Showing posts with label writingchallenge. Show all posts
Showing posts with label writingchallenge. Show all posts

Tuesday, February 12, 2019

Kisah Pemberangusan Buku dan Literasi Indonesia



Penempatan Indonesia sebagai negara ke-60 dari 61 negara dalam World's Most Literate Nations menjadi satu masalah dan kekhawatiran tersendiri bagi dunia literasi Indonesia. Menurut daftar yang dibuat oleh Central Connecticut State University tahun ini, Indonesia bahkan menempati urutan kedua terendah dan hanya setingkat di atas Botswana (negara kecil di Afrika) dalam hal literasi.

Meningkatnya Penjualan Buku di Indonesia


Rendahnya semangat literasi masyarakat Indonesia membuat pemerintah sebaiknya mulai berpikir cara untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Industri percetakan sendiri saat ini tengah bergairah. Tirto.id mengungkap jumlah anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) telah mencapai lebih dari 1.000 anggota. Toko buku ritel terbesar di Indonesia, Gramedia, mencatat pertumbuhan penjualan buku meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya di 2018. Tidak ada masalah dari sisi permintaan dan penyediaan, karena tidak mungkin Gramedia bisa meningkatkan penjualan apabila tidak ada permintaan dari masyarakat. Sekarang tinggal dukungan dari pemerintah saja yang seharusnya semakin menyuburkan minat baca masyarakat.

Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKB) mengungkap cara terbaik meningkatkan minat baca dengan memfasilitasi akses masyarakat ke sumber bacaan. Ada tiga pihak yang sebaiknya bekerja sama: penulis, penerbit dan pemerintah. Menilik dari data IKAPI dan Gramedia sebelumnya, terlihat jelas kerjasama antara penulis dan penerbit sudah terjalin dengan baik. Satu yang tersisa, pemerintah. Dukungan pemerintah yang paling bermanfaat adalah memberikan akses yang mudah untuk masyarakat ke sumber bacaan. Beberapa contoh yang dikemukakan BPKB meliputi membentuk dan mempercantik perpustakaan sekolah, daerah dan nasional. Setelah itu, mempromosikannya. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Medan Merdeka, Jakarta, contohnya. Gedung perpustakaan dibuat nyaman untuk tempat membaca atau sekadar bersantai, sistem peminjaman buku mudah dan lokasinya terbuka untuk dipakai berbagai macam acara, terutama yang berkenaan dengan literasi. Salah satu cara promosi yang baik untuk perpustakaan tersebut.

Acara Gramedia Writing & Readers Forum di Perpusnas (gambar dari sini)

Inisiatif pemerintah yang sudah baik dengan perpusnas ini misalnya, sangat sayang apabila dinodai dengan tindakan-tindakan pemberangusan buku yang banyak terjadi belakangan ini. Fokus pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dapat dengan mudah terpecah. Masyarakat bisa saja semakin malas membaca. Karena belum apa-apa, ada-ada saja pihak yang sudah memutuskan tentang buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh warga negara. Bisa jadi, kasus pemberangusan buku ini malah memiliki efek domino.

Maraknya Pemberangusan Buku di Indonesia


Namun, alih-alih berupaya meningkatkan literasi Indonesia yang tengah menyandang predikat miris, malah akhir-akhir ini pemberangusan buku marak dilakukan. Sejak akhir Desember tahun lalu, aparat yang bertugas di beberapa daerah menyambangi toko buku dan menyita buku-buku ‘kiri’, khususnya yang dianggap menganut paham komunis.

Konyolnya, mereka merasa bertindak heroik dengan mata tertutup. Bisa ditakar pengetahuan mereka perihal buku-buku yang mereka sita seenaknya, hanya bermodal sampul dan judul, semua buku disapu rata untuk diamankan. Padahal, kebijakan peredaran buku sudah diatur dalam UU Nomor 3 tahun 2017, tentang sistem perbukuan. Pasal 69 dalam UU tersebut menyebutkan pengawasan buku seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku perbukuan dan masyarakat dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi.

Putusan MK Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010 menyatakan untuk menangani barang cetakan, jaksa agung tetap harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Seakan mengabaikan konstitusi, aparat keamanan bergerak melakukan razia buku sejak akhir Desember kemarin. Bermula pada 26 Desember 2018 di Kediri, disusul 8 dan 9 Januari 2019 di kota Padang dan Tarakan. Kejadian yang semakin memperkuat pemberangusan buku ini adalah pernyataan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo pada rapat kerja dengan komisi III DPR RI, Rabu, 23 Januari 2019. Bahwa perlu dilakukan razia buku yang memang mengandung unsur PKI dan perlu dilakukan perampasan di mana pun buku itu berada.

Buku-buku yang diberangus di Ternate (gambar dari sini, aslinya dari sini)

Pemberangusan buku yang 'katanya' mengandung paham ‘kiri’ dan berbau komunisme adalah gambaran betapa ketakutannya beberapa pihak di negeri ini. Cara untuk menutup mata dari peristiwa yang terjadi di tahun 1965. Memotong akses. Bahkan ketakutan-ketakutan itu hanyalah berdasarkan pada buku-buku dengan judul dan cover berbau paham kiri tadi. Merusak ideologi, katanya. Toh, mereka-mereka yang katanya aparat, jika ditanya tentang isi dari buku-buku yang mereka sita, belum tentu tahu dan paham. Jangankan tahu, membuka buku itu saja, rasanya tidak. Mereka terlalu dibutakan dengan pemikiran bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘antek PKI’ ataupun marxisme haruslah dimusnahkan, tidak untuk dipublikasikan. Biar tetap bungkam. Biar tak lagi diungkit. Biar yang terjadi di masa lalu hanya menjadi sejarah yang benar-benar punah. Mereka bahkan lupa bahwa buku adalah jendela ilmu. Ada fakta-fakta yang diungkap di dalamnya. Kalau bukan dengan buku, lalu dengan apa sejarah bisa mengungkap fakta. Sekali lagi, don’t judge the book by its cover.


Manusia Makhluk Pintar



Memang benar, pemikiran seseorang tergambar dari apa yang mereka baca. Tapi, bukankah manusia adalah makhluk yang sempurna. Diciptakan Tuhan dengan memiliki akal dan pikiran. Maka ketika membaca buku-buku ‘terlarang’ tadi, tak lantas berarti langsung menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari bahan bacaan tersebut. Sebab, seseorang bebas memilah dan memilih. Untuk tahu mana hal yang baik, maka seseorang juga perlu tahu apa-apa yang buruk. Untuk tahu jalan yang lurus, maka perlu tahu dulu mana jalan yang menyimpang. Cukup tahu, bukan untuk masuk dan menjadi bagian di dalamnya. Lalu, ketika seorang hendak mencari tahu apa itu komunisme, paham kiri, dan berbagai sejarah yang katanya menyimpang, dari mana mereka bisa mendapatkan informasi, jika bukan dari buku-buku yang justru diberanguskan? Padahal bisa saja tujuan si orang tadi membaca, hanyalah untuk studi sejarah dan keilmuan.


