Monday, May 4, 2020

Tokyo Love Story 2020 vs 1991

Tokyo Love Story - semua versi

Masih ingat kisah Rika Akana dan Kanji Nagao?

Remake, recycle, aransemen ulang, versi baru, daur ulang, tribute, adaptasi, adopsi, yah apapun namanya, intinya bukan versi pertama. Mungkin kedua, ketiga atau lebih. Sudah lama cara ini ditempuh industri hiburan dengan dalih membuat versi baru yang lebih modern, supaya mudah diterima generasi baru sekaligus menimbulkan nuansa nostalgia untuk generasi sebelumnya.

Tokyo Love Story tidak luput dari tren tersebut. Anak-anak 90an pasti sedikit banyak ingat akan dorama satu ini.

Awal dekade 90an, tepatnya tahun 1994, dorama (serial Jepang) produksi Fuji TV ini tayang pertama kali di stasiun TV swasta, Indosiar. Tokyo Love Story mengawali hujan dorama di tv Indonesia yang mengikuti setelahnya. Sampai saat ini, dorama ini masih dikenal sebagai salah satu dorama terbaik yang pernah diproduksi, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu drama romansa Jepang terbaik sepanjang masa.

Soundtrack drama ini yang berjudul Love Story wa Totsuzen ni yang dinyanyikan Kazumada Oda adalah lagu terlaris ke-sembilan sepanjang masa di Jepang. Saat ditayangkan di tv swasta Indonesia, Tokyo Love Story dialihbahasa ke bahasa Indonesia, termasuk lirik lagu temanya.


di hari itu dan di tempat itubila kita tak pernah berjumpamungkin kita tak akan percayakau dan aku saling suka dan cinta
Siapa yang otomatis menyanyi saat membaca lirik lagu di atas?

Tokyo Love Story - yang diangkat dari manga berjudul sama karangan Saimon Fumi (1988 - 1990) -bercerita tentang Mikami, Kanji, dan Satomi yang telah berteman sejak mereka masih kanak-kanak dan tumbuh di kota kecil yang sama di Prefektur Ehime di pulau Shikoku. Sekarang, ketiganya telah berusia awal 20-an dan pergi ke Tokyo karena berbagai alasan. Kanji terakhir tiba, setelah pindah ke kantor Tokyo. Di tempat kerja, ia bertemu dengan kolega baru yang lincah, Rika, serta dipersatukan kembali dengan teman-teman baiknya dari rumah — Mikami dan Satomi. Mikami adalah teman pria terbaik Kanji dan Satomi adalah teman wanita platonis mereka yang keduanya taksir sejak SMA.

Empat tokoh utama Tokyo Love Story versi Manga
Dorama ini berjumlah 11 episode dan saat ditayangkan pertama kali di tahun 1991, rating Tokyo Love Story selalu tinggi. Puncaknya, ratingnya mencapai angka 32% di episode terakhir. Pantas saja kalau serial ini terus dikenang hingga sekarang. Tidak heran juga kenapa setelah hampir 30 tahun tayang, akhirnya Tokyo Love Story kembali dibuat ulang.

Tokyo Love Story 2020 dijanjikan membawa nuansa modern yang berbeda, di antaranya memasukkan unsur smartphone dan SNS (social networking site - sejauh yang saya tonton sampai episode 2, tentu saja Line Messenger buatan Jepang yang dipakai). Sepertinya akan banyak sekali debat-debat lucu Rika dan Kanji melalui SNS, yang dulunya hanya dilakukan melalui cordless phone.

Langsung saja kita bandingkan empat tokoh pemeran utama versi 1991 dan 2020 sekarang ya...


Rika Akana yang super ikonik dulunya diperankan oleh Honami Suzuki. Suzuki berhasil menghidupkan tokoh Rika yang ceria, bawel, energik, dan spontan. Susah sekali menampik pesona Rika Akana yang diperankan Suzuki di sini, apalagi senyumnya yang khas dan seperti menularkan radiasi. Ishibashi Shizuka akan mengemban misi sulit untuk memerankan seorang Rika yang sangat melegenda. Ini adalah peran utama Shizuka di layar kaca, setelah sebelumnya sempat membintangi banyak film layar lebar.

Sosok Rika Akana versi Shizuka lebih cuek, to the point dan santai. Pada versi 1991, Rika terlihat langsung terobsesi pada Kanji sejak episode pertama, pada versi baru ini - Rika terlihat santai dan belum terlalu menunjukkan perasaannya pada Kanji. Dengan cueknya, Rika bisa mengajak Kanji berhubungan seksual untuk membantu Kanji melupakan Satomi. Rika juga terlihat lebih bebas menunjukkan affairnya dengan sang atasan, dibandingkan versi lama. Mungkin pengaruh budaya yang sudah semakin terbuka juga ya sekarang ini.

Rika Akana yang ikonik

So far sih, Shizuka masih harus berusaha lebih keras untuk mengambil hati penonton. Entah karena saya sudah terbiasa dengan Rika versi lama, atau karena peran Rika di 2 episode pertama Tokyo Love Story 2020 masih kurang banyak, yang jelas Rika versi Shizuka butuh upaya keras untuk membuat penonton memihaknya.


Kanji Nagao tetap seorang pemuda naif, polos, kaku dan sederhana. Pada versi 1991, Yuji Oda memerankan Kanji yang selalu tampak terganggu dengan kehadiran Rika. Kerutan di dahinya selalu muncul setiap bertemu Rika, bahkan ada adegan di mana ia pura-pura tidak melihat keberadaan Rika (karena malu kayaknya sama kelakuan Rika haha). Walaupun begitu, saat tidak sedang berdebat, keduanya bisa saling menghibur satu sama lain.

