanyakan tujuan dari perang.

What good is a medal when people are dying?
- apa gunanya medali ketika orang-orang mati?

-------

Setelah credit title muncul menandakan akhir dari 140 menit film tayang, seorang mahasiswi yang menonton sendiri di cinema menitikkan air matanya. Entah karena terharu atas film yang telah ditontonnya atau skripsi yang menghadang di semester depan.


Playlist Anak 90an





Semalam habis gemas maksimal sama hasil polling #NKOTBMarchMadness di akun twitter NKOTB yang enggak sesuai keinginan diri (yaiyalah, namanya hidup mana bisa selalu sesuai rencana - kata suara hati tiba-tiba berbicara). Lalu terpikir untuk membuat playlist tahun 90an saya sendiri, sekaligus memilih lagu-lagu dari tiap era yang jadi favorit saya.

Jadi, ini sedikit playlist era 90an (menurut saya tentu saja, kalau tetangga tentu bisa beda), yang dimulai dari lagu-lagu terbaik dari setiap tahunnya.

1990

Saya pikir yaaaa, permulaan era ini akan mudah, karena kan dulu banget saya masih kecil harusnya enggak tahu banyak lagu dong. Tapi huhuhuuu... ada dua lagu yang saya suka banget, sampai bingung mana yang lebih bisa mewakili.

...but i need to go with this one


NKOTB - TONIGHT


Pertama kali lihat video musik ini di RCTI (yaolo inget banget), langsung suka. Denting piano pertama yang memulai lagu ini benar-benar pemikat utama, lalu perubahan tempo lagu dari slow ke upbeat juga jadi kejutan yang menyenangkan. Semua tentang lagu ini mencerminkan tahun 90an banget, dari gaya rambut khas anak-anak 90an, baju neon warna-warni sampai teknik pembuatan musik video yang berputar-putar sesuka hati.

Selain lagu ini, satu lagu lagi yang saya suka di tahun 1990 dari Wilson Phillips berjudul Hold On. Lirik lagu ini keren banget, tentang bertahan karena harapan selalu ada dan akan terwujud.

Don't you know things can changeThings'll go your wayIf you hold on for one more dayCan you hold on for one more dayThings'll go your wayHold on for one more day

Lagu yang sesuai banget untuk situasi #diRumahSaja saat ini.

1991

Di tahun kelahiran banyak idola Kpop saya ini (ya ampuuunnn haha), ada satu lagu yang mencolok. Masih dengan baju neon khas 90an.

COLOR ME BADD - All 4 Love


Apalah playlist 90an tanpa latino seksi ye kannn... Sebelum Ricky Martin, Enrique, Marc Anthony atau sebelum No Mercy, Los del Rio dan Las Ketchup bergoyang-goyang, ada empat pria ini yang lebih dulu mencuri hati.

Bryan, Mark (wow, seperti susunan anggota Westlife), Kevin dan Sam sudah lumayan terkenal sejak medio 80an (seangkatan dengan NKOTB sebenarnya). Lagu-lagu mereka selalu seksi, baik lirik maupun video musiknya. Tahun lalu, Color Me Badd - CMB - (yang tinggal beranggotakan Mark Calderon saja) sempat datang ke acara Yolo Festival 2019 di Kota Kasablanka. Sebenarnya sampai tahun 2018, CMB masih beranggotakan dua orang, namun Bryan Abrams saat ini mendekam di penjara karena menyerang Mark saat sedang tampil di atas panggung.

1992

I am a sucker for a love song in duet performance!

Mencoba tidak memasukkan terlalu banyak lagu duet dalam playlist 90an ini, karena ya ampun, banyaaak banget lagu fave saya yang dinyanyikan duet.

Peabo Bryson & Regina Belle - a Whole New World 



The original always the best one.

Duet klasik untuk ost film kartun Aladdin ini salah satu lagu tema film terbaik menurut saya. Sebenarnya Peabo Bryson sih yang canggih ya, lagu dia untuk ost Beauty and the Beast (yang juga dirilis di tahun yang sama), juga sama terkenalnya. Kedua lagu ini sama-sama masuk nominasi Grammy Awards tahun 1994 untuk kategori Best Pop Performance by a Duo or Group with Vocals. A Whole New World akhirnya tidak hanya menang di kategori tersebut, tapi juga menyabet Song of the Year di ajang yang sama, satu-satunya lagu Disney yang pernah menang kategori Grammy ini sampai sekarang.