Masyarakat seakan dibuat buta, tapi tidaklah perlu dibodoh-bodohi. Putusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010 saja menyatakan bahwasanya dalam menangani barang cetakan, jaksa agung juga harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Dengan kata lain, proses pemberangusan buku-buku tanpa melalui proses peradilan, sama halnya dengan mengambil hak pribadi secara sewenang-wenang yang melanggar Pasal 28H ayat (4) UUD 1945. Lalu berhakkah para aparat dengan semena-mena memberanguskan buku-buku tadi tanpa prosedur yang sesuai dan mengabaikan hukum yang berlaku? Seperti kasus pemberangusan buku yang terjadi di Kediri, Padang dan Tarakan. Sedang di sisi lain, pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, setiap orang, khususnya para penulis, berhak berekspresi. Tinggal para pembaca yang dituntut cerdas memilih apa yang cocok dan hendak mereka baca. Bukan malah mendukung terjadinya proses pemberangusan buku-buku hanya karena sebuah kekalutan, pun ketakutan yang katanya akan merusak ideologi bangsa.

Kalau menurut kamu sendiri, apakah langkah pemberangusan buku ini sudah tepat?

---

Tulisan ini dibuat bersama oleh Asti, Fian dan Niar dalam rangka memenuhi tantangan menulis #katahatichallenge #katahatiproduction

---

Sumber Artikel:

- https://nasional.kompas.com/read/2016/05/12/21141091/Pemberangusan.Buku.Dinilai.Melanggar.Konstitusi
- https://tirto.id/kebodohan-razia-di-tengah-peningkatan-minat-konsumsi-buku-deyy
- https://katakerjalampau.wordpress.com/2019/01/17/ketika-para-penguasa-memilih-takut-dengan-buku/

Saturday, June 2, 2018

7 Penyanyi dari Era 90an ini Bikin Kangen Berat



Era 90an untuk dunia musik Indonesia meninggalkan banyak penyanyi, dengan karya-karya emas yang masih populer hingga hari ini. Bahkan untuk sebagian besar orang, baik mereka yang lahir di tahun 90an atau tidak, lagu-lagu mereka menjadi bagian dari daftar lagu pilihan sepanjang masa.

Premis tersebut mengantarkan saya dan mamah merah untuk mengangkat tema musik nasional dari tahun 90 untuk battle minggu ini. Mengingat dampaknya yang besar untuk berkembangnya selera musik kami sampai sekarang. Mengingat sebelumnya sudah bahas tren musik britpop di sini, maka musik nasional jangan sampai lepas dong ya.

Untuk saya sendiri, tahun 90an membawa banyak kenangan akan musisi-musisi tanah air yang berbakat. Berbakat dari sisi suara, stage presence (sumpah ini ga nemu padanan bahasa yang sesuai) atau jeniusnya lirik lagu yang ada. Sebagai seorang yang cukup loyal, mengarah aliran garis keras, saya menggemari musisi-musisi tertentu dan selalu mengikuti alur perjalanan karir serta karya-karyanya.

Ada tujuh penyanyi, dengan berbagai genre musik, yang membuat saya selalu teringat dengan kejayaan musik Indonesia di tahun 90an lalu. Beberapa dari mereka masih aktif hingga saat ini, walau popularitasnya tidak sebesar masa lalu.

COBOY

Tren grup vokal pria menawan di Indonesia bermula dari cowok-cowok jebolan Majalah Mode ini. Ali Mustafa, Ponco Buwono, Gilbert Pattiruhu dan Ferry Pasalli. Keempat pria lulusan ajang cover boy majalah tersebut membentuk grup vokal yang cukup sukses menelurkan empat album. Medio 2016 lalu mereka baru saja comeback di acara Java Jazz Festival, berkolaborasi dengan sesama grup vokal lainnya seperti Lingua dan ME. Salah satu vokalisnya, Ali Mustafa, baru menelurkan satu single baru berjudul Selalu Bersamamu medio 2016 silam. Lumayan pengobat kangen.

Namun satu lagu yang selamanya akan membuat saya ingat akan mereka adalah lagu ini. Salah satu lagu yang masuk daftar wajib saat karaoke. Haha.


JAVA JIVE

Grup musik yang mencuri perhatian saya dari pertama kali mereka muncul. Musik yang sedikit jazz dengan tampilan dua vokalis utama, bukan satu yang umum saat itu. Sehingga kemunculan mereka cukup membawa angin segar pada dunia musik Indonesia. Perpaduan suara Fatur yang berat dengan falsetto khas Danny, menghasilkan harmoni yang menenangkan.

Keterlibatan Tracy Trinita, model Indonesia paling terkenal saat itu yang berhasil go internasional, pada salah satu video musik mereka ikut mengangkat nama Java Jive. Sampai saat ini, grup ini sesekali mengadakan konser reuni, walau sudah lama tidak menghasilkan lagu baru. Salah satu lagu terbaik mereka adalah ini:


DENADA

Salah satu rapper wanita pertama yang dimiliki Indonesia. Dengan berbagai macam kontroversi yang terjadi saat pertama muncul, tidak bisa dipungkiri Denada tetap salah satu rapper terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Lagunya, yang menuai banyak kontroversi karena dianggap kurang rap dan terlalu lembut, bertajuk Sambutlah terpilih menjadi Asia's Viewers Choice di ajang MTV Video Music Awards di tahun 1995.

Single pertama 'Sambutlah' yang melambungkan nama Denada, menyandingkannya dengan Iwa K sebagai duo rapper terbaik Indonesia, termasuk di dalam album 'Kujelang Hari'. Album ini sampai saat ini masih menjadi karya terbaiknya. Saat ini Denada masih aktif, namun dengan jalur musik yang jauh berbeda.


Favorit saya sebenarnya 'Kujelang Hari', lebih bersemangat dan sangat cocok dengan image Denada sebagai perempuan kuat, dengan lebih banyak lirik rap yang digubah. Namun ternyata sudah tidak ada yang memiliki videonya di Youtube.

PARAMITHA RUSADY

Walaupun Mitha, panggilan Paramitha Rusady, dapat diidentikkan dengan generasi 80an, namun banyak lagu-lagunya yang lebih terkenal di medio 90an. Salah satu sebabnya adalah banyaknya film dan sinetron yang dibintanginya, sehingga otomatis membuatnya menyanyikan lagu tema film/sinetron tersebut. Ditambah dengan kisah kasihnya yang menghias berbagai media saat itu, Mitha adalah salah satu figur publik paling banyak dibicarakan. Kemampuan menggubah lagu serta memainkan instrumen musik adalah kelebihan lain yang dimilikinya.

Sayang saat ini Mitha tidak lagi berkarya. Penyanyi multitalenta ini terakhir terlihat di layar kaca pada medio 2016 lalu dan sempat menerima nominasi salah satu penghargaan Seleb on News di tahun 2017.


WARNA

Grup vokal kombinasi pria dan wanita ini boleh dibilang seperti Elfa's Junior versi ceria. Memiliki lima anggota dengan kemampuan vokal memukau sama rata, jaminan keindahan harmoni yang dihasilkan pada setiap lagu-lagunya. Asal mula terbentuknya grup ini cukup unik, mengingat salah satu personilnya, Nina Tamam yang menjadi penyebab terjadinya Warna. Musisi Tamam Husein, ayah Nina, membentuk Warna untuk mengakomodasi keinginan Nina tergabung dalam satu grup vokal. Sayangnya, dalam formasi Warna yang masih bertahan hingga saat ini, Nina tak lagi bergabung di dalamnya.

Perpaduan terbaik Warna terjadi dalam kombinasi suara Nina, Sarwana, Ria, Stephen dan Dea. Personil terakhir, Dea Mirella cukup sukses bersolo karir, sementara Nina lebih banyak ditemui sebagai penyiar radio saat ini. Salah satu lagu terbaik mereka adalah ini:


 ME

Berbicara terkait grup vokal pria tidak sah tanpa nama ME di dalamnya. ME adalah penerus kejayaan tren grup vokal pria setelah Coboy dan Cool Colors. Lima pria yang berasal dari Bandung ini cukup beruntung memiliki Trie Utami dan Purwa Tjaraka pada jajaran produser di belakang layar. Sayangnya, usia mereka tergolong pendek. Hanya menghasilkan satu album sebelum memutuskan berpisah menjadi dua kudu. Kedua grup pecahan ME tidak ada yang berhasil menyamai kesuksesan ME pada akhirnya.

Ada cerita seru soal single paling terkenal mereka, Inikah Cinta, di sini. Untuk saya sendiri, Terbuka adalah lagu terbaik mereka. Harmonisasi vokal kelimanya terasah dengan baik pada lagu ini.



TITO SOEMARSONO

Salah satu solois terbaik yang pernah dimiliki oleh dunia musik nasional. Tito selalu mampu melahirkan lagu-lagu hits pada setiap kemunculannya. Jenis lagu yang dibawakannya memang lebih mendayu-dayu dengan lirik romantis. Ditunjang dengan video musik yang memiliki alur cerita yang kuat, alunan suara Tito mengantarkannya memiliki banyak lagu klasik yang masih dikenang hingga saat ini.

'Selalu' adalah salah satu lagu yang mencuri perhatian dunia musik tahun 90an. Memiliki alur cerita video klip yang menyentuh, dengan dibintangi oleh Sarah Sechan dan Anjasmara, dua bintang terkenal pada masa itu, membuat 'Selalu' menjadi salah satu lagu terbaik dari tahun 90an.


Super bikin kangen ya para musisi ini?
Ada lagi musisi yang kamu kangenin dari tahun 90an? Tulis di komen yaa...

Jangan lupa mampir di celotehan winda di sini yaks.


Friday, June 1, 2018

Ketika Satu Bagian dari Dirimu Hilang


Banyak Anak, Banyak Rejeki
Untuk masyarakat  Indonesia, ungkapan tersebut bukan lagi hal asing untuk didengar. Walau telah berkali-kali pemerintah mencanangkan program pengendalian penduduk, tetap saja istilah tersebut tidak lekang oleh waktu. 

Nah, kebayang apa jadinya pasangan yang telah menikah, minimal di atas satu tahun, yang tidak kunjung memiliki anak? Saya contohnya, lima tahun menikah dan tidak kunjung memiliki anak. Pertanyaan semodel:

"Nunda-nunda ya?"
"Makanya jangan keasyikan kerja,"
"Udah cek ke dokter belum?"
"Coba, deh, program ini katanya bagus untuk cepat dapat keturunan"
"Nanti keburu tua makin susah loh hamil,"

Adalah jenis pertanyaan-pertanyaan standar yang sering saya konsumsi, tidak hanya dari teman terdekat, bahkan dari orang-orang yang bertemu pun jarang. Mungkin karena saya cuek, bagaikan angin lalu, saya biarkan pertanyaan itu terus bergulir. Toh, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan mereka pula yang akan membayar semua keperluan saya melakukan cek ke dokter atau ikut program macam-macam.

Saya sendiri semenjak tahun-tahun awal menikah, bahkan sebelum menikah, sudah melakukan cek kandungan. Demikian juga dengan suami saya, melakukan semua cek keseluruhan. Tidak ada masalah pada kami berdua, memang belum dipercaya saja untuk memiliki anak. Sempat mencoba beberapa program, namun belum ada yang berhasil. Sampai akhirnya kami tiba di fase pasrah. Tidak ada lagi yang ingin kami lakukan kecuali merayakan hari ini. Dan itulah yang kami lakukan.

liburan tahun 2014
Tahun 2014, selepas berlibur bersama, kami mendapat kejutan. Saya hamil. Suatu hal yang tidak disangka-sangka, saya dan suami terima setelah lima tahun menikah. Tentu saja bahagianya luar biasa. Rasanya saat itu juga saya ingin berteriak ke seluruh dunia betapa bahagianya diri. Namun, karena dasarnya saya pencemas, sempat berpikir untuk merahasiakan kehamilan dulu sampai yakin. Setidaknya ada informasi pasti dari tenaga profesional, yaitu dokter.

Februari 2014, saya ingat sekali, kali pertama kami berkunjung ke dokter kandungan. Kehamilan saya berjalan sempurna dan detak jantung janin sudah terdengar. Resmi sudah, saya akan menjadi calon ibu. Saatnya kami beritahu keluarga, dan atasan saya di kantor tentu saja. Takutnya kalau terjadi sesuatu dengan saya, atasan tahu sebabnya. 

Tidak lama setelah pemberitahuan saya ke atasan, beliau menginformasikan rencana untuk tugas luar kota sekitar pertengahn tahun. Kondisi ini membuat saya mau tak mau harus melakukan cek kondisi kandungan, apakah cukup kuat kalau dibawa bepergian. Hitung-hitungan yang saya lakukan sendiri, seharusnya saya sudah masuk trimester kedua saat tugas luar kota terjadi, sehingga kandungan sudah cukup kuat.

