Sunday, August 9, 2020

Merawat 'Inner Child' Sebelum Menjadi Ibu

 

Inner Child
Menjadi seorang Ibu adalah memulai perjalanan baru dengan memiliki rute yang belum pernah dilalui sebelumnya, tidak ada petanya dan tidak akan ada bocoran seperti apa lika-liku perjalanan yang akan terjadi nantinya. 

Pembahasan tentang inner child cukup populer beberapa tahun kebelakang. Cukup beruntung saya bergabung dengan support group birth club October 2020 yang rajin banget bikin kulwap, dimulai dari sesi pertama tentang 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu' yang dilakukan melalui metode kuliah whatsapp.

Narasumber psikolog handal Mbak Widya S Sari kali ini membagikan ilmu dan menjawab antusiasme calon ibu serta ibu-ibu yang haus ilmu dan ingin memperbaiki diri.


Apa itu Inner Child?


Inner child merupakan akumulasi peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk pribadi mereka hingga dewasa - Psychology Today 

Bahasa lugas yang cepat dimengerti oleh kaum awam adalah sisi kekanak-kanakan yang dimiliki seseorang - kepribadian seseorang yang berlaku dan terasa seperti anak kecil. 

Mbak Widya sendiri menuliskan pengertian inner child adalah bagian dari konsep diri yang terbangun di masa kecil. Konsep diri ini kemudian menetap di alam bawah sadar dan berperan dalam menentukan bagaimana seseorang akan merasakan dan memberikan respon akan satu kejadian.

Masa kecil yang telah kita lalui tidak begitu saja kita tinggalkan di masa lalu. Sekecil apapun, masa-masa tersebut telah meninggalkan 'jejak'.


Inner Child


 Inner Child yang 'Terluka'


Jejak yang ditinggalkan dari masa kecil ini baru dapat terlihat ketika kita beranjak besar, atau malah sudah menetap sebagai bagian dari kepribadian sebagai orang dewasa. Jejak ini sebenarnya adalah luka yang disebabkan oleh trauma-trauma yang terjadi di masa kecil tadi. Jangan bayangkan suatu gangguan psikologis yang luar biasa dahulu ketika mendengar kata 'trauma', namun lihatlah akan perilaku-perilaku maladaptif yang terlihat selama ini.

Perilaku tersebut dapat saja berupa agresivitas, ketergantungan akan orang lain, persepsi diri yang negatif, harga diri rendah, suasana hati tidak stabil, emosional bahkan sesimpel adanya masalah dengan nafsu makan.

Perilaku-perilaku tadi dapat memicu masalah yang lebih besar lain, seperti:

  • Krisis identitas
  • masalah komitmen
  • melukai diri sendiri
  • Pelaku kriminal

  • Melakukan kebohongan berlebihan

Pangkal yang dapat ditarik dari trauma yang terjadi di masa kecil, bisa jadi:

Kehilangan orang tua · Kekerasan fisik atau kelalaian · Penyalahgunaan atau pengabaian emosional · Pelecehan seksual · Penyakit serius · Intimidasi yang parah · Bencana alam · Perpisahan keluarga · Menjadi korban kekerasan · Penyalahgunaan zat dalam rumah tangga · Kekerasan dalam rumah tangga · Penyakit mental anggota keluarga · Merasa terisolasi dari keluarga mereka

(sumber: Tirto.id)



Trauma Inner Child



Jadi, apa dong yang harus dilakukan kalau inner child kita sudah terlanjur terluka? 😔


Mengetahui Inner Child

Pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui terlebih dahulu inner child apa yang terluka dalam diri kita.

Tipe Inner child Carl Jung


Video berikut akan menjelaskan mengenai tipe-tipe inner child yang ada




Melalui narasi video tersebut, terlihat ada enam tipe Inner Child. Dilansir dari laman Jennifer Soldner, berikut penjelasan tertulis keenam tipe tersebut:

Orphan Child



Orphan Child Archetype


Kadang-kadang disebut sebagai anak terlantar, menunjukkan dirinya sebagai orang yang cenderung mandiri sepanjang hidupnya. Seringkali memiliki riwayat merasa kesepian, ditinggalkan secara emosional, lebih suka mempelajari berbagai hal sendiri, menghindari kelompok, dan menaklukkan ketakutan mereka sendiri.

Dalam sudut pandang negatif, pola dasar anak ini dapat mendorong orang lain menjauh sehingga merugikan mereka sendiri, mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak membiarkan orang yang dicintai masuk. Mereka juga mungkin memberi kompensasi berlebihan dengan terus mencari keluarga pengganti untuk mengisi kekosongan emosional.

Wounded Child


wounded child archetype



Mereka menyimpan ingatan akan masa lalu yang penuh kekerasan atau traumatis, mungkin telah mengalami banyak pelecehan fisik dan emosional selama hidup mereka, sering kali di tangan lebih dari satu orang. Jika tumbuh dengan baik, ketika dewasa dapat memberikan belas kasih yang sangat dalam bagi orang lain yang menderita situasi yang melecehkan. Fokus mereka pengampunan serta membantu anak-anak yang terluka seperti mereka.