1993

Anothe duet lol, how can i resist this cute song?

Lea Salonga & Brad Kane - We Could Be in Love


Dua penyanyi versi musikal Broadway dari Aladdin ini, menyanyikan satu lagu manis begini kan bikin meleleh banget. Lea Salonga saat itu juga menjadi penyanyi pertama asal Filipina yang dikontrak label artis internasional.

Sekitar tahun 2016 lalu, keduanya reuni di acara Good Morning America menyanyikan A Whole New World kembali. Entah kapan mereka berdua akan reuni untuk menyanyikan We Could Be in Love yaa....

1994

Selain lagu duet, saya juga suka lagu band jadi-jadian atau kadang malah one-hit wonder haha. Ada beberapa lagu seperti ini yang saya suka, dari mulai Guys Next Door, The Heights, sampai The Wonders. Tapi paling memorable untuk saya tentu...

The Rembrandts - I'll Be There For You


Nada pembukanya sungguh ikonik untuk seluruh penggemar serial FRIENDS di seluruh dunia. Selama sepuluh tahun serial ini tayang, selama itu pula lagu pembuka ini akan muncul. I'll Be There For You sebenarnya dirilis resmi ke publik di tahun 1995, namun lagu ini telah menemani serial Friends dari pertama kali tayang di September 1994.

Lirik lagu I'll Be There For You selain ditulis oleh duo The Rembrandts, juga ikut ditulis oleh produser serial Friends, David Crane dan Marta Kauffman. Lagu tema ini disebut-sebut sebagai salah satu lagu tema serial TV terbaik.

1995

Sebuah lagu yang sangat emosional untuk saya. Seringnya saya skip kalau lagi membahas lagu favorit, karena malas saja jadi teringat grup favorit dimana mereka menyia-nyiakan salah satu vokalis terbaiknya. Lagu ini adalah salah satu lagu yang memperlihatkan keunikan vokal Stephen Gately.

BOYZONE - Key to My Life


Apalagi pakai setting sekolahan begini kan, lemah banget Asti.

Satu yang pasti, Ro hanya dapat sedikit line di sini haha. Sisanya Steo semua, karenanya lagu ini dengan mudah menjadi all time fave saya.

Oh iya, Key to my Life juga menjadi lagu Boyzone pertama yang dirilis dan tidak berupa lagu daur ulang. Lagu ini juga melibatkan semua anggotanya untuk menulis lirik lagunya.

1996

Janji, ini lagu duet terakhir dalam daftar ini. Benar deh. haha.

Barbra Streisand & Bryan Adams - I Finally Found Someone



Ini adalah lagu duet paling favorit saya sepanjang masa. Lagu ini bahkan masuk ke dalam daftar lagu yang dimainkan oleh wedding band saya dahulu kala, saking sukanya.

Lagu ini adalah lagu tema dari film komedi romantis The Mirror Has Two Faces yang dibintangi sekaligus diproduseri oleh Barbra Streisand sendiri. Streisand juga yang membuat album tema dari film ini bersama dengan Marvin Hamslich, Mutt Lange dan Bryan Adams. I Finally Found Someone juga berhasil menyabet penghargaan Grammy di tahun 1997 dan 1998, masing-masing untuk kategori Best Original Song dan Best Pop Collaboration.

Memilih lagu kesukaan di tahun 1996 sungguh sulit untuk saya, karena banyaknya lagu lain yang saya suka di tahun itu. Mulai dari Spice Girls, Savage Garden, Alanis Morissette, Jennifer Paige sampai Gina G. Mungkin nanti harus membuat postingan tersendiri untuk playlist 90an khusus tahun 1996 yaaa.

1997

Sebuah anthem yang semua anak 90an hafal mati liriknya, dan mungkin ikutan potong rambut ala Nat.

Natalie Imbruglia - Torn


Simpel dan mengena sih ya liriknya. Dulu banget saat Torn memuncaki banyak tangga lagu, saya sebel banget sama lagu ini, entah kenapa. Seperti suka, benci juga kadang tanpa alasan haha. Selain lagu ini, saya sebenarnya suka banget sama lagu Blur, tapi entah kenapa (sepertinya faktor usia haha) sekarang saya lebih suka Torn dibanding Song 2.

