Saturday, March 28, 2020

Taegukgi - Ketika Perang Menghancurkan Persaudaraan





Sewaktu mendapat tugas untuk membuat rekomendasi film Korea, ingatan langsung terbang ke tahun 2004 ketika saya menonton film ini langsung di cinema. Enam tahun setelah Saving Private Ryan, saya kembali ke cinema seorang diri untuk sebuah film perang.

Taegukgi (judul dalam bahasa Inggris - The Brotherhood of War) bukan film perang biasa. Film besutan Kang Je-Gyu (terkenal dengan Shiri - film Korea pertama yang dibuat dengan gaya Hollywood - dan menjadi satu-satunya film buatan tahun 90an yang masuk di 50 besar film Korea terlaris sepanjang masa) ini disebut-sebut sebagai film perang yang cukup berani karena mengungkap sisi buruk Perang Korea di tahun 1950, baik dari sisi Selatan maupun Utara. Menonton film ini, audiens seakan-akan dibawa ke kursi depan untuk langsung menyaksikan Perang Korea di depan mata.

Jang Dong Gun (di mana salah satu film layar lebarnya, Friend, menumbangkan Shiri dari puncak box office di tahun 2001) berperan sebagai Jin-Tae, seorang penyemir sepatu yang bekerja keras demi bisa mengirim adiknya kuliah. Won Bin (aktor Korea Selatan paling pemilih sepanjang masa - baru bermain enam film layar lebar sepanjang karirnya, terakhir di tahun 2010) berperan sebagai Jin-Seok, adik Jin-tae, yang masih berusia 18 tahun dengan masa depan yang cerah.


Sayangnya, invasi Korea Utara ke Korea Selatan - tempat tinggal kakak beradik Lee - memaksa keduanya harus bergabung untuk ikut berperang. Sebenarnya kewajiban ini hanya berlaku untuk Jin-Tae, sang kakak yang secara fisik lebih siap berperang, hanya saja sebuah kesalahan membuat Jin-Seok juga ikut terbawa ke barak tentara. Jin-Tae kemudian melobi pimpinannya untuk bisa mengeluarkan Jin-Seok. Sang atasan setuju, asalkan Jin-Tae dapat meraih penghargaan tertinggi untuk prajurit Korea Selatan bertitel Taeguk Cordon of the Order of Military Merit.

Usaha Jin-Tae demi mendapatkan penghargaan tersebut menimbulkan kesalahpahaman di mata Jin-Seok, ia menganggap sang kakak sudah berubah. Jin-Seok menuduh Jin-Tae haus kekuasaan dan menjadi tidak berperasaan, tanpa tahu alasan asli di balik sikap kakaknya. Ketika akhirnya Jin-Tae berhasil meraih penghargaan Taeguk, masalah lain muncul. Tunangan Jin-Tae, Young-Shin (diperankan oleh Lee Eun-Ju - yang satu tahun setelah film ini rilis memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena depresi), diduga bergabung dengan partai Komunis. Jin-Tae dan Jin-Seok yang berusaha menyelamatkan Young-Shin ditangkap pihak berwajib, sementara Young-Shin tertembak.

Usaha Jin-Tae untuk membebaskan Jin-Seok kembali menemui halangan, ketika pemimpin penjara memutuskan untuk meledakkan penjara tempat kedua kakak beradik berada. Berpikir ia telah kehilangan Jin-Seok yang tidak berhasil diselamatkannya, Jin-Tae akhirnya berbelot ke Korea Utara. Ia berpikir untuk apa setia kepada negara yang telah merengut tunangan dan adik kandungnya.


Jin-Seok yang ternyata berhasil diselamatkan mengetahui kakaknya telah bergabung dengan Korea Utara. Jin-Seok kembali bergabung dengan militer dengan harapan dapat bertemu sang kakak di medan perang. Pertemuan Jin-Tae dan Jin-Seok di tengah-tengah peperangan adalah adegan paling mengharukan dari film ini. Dua kakak-beradik yang berada di bawah bendera yang berbeda, bertemu dalam satu waktu. Semua emosi tergambar dalam satu adegan ini; rindu, terkejut, kasih sayang, kecewa, bahagia bercampur jadi satu.

Percakapan berikut sangat menggambarkan adegan di atas:

Jin-Tae: I found this in the fires, I've been holding onto this for you (sebuah pulpen dengan grafir nama Jin-Seok, yang disimpan Jin-Tae sebagai hadiah kelulusan Jin-Seok nantinya)
Jin-Seok: Give it to me --- when I see you again (menolak menerima, meminta Jin-Tae memberikannya langsung ketika perang telah berakhir)


Baik RottenTomatoes maupun IMDb memberikan rating yang sangat baik untuk film ini. Kedua situs memberikan nilai di atas 8 (dalam skala 10) atau 80 (maksimum 100%). Beberapa komentar bahkan menyebutkan Taegukgi sebagai film perang terbaik, bahkan jauh melampaui Saving Private Ryan yang tahun itu masih disebut-sebut sebagai film perang terbaik (walau dikalahkan Shakespeare in Love di ajang Oscar). Seorang kolumnis yang rutin menulis tentang apa saja terkait perang (war nerd), John Dolan, juga merekomendasikan Taegukgi sebagai salah satu film perang terbaik. 

Selain sukses secara komersial - film ini masih berada di 15 besar film Korea Selatan terlaris sepanjang masa - Taegukgi juga berhasil meraih banyak penghargaan. Tiga penghargaan film besar - Baeksang Art Awards, Blue Dragon Film Awards dan Asia Pacific Film Festival - menobatkan Taegukgi sebagai Film Terbaik

Film ini dapat disaksikan gratis di Youtube (dalam bahasa aslinya) atau mengaksesnya melalui Amazon dan atau Netflix (cek apakah film ini dapat ditonton di area anda). 


Salah satu quote terbaik yang muncul dari film ini - diucapkan oleh Jin-Seok - mempertanyakan tujuan dari perang.

What good is a medal when people are dying?
- apa gunanya medali ketika orang-orang mati?

-------

Setelah credit title muncul menandakan akhir dari 140 menit film tayang, seorang mahasiswi yang menonton sendiri di cinema menitikkan air matanya. Entah karena terharu atas film yang telah ditontonnya atau skripsi yang menghadang di semester depan.


Playlist Anak 90an





Semalam habis gemas maksimal sama hasil polling #NKOTBMarchMadness di akun twitter NKOTB yang enggak sesuai keinginan diri (yaiyalah, namanya hidup mana bisa selalu sesuai rencana - kata suara hati tiba-tiba berbicara). Lalu terpikir untuk membuat playlist tahun 90an saya sendiri, sekaligus memilih lagu-lagu dari tiap era yang jadi favorit saya.

Jadi, ini sedikit playlist era 90an (menurut saya tentu saja, kalau tetangga tentu bisa beda), yang dimulai dari lagu-lagu terbaik dari setiap tahunnya.

1990

Saya pikir yaaaa, permulaan era ini akan mudah, karena kan dulu banget saya masih kecil harusnya enggak tahu banyak lagu dong. Tapi huhuhuuu... ada dua lagu yang saya suka banget, sampai bingung mana yang lebih bisa mewakili.

...but i need to go with this one


NKOTB - TONIGHT


Pertama kali lihat video musik ini di RCTI (yaolo inget banget), langsung suka. Denting piano pertama yang memulai lagu ini benar-benar pemikat utama, lalu perubahan tempo lagu dari slow ke upbeat juga jadi kejutan yang menyenangkan. Semua tentang lagu ini mencerminkan tahun 90an banget, dari gaya rambut khas anak-anak 90an, baju neon warna-warni sampai teknik pembuatan musik video yang berputar-putar sesuka hati.