Saat kembali bertemu dokter kandungan untuk kedua kalinya, pertanyaan itu adalah yang pertama saya tanyakan. Kondisi saya untuk melakukan perjalanan jauh. Sang dokter hanya tersenyum sambil mengatakan untuk melakukan pengecekan dahulu. Raut muka sang dokter saat melakukan pengecekan saat itu tidak akan saya lupakan sampai kapanpun. Pucat, bingung, heran, perpaduan semua hal itu. Saya mulai mencium ada yang tidak beres dan bertukar pandang dengan suami saya.
Ini detak jantungnya tidak terdengar lagi
Vonis sang dokter.


Saat itu juga saya divonis harus merelakan janin yang baru bersama saya sepuluh minggu. Tidak dapat berpikir lama, saya hanya mengikuti semua anjuran sang dokter. Saya hanya ingat terduduk di mobil, sendiri. Suami saya sibuk melakukan seluruh proses pendaftaran, sementara keluarga saya lainnya tidak ikut mengantar. 

Saya hanya duduk diam di dalam mobil. Merenung. Menyalahkan diri saya atas semua hal yang terjadi. Mengingat-ingat dimana tepatnya kesalahan yang saya lakukan. Apa yang saya lewatkan. Kenapa janin saya pergi secepat ini. Mengapa satu bulan saja saya merasakan indahnya memiliki harapan menjadi seorang ibu.

Saat itu akhir bulan Maret 2014. Dalam sekejap anugerah terbaik dalam hidup saya harus dilepaskan.

Saya ingat pasti lagu apa yang saya dengar saat itu di radio, yang ditinggalkan menyala oleh suami untuk menghibur. Namun, ternyata berfungsi sebaliknya.

Some people wait a lifetime for a chance like this
I’ve waited enough
Baby, no, I won’t let you go
I’m sick of tears and being fierce

Proses kuret hanya memakan waktu sebentar, karena dilakukan sore hari, saya pun memutuskan untuk menginap dan baru pulang keesokan harinya. Semua terjadi di hari Sabtu dan hari Senin saya langsung masuk kantor, tidak cuti yang diambil. Saya pikir, untuk apa saya beristirahat di rumah kalau kondisi saya baik-baik saja. Padahal, saya berhak untuk cuti satu setengah bulan.

Saya salah. 

Secara fisik, saya memang baik-baik saja, tapi tidak dari sisi mental. Efeknya berlanjut berbulan-bulan bahkan satu tahun kemudian. Ketika saya dipercaya hamil kembali, kecemasan selalu melingkupi diri saya selama tiga puluh delapan minggu, sampai akhirnya saya melahirkan. Berulang-ulang saat cek kandungan, pertanyaan saya selalu: bagaimana memastikan kandungan ini bertahan.

Kehamilan pertama terlalu banyak memberikan euforia pada diri saya, take it for granted dapat dibilang. Saat janin saya diambil pun, tidak seharusnya saya menyalahkan dan pasrah terhadap diri saya.  Pasti ada alasan yang terjadi di belakangnya, sesuatu yang tersirat.

Sekarang, empat tahun kemudian, saya menuliskan cerita ini. Sebagai bagian dari pengingat diri saya sendiri tentang kehidupan dan kebenaran dari istilah: indah pada waktunya.

Sunday, May 27, 2018

90s Battle: Hobi Anak 90an Yang Mulai Terlupakan

Photo by Eric Nopanen on Unsplash
Menentukan topik 90an minggu ini mudah rasanya buat Mamah Merah, saat saya menanyakan bahasan apa yang akan kita angkat minggu ini. "Bahas your 90's hobbies?", serunya langsung menyampaikan ide. Duh, hobi apa yang saya lakukan di tahun 90an ya, pikir saya langsung. Beneran ga kepikiran mau nulis apa. "Kalo lo koleksi apa juga bisa dimasukin," saran Winda lagi pas saya tanya lebih jauh. Lumayan ada pencerahan nih.

Saya coba browsing-browsing terkait hobi generasi 90an di sini, sini, sini, sini, sini dan sini, banyak juga ternyata yang sudah membahasnya. Kemana saja saya selama ini haha. Membaca-baca tulisan tadi membuat saya menyadari banyak sekali hobi lama saya yang sudah ketinggalan zaman, tidak lagi dilakukan anak-anak sekarang. Dan rata-rata hobi tersebut terkait dengan musik. 

Apa saja sih hobi anak 90an yang mulai terlupakan itu?

1. Menonton Musik di MTV
gambar dari sini
Ada masanya Total Request Live (TRL) adalah salah satu acara yang saya tunggu-tunggu. Menantikan video penyanyi terkenal saat itu, menunggu penampilan live mereka atau malah mencari tahu siapa pacar terbaru Carson Daly #eh. Tapi ya, TRL adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu jutaan anak MTV di seluruh dunia. Selain gerombolan pop star seperti 'N Sync, Britney, Xtina dan Backstreet Boys, yang semakin terkenal karena acara ini, beberapa bintang baru pun muncul di sana. Salah satu yang paling saya ingat adalah Rihanna dengan Pon De Replay-nya yang berminggu-minggu bertahan di tangga lagu TRL. TRL menjadi barometer musik saat itu.

Sekarang dengan adanya Youtube, semakin mudah untuk menonton musik saat ini. Mencari lagu terbaru dari penyanyi kesukaan, mencari konser musik yang tidak dapat didatangi atau nostalgia lagu lama yang koleksinya telah tiada. Semua dapat dilakukan di Youtube. Selera musik demikian masif sekaligus unik, karena siapapun bisa dengan mudah mengunggah langunya disini.

Di tahun 90an, semua itu hanya bisa saya lakukan lewat MTV. Menunggu dengan manis di depan layar televisi, menantikan lagu favorit tiba. Salah satu versi Asia yang cukup terkenal seperti TRL, meniru MTV UK, adalah MTV Most Wanted. Acara ini memutarkan lagu yang diminta penonton. Semakin kreatif request kita, kesempatan ditayangkan pun semakin besar. Sepertinya salah satu momen langka dimana saya menjadi kreatif adalah saat mengirimkan request kesana, demi banget agar video favorit tayang. 

Sekarang?
Udahlah cek sini aja, semua lagu favorit 90an saya ada semua. Lol.
Saat ini keberadaan MTV pun lebih banyak menyiarkan reality show di channel-nya. 

Btw, sedikit trivia (buat yang paham aja), tahukah kamu kalau Plus One punya MV selain Last Flight Out? 
Ternyata lagu Here in My Heart ada MV-nya. Lol.  