Namun, dalam sudut pandang negatif, anak ini mungkin tetap terjebak dalam pola pelecehan yang berulang dengan mitra, atasan, dan persahabatan. Mereka menjadi terbiasa menjadi korban dan menyalahkan semua masalah mereka pada masa lalu mereka yang tidak berfungsi.


Eternal Child


Eternal Child Archetype



Tipe anak yang selamanya muda. Menunjukkan karakteristik klasik kekanak-kanakan, menolak tumbuh dewasa, terus mencari cara yang menyenangkan dan menyenangkan untuk memandang kehidupan. Semacam Peter Pan, tipe ini bertekad untuk tetap awet muda dalam pikiran, tubuh, dan jiwa, dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dalam pandangan negatif, anak ini mungkin menjadi tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diandalkan, tidak mampu melakukan tugas orang dewasa. Mereka mungkin berjuang dengan batasan-batasan pribadi yang diterapkan orang lain dan menjadi terlalu bergantung pada orang yang dicintai untuk menjaga mereka.


Magical Child


Magical Child Archetype



Mereka selalu terpesona akan diri dan melihat dunia dengan berbagai kemungkinan yang ada. Seringkali tanpa beban, pola dasar anak ini mencari keindahan dan keajaiban dalam segala hal, percaya bahwa segala sesuatu mungkin. Mereka adalah pemimpi sejati.

Namun, bila tidak seimbang, pola ini bisa tumbuh menjadi pesimis dan tertekan. Keyakinan mereka dipadamkan dan mereka menjadi sinis terhadap hal-hal yang pernah mereka impikan. Mereka mungkin juga mundur ke dunia fantasi, mempelajari permainan peran, buku, atau film, kehilangan kontak dengan kenyataan dan mengambil sedikit tindakan dalam kehidupan sehari-hari.


Divine Child


Divine Child Archetype


Mereka mencolok akan kepolosan, kemurnian, dan kualitas yang hampir seperti Tuhan. Mereka memiliki keyakinan akan pengampunan dan sering kali terlihat beragama. Pola dasar anak ini mungkin tampak mistis dan surealis. Beberapa memilih pola dasar ini untuk diri mereka sendiri karena mereka tidak percaya mereka memiliki kemampuan ini di dalam diri, padahal bisa saja kekuatan ini ada, menunggu keseimbangan untuk mencapai potensi yang sesungguhnya.

Karakteristik negatifnya mungkin terasa lebih familiar. Pola dasar ini sering kali diliputi oleh energi negatif dan merasa tidak mampu membela diri. Mereka mungkin mudah marah dan tidak bisa mengendalikan diri saat menghadapi kejahatan, membuat mereka kehilangan kendali dan menakuti diri sendiri.


Nature Child


Nature Child Archetype



Pola dasarnya selalu terasa terkait dengan tumbuhan, hewan, dan bumi di sekitarnya. Mereka merasa paling nyaman saat dikelilingi oleh binatang dan mungkin memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam. Pola dasar ini sangat tertarik pada pemandu roh binatang dan sering memimpikannya.

Sisi lain mereka menyerang secara fisik pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin melecehkan hewan, tumbuhan, dan bahkan manusia. Terlepas dari hubungan mereka yang dalam, tipe ini menggunakan alam sebagai hukuman daripada kegembiraan

Tipe Inner Child yang Mana kah Kamu?


Setelah membaca semua penjelasan di atas, biasanya sudah ada gambaran diri kita tergolong inner child yang mana ya. Sehingga terlihat jelas perkiraan peristiwa di masa kecil yang menjadi 'trauma' untuk diri yang terbawa sampai besar. 

Namun, apabila belum yakin atau perlu memantapkan diri, bisa coba tes berikut untuk mengetahui tipe inner child kita:



Nah, sekarang semoga sudah ketahuan ya tipe Inner Child kamu.

Sekarang, kalau sudah tahu, untuk apa dong?


Berdamai dengan Inner Child


Berdamai dengan Inner Child


Balik lagi ke tema tulisan terkait 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu', setelah tahu kira-kira akar masalah kita apa, sekarang tentu saatnya 'merawat' atau 'berdamai' dengan inner child tersebut. Jangan sampai perilaku maladaptif yang muncul akan mengganggu hubungan dengan sang buah hati kelak kan yaaa...

Ada beberapa pilihan untuk berdamai dengan inner child kita.

Tetap Berpikiran Terbuka

Kamu tidak harus melihat inner child ini sebagai pribadi atau kepribadian yang terpisah. Sebaliknya, anggaplah mereka sebagai representasi dari pengalaman masa lalu. Akui, terima dan maafkan mereka apa adanya.

Bagi kebanyakan orang, masa lalu mengandung campuran peristiwa positif dan negatif. Keadaan ini membantu membentuk karakter serta memandu pilihan dan tujuan ketika beranjak dewasa dan pada akhirnya mencapai usia dewasa.

Observasi Anak-anak Kecil di Sekitar Kita

Anak-anak dapat mengajari banyak hal tentang hidup, dari menemukan kegembiraan dalam hal-hal kecil hingga hidup di saat ini.

Jika kesulitan memikirkan kembali pengalaman masa kecil yang menyenangkan, terlibat dalam permainan kreatif dengan anak-anak dapat membantu menghidupkan kembali kenangan ini.


Tinjau Kembali Kenangan Masa Kecil 

Menjelajahi ingatan dari masa lalu juga dapat membantu berhubungan dengan inner child.

Untuk melihat ke belakang, dapat mencoba aktivitas seperti membolak-balik album foto dan buku tahunan sekolah, atau membaca ulang buku harian masa kecil. Bisa juga dengan menonton film atau acara televisi dari masa kecil, atau membaca ulang beberapa buku favorit, juga bisa menjadi cara yang membantu untuk membangkitkan perasaan positif.

Jika orang tua, saudara kandung, atau teman masa kecil kamu memiliki cerita untuk dibagikan, kenangan ini mungkin membangkitkan perasaan dan kenangan yang benar-benar telah dilupakan.

Luangkan Waktu Melakukan Sesuatu yang Dulu Disukai


Saat mengenal inner child kamu, pikirkan tentang hal-hal yang membuat bahagia di masa kecil.

Mungkin bersepeda ke sungai setiap musim panas dengan teman-teman untuk berenang atau memancing. Atau mungkin menghabiskan liburan dengan membaca di loteng. Mungkin menghabiskan berjam-jam untuk kerajinan tangan, atau bermain sepatu roda lalu membeli camilan sepulang sekolah.

Sebagai seorang anak, kamu mungkin melakukan banyak hal hanya untuk kesenangan. Mungkin kesulitan mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu dalam kehidupan dewasa hanya karena itu membuat kita bahagia.

Aktivitas kreatif seperti mewarnai, mencoret-coret, atau melukis juga dapat membantu. Ketika kita membiarkan pikiran aktif beristirahat, emosi yang biasanya tidak dipertimbangkan dapat muncul.




Berbicara dengan inner Child

Salah satu cara terbaik untuk berhubungan dengan inner child adalah dengan membuka percakapan dengannya.

Menulis dapat menjadi alat yang ampuh untuk terhubung dengan inner child.

Menulis surat, atau menulis bebas tentang kenangan masa kecil, dapat membantu untuk menjelajahi pengalaman masa lalu dan memilah emosi yang terkait.

Cobalah menahan pikiran tertentu di kepala kemudian menuliskan surat atau latihan jurnal atau ekspresikan pikiran apa pun yang muncul di benak.

Kita bahkan dapat membingkainya sebagai latihan tanya jawab. Izinkan dirimu yang dewasa untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, kemudian dengarkan bagaimana kira-kira respon inner child kita.

Tetapi pikirkan latihan ini sebagai cara untuk membangun dan memperkuat ikatan antara diri kita dan sang inner child. 



Mencari Bantuan Profesional


Apabila semua telah ditempuh dan masih terasa mengganggu, memicu ketidaknyamanan atau emosi yang menyakitkan, termasuk kesedihan, kenangan traumatis, dan perasaan tidak berdaya atau takut, maka carilah bimbingan dari seorang profesional kesehatan mental.

Jika memungkinkan, carilah terapis yang berpengalaman dengan terapi inner child. 

Belajar untuk "mereparasi" inner child dalam terapi dapat membantu untuk memulai menangani dan mengatasi masalah yang ada.




 
Jadi, sudah siapkah untuk merawat inner child kita?


 





9 comments:

  1. Hum,, sharing session nya saya bisa baca dimana mbak?
    sy udha scrol ke bawah berulang-ulang tetapi gak nemu nemu juga heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeay akhirnya bisa baca juga,, Keren banget,, puas saya bacanya..
      betapa pentingnya kita harus berdamai dengan inner child kita,,
      Jadi harus meluangkan waktu banyak - banyak untuk berbincang kembali dengan inner child sendiri yang mungkin saat ini masih selalu merasa sedih, tersakiti, dan hatinya hancur berkali kali,, makasih mbak udah mengingatkan

      Delete
  2. Super Mak :') ku jadi tersadar dan memahami inner child ku.. Dan aku akan afirmasi diri agar bs berdamai. Thank you Mak .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senang bisa membantu :)

      Semoga segera bisa berdamai ya Nat

      Delete
  3. *baca pelan pelan

    Thanks for writing this kak astiii!

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah selesai belum bacanya bun? Emang agak lama kalau dieja...

      Delete
  4. Waaah thanks for writing this, Sti! Gue tertarik banget soal inner child ini, termasuk buat riset novel.

    Makasih udah mengupas perkenalan inner child ini buat kulik-kulik lagi 😘😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihiyyy novel baruuu... novel baruuu.... semangaaatt kakaaa

      Delete
  5. Gila... hal yang ga pernah gw tau sebelumnya dan ga pernah banget gw baca dan tertarik ttg artikel beginian sebelumnya, gw pikir apa, eh ternyata menarik. Luarbiasa bahasannya ! Tengkiu ilmunya kak



    ReplyDelete