Selain lagu ini, satu lagu lagi yang saya suka di tahun 1990 dari Wilson Phillips berjudul Hold On. Lirik lagu ini keren banget, tentang bertahan karena harapan selalu ada dan akan terwujud.

Don't you know things can changeThings'll go your wayIf you hold on for one more dayCan you hold on for one more dayThings'll go your wayHold on for one more day

Lagu yang sesuai banget untuk situasi #diRumahSaja saat ini.

1991

Di tahun kelahiran banyak idola Kpop saya ini (ya ampuuunnn haha), ada satu lagu yang mencolok. Masih dengan baju neon khas 90an.

COLOR ME BADD - All 4 Love


Apalah playlist 90an tanpa latino seksi ye kannn... Sebelum Ricky Martin, Enrique, Marc Anthony atau sebelum No Mercy, Los del Rio dan Las Ketchup bergoyang-goyang, ada empat pria ini yang lebih dulu mencuri hati.

Bryan, Mark (wow, seperti susunan anggota Westlife), Kevin dan Sam sudah lumayan terkenal sejak medio 80an (seangkatan dengan NKOTB sebenarnya). Lagu-lagu mereka selalu seksi, baik lirik maupun video musiknya. Tahun lalu, Color Me Badd - CMB - (yang tinggal beranggotakan Mark Calderon saja) sempat datang ke acara Yolo Festival 2019 di Kota Kasablanka. Sebenarnya sampai tahun 2018, CMB masih beranggotakan dua orang, namun Bryan Abrams saat ini mendekam di penjara karena menyerang Mark saat sedang tampil di atas panggung.

1992

I am a sucker for a love song in duet performance!

Mencoba tidak memasukkan terlalu banyak lagu duet dalam playlist 90an ini, karena ya ampun, banyaaak banget lagu fave saya yang dinyanyikan duet.

Peabo Bryson & Regina Belle - a Whole New World 



The original always the best one.

Duet klasik untuk ost film kartun Aladdin ini salah satu lagu tema film terbaik menurut saya. Sebenarnya Peabo Bryson sih yang canggih ya, lagu dia untuk ost Beauty and the Beast (yang juga dirilis di tahun yang sama), juga sama terkenalnya. Kedua lagu ini sama-sama masuk nominasi Grammy Awards tahun 1994 untuk kategori Best Pop Performance by a Duo or Group with Vocals. A Whole New World akhirnya tidak hanya menang di kategori tersebut, tapi juga menyabet Song of the Year di ajang yang sama, satu-satunya lagu Disney yang pernah menang kategori Grammy ini sampai sekarang.

1993

Anothe duet lol, how can i resist this cute song?

Lea Salonga & Brad Kane - We Could Be in Love


Dua penyanyi versi musikal Broadway dari Aladdin ini, menyanyikan satu lagu manis begini kan bikin meleleh banget. Lea Salonga saat itu juga menjadi penyanyi pertama asal Filipina yang dikontrak label artis internasional.

Sekitar tahun 2016 lalu, keduanya reuni di acara Good Morning America menyanyikan A Whole New World kembali. Entah kapan mereka berdua akan reuni untuk menyanyikan We Could Be in Love yaa....

1994

Selain lagu duet, saya juga suka lagu band jadi-jadian atau kadang malah one-hit wonder haha. Ada beberapa lagu seperti ini yang saya suka, dari mulai Guys Next Door, The Heights, sampai The Wonders. Tapi paling memorable untuk saya tentu...

The Rembrandts - I'll Be There For You


Nada pembukanya sungguh ikonik untuk seluruh penggemar serial FRIENDS di seluruh dunia. Selama sepuluh tahun serial ini tayang, selama itu pula lagu pembuka ini akan muncul. I'll Be There For You sebenarnya dirilis resmi ke publik di tahun 1995, namun lagu ini telah menemani serial Friends dari pertama kali tayang di September 1994.

Lirik lagu I'll Be There For You selain ditulis oleh duo The Rembrandts, juga ikut ditulis oleh produser serial Friends, David Crane dan Marta Kauffman. Lagu tema ini disebut-sebut sebagai salah satu lagu tema serial TV terbaik.

1995

Sebuah lagu yang sangat emosional untuk saya. Seringnya saya skip kalau lagi membahas lagu favorit, karena malas saja jadi teringat grup favorit dimana mereka menyia-nyiakan salah satu vokalis terbaiknya. Lagu ini adalah salah satu lagu yang memperlihatkan keunikan vokal Stephen Gately.

BOYZONE - Key to My Life


Apalagi pakai setting sekolahan begini kan, lemah banget Asti.

Satu yang pasti, Ro hanya dapat sedikit line di sini haha. Sisanya Steo semua, karenanya lagu ini dengan mudah menjadi all time fave saya.

Oh iya, Key to my Life juga menjadi lagu Boyzone pertama yang dirilis dan tidak berupa lagu daur ulang. Lagu ini juga melibatkan semua anggotanya untuk menulis lirik lagunya.

1996

Janji, ini lagu duet terakhir dalam daftar ini. Benar deh. haha.

Barbra Streisand & Bryan Adams - I Finally Found Someone



Ini adalah lagu duet paling favorit saya sepanjang masa. Lagu ini bahkan masuk ke dalam daftar lagu yang dimainkan oleh wedding band saya dahulu kala, saking sukanya.

Lagu ini adalah lagu tema dari film komedi romantis The Mirror Has Two Faces yang dibintangi sekaligus diproduseri oleh Barbra Streisand sendiri. Streisand juga yang membuat album tema dari film ini bersama dengan Marvin Hamslich, Mutt Lange dan Bryan Adams. I Finally Found Someone juga berhasil menyabet penghargaan Grammy di tahun 1997 dan 1998, masing-masing untuk kategori Best Original Song dan Best Pop Collaboration.

Memilih lagu kesukaan di tahun 1996 sungguh sulit untuk saya, karena banyaknya lagu lain yang saya suka di tahun itu. Mulai dari Spice Girls, Savage Garden, Alanis Morissette, Jennifer Paige sampai Gina G. Mungkin nanti harus membuat postingan tersendiri untuk playlist 90an khusus tahun 1996 yaaa.

1997

Sebuah anthem yang semua anak 90an hafal mati liriknya, dan mungkin ikutan potong rambut ala Nat.

Natalie Imbruglia - Torn


Simpel dan mengena sih ya liriknya. Dulu banget saat Torn memuncaki banyak tangga lagu, saya sebel banget sama lagu ini, entah kenapa. Seperti suka, benci juga kadang tanpa alasan haha. Selain lagu ini, saya sebenarnya suka banget sama lagu Blur, tapi entah kenapa (sepertinya faktor usia haha) sekarang saya lebih suka Torn dibanding Song 2.

1998

Tahun Piala Dunia terbaik versi saya! Saya pernah menceritakan tentang Piala Dunia 1998 sendiri di sini dan karena saat itu Ricky Martin sudah masuk daftar, sekarang harus cari lagu lain yang mewakili tahun ini. Namun, harus tetap nuansa Piala Dunia (tetep!)


Kolaborasi paling aneh yang pernah terjadi kalau saya boleh bilang haha. Spice Girls bergabung dengan supergrup yang disebut England United (terdiri dari beberapa personel Echo and the Bunnymen, Ocean Color Scene dan Space). Dilihat dari jenis musik saja, mereka susah ketemu seharusnya, namun karena tahun itu Spice Girls sedang di atas angin (nama grup mereka juga disebut lebih dahulu di titelnya) maka tidak heran kalau lagunya jadi Pop banget.

(How Does It Feel To Be) On Top of the World dirilis sebagai lagu resmi tim nasional Inggris untuk mendukung mereka di Piala Dunia 1998. Video musik lagu ini juga dipenuhi oleh banyak pemain timnas seperti Ian Wright, Alan Shearer, kakak-beradik Neville sampai David Beckham yang merupakan kapten tim saat itu dan tengah berpacaran dengan salah satu anggota Spice Girls, Victoria.

