Showing posts with label fiction. Show all posts
Showing posts with label fiction. Show all posts

Sunday, April 15, 2018

Blooming Day






So baby, can I be your boyfriend, can I?
I want to show you a world you’ve never seen
So baby, can I be your boyfriend, can I?
If you want, I want to give you everything

Mata Raras mengikuti sosok paling tinggi dengan rambut perak di layar. Pria tersebut mengenakan setelan kemeja putih dengan celana panjang hitam dan jaket dengan warna senada dengan celananya, dalam kondisi semua kancing depan terlepas. Terlihat tulisan berwarna merah akan kota yang dianggap paling romantis di dunia, Paris, secara terbalik pada bagian depan Jaket. Terdapat kalung choker berwarna hitam menghiasi kerah kemeja putih. Riasan wajah cukup berat pada area mata, dengan eyeliner hitam pekat, memberi penekanan yang cukup akan tatapan mata dalam. 
“Aduh!” Raras memekik ketika sebuah kotak berwarna cokelat dilempar ke arahnya. Sekilas melirik, Raras langsung berteriak terkejut.
“Kakak! Aduh, ini kan sudah kutunggu-tunggu,” sungut Raras mengambil kotak tersebut yang tergelincir jatuh dari punggungnya ke arah lantai.
“Pasti Korea-Koreaan lagi deh, sama kayak yang lagi kamu tonton itu,” Mira, kakak Raras, beranjak ke sisi tempat tidur, menggeser posisi Raras dari depan laptop. “Siapa namanya ini? Baki? Bayun?” Mira menunjuk ke arah layar laptop.
“Baekhyun, Kak. Ini bukan Koreaan, EXO namanya. Ih Kakak, sudah berapa kali dikasih tahu,” erang Raras sambil membuka bungkusan cokelat yang dilempar Kakaknya tadi. Mira menggangguk-angguk mencoba memahami, matanya masih tertuju pada layar yang menayangkan video yang tampaknya sudah diulang Raras entah berapa kali, terlihat dari aktifnya tombol loop di kanan bawah. Puluhan kali sudah Raras menjelaskan mengenai Baekhyun dan EXO ini, namun tetap susah bagi Mira menyimpan dalam ingatannya.
“Rrrrt,” suara ponsel Raras membuyarkan kegiatan keduanya. Raras segera mengambil ponselnya dan mendapati satu nama yang tidak asing muncul di layar. Mira melihat sekilas pada layar ponsel yang diletakkan di sebelah laptop.
“Elya masih menghubungimu?” Suara Mira meninggi, mengenali caller ID tersebut.
“Tenang saja, Kak. Sekarang berbeda,” Raras mengerling dan memencet tombol hijau di ponselnya, bersiap menjawab panggilan tersebut.

***

“Pasti Kakakmu yang mengerjakannya!”
Raras mendongak ke arah sumber suara, memastikan suara itu ditujukan kepadanya, ia menunjuk ke arah dirinya tidak yakin.
“Iya, kamu! Siapa lagi,” Elya nampak tidak sabar. “Kamu ingin nilaiku jatuh di kelas Bu Ina, sehingga kamu minta tolong Kakakmu si juara kelas mengerjakannya,” gusar Elya gemas. Tangan kanannya mencengkeram lengan kiri Raras hingga memerah. Raras yakin warna tersebut setidaknya akan bertahan tiga hari lamanya.
“Aduh, aduh,” Raras berusaha melepaskan dirinya, namun cengkeraman Elya bertambah erat. Sekarang, tangan kiri Elya merambah ke ujung rambut sebahunya, menariknya tanpa ampun. “Aduh!” Erang Raras, nafasnya tercekat.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu ya, kamu bisa apa tanpa Kakakmu?”
“Aku... mengerjakannya... sendiri,” eja Raras tersengal-sengal. Kedua tangannya berusaha melepaskan genggaman tangan Elya di lengan dan rambutnya. Ia menyesal tidak mengindahkan Ria untuk menemaninya tadi, sekarang ia terjebak di kamar mandi berdua dengan perempuan ini.
“Kamu simpan saja semua bualanmu, aku tidak akan percaya,” Elya menarik rambut Raras lebih kuat lagi. Raras merasakan beberapa helai rambutnya terlepas dan jatuh mengenai tengkuknya.
“Tolong lepaskan aku, tolong,” lirih Raras.
“Kamu itu tahu diri sedikit. Otak pas-pasan, tampang juga. Tapi kelakuan kurang ajar sekali,” Elya meludah tepat di muka Raras. “Anggap ini peringatan pertama,” Elya melepaskan genggamannya pada rambut dan lengan Raras. Sebelum meninggalkan Raras, ia mematut dirinya di depan kaca toilet, memastikan seragam sekolahnya tetap rapi setelah sebelumnya Raras sempat menarik-nariknya.
Raras ingat betul peristiwa itu. Tidak sampai sehari setelah nilai tugas Biologi keluar, mata pelajaran yang selama ini dikuasai Elya, menempatkan Raras berada di peringkat pertama dengan nilai yang cukup jauh dengan Elya di posisi kedua. Raras saat itu cukup terkejut dengan hasil tugas praktikum tersebut, bukan karena ia bisa melejit ke posisi pertama, tapi lebih karena Elya turun posisi. Raras bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas tersebut. Mira memang memberinya beberapa saran, kakaknya itu sangat pintar di semua bidang,  namun Raras berani sumpah bahwa tugas tersebut dikerjakannya sendiri.
Sejak itu, Elya tidak berhenti mengganggunya. Elya cukup populer di SMA Kusuma Bangsa, pengaruhnya kuat, teman-temannya banyak. Tidak butuh waktu lama untuk menjadikan Raras sebagai pecundang nomor satu di sekolah. Raras selalu pulang sekolah berbalut sweter kuning kesukaannya yang warnanya sampai berubah menjadi krem, akibat terlalu sering dipakai. Semua ia lakukan untuk menutupi memar di kedua lengannya.
“Kok memarnya ga hilang-hilang sih, Ras?” Mira satu kali bertanya.
“Kakak kan tahu, aku ceroboh. Kemarin kepentok meja, Kak,” bohong Raras.
Mira menatap Raras dengan pandangan penuh tanya, paham akan sikap Raras yang tidak suka didesak, Mira memutuskan memercayai adiknya.
Tidak sampai ketika Raras dilarikan ke rumah sakit, akibat patah tulang yang diaku Raras akibat keseleo saat bermain bola voli, baru Mira mengetahui kejadian sebenarnya dari Ria, sahabat Raras.  
“Raras memang keseleo saat bermain bola voli, Kak.” Ria terdiam, mencoba mengatur kalimatnya. “Tapi itu disengaja, area Raras berpijak saat melakukan serve, sangat licin,” akhirnya ia memutuskan berterus terang.

***

“Halo,” Raras mendengarkan suara di ujung ponsel dengan seksama. Sesekali ia mengangguk pelan. “Bagus deh kalau gitu, jangan lupa besok dibawa ya tugasnya. Oke. Sampai besok.” Raras memutus panggilan. Mira mengamati adiknya, ia menaikkan sebelah alisnya ke arah adiknya.
“Elya telepon karena?” Mira tak sabar lagi. Adiknya tidak juga membaca kode yang dikirimkannya.
“Oh itu,” ujar Raras tidak peduli, pandangannya tetap terfokus pada paket cokelat yang sekarang telah berubah bentuk menjadi album terbaru EXO-CBX bertajuk Blooming Days. “Dia memberitahu kalau tugas Biologi untuk besok sudah selesai, dia akan membawakan dua rangkap. Satu untuk aku,” lanjut Raras. Tangannya mengeluarkan photobook dari album yang digenggamnya, membuka lembar demi lembarnya dengan seksama.
“Kok... bisa?” Tanya Mira. Nada suaranya perpaduan antara heran dan takjub.
Raras meletakkan kembali photobook tersebut dan memusatkan perhatiannya ke arah kakaknya, “kakak tahu kenapa aku suka Baekhyun?” Mira menggeleng. “Baekhyun itu salah satu anggota EXO dengan masa pelatihan paling pendek, namun bisa menjadi vokal utama di Grup. Ia juga terkenal suka berbicara terus terang, sehingga sering menimbulkan kontroversi akibat ucapan-ucapannya. Kedua hal tersebut, membuat dia menjadi anggota dengan jumlah haters yang cukup banyak. Ia dianggap sombong, tidak tahu diri dan hal-hal buruk lainnya.”
Mira mencoba mencerna penjelasan Adiknya. Terdengar seperti dirinya, sosok Baekhyun ini.
“Seperti Kakak kan?” Raras seperti membaca pikirannya. “Aku ingin seperti Kakak, ingin seperti Baekhyun. Tapi aku butuh waktu, karena aku bukan Kakak. Aku butuh waktu untuk berani. Karenanya, aku berterima kasih hari itu, di rumah sakit, Kakak mendengar permohonanku. Aku janji pada Kakak aku akan menghentikan semua perbuatan Elya padaku. Aku tepati janjiku.”
Mira menggeser posisi duduknya, mencari tempat yang nyaman. Sepertinya penjelasan adiknya akan memakan waktu cukup lama.
“Baekhyun baru saja terlibat dalam satu kontroversi akibat salah ucap. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah Baekhyun, tapi ia tetap meminta maaf. Ia tidak ingin banyak pihak menjadi bertengkar karena dirinya. Ia mengorbankan dirinya demi ketenangan banyak pihak,” Raras berhenti, seakan berpikir. “Hal itu membuat aku tersadar. Aku bisa melakukan hal yang sama. Aku meminta maaf pada Elya. Secara terbuka. Aku tulis di majalah sekolah, broadcast di media sosial serta mengirimkan surat pribadi untuknya juga. Aku minta maaf apabila selama ini ada perilaku aku yang mengganggu dirinya.”
“Tapi, Ras,” potong Mira.
“Kak, seperti Baekhyun. Aku tidak masalah apabila hal tersebut membuat aku menjadi rendah. Aku hanya ingin semuanya selesai, damai. Capek, Kak.” Raras tersenyum. “Terbukti, banyak teman-teman ternyata mendukung permintaan maafku itu, hal itu membuat Elya malu untuk tidak memaafkan aku, kan. Sekarang, sebagai balasannya, ia selalu menawarkan diri membantu aku sebisa dia. Ia menyesal juga, Kak. Rasa iri menjadikan ia seperti itu. Win-win kan, Kak.”
“Aku tidak sangka kamu sudah besar ya,” Mira mengacak-acak rambut Raras. “Semua Koreaan ini ternyata ada gunanya juga.”
“Ih, Kakak.”
“Ayo, deh, sekarang Kakak mau lihat ini semua lagu-lagunya seperti apa, sih. Kayanya boleh juga ini yang rambutnya cokelat,” gurau Mira sambil kembali menunjuk ke layar kaca.
“Chen ini, Kak. Dia vokal utama juga...,”
Mira hanya mengangguk-angguk mendengar ocehan adiknya yang lebih panjang dari sebelumnya, saat ia menjelaskan tentang Elya. Kali ini Mira mendukung seratus persen kesukaan Adiknya tersebut. Ternyata ada manfaatnya juga.

Today, I feel blue
Feeling like I'm trapped, that kind of mood
But you're the master key who'll unlock me
Your joyful colors change my days, yeah

***

1300 kata
Ditulis untuk mengikuti event Femii Active Girl - Fan Fiction Competition
Inspirasi cerita dari video klip terbaru EXO-CBX berikut ini:



Monday, April 2, 2018

Baca Happy di Cabaca




Siapa sih yang tidak suka gratisan? Apalagi kalau berkaitan dengan bacaan, duh saya paling depan deh semangatnya. Haha. Salah satu gratisan yang saya suka adalah membaca di platform menulis. Platform menulis mempertemukan penulis dan pembaca secara langsung. Semakin banyaknya media online yang ada saat ini, membuat pembaca semakin diuntungkan. Hobi membaca tidak lagi terhalang dana. 

Salah satu platform baru yang muncul adalah cabaca, platform ini dapat di-akses melalui website-nya di sini atau unduh aplikasinya melalui PlayStore atau AppStore. Sistem bacanya adalah tiga bab pertama gratis, bab berikutnya membayar dengan mata uang berupa kerang. Pembaca dapat mendapatkan kerang dengan membeli paket kerang yang ditawarkan, bisa melalui transfer atau potong pulsa, atau memberikan komentar. Setiap komentar di masing-masing bab cerita, akan mendapatkan tiga kerang secara gratis. Apabila membaca melalui aplikasi ponsel, dapat memasukkan kode-kode yang suka diberikan oleh penulis cabaca, untuk mendapatkan 50 kerang. 

Awal mula cabaca bisa dilihat di sini oleh salah satu konseptornya. Konsep cabaca adalah online publisher dimana penulis dan pembaca sama-sama diuntungkan. Penulis dapat mempublikasikan tulisannya sekaligus mendapatkan penghasilan dari tulisan yang dibuatnya, sementara pembaca dapat membeli cerita yang menarik baginya setelah mencoba membaca tiga bab pertama secara gratis. Cabaca juga mengakomodir berbagai macam genre, sehingga penulis dan pembaca sama-sama bebas eksplorasi berbagai genre.

Beruntung sekali bergabung di komunitas penulis Cloverline di grup Facebook, saya dapat kesempatan sharing langsung terkait Cabaca oleh konseptornya, Mbak Asya Azalea tadi yang Project Manager sekaligus Co-Founder. Menurut Mbak Asya yang membedakan Cabaca dengan platform lainnya adalah sbb:

1. Sesimpel mungkin.
2. Semenyenangkan dan seinteraktif mungkin
3. Sevaluable mungkin
4. Sebisa mungkin membantu penulis

Hal yang menyenangkan di Cabaca, berbagai macam genre tersedia untuk dibaca. Cabaca sangat terbuka dengan semua tipe cerita. Cerita-cerita yang eksperimental seperti fantasi dan science fiction sangat diterima. Selama cerita itu memiliki keunikan, serta narasi dan pemotongan bab yang pas, pasti dapat ditemukan di Cabaca. 

Nah, karena sedang ngobrolin cabaca, saya sekalian mau review empat cerita yang masuk deretan cerita populer-nya cabaca.

BANGKU POJOK



Penulis: Honey Dee
Genre: Horor


Berkisah tentang Kalila yang ditinggal Ayahnya, sehingga ia dan Ibunya harus berpindah tempat tinggal. Memasuki sekolah baru yang sebelumnya bekas penjara Belanda membuat Kalila banyak menemui berbagi macam keanehan. Tentang sosok Rosaleen yang misterius serta misteri bangku pojok di salah satu kelas. 

Cerita ini tidak hanya murni horor, namun memiliki bumbu teen-lit di dalamnya. Tentang Kalila yang ternyata menyukai dunia menulis dan memiliki alter-ego Bella Donna, penulis sukses. Kalila juga memiliki aktivitas menarik bergabung dengan tim jurnalistik sekolah, setelah diajak bergabung salah satu teman sekelasnya, Alpha.

Hal yang menonjol di cerita ini untuk saya adalah penggambaran latar cerita yang sangat detail, tentang kota baru yang sekarang ditinggali oleh Kalila serta gambaran sekolah tempat Kalila belajar. Seakan-akan pembaca dapat melihat apa yang dlihat oleh Kalila. Penggunaan POV 1 juga semakin membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Kalila. Rasa penasaran yang dimilikinya serta ketakutannya.

Cerita ini memiliki banyak potensi berkembang, masih banyak tanda tanya yang ada di benak pembaca dan dapat digali lebih jauh oleh penulis. Mulai dari hal yang terlihat jelas, terkait sosok Rosaleen, sampai dengan kemungkinan hubungan Kalila dan Alpha yang mungkinkah berakhir indah, atau akankah kedok Kalila sebagai Bella Donna akan terbongkar.

Walau untuk saya kesan horor dalam cerita ini masih berupa tempelan, karena aroma teen-lit lebih terasa, namun tetap mampu membuat bulu kuduk meremang. Memikirkan siapa dan kenapa yang membuat Kalila ketakutan.

Cerita ini baru berjalan tiga bab, berikutnya sudah harus bayar nih. Namun jangan kuatir, masukkan kode penulis honeydee1710 di aplikasi cabaca untuk mendapatkan tambahan kerang gratis 50 buah. Sehari hanya bisa sekali yaa memasukkan kode ini. Lumayan, nabung kerang sambil nunggu ceritanya di-update lagi.

PAINLESS


Penulis: Betty
Genre: Thriller

Ide cerita ini segar, tentang penderita kelainan Congenital Insentivity to Pain. Kondisi ini adalah kelainan bawaan dimana seseorang tidak dapat merasakan rasa sakit, keadaan ini akibat mutasi dari salah satu gen dalam tubuh. Nira yang baru saja memasuki bangku SMA, mengalami kondisi ini. Karena ketidakmampuannya merasakan rasa sakit, ia sangat dijaga oleh kedua orangtuanya serta sahabatnya sejak kecil, Kristi.

Kedua orangtua Nira dan Kristi selalu menjaganya dengan ketat, tidak memperbolehkannya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dirasakan akan membahayakan dirinya. Namun sebagai gadis muda yang memiliki banyak keinginan, Nira memiliki mimpi bergabung dengan klub cheerleader. Mengingat gerakan cheerleader membutuhkan aktivitas fisik yang rentan cedera, tentu Nira harus sembunyi-sembunyi mengikuti kegiatan ini agar Kristi tidak tahu. Sayang, satu kesalahan saat latihan membuat Nira harus menjalani operasi kecil. Di rumah sakit inilah, Nira bertemu Vero, gadis yang  tengah berjuang melawan kanker ganas.

Cerita ini membawa pembaca menyadari dua sisi kehidupan yang berbeda, Nira dengan ketidakmampuannya merasakan sakit dan Vero yang luar biasa menahan sakit akibat kanker stadium akut yang dideritanya, bahkan membuat salah satu kakinya sampai diamputasi. Kedua keadaan yang bertolakbelakang ini sangat menjanjikan banyak konflik di bab-bab berikutnya.

Selain ide yang segar, sinopsis cerita ini pun cukup membuat pembaca tergelitik untuk melahapnya lebih jauh. Akhir bab ketiga pun cukup bikin penasaran pembaca apa yang akan terjadi selanjutnya, pas banget bikin pembaca menghitung kerang yang dimiliki cukup atau tidak untuk lanjut baca saat sudah ada update nanti. Haha.

Hal yang sedikit mengganggu saya adalah jalan cerita yang terlalu cepat berpindah adegan. Hal ini terasa ketika Nira sudah kembali ke rumah setelah operasi dan mengajak kedua orangtuanya bepergian. Tampak adegan ini muncul tiba-tiba, tidak ada alasan cukup kuat kenapa Nira tiba-tiba ingin berlibur. Namun lebih dari itu, adegan pun cepat berganti dari permintaan liburan, menentukan lokasi hingga tiba-tiba mereka sudah berada di dalam mobil siap berwisata.

Terlepas dari hal tersebut, cerita ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Sejauh ini tidak tampak adanya sosok cowok yang akan muncul, sehingga cerita nampaknya akan fokus pada konflik Nira dan Vero. Dua gadis dengan penyakitnya masing-masing. Sisi kemanusiaan akan banyak digali dari cerita ini nampaknya.

Oh ya, penulisnya juga menyediakan kode kerang gratis lho. Jangan lupa masukkan kode Betty428 di aplikasi cabaca-mu ya. Kode ini belum dapat dimasukkan di versi website, hanya versi aplikasi saja ya. 


WISH UPON A STAR


Penulis: Natka
Genre: Romantic Comedy


Kisah kasih di sekolah adalah ide cerita yang tidak pernah lekang oleh zaman. Banyak cerita, film serta lagu terkenal memiliki ide yang berasal dari kisah kasih saat sekolah. Cerita ini pun memiliki ide dasar yang sama, tentang pelajar dan semua permasalahannya.

Katia, siswi kelas dua belas, memiliki masalah dalam pelajaran Fisika. Semua nilai mata pelajaran yang lain oke, kecuali Fisika. Salah satu program sekolah bernama Tutor Sebaya mempertemukannya dengan Joshe. Joshe yang dikenal sebagai cowok pintar namun terkenal dingin di sekolah akan menjadi tutor untuk Katia, yang sudah antipati duluan dengan Joshe bahkan sebelum bertemu. Joshe bukan satu-satunya laki-laki yang hadir dalam kehidupan Katia, sudah ada Ben yang terlebih dahulu hadir sebagai salah satu sahabat Katia. Ben yang vokalis grup Chronicle dan salah satu cowok populer di sekolah.

Sudah mulai kelihatan cerita akan mengarah ke konflik cinta segitiga Ben-Katia-Joshe. Kepribadian Joshe yang hangat serta terbuka akan berbanding terbalik dengan Ben yang dingin dan tertutup. Sejauh ini penulis menggunakan POV3 dari kedua tokoh utamanya, Katia dan Joshe. Pembaca diajak menyelami diri serta pikiran Katia dan Joshe, mencoba memahami tingkah laku mereka. 

Gaya penceritaan POV3 dari tokoh utama membuat pembaca mampu memberikan simpati lebih kepada masing-masing tokoh. Pembaca diajak untuk ikut berpikir seperti layaknya sang tokoh, dan ikutan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Beberapa inkonsistensi seperti profesi Pak Leo, yang di awal adalah guru Fisika namun berubah menjadi guru BP di pertengahan cerita, tidak terlalu mengganggu jalannya cerita. Untuk saya pribadi, cerita ini paling berpotensi membuat pembaca terhanyut dalam kisah Katia dan kedua pria dalam hidupnya.

Setiap bab menyuguhkan kisah yang berbeda dan membuka tabir pribadi masing-masing tokoh, namun tetap menyelipkan rasa keingintahuan pembaca di akhir cerita. Saat ini cerita ini sudah memiliki enam bab, cukup membuat pembaca senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku para pelajar yang sedang menikmati masa mudanya ini.

Seperti biasa, sang penulis juga memiliki kode tersendiri untuk mendapatkan tambahan kerang gratis. Jangan lupa masukkan kode Natka75 ya saat membuka aplikasi cabaca di ponsel Android atau iOs-mu.

DEAR SWEETHEART


Penulis: Sulistyowati
Genre: Romantic Comedy

Cerita terakhir yang saya share adalah cerita yang sudah memiliki jumlah bab yang banyak, yaitu sebelas bab. Sama seperti Wish Upon A Star, kisah kasih di sekolah adalah ide utama cerita ini. Tentu dengan bumbu-bumbu taburan kebencian di antara tokoh-tokoh utamanya. 

Rafael dan Ayana terpaksa bekerjasama karena menerima hukuman dari salah satu guru mereka. Keduanya diminta melakukan misi yang nampak mustahil, melakukan wawancara serta menulis biografi pelukis yang misterius keberadaannya. Rafael dan Ayana memiliki sifat yang bertolak belakang, Rafael seorang cowok ganteng serta pintar dan dingin sementara Ayana adalah gadis slebor yang hobi tidur dimana saja.

Pertikaian keduanya bermula saat tidak sengaja keduanya saling menghancurkan karya seni masing-masing. Sehingga mengharuskan mereka berdua menerima hukuman. Latar belakang seni, umpamanya seni lukis, yang menghiasi cerita ini cukup membuat cerita sedikit berbeda dengan kisah-kasih percintaan remaja lainnya. Aspek keluarga pun cukup kental menaungi cerita ini, mulai dari kehidupan keluarga Rafael dan Ayana yang berbeda, hingga kehidupan Maher sang Pelukis yang tumbuh besar di lingkungan Panti Asuhan.

Hal yang sedikit mengganjal bagi saya adalah alur yang berjalan sedikit lambat. Penulis nampak berusaha mengulur waktu untuk pelan-pelan tiba di puncak konflik. Sebenarnya apabila penguluran cerita dilakukan untuk membuat pembaca lebih mengenal tokoh, seperti adegan Ayana ke rumah Rafael, tentu tidak masalah. Namun apabila penguluran cerita dilakukan seperti saat Ayana kehilangan ponselnya, nampak terlalu panjang kalau tujuannya memberi penekanan pada sifat slebornya. Sifat slebor ini bisa dimasukkan pada adegan lain yang lebih berarti, seperti kebisaan Ayana tidur di mana saja yang ditunjukkan ketika ia bertamu ke rumah Rafael.

Menarik mengikuti tingkah laku Ayana yang bebas dan ceria berhadapan dengan Rafael yang pendiam dan dingin. Perpaduan keduanya membuat petualangan mereka untuk menulis biografi Maher sang Pelukis Misterius menjadi seru untuk diikuti. Apalagi melihat getar-getar asmara yang timbul di hati Ayana. Duh, bikin senyum-senyum sendiri.




Cerita mana lagi yang kamu sukai di Cabaca?
Kasih tahu di komen yuk.





Friday, March 23, 2018

Perempuan Dalam Hidupku





Aku tenggelam dalam kisah cinta yang penuh warna. Terkadang kelam berpendar dalam hati, seringkali terang berbinar dalam sukma. Aku punya tempat untuk semua rasa. Seperti saat itu, ketika dia memutuskan pergi.

“Kamu terlalu baik untukku,” isaknya dalam derai airmata.

“Bukankah itu harapanmu?”

“Tapi tidak seperti ini,” balasnya. Tidak terbendung air bergulir membasahi pipi mungilnya. Berat rasanya menahan tangan ini bergerak menghapusnya. Seperti biasa aku lakukan. Dulu. Bukan sekarang.

“Kenapa? Apakah aku tidak pantas untukmu?” desakku. Berharap mendapat kepastian. Aku benci tanda tanya.

Perempuan yang telah kukenal dua tahun itu, hanya menggeleng pelan. Bibirnya nampak bergetar. Hanya sedu sedan yang masih terdengar jelas, dalam ritme yang selaras. Semua tentangnya selalu selaras. Seperti malam itu, rambut hitam tebalnya jatuh tepat di atas bahunya. Tidak lebih, tidak kurang. Lengan kemeja magenta yang dikenakannya tergulung pas di siku, tidak terlalu turun atau naik.

“Justru kamu sangat sempurna untuk aku,” jawabnya pelan. Kedua mata beningnya masih tidak menatapku.

Tidak lama, sebuah mobil sedan muncul di ujung jalan. Seorang pria datang dengan sweter hitam dan payung transparan. Berjalan pasti ke arah perempuanku. Aku sungguh tidak menyadari cuaca saat itu.  Hal terakhir yang aku ingat, pedih di dada ketika ia masuk ke dalam mobil.

Tentu saja itu hanya salah satu dari sekian kisah romansa dalam kehidupanku. Seperti aku bilang, kisahku berwarna. Ketika aku bilang berwarna, bahkan taman bunga pun kalah semerbak. Seperti waktu itu, ketika dia memutuskan untuk tinggal.

“Aku mencintaimu!” teriaknya dalam jarak dua meter. Aku bahkan belum melihat wujudnya, namun suaranya telah lebih dulu menghampiriku.

Melihatku kebingungan mencari sumber suara, ia muncul dari belakangku. Tertawa lebar dan memelukku erat. Seakan aku akan meninggalkannya apabila tidak didekap.

“Aku mencarimu kemana-mana. Kemana saja kamu?” ujarnya setelah melepaskan pelukannya. Ah, hilang hangatnya. Batinku berkata. Ingin memintanya mendekapku selamanya.

“Aku harus mengembalikan buku ini, baru saja aku mau ke kantin. Kita berjanji bertemu di sana, bukan?” tanyaku ragu. Dia selalu membuatku ragu.

“Tapi aku kangen kamu. Kamu tidak balas pesanku,” tangannya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menggoyang-goyangkannya di hadapanku. Aku terkesiap dan segera membuka ponselku yang sedari tadi ada di dalam tas. Lima belas pesan dan dua panggilan. Dalam tiga puluh menit.
“Kita baru bertemu di kelas pagi tadi,” ucapku sambil menatapnya. Keningku berkerut. Tidak yakin apakah kalimatku meminta jawaban atau suatu pernyataan.

“Itu kan sudah dua jam yang lalu. Sudah lama,” jemarinya menggapai lengan kananku. Melingkarkannya dan mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Aku membiarkannya. Aku tidak bisa mengatakan tidak padanya. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku ingin menyimpan energiku. Perempuan itu tidak dapat menerima kata tidak dalam hidupnya.

Aku membiarkannya selama dua tahun. Sampai aku menemukannya di satu pagi sebelum kelas, ketika aku menjemputnya seperti biasa. Tubuhnya tergolek lemah di atas ranjang, dengan urat nadi berlumuran darah segar.

Aku menghargai setiap perempuan dalam hidupku. Mereka hadir dengan berbagai cerita dan meninggalkan bermacam kisah.

“Kamu selalu menulis. Apa yang kamu tulis?” tangannya menarik pena yang sedang kugenggam. Di antara kami, dua gelas kopi telah lama tandas.

“Cerita sehari-hari,” ujarku pendek.

“Tentang kita?”

“Tentang kehidupan.”

“Kenapa kamu tidak menulis tentang kita?”

“Apa yang ingin diceritakan?”

“Hmm,” dia tampak berpikir. Tangan kanannya yang sebelumnya menggenggam penaku, sekarang memegang lehernya. Jari-jemarinya bergerak bergantian, menggelitik dagunya. “Bagaimana kita bertemu dan akhirnya bersama?”

“Oke.” Balasku singkat.

“Oke?”

“Iya, oke. Aku akan tulis tentang kita.”

“Semudah itu?”

“Kenapa dipersulit?”

“Aku tidak tahu. Aku pikir kamu butuh ide yang lebih luar biasa dari itu. Kamu selalu mempertanyakan hidup, menantang alam atau menguji keadaan. Selalu seperti itu.”

Aku menatapnya, mencoba membaca pikirannya. Perempuan itu membalas tatapanku dengan senyuman. Perlahan, ia mendekatkan mukanya ke arahku dan menempelkan bibirnya. Aku terpaku. Tidak dapat bergerak. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ia pasti dapat membaca air mukaku, karena ia tertawa.

“Kamu lucu,” ujarnya pelan di telingaku. “Kamu menulis puluhan sajak, memiliki ratusan tulisan, tapi,” ia berhenti. Memalingkan mukanya sedikit, untuk menatap kedua mataku lekat, “tidak pernah ada ceritamu yang berasal dari hati. Tidak ada nyawa.”

Aku terkesiap. Sial, dia tahu.

“Jadi, saat ini, aku akan memberimu cerita dari hati.”

Perempuan itu mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Memagutku dalam remang warung kopi. Memberikan rasa akan kecupan pertama. Membangkitkan sesuatu dalam hatiku. Sesuatu yang belum pernah diberikan perempuan-perempuan lain selama hidupku.

Aku berharap dia kekal.

----
693 kata
Genre: Romance
Profesi Tokoh: Pensyair