1998

Tahun Piala Dunia terbaik versi saya! Saya pernah menceritakan tentang Piala Dunia 1998 sendiri di sini dan karena saat itu Ricky Martin sudah masuk daftar, sekarang harus cari lagu lain yang mewakili tahun ini. Namun, harus tetap nuansa Piala Dunia (tetep!)


Kolaborasi paling aneh yang pernah terjadi kalau saya boleh bilang haha. Spice Girls bergabung dengan supergrup yang disebut England United (terdiri dari beberapa personel Echo and the Bunnymen, Ocean Color Scene dan Space). Dilihat dari jenis musik saja, mereka susah ketemu seharusnya, namun karena tahun itu Spice Girls sedang di atas angin (nama grup mereka juga disebut lebih dahulu di titelnya) maka tidak heran kalau lagunya jadi Pop banget.

(How Does It Feel To Be) On Top of the World dirilis sebagai lagu resmi tim nasional Inggris untuk mendukung mereka di Piala Dunia 1998. Video musik lagu ini juga dipenuhi oleh banyak pemain timnas seperti Ian Wright, Alan Shearer, kakak-beradik Neville sampai David Beckham yang merupakan kapten tim saat itu dan tengah berpacaran dengan salah satu anggota Spice Girls, Victoria.

Video musik lagu ini juga menjadi kemunculan terakhir Geri Halliwell bersama rekan-rekannya sebelum memutuskan hengkang dari Spice Girls (sebelum akhirnya reuni kembali di 2007).

1999

Akhir dekade 90an ditutup dengan lagu paling favorit saya dari semua lagu yang ada dalam daftar ini. Ironisnya, lagu ini dibawakan oleh vokalis saingan Steo yang sebelumnya sempat saya benci. Untung saja selera saya lumayan obyektif ya, kalau lagu bagus mah bagus saja (pembelaan).

Ronan Keating - When You Say Nothing At All


Diambil dari lagu tema salah satu film komedi romantis terbaik sepanjang masa, Notting Hill, When You Say Nothing At All sebenarnya lagu country yang diciptakan oleh Paul Overstreet dan Don Schlitz di tahun 1988. Lagu ini sudah dibawakan oleh tiga penyanyi, dan ketiganya meraih kesuksesan yang luar biasa.

Penyanyi aslinya, Keith Whitley, membawa lagu ini ke puncak tangga lalu Billboard Hot Country Singles di tahun 1988. Versi Alison Krauss mengantarkannya pertama kali masuk ke Top 10 lagu country di 1995. Terakhir, Ronan menjadikan lagu ini sebagai single debutnya sebagai penyanyi solo. When You Say Nothing At All versi Ronan berhasil menjadi nomor satu di UK, Irlandia dan Selandia Baru.

Saya sendiri suka sekali menyanyikan lagu ini kepada anak saya waktu bayi dulu, setiap dia menangis dan saya nyanyikan lagu ini, entah mengapa dia jadi diam.

You say it bestWhen you say nothing at all

...mungkin karena lirik di atas, secara tidak langsung menyuruhnya diam. 

---

Akhirnya selesai juga tulisan pertama saya setelah terakhir kali menulis di sini, satu tahun lalu dan terakhir menulis di tagar #BackToThe90sBattle satu setengah tahun yang lalu. Semoga yaaa,,, semoga akan ada tulisan-tulisan lain di tahun 2020 ini. Mumpung lagi #DiRumahSaja semoga lebih ada waktu luang.

Oh!
Semua rekomendasi di atas berikut sidekick-nya dapat dinikmati di playlist Youtube yang sudah saya buat, atau di playlist Spotify. Enjoy!

Dan...
Jangan lupa intip playlist punya Mamah Merah yang pasti beda nuansanya sama aku LOL!

The game is on (again), sis!




Monday, February 11, 2019

Kisah Pemberangusan Buku dan Literasi Indonesia



Penempatan Indonesia sebagai negara ke-60 dari 61 negara dalam World's Most Literate Nations menjadi satu masalah dan kekhawatiran tersendiri bagi dunia literasi Indonesia. Menurut daftar yang dibuat oleh Central Connecticut State University tahun ini, Indonesia bahkan menempati urutan kedua terendah dan hanya setingkat di atas Botswana (negara kecil di Afrika) dalam hal literasi.

Meningkatnya Penjualan Buku di Indonesia


Rendahnya semangat literasi masyarakat Indonesia membuat pemerintah sebaiknya mulai berpikir cara untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Industri percetakan sendiri saat ini tengah bergairah. Tirto.id mengungkap jumlah anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) telah mencapai lebih dari 1.000 anggota. Toko buku ritel terbesar di Indonesia, Gramedia, mencatat pertumbuhan penjualan buku meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya di 2018. Tidak ada masalah dari sisi permintaan dan penyediaan, karena tidak mungkin Gramedia bisa meningkatkan penjualan apabila tidak ada permintaan dari masyarakat. Sekarang tinggal dukungan dari pemerintah saja yang seharusnya semakin menyuburkan minat baca masyarakat.

Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKB) mengungkap cara terbaik meningkatkan minat baca dengan memfasilitasi akses masyarakat ke sumber bacaan. Ada tiga pihak yang sebaiknya bekerja sama: penulis, penerbit dan pemerintah. Menilik dari data IKAPI dan Gramedia sebelumnya, terlihat jelas kerjasama antara penulis dan penerbit sudah terjalin dengan baik. Satu yang tersisa, pemerintah. Dukungan pemerintah yang paling bermanfaat adalah memberikan akses yang mudah untuk masyarakat ke sumber bacaan. Beberapa contoh yang dikemukakan BPKB meliputi membentuk dan mempercantik perpustakaan sekolah, daerah dan nasional. Setelah itu, mempromosikannya. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Medan Merdeka, Jakarta, contohnya. Gedung perpustakaan dibuat nyaman untuk tempat membaca atau sekadar bersantai, sistem peminjaman buku mudah dan lokasinya terbuka untuk dipakai berbagai macam acara, terutama yang berkenaan dengan literasi. Salah satu cara promosi yang baik untuk perpustakaan tersebut.

Acara Gramedia Writing & Readers Forum di Perpusnas (gambar dari sini)

Inisiatif pemerintah yang sudah baik dengan perpusnas ini misalnya, sangat sayang apabila dinodai dengan tindakan-tindakan pemberangusan buku yang banyak terjadi belakangan ini. Fokus pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dapat dengan mudah terpecah. Masyarakat bisa saja semakin malas membaca. Karena belum apa-apa, ada-ada saja pihak yang sudah memutuskan tentang buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh warga negara. Bisa jadi, kasus pemberangusan buku ini malah memiliki efek domino.

Maraknya Pemberangusan Buku di Indonesia


Namun, alih-alih berupaya meningkatkan literasi Indonesia yang tengah menyandang predikat miris, malah akhir-akhir ini pemberangusan buku marak dilakukan. Sejak akhir Desember tahun lalu, aparat yang bertugas di beberapa daerah menyambangi toko buku dan menyita buku-buku ‘kiri’, khususnya yang dianggap menganut paham komunis.

Konyolnya, mereka merasa bertindak heroik dengan mata tertutup. Bisa ditakar pengetahuan mereka perihal buku-buku yang mereka sita seenaknya, hanya bermodal sampul dan judul, semua buku disapu rata untuk diamankan. Padahal, kebijakan peredaran buku sudah diatur dalam UU Nomor 3 tahun 2017, tentang sistem perbukuan. Pasal 69 dalam UU tersebut menyebutkan pengawasan buku seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku perbukuan dan masyarakat dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi.

Putusan MK Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010 menyatakan untuk menangani barang cetakan, jaksa agung tetap harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Seakan mengabaikan konstitusi, aparat keamanan bergerak melakukan razia buku sejak akhir Desember kemarin. Bermula pada 26 Desember 2018 di Kediri, disusul 8 dan 9 Januari 2019 di kota Padang dan Tarakan. Kejadian yang semakin memperkuat pemberangusan buku ini adalah pernyataan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo pada rapat kerja dengan komisi III DPR RI, Rabu, 23 Januari 2019. Bahwa perlu dilakukan razia buku yang memang mengandung unsur PKI dan perlu dilakukan perampasan di mana pun buku itu berada.

