Thursday, May 7, 2020

Sejarah Republik Korea Selatan



Sebagai penyuka banyak hal terkait negara ginseng ini, selalu menjadi pertanyaan dalam hati mengenai sejarah terbentuknya Korea Selatan. Apalagi para penikmat drama korea, pasti sangat familiar dengan genre drama saeguk. Drama saeguk adalah sebuah drama yang berlatar-belakang sejarah Korea, paling sering tentu dengan latar belakang kerajaan. Melihat banyaknya kerajaan yang berkuasa - jadi bertanya-tanya sejak kapan sebenarnya Korea Selatan ini terbentuk menjadi Republik? Bergeser model pemerintahan dari kerajaan ke sistem Republik.

Alhasil, ke-kepo-an tersebut belanjut pada baca dan nonton sana-sini untuk tahu sejarahnya. Luar biasa banget deh, panjang juga ya sejarah Republik Korea Selatan itu haha. Secara garis besar, mungkin bisa dibagi dalam empat linimasa.


Tiga Kerajaan Besar Korea



Sejarah di Semenanjung Korea dimulai dari tahun pertama masehi (1 M). Semenanjung Korea dan sebagian Manchuria (yang sekarang menjadi wilayah milik Tiongkok dan Rusia) terbagi menjadi tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah Baekje (백제, 百濟), Silla (신라, 新羅) dan Goguryeo (고구려, 高句麗). Kerajaan Baekje dan Silla menempati bagian selatan Semenanjung Korea dan Tamna (sekarang: Pulau Jeju), sementara Kerajaan Goguryeo menguasai area yang lebih besar di Semenanjung Liaodong, Manchuria dan bagian utara Semenanjung Korea.

Ketiga kerajaan besar ini saling bersaing dalam sektor ekonomi dan militer, dengan Baekje dan Goguryeo yang dianggap dua kerajaan yang lebih kuat dibandingkan Silla. Salah satu penyebabnya mungkin karena Baekje dan Goguryeo berbagi mitos pendiri yang kemungkinan besar berasal dari Kerajaan Kuno Buyeo. Walau pada akhirnya nanti, Kerajaan Silla yang mampu menyatukan tiga kerajaan ini menjadi Silla Bersatu di tahun 676 M.

Di Tiongkok, tiga kerajaan Korea ini dikenal dengan sebutan Samhan sejak awal abad ke-7. Penggunaan nama Samhan ini merujuk kepada lokasi tiga kerajaan ini yang berada dalam area Dinasti Tang. Dinasti Tang sendiri adalah salah satu dinasti Tiongkok terbesar. Fun fact, "Han" yang sering disebut pada Kekaisaran Korea, Daehan Jeguk, dan Republik Korea (Korea Selatan), Daehan Minguk atau Hanguk, dinamai sesuai dengan Tiga Kerajaan Korea.

Catatan mengenai tiga kerajaan besar ini dapat ditemukan melalui catatan sejarah bernama Samguk sagi (tertulis dalam bahasa Mandarin) serta Samguk yusa yang memuat detail lebih lengkap, seperti periode sebelum dan sesudah Samhan.

Aliansi Kerajaan Silla dengan Dinasti Tang dari Tiongkok akhirnya membuat Kerajaan ini mampu melumpuhkan dua kerajaan lain, serta beberapa kerajaan kecil lainnya, di tahun 668 SM. Untuk pertama kalinya, Semenanjung Korea disatukan dalam Kerajaan Silla Bersatu (Later Silla/Unified Silla).

Kejayaan Dinasti di Korea


Walaupun secara politis, Silla Bersatu tidak stabil, namun Kerajaan itu merupakan kerajaan yang makmur. Ibukota Silla Bersatu di Seorabeol (sekarang: Gyeongju) adalah kota terbesar keempat di dunia saat itu. Sayangnya, Raja terakhir Silla Bersatu (Raja Gyeongsun) akhirnya menyerah kalah pada Wang Geon (penemu Dinasti Goryeo). Setelah jatuhnya Silla bersatu di akhir abad ke-9, muncullah Dinasti pertama yang memimpin Korea, Dinasti Goryeo. Sejarah Korea modern bahkan mendebat, Dinasti Goryeo lah yang sebenarnya dapat disebut menyatukan Semenanjung Korea untuk pertama kalinya, bukan Kerajaan Silla Bersatu.

Dinasti Goryeo disebut-sebut sebagai 'true national unification' (penyatuan nasional sejati), karena tidak hanya menyatukan tiga kerajaan besar sebelumnya, namun juga menggabungkan banyak kelas penguasa kerajaan Utara. Asal nama Korea yang kita kenal saat ini pun berasal dari 'Goryeo' (dieja Koryo) yang pertama kali digunakan pada abad ke-5 oleh Goguryeo.