Video musik lagu ini juga menjadi kemunculan terakhir Geri Halliwell bersama rekan-rekannya sebelum memutuskan hengkang dari Spice Girls (sebelum akhirnya reuni kembali di 2007).

1999

Akhir dekade 90an ditutup dengan lagu paling favorit saya dari semua lagu yang ada dalam daftar ini. Ironisnya, lagu ini dibawakan oleh vokalis saingan Steo yang sebelumnya sempat saya benci. Untung saja selera saya lumayan obyektif ya, kalau lagu bagus mah bagus saja (pembelaan).

Ronan Keating - When You Say Nothing At All


Diambil dari lagu tema salah satu film komedi romantis terbaik sepanjang masa, Notting Hill, When You Say Nothing At All sebenarnya lagu country yang diciptakan oleh Paul Overstreet dan Don Schlitz di tahun 1988. Lagu ini sudah dibawakan oleh tiga penyanyi, dan ketiganya meraih kesuksesan yang luar biasa.

Penyanyi aslinya, Keith Whitley, membawa lagu ini ke puncak tangga lalu Billboard Hot Country Singles di tahun 1988. Versi Alison Krauss mengantarkannya pertama kali masuk ke Top 10 lagu country di 1995. Terakhir, Ronan menjadikan lagu ini sebagai single debutnya sebagai penyanyi solo. When You Say Nothing At All versi Ronan berhasil menjadi nomor satu di UK, Irlandia dan Selandia Baru.

Saya sendiri suka sekali menyanyikan lagu ini kepada anak saya waktu bayi dulu, setiap dia menangis dan saya nyanyikan lagu ini, entah mengapa dia jadi diam.

You say it bestWhen you say nothing at all

...mungkin karena lirik di atas, secara tidak langsung menyuruhnya diam. 

---

Akhirnya selesai juga tulisan pertama saya setelah terakhir kali menulis di sini, satu tahun lalu dan terakhir menulis di tagar #BackToThe90sBattle satu setengah tahun yang lalu. Semoga yaaa,,, semoga akan ada tulisan-tulisan lain di tahun 2020 ini. Mumpung lagi #DiRumahSaja semoga lebih ada waktu luang.

Oh!
Semua rekomendasi di atas berikut sidekick-nya dapat dinikmati di playlist Youtube yang sudah saya buat, atau di playlist Spotify. Enjoy!

Dan...
Semoga jugaaaaa Mamah Merah ikutan melanjutkan battle ini!

The baton on you, sis!




Monday, February 11, 2019

Kisah Pemberangusan Buku dan Literasi Indonesia



Penempatan Indonesia sebagai negara ke-60 dari 61 negara dalam World's Most Literate Nations menjadi satu masalah dan kekhawatiran tersendiri bagi dunia literasi Indonesia. Menurut daftar yang dibuat oleh Central Connecticut State University tahun ini, Indonesia bahkan menempati urutan kedua terendah dan hanya setingkat di atas Botswana (negara kecil di Afrika) dalam hal literasi.

Meningkatnya Penjualan Buku di Indonesia


Rendahnya semangat literasi masyarakat Indonesia membuat pemerintah sebaiknya mulai berpikir cara untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Industri percetakan sendiri saat ini tengah bergairah. Tirto.id mengungkap jumlah anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) telah mencapai lebih dari 1.000 anggota. Toko buku ritel terbesar di Indonesia, Gramedia, mencatat pertumbuhan penjualan buku meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya di 2018. Tidak ada masalah dari sisi permintaan dan penyediaan, karena tidak mungkin Gramedia bisa meningkatkan penjualan apabila tidak ada permintaan dari masyarakat. Sekarang tinggal dukungan dari pemerintah saja yang seharusnya semakin menyuburkan minat baca masyarakat.

Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKB) mengungkap cara terbaik meningkatkan minat baca dengan memfasilitasi akses masyarakat ke sumber bacaan. Ada tiga pihak yang sebaiknya bekerja sama: penulis, penerbit dan pemerintah. Menilik dari data IKAPI dan Gramedia sebelumnya, terlihat jelas kerjasama antara penulis dan penerbit sudah terjalin dengan baik. Satu yang tersisa, pemerintah. Dukungan pemerintah yang paling bermanfaat adalah memberikan akses yang mudah untuk masyarakat ke sumber bacaan. Beberapa contoh yang dikemukakan BPKB meliputi membentuk dan mempercantik perpustakaan sekolah, daerah dan nasional. Setelah itu, mempromosikannya. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Medan Merdeka, Jakarta, contohnya. Gedung perpustakaan dibuat nyaman untuk tempat membaca atau sekadar bersantai, sistem peminjaman buku mudah dan lokasinya terbuka untuk dipakai berbagai macam acara, terutama yang berkenaan dengan literasi. Salah satu cara promosi yang baik untuk perpustakaan tersebut.

Acara Gramedia Writing & Readers Forum di Perpusnas (gambar dari sini)

Inisiatif pemerintah yang sudah baik dengan perpusnas ini misalnya, sangat sayang apabila dinodai dengan tindakan-tindakan pemberangusan buku yang banyak terjadi belakangan ini. Fokus pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dapat dengan mudah terpecah. Masyarakat bisa saja semakin malas membaca. Karena belum apa-apa, ada-ada saja pihak yang sudah memutuskan tentang buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh warga negara. Bisa jadi, kasus pemberangusan buku ini malah memiliki efek domino.

Maraknya Pemberangusan Buku di Indonesia


Namun, alih-alih berupaya meningkatkan literasi Indonesia yang tengah menyandang predikat miris, malah akhir-akhir ini pemberangusan buku marak dilakukan. Sejak akhir Desember tahun lalu, aparat yang bertugas di beberapa daerah menyambangi toko buku dan menyita buku-buku ‘kiri’, khususnya yang dianggap menganut paham komunis.

Konyolnya, mereka merasa bertindak heroik dengan mata tertutup. Bisa ditakar pengetahuan mereka perihal buku-buku yang mereka sita seenaknya, hanya bermodal sampul dan judul, semua buku disapu rata untuk diamankan. Padahal, kebijakan peredaran buku sudah diatur dalam UU Nomor 3 tahun 2017, tentang sistem perbukuan. Pasal 69 dalam UU tersebut menyebutkan pengawasan buku seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku perbukuan dan masyarakat dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi.

Putusan MK Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010 menyatakan untuk menangani barang cetakan, jaksa agung tetap harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Seakan mengabaikan konstitusi, aparat keamanan bergerak melakukan razia buku sejak akhir Desember kemarin. Bermula pada 26 Desember 2018 di Kediri, disusul 8 dan 9 Januari 2019 di kota Padang dan Tarakan. Kejadian yang semakin memperkuat pemberangusan buku ini adalah pernyataan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo pada rapat kerja dengan komisi III DPR RI, Rabu, 23 Januari 2019. Bahwa perlu dilakukan razia buku yang memang mengandung unsur PKI dan perlu dilakukan perampasan di mana pun buku itu berada.

Buku-buku yang diberangus di Ternate (gambar dari sini, aslinya dari sini)

Pemberangusan buku yang 'katanya' mengandung paham ‘kiri’ dan berbau komunisme adalah gambaran betapa ketakutannya beberapa pihak di negeri ini. Cara untuk menutup mata dari peristiwa yang terjadi di tahun 1965. Memotong akses. Bahkan ketakutan-ketakutan itu hanyalah berdasarkan pada buku-buku dengan judul dan cover berbau paham kiri tadi. Merusak ideologi, katanya. Toh, mereka-mereka yang katanya aparat, jika ditanya tentang isi dari buku-buku yang mereka sita, belum tentu tahu dan paham. Jangankan tahu, membuka buku itu saja, rasanya tidak. Mereka terlalu dibutakan dengan pemikiran bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘antek PKI’ ataupun marxisme haruslah dimusnahkan, tidak untuk dipublikasikan. Biar tetap bungkam. Biar tak lagi diungkit. Biar yang terjadi di masa lalu hanya menjadi sejarah yang benar-benar punah. Mereka bahkan lupa bahwa buku adalah jendela ilmu. Ada fakta-fakta yang diungkap di dalamnya. Kalau bukan dengan buku, lalu dengan apa sejarah bisa mengungkap fakta. Sekali lagi, don’t judge the book by its cover.


Manusia Makhluk Pintar



Memang benar, pemikiran seseorang tergambar dari apa yang mereka baca. Tapi, bukankah manusia adalah makhluk yang sempurna. Diciptakan Tuhan dengan memiliki akal dan pikiran. Maka ketika membaca buku-buku ‘terlarang’ tadi, tak lantas berarti langsung menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari bahan bacaan tersebut. Sebab, seseorang bebas memilah dan memilih. Untuk tahu mana hal yang baik, maka seseorang juga perlu tahu apa-apa yang buruk. Untuk tahu jalan yang lurus, maka perlu tahu dulu mana jalan yang menyimpang. Cukup tahu, bukan untuk masuk dan menjadi bagian di dalamnya. Lalu, ketika seorang hendak mencari tahu apa itu komunisme, paham kiri, dan berbagai sejarah yang katanya menyimpang, dari mana mereka bisa mendapatkan informasi, jika bukan dari buku-buku yang justru diberanguskan? Padahal bisa saja tujuan si orang tadi membaca, hanyalah untuk studi sejarah dan keilmuan.


Masyarakat seakan dibuat buta, tapi tidaklah perlu dibodoh-bodohi. Putusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010 saja menyatakan bahwasanya dalam menangani barang cetakan, jaksa agung juga harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Dengan kata lain, proses pemberangusan buku-buku tanpa melalui proses peradilan, sama halnya dengan mengambil hak pribadi secara sewenang-wenang yang melanggar Pasal 28H ayat (4) UUD 1945. Lalu berhakkah para aparat dengan semena-mena memberanguskan buku-buku tadi tanpa prosedur yang sesuai dan mengabaikan hukum yang berlaku? Seperti kasus pemberangusan buku yang terjadi di Kediri, Padang dan Tarakan. Sedang di sisi lain, pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, setiap orang, khususnya para penulis, berhak berekspresi. Tinggal para pembaca yang dituntut cerdas memilih apa yang cocok dan hendak mereka baca. Bukan malah mendukung terjadinya proses pemberangusan buku-buku hanya karena sebuah kekalutan, pun ketakutan yang katanya akan merusak ideologi bangsa.

Kalau menurut kamu sendiri, apakah langkah pemberangusan buku ini sudah tepat?

---

Tulisan ini dibuat bersama oleh Asti, Fian dan Niar dalam rangka memenuhi tantangan menulis #katahatichallenge #katahatiproduction

---

Sumber Artikel:

- https://nasional.kompas.com/read/2016/05/12/21141091/Pemberangusan.Buku.Dinilai.Melanggar.Konstitusi
- https://tirto.id/kebodohan-razia-di-tengah-peningkatan-minat-konsumsi-buku-deyy
- https://katakerjalampau.wordpress.com/2019/01/17/ketika-para-penguasa-memilih-takut-dengan-buku/

Thursday, December 20, 2018

Konser Ed Sheeran di GBK – 5 Alasan Harus Nonton

credit: Alphacoders

Kayanya ga mungkin ada yang belum pernah dengar lirik lagu ‘I’m in love with the shape of you’? Atau jangan-jangan ada yang beneran belum pernah dengar? πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜± Apakah kamu tinggal di Timbuktu? Lagu berjudul  ‘Shape of You’ milik Ed Sheeran ini memuncaki daftar teratas Spotify, aplikasi pemutar musik, tahun 2017 lalu lho. ‘Shape of You’ juga telah diputar hampir 4 Miliar kali di kanal pemutar video ‘Youtube’. Tidak heran apabila konser Ed Sheeran adalah salah satu konser Jakarta yang ditunggu-tunggu kehadirannya.  


‘Shape of You’ bukan satu-satunya lagu milik Ed Sheeran yang terkenal, mungkin kamu lebih familiar dengan ‘Thinking Out Loud’ atau ‘Perfect’? Tahun 2017 nama Ed Sheeran merajai daftar musisi teratas yang banyak didengarkan pecinta musik tanah air. Sehingga tidak heran banyak penggemarnya di Indonesia bersukacita, ketika kabar konser Ed Sheeran pada bulan November 2017 lalu di Jakarta mencuat. Namun sayang, kecelakaan sepeda yang menimpa Ed Sheeran membuat  konser musik tersebut harus dibatalkan. Janjinya untuk mengganti jadwal konser akhirnya terpenuhi setelah PK Entertainment mengumumkan tanggal terbaru konser Ed Sheeran di bulan Maret 2019 nanti. Lebih serunya, konser kali ini mengambil tempat di Gelora Bung Karno.


credit: edsheeranjakarta.com
Rangkaian konser musik ‘Divide World Tour’ milik Ed Sheeran ini telah berjalan dari  16 Maret 2017 lalu dan mencakup 257 kota di dunia. Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang akan dikunjungi.

Alasan apa lagi sih yang membuat kamu wajib menonton konser Ed Sheeran ini:


1. British Greatest Act


credit: Officialcharts

Sejak awal kemunculannya di tahun 2011, Ed Sheeran telah menorehkan banyak prestasi. Predikat best new artist berhasil diraihnya di ajang bergengsi Brit Awards, penghargaan tertinggi untuk musisi Inggris. Sejak itu, ia telah mengoleksi 15 piala Brit Awards. Tidak salah apabila Ed Sheeran disebut-sebut sebagai musisi Inggris paling besar di masa kini. Kesuksesannya hingga ranah musik Amerika Serikat semakin memperkuat predikat tersebut. Dua belas penghargaan Grammy Awards telah diraihnya sejak tahun 2013.


2. Konser Musik One Man Show


credit: taittowers
Pada setiap konser musik yang dijalankannya, Ed Sheeran tampil tampa band pendukung atau penyanyi pengiring. Hanya Ed Sheeran sendiri di atas panggung, bersama gitar dan putaran pedal yang setia menemaninya. Hal ini dilakukan Ed sepanjang konser musik yang pastinya berjalan lebih dari dua jam. Bayangkan energi yang dimiliki untuk menghibur puluhan ribu penggemar yang datang membeli tiket konser Ed Sheeran. Luar biasa bukan?


3. Menjadi Bagian dari Puluhan Ribu Orang yang Beruntung Mendapat Tiket Konser




Tiket konser Jakarta yang dijual untuk Divide World Tour 2019 ini sebanyak 45.000 lembar. Sehingga hanya 45.000 penggemar ini yang beruntung dapat menyaksikan konser Ed Sheeran nantinya. Ed Sheeran sendiri masuk sebagai salah satu dari lima besar musisi yang paling banyak didengarkan versi Spotify Indonesia, terbayang  jadinya kan berapa banyak penggemar Ed Sheeran di Indonesia. Pastinya istimewa sekali kalau bisa jadi salah satu dari mereka yang beruntung untuk menyaksikan konser musiknya secara langsung.

4. Keseruan Menonton Konser Ed Sheeran di Stadion Gelora Bung Karno



Tiket konser Ed Sheeran selalu terjual habis dimanapun ia mengadakan konser. Ed juga selalu memilih stadion terbuka sebagai lokasi konser musik yang diadakannya, demikian juga konser di Jakarta nanti yang akan diadakan di Gelora Bung Karno. Bukan tanpa alasan tentunya, stadion terbuka memungkinkan banyak penggemar langsung berkumpul dan bisa bernyanyi bersama. Sudah menonton film ‘Bohemian Rhapsody’? Keseruan yang ditampilkan saat Queen manggung untuk acara ‘Live Aid’ seperti itu yang akan dirasakan penonton konser Ed Sheeran nantinya.

5. Konser Ed Sheeran Terakhir


credit: Worldofbuzz

Satu alasan paling penting tentunya karena konser Jakarta ini menjadi perhentian terakhir rangkaian ‘Divide World Tour’ di benua Asia. Sudah tahu dong, yang terakhir biasanya spesial. Apalagi konser ini telah dinanti-nanti sejak jadwal pertama yang batal di tahun 2017 lalu. Sudah terbayang penampilan menakjubkan apa saja yang akan disuguhkan Ed Sheeran pada konser musiknya kali ini.



Nah, makin tertarik untuk nonton konser Ed Sheeran? Langsung saja cari tiket konser Ed Sheeran yang dijual secara daring ya. Jangan sampai kehabisan! 



Cerita yuk yang sudah dapat tiket konser, persiapan apa saja nih yang dilakukan untuk Maret 2019 nanti?





Sunday, August 12, 2018

Suka Duka Menjadi Travel Writer di Zaman Now


Akhir pekan ini (11/08) cukup produktif untuk saya karena sempat menghadiri salah satu acara yang diadakan oleh The Jakarta Post Writing Center, atau biasa disingkat TJP. Bukan kali pertama saya ikut acara milik mereka, tahun lalu saya sempat mengikuti salah satu workshop mereka terkait Narrative Essay dan secara rutin, tiap tahun sejak 2017, saya hadir pada acara tahunan Writer's Series. 

Mengetahui mereka mengadakan sesi gratis terkait Travel Writing melalui laman instagram, tentu saya tidak menyia-nyiakan diri untuk mendaftar ya. Sempat ajak teman lagi, lumayan ada teman ngobrol. Walaupun kalau misalnya ga ada temen pun tetap saja jalan sih saya haha.
Wini yang beruntung menemani saya kemarin haha
The Jakarta Post Writing Center ini adalah bagian dari media nasional The Jakarta Post.
The Jakarta Post Writing Center is the continuing education and professional development division of The Jakarta Post media which specializes in English writing studies.
Tujuan dari TJP adalah menciptakan lebih banyak orang untuk membagikan cerita dalam bahasa Inggris. Banyak program yang dilakukan divisi pendidikan dan pengembangan milik Jakarta Post ini, terbagi menjadi lima bagian utama. Academia bertujuan untuk membantu peserta dalam membuat tulisan ilmiah, Corporate Training fokus pada kebutuhan spesifik dan bisa dimodifikasi oleh perusahaan,  Business and Communication berfokus pada cara efektif melakukan komunikasi bisnis, Personal Development berfokus mengeluarkan aspek terbaik dari diri dan terakhir, favorit saya, Creative Writing Workshop yang menggambarkan tujuan utama dari program TJP. 

Creative Writing Workshop (CWW) terdiri dari tiga jenis program di dalamnya; kelas akhir pekan, kelas pendek dan kelas satu hari. Kelas Travel Writing adalah bagian dari kelas akhir pekan, seperti program Narrative Essay yang saya ikuti tahun 2017 silam. Kelas ini berlangsung dalam waktu enam minggu, dengan satu sesi sepanjang empat jam per minggu. Setiap sesinya akan penuh dengan banyak diskusi menarik dan tentu saja tugas-tugas yang melimpah haha. Biaya workshop tahun 2018 ini masih sama seperti tahun lalu, 5,500,000 per orang. Ada diskon satu juta rupiah untuk mereka yang mengikuti sesi kali ini. Wini, teman saya sih kayanya tertarik. Nanti saya pinjam materi dia saja deh hihi.

Mia - koordinator TJP

Ninda - koordinator Creative Writing
Acara dimulai dengan dua sambutan dari koordinator divisi TJP dan program CWW, menjelaskan terkait TJP secara umum, dan CWW secara khusus. Tentunya sekalian promosi kelas Travel Writing yang akan mulai di bulan September besok. Pukul 14.30 narasumber utama acara siang hari itu muncul, Agustinus Wibowo. Ini kali kedua saya mengikuti seminar dengan narsum Agustinus, sebelumnya awal tahun ini, saya mengikuti kelas yang hampir sama di acara Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) bulan April lalu di Perpustakaan Nasional. Pada acara GWRF itu saya sangat terkesima dengan cara Agustinus membawakan materi, jelas terlihat semangat dan kecintaannya terhadap profesi yang ia geluti sejak tahun 2005 silam. Salah satu alasan lain saya bersemangat ikutan acara ini.

They said 1 photo worth 1000 words, but 1000 words is not enough to tell story. So that's why I became a writer
-Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo memulai karirnya sebagi fotografer perjalanan (travel photography) sebelum akhirnya beralih menjadi penulis. Cerita perjalanannya dimulai pada tahun 2005 ketika ia memulai petualangannya melalui perjalanan darat keliling Asia. Agustinus sempat terdampar selama tiga tahun di Afghanistan dan bertahan menjadi jurnalis foto. Sampai saat ini, ia telah menerbitkan tiga buku berbahasa Indonesia dan satu buku dalam bahasa Inggris. Tulisan-tulisan Agustinus dikenal dalam dan penuh kontemplasi, hal ini tentu sangat dipengaruhi dengan kemampuannya berbicara dengan penduduk setempat. Kepiawaiannya dalam menulis ini didukung kecintaannya pada bahasa. Saat ini selain Bahasa Inggris, Indonesia dan Mandarin, setidaknya ia menguasai tiga belas bahasa lainnya. Bahasa-bahasa ini dipelajarinya secara akademis dan otodidak. 

foto dari agustinuswibowo.com
Pada awal sesi, Agustinus mengajak peserta merumuskan terlebih dahulu apa itu travel writing dan apa bedanya dengan jenis tulisan lain. Satu hal spesial yang membedakan travel writing dengan jenis tulisan lain seperti esai, memoar, jurnalistik atau sejarah adalah fokusnya. Travel writing berfokus pada tempat. Melihat dari dua kata yang terbentuk, tentunya kegiatan ini terdiri dari dua aktivitas: travel dan writing. Aktivitas terakhir tentunya yang paling sulit dilakukan, menulis - mencari cerita untuk dituliskan.

gambar dari sini
Agustinus kemudian mengajak peserta mencari tahu alasan seseorang menuliskan pengalamannya berwisata. Hal ini tentu saja tidak lepas dari semakin mudahnya seseorang melakukan perjalanan wisata saat ini. Berbagai jawaban muncul dari mulai sekedar untuk mendokumentasikan perjalanan, berbagi kepada pembaca lain sampai pamer haha. Jujur banget deh yang jawab pamer. Dan memang tidak ada yang salah dari semua jawaban tersebut, apalagi di masa sekarang ketika sosial media tersebar di mana-mana, sehingga semua orang dapat dengan mudah berbagi cerita. Aktivitas ini tentu membuat semakin banyak orang yang menyebut dirinya 'travel writer' di luar sana. 