2. Koleksi Kaset
gambar dari sini
Ada kalanya salah satu aktivitas favorit saya adalah mengunjungi toko kaset dan melihat-lihat semua koleksinya. Berjam-jam rasanya sanggup saya habiskan di dalam toko, melihat semua album, mencari album yang belum saya miliki atau sekedar mengecek siapa yang paling populer saat itu. Dengan uang jajan terbatas, tentu saya harus benar-benar memilih kaset siapa yang akan saya bawa pulang. Saat itu adalah masa-masa tersulit dalam hidup saya, menentukan siapa yang saya pilih dari ratusan album yang ada di dalam toko. Sungguh receh sekali ya masalah hidup anak 90an.

Tentunya toko-toko seperti Aquarius, Duta Suara dan Disc Tarra tidak asing untuk saya. Favorit saya tentu saja Aquarius Mahakam di daerah, sesuai namanya, Mahakam - Blok M. Lokasi toko yang strategis, banyak angkutan umum ke arah Blok M serta dekat dengan banyak tempat makan, salah satu alasan utama saya mengunjunginya. Selain tentu saja karena koleksinya yang luar biasa lengkap. Mereka juga menyediakan fasilitas pembelian tiket konser dan merchandise artis yang sulit ditemukan di tempat lain. Saat toko tersebut resmi tutup di akhir 2013 lalu, sepertinya sepenggal kenangan saya ikut melayang.

Anyway, sampai saat ini saya masih memiliki sekitar 200an kaset dalam lemari saya. Sayang rasanya dibuang, apalagi baca-baca di sini dan sini, hobi ini menjadi salah satu peluang usaha sekarang. Walaupun enggak mungkin saya jual juga sih rasanya kaset-kaset itu, biarlah jadi kenangan saja. Sedihnya mungkin kesempatan merawat koleksi tersebut seperti dianjurkan di sini yang tidak pernah lagi, sehingga saya tidak yakin dengan kondisi kaset-kaset saya. Cukup repot menjaganya memang.

Sehingga kalau sekarang disuruh beli kaset lagi, hmmm... mending beli CD ya, tidak terlalu susah memeliharanya. Atau cukup download aja lah ya versi digitalnya. Haha.

3. Membuat Koleksi Lagu Favorit
gambar dari sini
Dengan mudahnya membuat playlist lagu kesukaan melalui spotify, youtube atau itunes saat ini, tentu tidak terbayang apa yang harus dilakukan anak-anak 90an dulu untuk mendapatkan hasil yang sama. Untuk mendapatkan satu album penuh koleksi favorit, perjuangannya setengah mati. 

Ada dua pilihan cara mendapatkan kumpulan lagu favorit:
- merekam dari kaset lain, sehingga harus memiliki dua tempat untuk memasang kaset. Satu diisi kaset yang lagunya ditargetkan untuk direkam, satunya lagi berisikan kaset kosong. 
- merekam langsung dari radio, saat lagu favorit diputar.

Apapun cara yang dipilih, keduanya membutuhkan keahlian yang sama: timing yang tepat untuk memencet tombol record, pada awal dan akhir lagu. Telat sedikit saat memulai, lagu pilihan akan terpotong pada bagian intro. Telat memencet kembali tombol record di akhir, maka lagu berikutnya atau suara sang penyiar radio akan ikutan eksis muncul haha. Sungguh masalah pelik lainnya bagi anak 90an.

Artikel berikut sedikit menggambarkan keseruan aktivitas ini, siapa tahu ada yang kurang kerjaan ingin mencobanya saat ini.

4. Mengumpulkan Pin-Up

Mungkin ada yang belum paham apa itu pin-up? Sedikit penjelasan, pin-up adalah poster satu halaman yang terdapat di majalah-majalah remaja. Berbeda dengan poster yang terdiri dari minimum dua halaman, pin-up lebih sleek. Karena hanya satu halaman, pasti tidak ada bagian yang terlipat. Namun sama dengan poster, pin-up akan menampilkan kualitas foto yang lebih baik daripada kualitas foto di artikel. 

Kekurangan pin-up tentu saja, pembaca harus menyobeknya dari majalah, sehingga artikel di belakangnya mungkin akan kehilangan pasangan. Apabila pin-up terdiri depan belakang, maka kembali masalah pelik remaja 90an terjadi, memilih siapa yang akan dipajang. Hiks. Berat sekali jadi anak 90an, sedikit-sedikit banyak masalah yang harus dipecahkan dan meminta jalan keluar.

Namun jangan sedih, ada majalah yang khusus pin-up saja, untuk kolektor seperti saya saat itu. Tapi tujuan akhirnya ya jadi tidak tersampaikan, karena memang tidak saya pajang, tapi simpan saja. Sebenarnya sama dengan konsep photobook ya kalau sekarang. 

Bonus:

5. Meramal Masa Depan

Satu-satunya hobi yang tidak terhubung dengan musik, namun menuju alam kepunahan juga adalah meramal masa depan. Ramalan ini dilakukan dengan kertas bagaikan capit kepiting.

gambar dari sini
Pilih angka yang tepat, maka siapa pasanganmu, pekerjaan, berapa jumlah anak nantinya akan langsung diketahui. 

Lebih cepat dari membalikkan telapak tangan! Haha.

Keingintahuan akan masa depan sepertinya naluri alamiah manusia, tidak heran cukup banyak masyarakat yang percaya akan zodiak. Zodiak membuat kita sedikit banyak dapat memprediksi apa yang terjadi dalam seminggu kedepan sampai satu tahun berikutnya. Selain ramalan zodiak yang murah meriah, dan terdapat di banyak media remaja, ramalan ala-ala origami fortune teller ini salah satu cara menyenangkan.

Cara melipatnya bisa dilihat di sini atau lewat video tutorial ini, sementara cara bermainnya bisa cek di sini. Dipikir-pikir, semua masalah receh tahun 90an atau yang sedang terjadi saat ini, bisa dipecahkan melalui origami ini. Lumayan simpel dan tepat sasaran.

Sekarang sih banyak online test, seperti tarot reading, yang bisa menyediakan banyak jawaban kehidupan hanya bermodal ketikan di komputer. 

Kecanggihan zaman sedikit banyak tentu mempengaruhi terkikisnya aktivitas-aktivitas di atas. Ada lagi kah hobi tahun 90an yang sudah mulai terlupakan? 

Jangan lupa cek postingan mamah merah juga ya di sini.

Saturday, May 26, 2018

Review: Sukses Kelola Manusia - Karena Manusia adalah Makhluk Sosial


Sering sekali kita mendengar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ungkapan ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles untuk membedakan manusia dan hewan, terkenal dengan istilah Zoon Politikon. Sejatinya, manusia memang ditakdirkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Prakteknya, tentu banyak benturan yang akan terjadi, mengingat keunikan setiap manusia. 

Nah, buku ini membuka pikiran saya tentang manusia dan semua yang terjadi di sekitarnya.

Judul buku : Sukses Kelola Manusia
Penulis : Eileen Rachman 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 400 halaman
Harga : Rp. 78.400,- (bukabuku.com)

---

Saya pernah melakukan resensi terhadap buku ini sekilas di instagram beberapa hari lalu, untuk meramaikan hari buku nasional, namun tidak cukup rasanya. Banyak insight positif yang saya dapat dari dalamnya.

Sebagai praktisi sdm, baca buku terkait pengembangan manusia malah jarang. Haha. Soalnya, terkadang pengemasan bukunya terlalu banyak teori kaku, kurang praktis. Apapun juga, di dunia kerja pragmatis masih dicari. Sehingga ketika menemukan buku @eileenrachman ini bagaikan oase. Saya rutin mengikuti kolom beliau di @hariankompas, sehingga cukup familiar dengan cara bertutur beliau. Buku ini adalah kumpulan artikel pendek beliau di harian tersebut, namun dibuat dalam struktur seperti layaknya perjalanan hidup karyawan dalam satu organisasi. Dimulai dari diri sendiri, tim kerja hingga tiba di pucuk pimpinan. Buku yang cocok untuk mereka yang membutuhkan motivasi, menjaga spirit kerja atau bahkan menambah optimisme diri kemudian menyebarkannya kepada lingkungan. Culture is not developed. It is accumulated (p.114) ... #BincangHariBuku
Sebuah kiriman dibagikan oleh A S T I (@astiwisnu) pada


Sehingga sayang rasanya tidak saya ulas lebih lanjut buku yang membuka banyak hal tentang manusia ini. Walaupun ditulis oleh pakar sumber daya manusia (sdm) sekaligus pendiri salah satu konsultan sdm terbaik di Indonesia, Eileen Rachman, namun buku ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang bergelut di industri sdm. Insight utama yang ditawarkan penulis adalah memahami tingkah polah manusia dan bagaimana seseorang dapat memanfaatkannya untuk kesuksesan bersama.

Gaya penulisan yang dipakai adalah artikel pendek-pendek, wajar saja mengingat isinya diambil dari kolom tetap penulisnya di salah satu harian besar di Indonesia. Contoh gaya penulisan beliau bisa dilihat juga di sini. Keuntungan cara menulis model artikel membuat pembaca dapat memilih sendiri cerita mana yang akan dibaca lebih dulu. Judul setiap artikel juga memikat dan memancing rasa penasaran.

Are You Happy?

Artikel pertama dalam buku ini membuat saya tersentak. Pertanyaan sederhana namun susah sekali rasanya langsung mengeluarkan jawaban. Untuk seseorang yang tidak pernah kehabisan kata-kata dalam berbicara seperti saya, tentunya menjadi satu pertanyaan besar kenapa saya tidak langsung dapat menjawabnya. Mungkin karena bahagia itu sebenarnya mindset, bukan hasil, begitu saya pikir. Pertanyaan berikutnya jadi, apakah mindset saya bahagia? Karena itu yang menentukan seluruh hasil dari apa yang saya lakukan.

Kutipan menarik dari Martin Seligman, pakar psikologi positif, didapatkan dari buku ini (hal. 14)
it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?
Tulisan dari buku ini, karena memang ditulis dalam lingkup organisasi, memiliki alur yang cukup rapi. Dimulai dari cerita 'are you happy?' tadi yang berpusat pada diri sendiri, hingga berujung pada cerita tentang tipe pemimpin yang diharapkan. Pengalaman hidup yang beragam dimiliki penulis, sehingga membuat tulisannya menjadi kaya akan perpaduan teoretis dan pengalaman dari lapangan.

Beberapa tulisan menyentuh cara untuk memecahkan masalah, dimana kuncinya adalah memahami betul apa akar masalahnya, sebelum beranjak pada action plan. Teori sederhana untuk dapat diterapkan pada kehidupan pribadi juga sebenarnya. Sebutlah kita memiliki masalah yang pelik, sebelum bingung dengan pilihan-pilihan yang harus diambil sebagai jalan keluarnya, pahami dulu akar masalah. Pilihannya akan ketemu dengan sendirinya saat benang masalah terurai. Salah satu kuncinya adalah dengan bertanya. Untuk saya, seseorang yang masa kecilnya sering dipenuhi dengan kata-kata 'kamu nanya-nanya mulu sih' atau 'gitu aja kok ga tahu' setiap mengajukan pertanyaan, tentu ini hal yang cukup sulit. Tidak hanya saya sepertinya, banyak masyarakat Indonesia mengalami hal ini. Tidak heran apabila pada banyak meeting atau pelatihan, saat sesi pertanyaan diajukan, hanya terdapat hening yang mengemuka.

If I had one hour to save the world, I would spend fifty-five minutes defining the problem and only five minutes finding the solution
Einstein (hal. 126)

Banyak kutipan-kutipan bermakna lainnya yang saya dapat dari sini. Cukup baik untuk dipakai sebagai tambahan dalam pekerjaan saya, yang kadang harus memuat materi pelatihan, namun cukup cantik juga digunakan sebagai caption di media sosial. Sangat instagramable kalau kata anak jaman now.



Penulis mengajak pembaca melakukan refleksi diri pada setiap tulisannya, ini membuat saya sangat terhubung dengan buku ini. Bahasa yang digunakan sederhana, berbeda dengan kebanyakan buku terkait perilaku manusia lainnya di pasaran, sehingga mudah untuk saya menangkap langsung artinya dan mengaitkannya dengan hidup saya.

Artikel yang reflektif untuk saya misalnya pada tulisan berjudul 'Bebas Bertanggung Jawab' (hal. 173). Penulis memulai tulisan dengan mengutip penggalan lagu lama dari Indra & Mira Lesmana yang bercerita tentang keinginan hidup tanpa batasan, kemudian mengaitkannya dengan kemerdekaan Indonesia. Disini saya dihadapkan pada refleksi akan arti kebebasan yang ada saat ini, siapkah saya hidup di dalamnya dan bagaimana saya dapat memaksimalkannya. Misalnya saja dengan berkembangnya media sosial, membuat saya dapat posting apa saja yang saya suka namun timbal baliknya, saya harus siap juga dengan segala komentar-komentar yang akan muncul dari sana.

Tanpa kita sadari, kebebasan datang bersamaan dengan kesulitan membangun tatanan sosial di organisasi, perusahaan dan masyarakat.
(hal. 177)

Empat ratus halaman buku ini belum cukup rasanya untuk menangkap semua perilaku manusia, beserta dampaknya terhadap lingkungan. Saya sendiri sangat menikmati lahapan halaman demi halaman yang tersaji di dalamnya. Saya percaya demikian juga pembaca lainnya. 