Selama masa pemerintahan Goryeo, berbagai macam hal berkembang pesat, hukum dibuat, pelayanan masyarakat terbentuk dan penyebaran agama Buddha merebak. Masa kekuasaan Dinasti Goryeo adalah periode emas penyebaran agama Buddha di Korea. Sekitar 70 kuil Buddha dibuat hanya di pusat pemerintahan saja di abad ke-11. Seni dan budaya juga berkembang cukup pesat di masa ini, dengan munculnya banyak kerajinan tembikar dan porselen yang disebut Koryo Celadon, serta terciptanya Tripitaka Koreana.

Dinasti Goryeo yang berusia 400 tahun mulai mengalami kemunduran pada akhir abad ke-14 karena dilemahkan oleh perebutan kekuasaan internal dan pendudukan nominal oleh Kekaisaran Mongol. Dinasti baru, Dinasti Joseon (tahun 1392), didirikan oleh  Jenderal Yi Seong-Gye (kemudian dikenal sebagai Raja Taejo). Raja Taejo memindahkan ibukota ke Hanyang dari sebelumnya di Kaesong, lalu membangun Istana Gyeongbokgung serta mengesahkan Konfusianisme sebagai agama nasional, menggantikan agama Buddha yang sebelumnya mayoritas.

Dinasti Joseon disebut sebagai awal dari sejarah Korea modern. Dinasti ini memiliki usia pemerintahan terpanjang di Asia Timur selama lima abad, mulai dari bulan Juli 1392 sampai dengan Oktober 1897 dengan total 27 raja yang memimpin. Perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan budaya juga terjadi selama periode kekuasaan dinasti ini. Satu yang terbesar tentu saja penemuan abjad asli Korea (Hangeul) oleh Raja Sejong. Raja Sejong sendiri salah satu raja yang kuat selama masa pemerintahan Dinasti Joseon, patungnya yang terkenal sampai sekarang terdapat di Gwanghwamun Square yang terletak di pusat kota Seoul.

Perkembangan pesat dalam budaya selama masa Dinasti Joseon terdapat dalam enam aspek: pakaian, seni, arsitektur, literasi, pendidikan, agama (utamanya Buddha dan Konfusius), serta musik. Sisi arsitektur tentu menjadi salah satu peninggalan penting dari periode ini, mengingat lima istana (Five Grand Royal Palaces) yang berlokasi di Seoul - Istana Gyeongbokgung, Istana Changdeokgung, Istana Changgyeonggung dan Istana Deoksugung, serta Kuil Jongmyo. Saya sendiri sempat menulis pengalaman mengunjungi salah satu Istana tersebut - Istana Changdeokgung - di sini. Lima tempat ini masuk sebagai salah satu destinasi wajib wisatawan yang berkunjung ke Seoul sampai sekarang.

Dinasti Joseon di bawah pemerintahan Raja Sejong yang Agung adalah periode kemajuan ilmiah terbesar di Korea, yang terjadi di abad ke-15. Salah satu penemuan terbaik terjadi di bidang astronomi, yaitu terciptanya perangkat seperti bola langit yang menunjukkan posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Sejarah Korea pada masa Kerajaan dan Dinasti ini sebenarnya begitu pelik, saya hanya mencoba menceritakan garis besarnya saja. Lebih lengkapnya dapat merujuk pada video di bawah ini yang runut memberi informasi dan cukup mudah dimengerti.


Era keemasan Dinasti Joseon, yang membawa begitu banyak sumbangan budaya untuk bangsa Korea sampai dengan masa sekarang, akhirnya berakhir di tangan Jepang yang memang berkali-kali berusaha menginvasi Korea. Periode terganas terjadi pada tahun1592-1598, ketika dinasti Joseon banyak mendapat serangan dari Jepang. Periode ini dikenal dengan sebutan Perang Imjin (invasi Jepan ke Semenanjung Korea). Tepat pada tahun 1910, setelah Korea terpaksa menandatangani  Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai  protektorat Jepang, Jepang resmi menjajah Korea.

Perang Dunia II


Awal terbentuknya Korea Selatan yang ada saat ini bermula ketika Perang Dunia Kedua pecah. Masa pendudukan Jepang selama 35 tahun di Korea Selatan penuh gejolak penolakan dari rakyat Korea sendiri. Korea sampai mendirikan Pemerintahan Sementara Korea (Korean Provisional Government/KPG) yang bermarkas di Tiongkok. Korea akhirnya terlepas dari penjajahan Jepang ketika negara Sakura tersebut kalah dalam Perang Dunia Kedua.