Berwisata di zaman now demikian mudah. Penerbangan dengan biaya rendah banyak tersedia, pilihan akomodasi semakin beragam,tidak hanya terbatas pada hotel dan hostel tapi juga berbagi ruangan. Situs rekomendasi yang berasal dari pengalaman nyata sesama wisatawan pun banyak tersedia, sehingga semakin banyak referensi yang dapat diperoleh. Semakin mudah juga untuk seseorang berbagi di laman daring, menceritakan semua pengalamannya berwisata. Mulai dari berbagi itineraries, biaya yang dihabiskan sepanjang perjalanan, tips dan trik terkait segala macam hal terkait perjalanan wisata sampai aspek-aspek terkecil lainnya. 
semua mitos ini tidak benar adanya
Bertebarannya semua informasi ini, serta gratis, di internet menjadikan semakin sempitnya ruang lingkup seorang 'travel writer' sejati. Memuat satu tulisan di laman daring sudah membuat siapapun dapat menyebut dirinya sebagai penulis perjalanan. Hal ini tidak salah, mengingat profesi travel writer tidak memerlukan latar belakang pendidikan tertentu atau sertifikat keahlian khusus yang perlu diraih. Semua orang dapat menjadi travel writer

Semua fakta yang diungkapkan Agustinus ini menyadarkan peserta terkait fakta semakin sulitnya menjalani profesi ini. Melihat tidak benarnya semua mitos menyenangkan yang kerap dikaitkan dengan profesi ini semakin menguatkan hal itu. Bukan kesempatan menjadi menjadi travel writer tertutup, namun kualifikasinya menjadi semakin sulit. Saat ini pembaca (dan juga editor), membutuhkan tulisan yang mampu menunjukkan perspektif berbeda dari satu lokasi tertentu. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang telah berkunjung ke satu tempat yang sama, karena jujur tidak ada lagi tempat di muka bumi ini yang belum pernah dijelajahi manusia. Cerita yang unik dengan pendekatan yang berbeda akan mencuri perhatian.

Sebutlah Menara Eiffel, Taj Mahal atau Candi Borobudur. Jutaan orang telah singgah di lokasi-lokasi ikonik tersebut, dari berbagai latar belakang dan budaya. Mampukah kita mengeluarkan cerita yang berbeda dari yang telah ada? Adakah sudut yang belum terjamah dan diceritakan ke dunia luar? Apa keistimewaan kita sebagai penulis yang mampu membuat cerita terasa berbeda dari penulis lainnya?


Agustinus menyarankan satu tip untuk semua orang yang ingin menjadi travel writer, banyaklah bertanya. Pergilah dalam satu perjalanan layaknya seorang detektif yang memiliki misi untuk diselesaikan. Tetapkanlah tujuan perjalanan ini di awal. Tentukan sudut apa yang ingin dicapai; apakah sisi sejarah, aspek kuliner atau kehidupan sosial di sekitar satu tempat. Tajamkan seluruh indra dalam diri kita untuk mendapatkan pengalaman yang sebenar-benarnya. Lihat dari sudut pandang yang berbeda. 
Deliver the places as if the readers experience itself
Travel writer adalah bagian dari jenis tulisan non-fiksi kreatif.  Nonfiksi kreatif memadukan aspek menghibur dari tulisan fiksi, namun tidak melupakan fakta nyata dari sebuah tulisan nonfiksi. Tantangannya tentu saja mengemas semua fakta ini menjadi tulisan yang tidak hanya memberikan pengalaman baru pada pembaca, membuat mereka ikut merasakan perjalanan tersebut, namun juga menghibur pembaca.


Mulailah menulis dengan melakukan empat hal berikut:
  • Menentukan tema - tema besar tulisan kita dalam satu kata
  • Membuat premis - kesimpulan cerita yang ditulis dalam satu kalimat
  • Melakukan peta memori - mengumpulkan semua aspek yang terjadi dalam perjalanan yang dilakukan
  • Menyusun struktur - membuat rumusan alur dari tulisan yang dibuat

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam menulis kisah perjalanan saat ini adalah aspek kontemplasi. Mengapa cerita ini perlu dibagikan kepada pembaca? Apa arti dari perjalanan tersebut untuk aku? Apa yang membuatnya spesial? Mengapa pembaca akan dapat menarik keuntungan dari kisah saya?

Setelah sekitar satu jam membawakan materi, Agustinus membuka sesi tanya jawab dengan diskusi yang menyenangkan dan terbuka. Saya sendiri sempat menanyakan terkait perlukah seorang penulis perjalanan memiliki keterampilan memotret atau mengedit video. Dengan jujur Agustinus menyatakan dua hal tersebut adalah kegiatan yang membutuhkan kemampuan dan fokus yang berbeda. Media yang baik biasanya memiliki dana terpisah untuk penulis dan fotografer, dan mereka tidak harus bepergian bersama-sama. Namun tentunya dengan alasan efektivitas dan efisiensi saat ini, kedua tugas tersebut sering dilakukan oleh satu orang yang sama. Ini salah satu alasan mengapa banyak muncul tulisan-tulisan yang kurang dalam saat ini. Membagi konsentrasi antara menulis dan memotret itu sungguh melelahkan, tambahnya. 

Salah satu peserta yang mengaku penggemar berat Agustinus, sedang mengajukan pertanyaan
Pertanyaan lainnya seputar kendala dana sehingga tidak dapat bepergian jauh untuk menghasilkan cerita. Agustinus menjawab cerita perjalanan tidak musti jauh dan mahal. Ceritakan tentang berbagai macam tempat di sekitar kita, sekitar tempat tinggal kita, sudah lebih dari cukup. Selama kita melakukan perjalanan dengan baik, pasti akan tercermin dari kualitas tulisan kita. Terkadang kita lupa melihat sekitar dan fokus melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan cerita. Wah, tertohok sekali ini saya haha.

Jawaban Agustinus tentang profesi travel writer dapatkah diandalkan sebagai profesi utama ini paling ditunggu-tunggu semua peserta. Agustinus mengakui saat ini profesi utamanya adalah travel writer, tapi bukan hal mudah tentunya menjalani profesi ini sekarang. Tidak bisa lagi mengandalkan dengan hanya menulis untuk media tertentu, namun harus menulis buku dan memperbanyak menulis artikel. Namun lebih jauh dari sekedar pendapatan, travel writer yang baik harus mampu memaksimalkan kehidupannya.

sesi foto bersama yang ditunggu-tunggu
Tidak sabar menunggu sesi-sesi penuh inspirasi lainnya dari TJP, deh. Mereka menyebutkan sesi semacam ini adalah bagian dari kegiatan klub buku yang mereka miliki. Sehingga sangat mungkin sesi sejenis akan diadakan lagi secara teratur. 

Yuks, ikutan bareng kalau ada lagi ya?

Serunya Ketemu Lisa Blackpink


Kamis (09/08) lalu adalah hari yang bersejarah untuk semua Blinks Indonesia. Blinks adalah panggilan untuk penggemar grup vokal wanita asal Korea Selatan, Blackpink. Untuk pertama kalinya, salah satu personel Blackpink berkunjung ke Indonesia. Pranpriya Manoban, nama lengkap Lisa, adalah anggota Blackpink asal negara tetangga, Thailand. 

Blackpink (BP) adalah girlgroup bentukan agensi hiburan Korea Selatan, YG Entertainment. BP dibentuk pada 8 Agustus 2016 silam, enam tahun setelah YG sukses dengan 2NE1. Sampai saat ini, BP memang sering dianggap sebaik 'adiknya 2NE1'. Bukan tanpa alasan tentunya, mengingat kedua grup memiliki jumlah anggota, gaya serta jenis musik yang sama. BP beranggotakan Jisoo (vokalis), Jennie (rapper), Rose (vokal utama) dan Lisa (dancer).  Video musik untuk lagu debut mereka, Boombayah, telah ditonton 350 juta kali di kanal Youtube. Walaupun telah debut dari 2016, mereka baru mempunyai debut album pada 15 Juni 2018 berjudul 'Square Up'.

BP memiliki catatan rekor yang sangat membanggakan. Bulan Agustus ini mereka memuncaki daftar girlgroup Korea Selatan paling berpengaruh dari segi branding. Pada daftar ini BP secara teratur berada di tiga besar bersama dua grup besar lainnya seperti Twice dan Red Velvet. Namun berbeda dengan BP, kedua grup tersebut rajin mengeluarkan lagu dan album baru setidaknya sekali dalam jangka waktu tiga atau enam bulan. Berbeda dengan BP yang sepanjang 2017 kemarin hanya mengeluarkan satu lagu bertajuk 'As If It's Your Last' yang telah ditonton lebih dari 365 juta di kanal Youtube, jauh lebih banyak dari lagu debut mereka. Tidak heran apabila lagu terbaru mereka, Ddu-du Ddu-du, yang baru dirilis 15 Juni kemarin sudah mendekati 300 juta tampilan.

gambar dari shopee
Tidak heran ketika aplikasi belanja daring Shopee mengumumkan rencana mereka memboyong Lisa, Blink Indonesia macam histeris. Pada beberapa media sosial, terutama twitter, banyak cuitan terkait informasi ini. Shopee sendiri membawa Lisa sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka. Dalam rangka peluncuran toko resmi milik YG Entertainment, Shopee melakukan promosi dengan memberikan 3000 tiket gratis untuk bertemu Lisa. Tentu saja saya ikutan tertarik, kapan lagi menonton acara Korea dengan harga tiket kurang dari lima ratus ribu rupiah kan saya pikir. Mengingat tetap harus membeli barang, tentu incaran saya sesuatu dengan harga paling murah atau yang saya masih tetap bisa simpan misalnya album. Haha. 


Peluncuran toko daringnya sendiri dilakukan pada 31 Juli 2018. Saya sempat deg-deg-an sih dapat atau enggak, melihat jarang beruntung dalam perburuan versi daring begini. Terakhir kali berburu daring adalah membeli tiket konser Wannaone dan itu butuh sekitar empat jam sampai akhirnya dapat tiket, karena ada yang membatalkan pembelian. Nah sementara untuk acara Shopee ini, sepertinya berbeda sistem dan tentu saja dengan kuota yang lebih sedikit. Hanya sekitar 3000 tiket yang dijual berarti 3000 barang yang tersedia.

Saya sudah membuka aplikasi Shopee sekitar pukul setengah 12 malam namun lupa melakukan pengecekan barang-barang apa saja yang dijual, ternyata sudah bisa diintip sebelumnya walau harganya belum keluar. Namun untunglah tepat jam dua belas malam saya masih sempat akses ke toko resmi YG Entertainment dan menelusuri setiap barang yang dijual. Lima menit pertama masih cukup nyaman untuk saya melihat-lihat dan melakukan pengecekan harga. Tapi memang ya kalau model cepet-cepetan gini ga boleh kebanyakan mikir, haha. Target saya memang tadinya mau beli mini albumnya BP dengan harga sekitar 300an ribu, masih tergolong oke lah harganya, tapi kehabisan aja dong. Jadi cek sana sini, pilih barang termurah saja. Ada dua yang sempat masuk keranjang belanja saya, scarf ala G Dragon dan poster Lisa. Karena lebih murah harga poster Lisa, jadi itu saja yang saya bayar haha. 

ini barang yang saya beli, baru ngeh typo haha
Lumayan lah ya 209 ribu sebagai biaya masuk ke acara Lisa ini. Poster ini harga termurah ketiga ternyata, dihitung loh hihi. Tadinya mikir karena namanya photo frame kan modelan kecil gitu ya, buat taruh di meja atau gimana, ternyata besar seukuran rata-rata poster kalau beli album Korea gitu. Packing-nya Shopee juga bagus banget, pake karton pipih dan diantar langsung dengan kurir khusus jadi ga takut terlipat atau apa. Sempat bikin penasaran ini paket saat sampe rumah, karena gede banget dipikir apaan haha. Yang jelas ga bakal dipajang sih ini, coba nanti jual daring siapa tahu jadi mahal harganya haha. Kalau kemarin sih saat launching, hanya produk terkait BP dan Big Bang saja yang dijual, tapi sekarang produk-produk kosmetika keluaran YG, Moonshot, sudah dapat ditemukan.

Nah sehari setelah pembayaran disetujui akan ada notifikasi di aplikasi Shopee terkait pendaftaran untuk acara Meet&Greet Lisa ini. Jadi ternyata selama pembelian berhasil, semuanya akan mendapat tiket langsung. Luar biasa ternyata, hanya dalam waktu 12 menit seluruh produk yang terjual di toko YG Entertainment terjual habis. Saya sendiri saksi hidup banget melihat label setiap produk berubah menjadi habis dan tidak bisa di-klik dalam hitungan menit. Haha. Nah balik lagi ke konfirmasi kedatangan acara, semua calon penonton harus mengisi google docs yang diberikan di aplikasi sebelum tanggal tertentu atau tiket akan dianggap hangus. 

Setelah pengisian lembar konfirmasi, pihak Shopee menginformasikan kode tiket untuk ditunjukkan di lokasi acara melalui aplikasi kembali. Melalui laman media sosial saya melihat banyak keluhan terkait tidak mendapatkan kode konfirmasi, ternyata mereka semua menunggu dikirimkan via surel, seperti layaknya saat membeli tiket konser. Cara yang efektif membuat banyak orang paham penggunaan aplikasi daring Shopee, sama seperti saat saya menonton acara BukaLapak lalu, semua konfirmasi kedatangan harus lewat aplikasi. 

kode konfirmasi saya
Setelah dapat kode konfirmasi tinggal menunggu santai sampai hari H. Begitu pikir saya tadinya, sampai teringat kalau acara ini ternyata hari kerja. Lol banget bisa lupa kalau acaranya mulai pukul 2 siang, kirain brlangsung setelah jam kerja. Untunglah dapat ijin setengah hari dari kantor. Ternyata masalah belum berakhir sampai sana, penukaran tiket hanya berlangsung sampai jam satu siang. Haduh, pe er banget buat saya yang baru bisa jalan dari Simatupang selepas pukul dua belas siang kan, mana kekejar pas jam padat sampai Kuningan dalam waktu satu jam dengan ojek sekalipun. Tapi ternyata jalanan lumayan oke ya, masuk perempatan Kuningan sekitar 12.45, masih ada harapan dong. Ternyata ujian belum berakhir saudara-saudara, tukang ojek saya cukup pintar untuk putar balik jauh banget jadi ya sampai Kota Kasablanka (KoKas) jam satu lewat. Ya ampun, entah macam apa itu emosi dalam diri saat itu.

Tapi tidak boleh menyerah, mari kita coba peruntungan dan tetap naik ke area The Hall. Saya sendiri pernah sekali ikut acara Jakarta Post di The Hall ini, sehingga lumayan tahu areanya. Sampai sana ternyata dewi fortuna masih melindungi, penukaran tiket masih ada tapi harus antri.. di luar... di cuaca  yang super panas. Oke lah ya, coba dijabanin dulu aja ya, selama ga sia-sia kan sudah datang ye kan.
antrean luar, agak berantakan ya, ada dua sisi pula. 


Setelah antri di luar sekitar sejam-an ada kali ya, lumayan pokoknya saya sampai sempat mengerjakan tugas tulisan lewat ponsel, antrean masuk kemudian diarahkan masuk ke dalam ruangan. Kecurigaan kelas berat kalau acara akan mulai terlambat, soalnya sesuai jadwal seharusnya jam dua mulai kan ya. Suasana di luar sempat sedikit memanas soalnya sekitar jam dua, mengingat acara seharusnya sudah mulai tapi banyak yang masih tertahan di luar. Baru sekitar setengah tiga lah kita mulai membentuk barisan di dalam. Lumayan sih disini sebenarnya, selain adem, duduk pun lebih enak. Benar-benar ingat jaman masih ngonser dengan harus antre begini haha. Padahal udah janji sama diri sendiri malas antre, makanya selalu beli tiket konser dengan nomor kursi atau ya datang tepat waktu. Ternyata ya, ini datang tepat waktu pun masih ngaret.


Sepertinya ngaret karena Lisa dan Krunk (boneka beruang maskot sekaligus artis YG) mengadakan acara jumpa media terlebih dahulu. Selain pose di depan latar belakang Shopee, tentu sebagai promosi dong ya, Lisa dan Krunk juga berpose dengan beberapa produk keluaran merek Moonshot. Moonshot memiliki berbagai rangkaian produk kosmetika, lebih lengkap varian produknya dapat dilihat di sini. Setelah bekerjasama dengan Shopee, sekarang produk-produk moonshot dapat dibeli melalui Shopee. Karena toko milik YG ini adalah toko resmi, sehingga berbelanja di toko YG dipastikan akan mendapatkan Shopee Coin. Shopee Coin metodenya seperti cashback ya, nantinya koin yang diperoleh dapat dipakai untuk memotong pembelanjaan kita berikutnya, di toko apa saja tidak musti toko yang sama tempat kita mendapat koin. Secara berkala, Shopee memiliki promosi dimana pembeli bisa mendapatkan Shopee Coin sampai seratus ribu rupiah. Lumayan kan?

Sekitar pukul tiga akhirnya sampai juga di konter pendaftaran, setelah membaca sekitar 80 halaman dan puluhan lagu di playlist Spotify terputar haha. 


Area pendaftaran sendiri cukup rapi ya, kalau membaca dari cuitan di twitter sebenarnya mereka sudah membuat pendaftaran sesuai nama yang terdaftar ya, jadi tidak perlu menunggu lama. Namun karena antrean saya ini antrean yang tidak suka ngantre dari jauh sebelum konter buka, jadi kita bisa daftar di meja mana saja selama kosong. Fyi saja, konter pendaftaran ini sudah buka dari jam delapan pagi dan banyak calon penonton (termasuk di dalamnya para Blink sejati dong ya) sudah mulai berdatangan ke lokasi dari pukul lima pagi. 

Pada konter pendaftaran saya menunjukkan kode registrasi saya beserta kartu tanda pengenal, untuk ditukarkan dengan gelang kertas yang berfungsi sebagai tiket.
pake gelang dan dapat banner gratisan fansite
Setelah gelang terpasang, akhirnya masuk juga ke area konser ya. Perkara gelang aja sempat ribet, soalnya petugas pengamanan sempat ribet semua gelang harus langsung terpasang dan di tangan kiri lagi. Biar seragam emang sih ya dan gampang ngeceknya, tapi kan tangan kiri saya jadi penuh, udah ada jam tangan tuh #timpakaijamtanganditangankiri.


Lewat dari gerbang ini, berarti sudah sah jadi bagian dari penonton resmi ya. Soalnya ternyata yang ikut antre bareng saya itu ada beberapa orang yang tidak dapat tiket lewat Shopee. Sepertinya sebelumnya mereka dijanjikan akan bisa masuk kalau ada kursi tersisa ya. Tapi ternyata tidak dapat masuk juga. Padahal sebenarnya sih, di belakang saya masih banyak kursi tersisa. Sedih juga ada sekitar lima atau sepuluh baris masih kosong. Saat selesai acara, saya baru ngeh juga kalau banyak banget para Blink yang ga bisa masuk dan memenuhi area di sekitar The Hall.

Hanya menunggu sepuluh menit dari saya masuk ke lokasi acara, Dave Hendrik yang berperan sebagai MC sore itu memulai acara pukul 15.20. Sebelum acara dimulai, layar memutar berbagai macam iklan Shopee dan video musik keluaran YG. Lumayan untuk membunuh waktu.

Lisa ngobrolin soal kesan pertama tiba di Indonesia serta produk Moonshot yang dia pakai (cushion kalau ada yang penasaran), sebelum akhirnya menghilang lagi ke balik panggung. 
gambar dari sini
Pihak Shopee menjelaskan salah satu alasan YG membuka toko resmi di Indonesia adalah karena pasar yang sungguh besar. Menurut pihak YG, Indonesia adalah pasar terbesar YG. Keren banget kan. Ini juga pertama kalinya agensi Korea Selatan membuka toko resmi di Indonesia, walau masih dalam bentuk daring.

Sesi berikutnya adalah lomba merias wajah. Dave meminta sepuluh pasang penonton untuk naik ke atas panggung. Menggunakan produk dari moonshot, satu peserta bertindak sebagai perias dan peserta lainnya pasrah merelakan wajahnya dirias. Melalui tepukan penonton, Dave menentukan siapa pemenangnya. Siapapun yang menang tentu beruntung karena mereka semua berfoto bareng dengan Lisa. How lucky!
gambar dari sini
Lepas dari acara foto bareng yang sempat membuat banyak penonton histeris, iri tentunya, Dave menenangkan dengan berjanji memberikan lebih banyak hadiah lagi. Namun sebelum itu, kali ini giliran Krunk the Bear yang hadir ke atas panggung. Krunk ini saya baru sempat cari tahu saat berada di lokasi acara. Mengingat banyak penonton memilih berdiri di atas kursi, saya jadi tertutup untuk melihat ke arah depan. Malas rasanya ikut berdiri, masih berasa cape setelah ngantre tadi lol. Jadi ya saya browsing sendiri lah soal Krunk.

Unik juga ya ternyata si Krunk ini. Sebagai maskot beruang milik YG Entertainment, ia dibuatkan video musik juga dan sempat mengadakan jumpa fans di Jakarta pada medio Oktober 2017 lalu. Ba ru ta hu. Krunk juga punya akun instagram sendiri, bis cek di sini. Lumayan juga pengikutnya ada 300an ribu. Swag banget ini gaya si beruang, mencerminkan agensinya banget. Musik video 'I Can't Bear' sudah ditonton lebih dari 400 ribu di kanal Youtube.


Krunk melakukan medley dance untuk lagunya sendiri, I Can't Bear, dan lagu milik Big Bang, Bang Bang Bang. Lumayan juga ya siapa saja yang ada di dalam kostum Krunk ini, macam ga habis energinya, karena setelah itu dia langsung ikutan acara dance battle bersama dengan penonton. Dua kelompok yang bertanding adalah tim Krunk dan Shebi Hebi. Shebi Hebi adalah maskot milik Shopee.

Selesai dance battle, masih lanjut dengan tebak gaya. Kali ini lima penonton yang beruntung naik ke atas panggung. Lumayan simpel sih tebak gayanya, dari mulai gaya berenang, balet sampe Gangnam Style.

Lisa naik lagi ke atas panggung untuk melakukan pengundian tiga penonton yang beruntung mendapatkan hadiah utama, merchandise dari Shopee. Sempat terjadi empat kali pengundian karena pemenang ketiga ga muncul-muncul saat namanya dipanggil sehingga diskualifikasi. Ini kemunculan terakhir Lisa di atas panggung. Sempat kecewa sih kok dia ga ada nyanyi atau dance ya, sayang banget soalnya. Pikir-pikir, jadi sepertinya memang Lisa datang untuk promosiin ShopeeXYG saja ya. Dia sendiri berjanji akan kembali lagi dengan teman-teman BPnya.


Tidak sampai jam lima sore acara telah selesai, ditutup dengan beberapa pertanyaan kuis terakhir dari MC. Tidak sampai dua jam ternyata, kurang lebih hanya berlangsung sekitar satu setengah jam. Melihat antusiasme para Blink, tidak sabar rasanya menunggu mereka datang komplit berempat ya. Semoga tahun ini ya mereka beneran balik konser.

Siapa yang sudah kangen sama Lisa?