Semoga review saya cukup membantu untuk mereka yang mencari referensi tentang perilaku manusia, atau sekedar ingin mendapatkan motivasi hidup. Apapun juga, sebagai manusia, kita tidak akan terlepas dengan interaksi dengan sesama manusia lainnya. Sehingga sampai kapanpun, cerita tentang manusia akan selalu relevan.


Sunday, May 20, 2018

Back to (90s) School! - 5 Aktivitas Sekolah yang Identik dengan Tahun 90an

gambar dari sini
Tidak lengkap rasanya balik ke tahun 90an tanpa ngobrolin soal masa sekolah. Karena jujur saja, kenapa tahun 90an ini begitu terkenang banget, salah satunya karena para penghuninya masih duduk di bangku sekolah ya kan, masa-masa yang kayanya pengen rasanya diulang terus, kalau saja tidak ingat pe-er dan ulangan yang setumpuk lol.

Jadi ga salah kalau minggu ini saya dan mamah merah sepakat ngobrolin masa sekolah. Apa yang berkesan dari sekolah di tahun 90an? Ada beberapa hal yang mungkin sampai sekarang masih ada, cuma beda gaya aja misalnya contekan, tapi ada juga yang pastinya sudah berbeda sekarang dan dahulu kala.

Jangan lupa cek juga postingan mamah merah di sini yaaaa.

Untuk saya sendiri, ada lima hal yang paling saya ingat ketika balik sekolah dulu kala. Lima aktivitas ini bikin saya kangen sekolah:

1. Kunti, RPUL, RPAL

Bukaaan, bukan kuntilanak. Serem pisan jaman sekolah saya kalau hanya dia yang diingat. Kunti serta kedua temannya, RPUL dan RPAL adalah buku wajib jaman sekolah. Kalau ketinggalan, rasanya dunia runtuh. Memang se-hiperbola itu saya saat itu.


Kunti atau tekun teliti adalah buku soal hits jaman SD dulu kala. Kalau beli di sekolah, lembar jawabannya sudah hilang. Pastikan beli di toko buku agar masih bisa dapat contekan jawaban, sampai-sampai semua soal berbagai agama bisa saya jawab lol. Sepertinya hampir semua sekolah mengandalkan Kunti saat itu, sehingga kalau sedang main dengan teman yang berbeda sekolah, pe-ernya pun sama.

Nah, kalau RPUL dan RPAL ini buku wajib pengganti ketiadaan Google dan Wikipedia dulu kala.


Masing-masing buku berfokus pada dua pengetahuan dasar, umum dan alam. Saat ini pun, yang mau mengenang masa lalu bisa membeli bukunya di sini. Walaupun banyak buku pengetahuan yang saat ini beredar, dengan ilustrasi yang lebih menarik, namun kedua buku ini tidak terlupakan dari sisi otentisitasnya. Makin lecek bukunya, tandanya makin pintar yang memiliki. Katanyaaaa....

2. Tukar-menukar biodata

Old school bangetssss... hahahahaa...
Lihat deh tulisan di sini, membahas tentang apa saja yang ngangenin dari nulis biodata di tahun 90an. Ada yang berbeda dengan menulis tangan secara langsung dengan mengisi melalui google forms seperti umumnya yang terjadi saat ini. Saat itu goresan tangan, bentuk tulisan serta warna-warni spidol dan hiasan yang menyertainya akan berbicara banyak tentang orang tersebut.

Ternyata, saya masih punya satu buku peninggalan masa SMP nih, semoga yang merasa nulis disini masih ingat apa saja yang ditulis ya. Lol.



3. Main Benteng

Mau bulan puasa sekalipun dimana ga melakukan apa-apa saja bikin capek, haus dan lapar, entah mengapa dulu tetap saja hobi main benteng.

Benteng, seperti tertulis di wiki, adalah permainan yang dilakukan oleh dua grup, dengan minimun empat orang sebagai anggota. Masing-masing grup akan memilih satu tempat sebagai markas mereka, bisa berupa tiang, batu, pilar atau kalau tidak ada juga, dapat membuat lingkaran di lantai dengan kapur. Tugas masing-masing grup adalah mempertahankan markas ini agar tidak diambilalih lawannya. 


Yang menarik dari bermain benteng adalah tawanannya yang bisa sampai berbaris-baris panjangnya. Mudahnya syarat permainan ini juga menjadikan benteng dapat dimainkan dimana saja, bahkan di jalan yang sempit seperti terlihat dari video di atas. Tujuan permainan ini bagus banget sebenarnya, tidak hanya fisik, namun juga bermain stategi dalam merebut markas lawan dan membebaskan tawanan.

4. Tukeran Stiker

Sebagai siswa tahun 90an, pasti tidak terlepas dari tukar-menukar stiker dengan bermacam album stiker. Perempuan dan laki-laki sama terserapnya dalam hobi ini.


Sampai sekarang pun masih ada album stiker Panini ternyata, pas dengan perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia, Panini mengeluarkan album stiker. Sedikit tambahan, mengikuti jaman pastinya, Panini pun menyediakan versi digital dari album stiker ini.

Nah, kalau yang cowok hobi banget dengan stiker Panini, versi sepakbola atau basket, maka yang cewek pilih stiker-stiker lucu dengan album stiker warna-warni.
Pasti ingat banget sama kata-kata ini stiker asli atau palsu ya? Kalau warna stiker di baliknya sama persis dengan bagian luar, nah stiker tersebut pasti asli. Entah teori darimana itu.

5. Ganti Baju Olahraga di Kelas

Apa yang terakhir paling saya ingat? GANTI BAJU MASAL DI KELAS.
Persis dengan cerita di sini, perkara ganti pakaian di kelas sebelum dan selepas kegiatan olahraga ini nampaknya masih menjadi budaya sampai sekarang. Padahal ada kamar mandi, terkadang lokasinya juga tidak terlalu jauh, tapi tetap lebih seru ganti pakaian di kelas haha.


Untung dulu ga ada cctv ya. Sedih banget anak-anak jaman now ya 🤭

Nah itu lima hal yang paling saya ingat kalau ngobrolin soal back to school dulu. Ada nostalgia lain yang lebih terasa untuk kamu kah?

Thursday, March 8, 2018

Masa Depan Bangsa Ditentukan Dari Segelas Kopi




Pernah membaca artikel viral berjudul stop buying avocado toast if you want to buy a home? Artikel ini menjadi trending topic di banyak aplikasi sosial media di awal tahun 2017. Karena viralnya, banyak versi artikel dan bahkan meme yang dibuat merujuk dari artikel tersebut. Dirilis pertama kali di acara Sixty Minutes di Australia, inti dari artikel ini adalah nasihat dari seorang miliuner Tim Gurner kepada kaum muda. Kaum muda yang dimaksud disini dikenal dengan sebutan millenial atau Gen Y. Yaitu mereka yang saat ini berada di rentang usia antara 18-36 tahun.

Tim Gurner mengungkapkan keprihatinannya akan perilaku Gen Y yang membuang uang untuk hal-hal yang remeh. Membeli roti alpukat dicontohkan disini. Contoh lainnya mencakup kebiasaan membeli kopi di kedai kopi kenamaan. Apabila kebiasaan ini rutin dilakukan, sampai kapanpun Gen Y tidak akan mampu melakukan investasi, apalagi sampai dapat membeli rumah.
Seakan mendukung pernyataan Tim Gurner, situs CreditCards.com melakukan penelitian terkait perilaku berhutang masyarakat Amerika Serikat. Situs tersebut bertanya terkait perilaku hutang dari masyarakat Amerika Serikat di rentang usia manusia dewasa. Sejalan dengan Tim Gurner, 65% Gen Y ragu akan kemampuan mereka untuk terbebas dari hutang. Sumber hutang para Gen Y banyak berasal dari kartu kredit. Jangankan melakukan investasi, para Gen Y belum yakin pasti bisa melunasi hutang-hutang mereka.

Pemicu dari hal ini diduga karena Gen Y adalah generasi yang menikmati pengalaman, lebih daripada fungsi. Apabila generasi diatas mereka menghabiskan uang mereka untuk membeli barang yang dibutuhkan, berbeda halnya dengan Gen Y. Gen Y mau mengeluarkan lebih banyak uang untuk pengalaman yang didapat. Survei dari Majalah Time di 2014 menguatkan hal ini. Dibandingkan generasi-generasi diatasnya, Gen Y sangat mau mengeluarkan lebih banyak uang untuk hal-hal berikut:

1. Makanan organik, yang tentunya lebih mahal dari bahan makanan biasa,
2. Pakaian multifungsi untuk sehari-hari sekaligus berolahraga,
3. Travel dan melakukan petualangan,
4. Telepon seluler dan aplikasi-aplikasi di dalamnya yang dapat diunduh,
5. Memaksimalkan komoditas sharing economy seperti uber, airbnb atau lyft.

Melihat hal-hal diatas, terlihat jelas perbedaan tujuan kehidupan Gen Y dan generasi sebelumnya. Tidak heran apabila mereka mau membayar lebih mahal untuk avocado toast, yang sebenarnya bisa mereka buat sendiri di rumah. Sensasi makannya akan berbeda. Makan avocado toast di kafe ternama sambil berkumpul dengan teman-teman tentu lebih menyenangkan daripada memakannya di teras belakang rumah. Walaupun, misalnya, teman-teman tetap berkumpul bersama. Pengalaman yang didapatkan akan berbeda.

Gen Y memiliki keinginan yang ambisius. Tim Gurner mendefinisikan harapan mereka sangat tinggi. Standar hidup yang mereka jalani saat ini berbeda jauh dengan generasi sebelumnya. Lembaga konsultan kenamaan, Goldman Sachs, menyebutkan faktor kenyamanan berada di peringkat teratas hal yang diutamakan Gen Y. Mereka tidak perlu memiliki mobil, misalnya. Repot akan perawatan dan menghindari lebih banyak hutang. Apabila generasi sebelumnya yang tidak memiliki mobil akan menggunakan sembarang angkutan umum agar cepat sampai di lokasi, Gen Y akan memilih transportasi online. Kenyamanan mobil pribadi dalam skala yang terjangkau bagi mereka.
Tidak ada yang salah dengan kecenderungan yang dilakukan oleh para Gen Y ini. Setiap generasi masyarakat memiliki kecenderungan masing-masing. Gen babyboomers yang tumbuh besar dalam dunia resesi, mampu menimbulkan sikap tangguh bekerja dan giat berinvestasi. Apabila dibandingkan dengan Gen Y yang tumbuh dalam dunia digital, tentu tuntutan kebutuhannya akan berbeda. Gen Y terbiasa hidup dalam kenyamanan dan kemudahan. Tidak heran apabila hal yang sama selalu mereka cari dalam setiap kesempatan.

Walau kenyamanan dan kemewahan bukan suatu hal yang salah untuk dicari, namun tidak demikian dengan menumpuk hutang. Gen Y diharapkan mampu melunasi hutang-hutangnya dan mulai melakukan investasi untuk masa depan atau masa tuanya. Mulailah menempatkan perhatian lebih pada aspek finansial dan secara rutin melakukan cek kesehatan finansial. Hal ini selain demi menjaga diri sendiri, juga demi membantu kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Anak muda adalah calon pemimpin bangsa. Mereka adalah inovator serta penggiat kemajuan. Apa jadinya apabila satu negara memiliki banyak anak muda yang terlilit hutang? Akan susah bagi negara tersebut untuk dapat memaksimalkan potensi warga negaranya. Warga negaranya setiap hari hanya memikirkan target terbebas dari hutang, mana sempat berjuang untuk kemajuan negara. Bayangkan pula tingginya nilai pinjaman di negara tersebut yang sangat berpotensi mengganggu situasi perekonomi negara secara umum.

Karenanya, yuk, sisihkan uangmu sebesar kau belikan segelas kopi. Untuk masa depan.

Sunday, January 29, 2017

What Is Your Super Power?

gambar diambil dari sini

Apa kekuatan super saya? 

Layaknya orang Indonesia lainnya, susah sekali rasanya menyebutkan kekuatan kita. Kalaupun ada, mikirnya berkali - kali biar enggak disangka bragging 😁.

Tapi itu pemikiran dulu… dulu banget sebelum saya menyadari kalau saya ini seorang yang positif. Saya selalu mampu melihat sisi baik dari setiap hal atau yakin akan dapat mengatasi segala tantangan yang ada.

Misalnya saja, apabila saya diminta untuk menilai seseorang, saya akan selalu mencari sisi baik orang tersebut baru kemudian mencari sisi yang kurang baik. Hal ini saya lakukan agar penilaian saya terhadap orang lain lebih terkesan sedikit obyektif, tidak 100% tapi setidaknya fair untuk orang lain.

Demikian juga apabila saya menemukan tantangan, saya akan berkata saya bisa. Saya tahu tidak mungkin jalannya akan mulus, namun apabila niat di awal sudah yakin, pasti bisa terlewati J.



Well, tidak selalu saya berhasil, namun ketika tidak berhasil setidaknya saya tidak akan menyalahkan diri saya berlebihan.