Menyerahnya Jepang di tahun 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk kelanjutan Semenanjung Korea, namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana. Apa yang terjadi berikutnya malah sebaliknya, dua negara tersebut malah membagi kekuasaan atas Semenanjung Korea, tanpa melibatkan pendapat dari rakyat Korea sama sekali. Selama tiga tahun ke depan (1945-1948), tentara dan perwakilan Soviet, membangun rezim komunis di wilayah utara. Sementara di bagian selatan, pemerintah militer dibentuk (didukung oleh Amerika Serikat).

Kedua wilayah Semenanjung Korea (yang kemudian dikenal dengan Korea Utara dan Korea Selatan) tersebut dibagi oleh garis lintang 38 derajat (38th parallel - yang kemudian akan dikenal dengan sebutan DMZ - demilitarized zone saat ini).

Tiga tahun masa pendudukan sementara oleh Soviet dan Amerika Serikat selesai di tahun 1948, Amerika Serikat meminta PBB untuk melakukan pemilihan suara di Korea. Namun, pihak Utara menolak berpartisipasi yang menyebabkan pihak Selatan membentuk pemerintahannya yang berpusat di Seoul – dipimpin oleh Syngman Rhee. Area utara juga tidak mau kalah dan mendirikan negara komunis yang berpusat di Pyongyang, dengan Kim Il Sung sebagai perdana menteri pertama.

Ketegangan antara kedua negara Korea tersebut terus berlanjut sampai Perang Korea meletus tahun 1950, ketika pihak Korea Utara menyerang Korea Selatan. Perang Korea disebut-sebut sebagai perang paling destruktif di era modern, dengan sekitar 3 juta kematian akibat perang dan jumlah kematian warga sipil proporsional yang lebih besar dibandingkan korban Perang Dunia II atau Perang Vietnam. Gambaran kekejaman Perang Korea salah satunya dapat dilihat dalam film Taegukgi.

Perang Korea tidak bisa dikatakan benar-benar berhenti sampai sekarang, yang terjadi saat ini hanyalah gencatan senjata lanjutan dari yang terjadi di tahun 1953 untuk mengakhiri konflik. Saat itu Zona demiliterisasi (DMZ) didirikan untuk membelah semenanjung Korea dan membuat perbatasan yang jelas. Hingga saat ini, tidak ada perjanjian damai yang ditandangani.

Video berikut menjelaskan dengan lebih detail bagaimana akhirnya Semenanjung Korea dapat terbagi dua (hingga sekarang).


Video tersebut dibuat tahun 2018 lalu, namun sampai tulisan ini dibuat di tahun 2020, keadaan kedua Korea masih cukup sama seperti tergambar dalam video.

Republik Korea Selatan


Semenanjung Korea bagian selatan dengan pemimpin pertama Syngman Rhee, akhirnya memiliki wujud sebagai negara Republik Korea Selatan pada tahun 1948. Masa-masa pembangunan Korea Selatan menjadi negara yang dikenal masyarakat umum seperti saat ini tidak mudah. 

Lepas dari pembagian wilayah Semenanjung Korea sepeninggalan Jepang, wilayah Selatan yang ditempati Korea Selatan saat ini mendapatkan pembagian wilayah pertanian, yang meskipun produktif, tetapi ini hampir tidak cukup untuk memberi makan populasi padat penduduk yang tumbuh di negara tersebut. Berbeda dengan wilayah utara yang mewarisi sebagian besar industri yang ditinggalkan oleh kolonial Jepang, termasuk 80 persen sumber pembangkit listrik. 

Linimasa perkembangan Korea Selatan menjadi negara yang sangat diperhitungkan dunia dapat dlihat di sini. Titik balik kecepatan industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan terjadi sejak masa kepemimpinan Jenderal Park Chung-hee mulai tahun 1961. Percepatan kemakmuran yang dialami Korea Selatan sekitar 50 tahun terakhir ini sering disebut sebagai Keajaiban Sungai Han (The Miracle of Han River). 

Demikian sedikit sejaran Republik Korea Selatan yang dapat saya ceritakan kali ini. Semoga sehabis membaca tulisan ini, banyak hal yang dapat kita tarik hikmahnya. Misalnya saja kekuatan rakyat Korea Selatan akan harapan, optimis, keinginan kuat, dan kerja keras yang dapat kita contoh. Yah, setidaknya saya juga tidak penasaran lagi dengan sejarah negara ini haha. 

Siapkah kita menjadi maju seperti Korea Selatan?



1 comment:

  1. Blog yang menarik, mengingatkan saya akan Istana Gyeongbokgung di Seoul, pembangunannya dimulai oleh Raja Taejo, raja pertama dan pendiri dari dinasti Joseon, di tahun 1394.
    Saya mencoba menulis blog tentang tempat ini, semoga anda juga suka: http://stenote-berkata.blogspot.com/2020/03/seoul-di-istana-gyeongbokgung.html

    ReplyDelete