Buku-buku yang diberangus di Ternate (gambar dari sini, aslinya dari sini)

Pemberangusan buku yang 'katanya' mengandung paham ‘kiri’ dan berbau komunisme adalah gambaran betapa ketakutannya beberapa pihak di negeri ini. Cara untuk menutup mata dari peristiwa yang terjadi di tahun 1965. Memotong akses. Bahkan ketakutan-ketakutan itu hanyalah berdasarkan pada buku-buku dengan judul dan cover berbau paham kiri tadi. Merusak ideologi, katanya. Toh, mereka-mereka yang katanya aparat, jika ditanya tentang isi dari buku-buku yang mereka sita, belum tentu tahu dan paham. Jangankan tahu, membuka buku itu saja, rasanya tidak. Mereka terlalu dibutakan dengan pemikiran bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘antek PKI’ ataupun marxisme haruslah dimusnahkan, tidak untuk dipublikasikan. Biar tetap bungkam. Biar tak lagi diungkit. Biar yang terjadi di masa lalu hanya menjadi sejarah yang benar-benar punah. Mereka bahkan lupa bahwa buku adalah jendela ilmu. Ada fakta-fakta yang diungkap di dalamnya. Kalau bukan dengan buku, lalu dengan apa sejarah bisa mengungkap fakta. Sekali lagi, don’t judge the book by its cover.


Manusia Makhluk Pintar



Memang benar, pemikiran seseorang tergambar dari apa yang mereka baca. Tapi, bukankah manusia adalah makhluk yang sempurna. Diciptakan Tuhan dengan memiliki akal dan pikiran. Maka ketika membaca buku-buku ‘terlarang’ tadi, tak lantas berarti langsung menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari bahan bacaan tersebut. Sebab, seseorang bebas memilah dan memilih. Untuk tahu mana hal yang baik, maka seseorang juga perlu tahu apa-apa yang buruk. Untuk tahu jalan yang lurus, maka perlu tahu dulu mana jalan yang menyimpang. Cukup tahu, bukan untuk masuk dan menjadi bagian di dalamnya. Lalu, ketika seorang hendak mencari tahu apa itu komunisme, paham kiri, dan berbagai sejarah yang katanya menyimpang, dari mana mereka bisa mendapatkan informasi, jika bukan dari buku-buku yang justru diberanguskan? Padahal bisa saja tujuan si orang tadi membaca, hanyalah untuk studi sejarah dan keilmuan.


Masyarakat seakan dibuat buta, tapi tidaklah perlu dibodoh-bodohi. Putusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010 saja menyatakan bahwasanya dalam menangani barang cetakan, jaksa agung juga harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Dengan kata lain, proses pemberangusan buku-buku tanpa melalui proses peradilan, sama halnya dengan mengambil hak pribadi secara sewenang-wenang yang melanggar Pasal 28H ayat (4) UUD 1945. Lalu berhakkah para aparat dengan semena-mena memberanguskan buku-buku tadi tanpa prosedur yang sesuai dan mengabaikan hukum yang berlaku? Seperti kasus pemberangusan buku yang terjadi di Kediri, Padang dan Tarakan. Sedang di sisi lain, pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, setiap orang, khususnya para penulis, berhak berekspresi. Tinggal para pembaca yang dituntut cerdas memilih apa yang cocok dan hendak mereka baca. Bukan malah mendukung terjadinya proses pemberangusan buku-buku hanya karena sebuah kekalutan, pun ketakutan yang katanya akan merusak ideologi bangsa.

Kalau menurut kamu sendiri, apakah langkah pemberangusan buku ini sudah tepat?

---

Tulisan ini dibuat bersama oleh Asti, Fian dan Niar dalam rangka memenuhi tantangan menulis #katahatichallenge #katahatiproduction

---

Sumber Artikel:

- https://nasional.kompas.com/read/2016/05/12/21141091/Pemberangusan.Buku.Dinilai.Melanggar.Konstitusi
- https://tirto.id/kebodohan-razia-di-tengah-peningkatan-minat-konsumsi-buku-deyy
- https://katakerjalampau.wordpress.com/2019/01/17/ketika-para-penguasa-memilih-takut-dengan-buku/