Pemeran Kanji di seri baru adalah Ito Kentaro, yang terus terang saja dibandingkan dengan Oda yang terlihat dewasa - Kentaro masih terlihat anak-anak di sini. Namun hal ini membuat posisi Rika-Kanji di kantor sebagai senior-yunior lebih tampak terlihat. Entah apakah sengaja dibuat berbeda atau ada maksud lain, Kanji versi Kentaro sangat canggung setiap berhadapan dengan Rika. Berbeda dengan Kanji versi Oda yang tidak butuh waktu lama untuk membalas godaan-godaan Rika, Kanji versi Kentaro masih terlihat bingung dan gugup setiap Rika menggodanya. Akibatnya, Kanji versi baru ini lebih sering mengikuti maunya Rika (sejauh episode 2 ini).



Satomi Sekiguchi yang ditaksir Kanji sejak duduk di bangku sekolah, sekarang adalah seorang guru taman kanak-kanak. Pekerjaan yang pas sekali dengan sosok Satomi yang lembut, sopan, manis dan terus terang saja - labil, haha. Satomi yang berhasil membuat persahabatan Kanji dan Mikami sempat goyah ini tidak banyak berbeda di versi 1991 dan 2020. Narimi Arimori yang memerankan Satomi di tahun 1991 terlihat lebih plinplan, irit bicara dan sering salah menangkap maksud perkataan orang lain.

Sementara Satomi di Tokyo Love Story 2020 yang diperankan Ishii Anna - walau sebagian besar perilakunya sama - nampak lebih memiliki keberanian dalam berpendapat. Salah satunya, Satomi versi Anna mampu menghardik Mikami yang tidak mengindahkan pesan orangtuanya. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan Satomi di tahun 1991. Sepertinya sedikit perbedaan karakter ini membuat saya bisa sedikit menyukai sosok Satomi.

Satomi versi 1991 itu klemer-klemer banget ampun deh, sebel lihatnya lambat banget gerakannya haha.



Kenichi Mikami adalah sosok bad boy berhati rinto yang disukai banyak perempuan, tapi pada akhirnya tidak akan ada yang memilihnya sebagai pasangan hidup. Kalimat itu keluar dari mulut Mikami sendiri sebenarnya, menyadari dengan sepenuhnya kalau dirinya bukan pria yang bisa dibanggakan. Mikami 1991 yang diperankan oleh Yosuke Eguchi ini sungguh bad-boy dan menyebalkan sekali perangainya. Tingkah lakunya seenaknya, walaupun terhadap Satomi, perempuan yang sebenarnya ia taksir.

Berbeda dengan versi 1991, Kiyohara Sho memerankan Mikami versi bucin Satomi. Baru 2 episode saja, mereka berdua sudah pacaran dan Mikami dengan sukarela langsung meninggalkan semua perempuan-perempuan lain yang dekat dengannya, Menarik melihat perkembangan sosok Mikami di Tokyo Love Story 2020 ini.

Kisah Rika-Kanji yang everlasting
Saya sudah menonton dua episode awal Tokyo Love Story 2020 dan sedang menonton-ulang Tokyo Love Story, untuk membandingkan dari segi cerita. Sejauh ini, versi 2020 memiliki pace cerita yang lebih cepat dan selain lebih modern, juga lebih vulgar. Adegan seksual Rika dengan sang atasan dan Kanji sudah menghiasi dua episode awal serial ini. Jadi, hati-hati ya kalau ingin menonton versi 2020 ketika di tempat umum LOL.

Tokyo Love Story 2020 baru saja tayang 29 April 2020 lalu, dan seterusnya akan tayang seminggu sekali setiap hari Rabu sebanyak 11 episode (plus 1 episode spesial kalau mengikuti versi 1991). Dorame versi baru bisa ditonton di viu dengan teks bahasa Indonesia atau Inggris. Sementara untuk yang penasaran dengan versi lamanya, bisa cek di vidio (mumpung ada yang upload lengkap).

Berikutnya teaser Tokyo Love Story 2020


Sejauh ini saya sangat menikmati dua versi dorama ini. Dua-duanya sangat menyegarkan untuk saya. Tokyo Love Story untuk saya selalu identik dengan Rika Akana yang enerjik dan membuat saya selalu tersenyum melihat tingkahnya. Sementara Tokyo Love Story 2020 membawa saya menikmati kehidupan kaum muda urban di Tokyo, dengan tidak adanya satu tokoh pun yang mencolok, sehingga saya bisa menikmati interaksi di antara mereka.

Kamu sendiri, lebih suka versi yang mana?

Simak juga cerita remake versi Mamah Merah selanjutnya ya!

5 comments:

  1. Nice review..so yg 2020 apakah endingnya sama dgn 1991 itu yg bikin penasaran heem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena sama2 adaptasi dari manga, harusnya sama yaa endingnyaa haha (siapkan hati!). Baru saja selesai nonton eps 3-4 yang 2020 dan sepertinya nasib Rika ada harapan sedikit membaik dibanding versi 1991 haha

      Delete
  2. Min.. Kalo yg Tokyo Love Story spesial episode (cerita lanjutan yg versi 1991) ada berapa episode kah? Penasaran soalnya. Hehehe..

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete