Showing posts with label booksreview. Show all posts
Showing posts with label booksreview. Show all posts

Saturday, May 26, 2018

Review: Sukses Kelola Manusia - Karena Manusia adalah Makhluk Sosial


Sering sekali kita mendengar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ungkapan ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles untuk membedakan manusia dan hewan, terkenal dengan istilah Zoon Politikon. Sejatinya, manusia memang ditakdirkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Prakteknya, tentu banyak benturan yang akan terjadi, mengingat keunikan setiap manusia. 

Nah, buku ini membuka pikiran saya tentang manusia dan semua yang terjadi di sekitarnya.

Judul buku : Sukses Kelola Manusia
Penulis : Eileen Rachman 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 400 halaman
Harga : Rp. 78.400,- (bukabuku.com)

---

Saya pernah melakukan resensi terhadap buku ini sekilas di instagram beberapa hari lalu, untuk meramaikan hari buku nasional, namun tidak cukup rasanya. Banyak insight positif yang saya dapat dari dalamnya.

Sebagai praktisi sdm, baca buku terkait pengembangan manusia malah jarang. Haha. Soalnya, terkadang pengemasan bukunya terlalu banyak teori kaku, kurang praktis. Apapun juga, di dunia kerja pragmatis masih dicari. Sehingga ketika menemukan buku @eileenrachman ini bagaikan oase. Saya rutin mengikuti kolom beliau di @hariankompas, sehingga cukup familiar dengan cara bertutur beliau. Buku ini adalah kumpulan artikel pendek beliau di harian tersebut, namun dibuat dalam struktur seperti layaknya perjalanan hidup karyawan dalam satu organisasi. Dimulai dari diri sendiri, tim kerja hingga tiba di pucuk pimpinan. Buku yang cocok untuk mereka yang membutuhkan motivasi, menjaga spirit kerja atau bahkan menambah optimisme diri kemudian menyebarkannya kepada lingkungan. Culture is not developed. It is accumulated (p.114) ... #BincangHariBuku
Sebuah kiriman dibagikan oleh A S T I (@astiwisnu) pada


Sehingga sayang rasanya tidak saya ulas lebih lanjut buku yang membuka banyak hal tentang manusia ini. Walaupun ditulis oleh pakar sumber daya manusia (sdm) sekaligus pendiri salah satu konsultan sdm terbaik di Indonesia, Eileen Rachman, namun buku ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang bergelut di industri sdm. Insight utama yang ditawarkan penulis adalah memahami tingkah polah manusia dan bagaimana seseorang dapat memanfaatkannya untuk kesuksesan bersama.

Gaya penulisan yang dipakai adalah artikel pendek-pendek, wajar saja mengingat isinya diambil dari kolom tetap penulisnya di salah satu harian besar di Indonesia. Contoh gaya penulisan beliau bisa dilihat juga di sini. Keuntungan cara menulis model artikel membuat pembaca dapat memilih sendiri cerita mana yang akan dibaca lebih dulu. Judul setiap artikel juga memikat dan memancing rasa penasaran.

Are You Happy?

Artikel pertama dalam buku ini membuat saya tersentak. Pertanyaan sederhana namun susah sekali rasanya langsung mengeluarkan jawaban. Untuk seseorang yang tidak pernah kehabisan kata-kata dalam berbicara seperti saya, tentunya menjadi satu pertanyaan besar kenapa saya tidak langsung dapat menjawabnya. Mungkin karena bahagia itu sebenarnya mindset, bukan hasil, begitu saya pikir. Pertanyaan berikutnya jadi, apakah mindset saya bahagia? Karena itu yang menentukan seluruh hasil dari apa yang saya lakukan.

Kutipan menarik dari Martin Seligman, pakar psikologi positif, didapatkan dari buku ini (hal. 14)
it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?
Tulisan dari buku ini, karena memang ditulis dalam lingkup organisasi, memiliki alur yang cukup rapi. Dimulai dari cerita 'are you happy?' tadi yang berpusat pada diri sendiri, hingga berujung pada cerita tentang tipe pemimpin yang diharapkan. Pengalaman hidup yang beragam dimiliki penulis, sehingga membuat tulisannya menjadi kaya akan perpaduan teoretis dan pengalaman dari lapangan.

Beberapa tulisan menyentuh cara untuk memecahkan masalah, dimana kuncinya adalah memahami betul apa akar masalahnya, sebelum beranjak pada action plan. Teori sederhana untuk dapat diterapkan pada kehidupan pribadi juga sebenarnya. Sebutlah kita memiliki masalah yang pelik, sebelum bingung dengan pilihan-pilihan yang harus diambil sebagai jalan keluarnya, pahami dulu akar masalah. Pilihannya akan ketemu dengan sendirinya saat benang masalah terurai. Salah satu kuncinya adalah dengan bertanya. Untuk saya, seseorang yang masa kecilnya sering dipenuhi dengan kata-kata 'kamu nanya-nanya mulu sih' atau 'gitu aja kok ga tahu' setiap mengajukan pertanyaan, tentu ini hal yang cukup sulit. Tidak hanya saya sepertinya, banyak masyarakat Indonesia mengalami hal ini. Tidak heran apabila pada banyak meeting atau pelatihan, saat sesi pertanyaan diajukan, hanya terdapat hening yang mengemuka.

If I had one hour to save the world, I would spend fifty-five minutes defining the problem and only five minutes finding the solution
Einstein (hal. 126)

Banyak kutipan-kutipan bermakna lainnya yang saya dapat dari sini. Cukup baik untuk dipakai sebagai tambahan dalam pekerjaan saya, yang kadang harus memuat materi pelatihan, namun cukup cantik juga digunakan sebagai caption di media sosial. Sangat instagramable kalau kata anak jaman now.



Penulis mengajak pembaca melakukan refleksi diri pada setiap tulisannya, ini membuat saya sangat terhubung dengan buku ini. Bahasa yang digunakan sederhana, berbeda dengan kebanyakan buku terkait perilaku manusia lainnya di pasaran, sehingga mudah untuk saya menangkap langsung artinya dan mengaitkannya dengan hidup saya.

Artikel yang reflektif untuk saya misalnya pada tulisan berjudul 'Bebas Bertanggung Jawab' (hal. 173). Penulis memulai tulisan dengan mengutip penggalan lagu lama dari Indra & Mira Lesmana yang bercerita tentang keinginan hidup tanpa batasan, kemudian mengaitkannya dengan kemerdekaan Indonesia. Disini saya dihadapkan pada refleksi akan arti kebebasan yang ada saat ini, siapkah saya hidup di dalamnya dan bagaimana saya dapat memaksimalkannya. Misalnya saja dengan berkembangnya media sosial, membuat saya dapat posting apa saja yang saya suka namun timbal baliknya, saya harus siap juga dengan segala komentar-komentar yang akan muncul dari sana.

Tanpa kita sadari, kebebasan datang bersamaan dengan kesulitan membangun tatanan sosial di organisasi, perusahaan dan masyarakat.
(hal. 177)

Empat ratus halaman buku ini belum cukup rasanya untuk menangkap semua perilaku manusia, beserta dampaknya terhadap lingkungan. Saya sendiri sangat menikmati lahapan halaman demi halaman yang tersaji di dalamnya. Saya percaya demikian juga pembaca lainnya. 



Semoga review saya cukup membantu untuk mereka yang mencari referensi tentang perilaku manusia, atau sekedar ingin mendapatkan motivasi hidup. Apapun juga, sebagai manusia, kita tidak akan terlepas dengan interaksi dengan sesama manusia lainnya. Sehingga sampai kapanpun, cerita tentang manusia akan selalu relevan.


Thursday, April 19, 2018

90s Battle: Komik Jepang Tak Terlupakan



Era 90an tak lengkap tanpa buku komik Jepang keluaran Elex Media Komputindo!
Bukan pesan sponsor apalagi sisipan yaa, tapi memang begitulah adanya.

Balik lagi dengan posting mingguan Back to the 90s Battle kolaborasi bareng Mamah Merah. Cerita Winda bisa ditemukan di sini.

Setelah panjang lebar ngobrolin topik pertama yang bakal diangkat, akhirnya kami berdua sepakat ngomongin komik. Selera kami yang bertentangan sempat bikin galau mau angkat Shoujo atau Shounen Manga. Apa sih perbedaan keduanya, bisa lihat di sini. Secara gamblang, Shoujo adalah manga yang berisikan kisah percintaan atau drama sementara Shounen lebih ke arah action atau comedy. Saya dan Winda adalah dua kutub yang berlawanan dalam selera membaca komik. Saya penikmat Shoujo sejati, sementara Winda pembaca Shounen garis keras. Setelah mufakat, kami pikir lebih enak ngobrolin komik Jepang secara umum saja, biarlah perbedaan kami menjadi cerita yang menarik. tsaahhh.

Setelah tepekur berhari-hari membuat daftar komik Elex favorit, plus diingetin Winda keluarin tulisan segera, akhirnya keluar juga tujuh komik kesukaan saya dari era 90an.

Cuma seperti biasa, karena kesukaan saya banyak ya, susah rasanya harus memilih apabila banyak yang ditawarkan. Jadi, saya bagi dua tulisan ini ke empat komik kesukaan dan tiga Mangakus (penulis komik) kecintaan.

EMPAT KOMIK KESUKAAN

CANDY CANDY

gambar dari sini

Kurang lengkap masa kecil saya tanpa komik ini masuk kedalamnya. Candy-Candy adalah komik pertama yang dibelikan ibu saya saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Kalau tidak salah ingat, komik Jepang ini juga termasuk salah satu yang pertama masuk ke Indonesia melalui penerbit Elex. Saya ingat baru saja bisa membaca dan komik ini diberikan sebagai alat bantu dalam memperlancar proses membaca saya.

Saya langsung jatuh cinta pada gadis kecil yang ceria ini. Sekilas, saya menemukan banyak kesamaan dengannya; misalnya saja rambut keriting, memiliki wajah yang tidak mulus serta tubuh pendek. Haha. Kisah kehidupan Candy tidak seriang pembawaannya, cukup banyak lika-liku kehidupan yang harus ditempuhnya sebelum sampai di akhir cerita. Cerita versi manga dan anime sedikit berbeda, dapat ditemukan di sini untuk lebih lengkapnya, warning: spoilers banget yaa link tadi, lengkap soalnya diceritain. Haha.

Hal yang paling berkesan untuk saya adalah ending cerita ini yang sederhana, tidak klise seperti kebanyakan shoujo manga lainnya. Kombinasi berbagai macam karakter dalam cerita juga sungguh memberi warna yang menarik. Pembaca seakan dapat memilih karakter mana yang lebih cocok dengan dirinya. Anthony, Susanna dan Annie yang manis, Archie yang iseng, Stea dan Patty yang pintar dan bijak atau Terry yang bad boy sekali.

Sebagai penutup, closing theme anime-nya cocok membawa kita semakin jauh kembali ke tahun 90an nih. Siapa yang masih ingat liriknya?



MARI-CHAN


gambar dari sini

Apakah Ibu saya memang romantic at heart atau bisa membaca selera anaknya, saya tidak pernah tahu. Namun buku komik kedua yang saya dapatkan dari Ibu saya adalah Mari-Chan. Tepatnya, serial pertamanya: Happy Mari-Chan. Another komik yang cewek banget ceritanya. Saya menyukai balet karena serial ini. 

Mari Chan ini banyaaaak banget serinya. Walaupun di semua seri, tokoh utamanya sama saja gambarnya semua haha. Biasanya ada tiga tokoh utama, satu wanita dan dua pria. Ketiganya sama persis gambarnya, terkadang yang berbeda hanya model rambut si tokoh wanita. Hal ini suka bikin bingung untuk yang kali pertama baca Mari-Chan. Dipikirnya semua serial Mari Chan itu bersambung, padahal ceritanya beda-beda dengan nama tokoh yang berbeda pula, kecuali si tokoh utama yang bernama Mari. Selain gambar tokoh yang sama, hal yang menyatukan semua serial ini adalah Balet. Kisahnya berputar pada Mari, si tokoh utama, yang ingin menggapai impiannya menjadi balerina profesional.

Secara umum, serial Mari-Chan yang beredar di Indonesia ada lima: Happy Mari-Chan (7 buku),  Lovely Mari-Chan (7 buku), Bintangnya Cinta (7 buku), Silver-toe Shoes (6 buku), dan Nyanyian Angsa (4 buku). Saya sendiri hanya punya tiga di antaranya, sekarang pun entah ada dimana keberadaannya. Rindu sekali rasanya menyelami kegiatan para balerina ini. Melihat perjuangan mereka agar diterima masuk ke Royal Ballet School, berlatih keras melakukan putaran sempurna untuk lakon Black Swan atau ikut-ikutan mempelajari tujuh pose berdiri standar dalam balet seperti ini.

Nostalgia semua cover komik seri Mari-Chan dapat ditemukan di sini.

ROSE OF VERSAILLES

gambar dari sini
Komik ini mencuri perhatian saya karena ceritanya yang unik, menggabungkan sejarah dan keindahan Perancis serta kisah fiktif yang menarik. Gambaran ceritanya seperti apa dapat dilihat di sini dan sini. Saking serunya, manga ini telah diterjemahkan dalam versi anime dan film. Walaupun terus terang, gambar di komiknya jauh lebih indah.

Rose of Versailles membuat saya menyukai Marie Antoinette dengan segala kepribadiannya yang kompleks. Komik ini menceritakan Marie dari sisi berbeda yang ditampilkan ke ruang publik pada umumnya, seperti masa kecilnya, pilihan hidupnya yang terbatas serta kesehariannya dalam lingkup kerajaan. Semua hal tersebut membentuknya menjadi Marie Antoinette yang kita kenal. Mengetahui akhir cerita ini sesuai sejarah, sempat membuat saya tidak tega membaca buku terakhirnya. Kesian sama Marie duluan, haha. 

Berkat komik ini pula, saya memiliki impian untuk dapat mengunjungi Istana Versailles. Keinginan tersebut terwujud di tahun 2015 lalu.

in front of the palace 
inside the palace
ini postingan rada riya' dikit sih emang. maap.

 DORAEMON


gambar dari sini
Komik 90an tentu tak lengkap rasanya tanpa si ikon kucing cerewet ini. Selain komiknya, anime-nya juga menemani anak-anak generasi 90an menghabiskan minggu paginya. Saya selalu ingat membaca komik ini belum jua kelas 4 SD, sampai saya lewat kelas 4, Nobita masih saja duduk di kelas yang sama. Hahahaha.

Saya dan adik saya mengoleksi semua buku Doraemon yang puluhan itu. Komiknya sendiri menurut saya sangat rapi digambar dan runut, mudah bagi pembaca untuk mengikuti alur ceritanya. Saya bisa membaca komik ini berkali-kali dan berharap memiliki teman seperti Doraemon yang bisa mengeluarkan berbagai macam alat ajaib, atau setidaknya punya mesin waktu di laci meja belajar saya. Lol.

Latar belakang pembuatan cerita ini, dapat ditemukan di sini. Fujiko F Fujio, mangakus penciptanya, menurut saya seorang yang sangat mencintai dunia anak-anak. Ia mampu menyelami alam pikiran anak-anak dan menciptakan cerita yang merangsang daya imajinasi untuk berkembang dengan baik.

Sebagai penggemar Doraemon, mengunjungi museum Fujiko F Fujio tentu satu impian semua orang yang jatuh hati pada kucing tanpa telinga ini. Melalui museum ini, Fujiko mampu menyulap kota kecil Kawasaki menjadi kota Doraemon. Walaupun jelas museum ini berdiri untuk mengabadikan semua karya Fujiko F Fujio, memorabilia Doraemon tetap memakan tempat paling besar. Bahkan, salah satu angkutan umum setempat pun dilukis dengan tokoh-tokoh dari manga ini. Saya sempat mengunjunginya di awal 2015 lalu. Nyempil lagi postingan riya'

pintu ajaib dambaan orang Jakarta demi menghindari macet
lucu bangeet bis yang akan mengantar kita ke Museum Fujiko F. Fujio. Interior dalemnya pun full Doraemon-ish


Biar ga sebel-sebel banget, lol, kita nyanyi bareng aja yuks.




***

Nah, lepas dari komik kesukaan, kita masuk ke tiga mangakus kesukaan saya. Susah banget memilih cerita favorit dari ketiga orang ini. Semua karya mereka, saya suka.

TIGA MANGAKUS KESUKAAN

YUKARI KAWACHI

gambar dari sini
Saya suka banget dengan karya-karyanya Yukari. Semua wanitanya cantik-cantik dan tokoh prianya juga cakep luar biasa. Yukari mampu membuat cerita yang bikin emosi pembaca diperas habis-habisan. Secara umum, dibandingkan cerita komik Jepang di tahun 90an lainnya yang lebih ke arah percintaan innocent, cerita Yukari lebih dewasa. Ia banyak menuliskan mengenai kisah percintaan dewasa awal saat meniti karir atau malah ibu muda yang berjuang dengan status barunya.

Lengkapnya karya-karya Yukari dapat dilihat pada laman Goodreads berikut. Beberapa serial yang beredar di Indonesia seperti di bawah ini:

gambar dari sini
Setelah memilih dengan segenap jiwa raga, kesukaan saya adalah My Best Rival is My Best Friend, rating-nya di Goodreads sebesar 3.33. Ceritanya simpel tentang persaingan dua sahabat dalam meniti karir sebagai komikus kawakan, sekaligus jatuh cinta pada editor yang sama. Nampaknya sih, cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi Yukari sendiri. Haha.

YUU ASAGIRI


gambar dari sini
Ingat komik serial Panic?
Kisah tentang gadis muda yang memiliki telinga rubah ini adalah karya Yuu Asagiri paling fenomenal. Selain Panic, kisah penyihir buangan di dunia manusia, Min Min, juga karya lain Yuu yang cukup terkenal. Yuu Asagiri memang jempolan dalam membuat cerita berlatar belakang fantasi.

Karya-karya lainnya secara lengkap dapat dilihat di sini dan sini. Beberapa karyanya yang masuk Indonesia adalah sebagai berikut:

gambar dari sini
Terlepas dari niche Yuu yaitu fantasi, saya lebih menyukai kisah-kisah sederhananya. Favorit saya adalah Kakakku Sayang. Judulnya emang malesin banget ya lol. Situs ini memberikan sinopsis singkat mengenai ceritanya:
Serial cantik ini mengisahkan tentang Tsukiko, seorang cewek 16 tahun, yang harus menghadapi kenyataan kalau orang yang sangat dia sukai, Kou, adalah adik tirinya. Ibunya menikah lagi dengan ayah Kou. Hidup Tsukiko menjadi indah sekaligus bencana. Dan makin lama dia makin menyadari kalau dia sangat mencintai Kou. Kou juga sedikit demi sedikit makin menyukai Tsukiko. Ketika Tsukiko memutuskan menjadi model, Kou tidak menyetujuinya karena Tsukiko akan dipotret bersama model cowok. Mereka pacaran secara rahasia.
Cerita percintaan favorit saya emang ga jauh-jauh dari kisah pasif-agresif antara dua tokoh utamanya. haha.

KYOKO HIKAWA


gambar dari sini
Mangakus terakhir kesukaan saya adalah Kyoko Hikawa. Kyoko boleh dibilang salah satu mangakus terkenal dan memiliki banyak karya hits. Karya terbesarnya adalah Dunia Mimpi. Sepertinya hampir semua penggemar komik Jepang pernah mendengar manga ini, walau mungkin belum pernah membacanya, seperti saya.

Karya-karya Kyoko lainnya, selain Dunia Mimpi, bisa dilihat di sini. Selain Dunia Mimpi, ia juga terkenal dengan karyanya akan kisah cinta Chizumi dan Fujiomi. Kisah keduanya dapat ditemukan dalam trilogi Angin Musim Gugur, Pastel Mood dan Golden Book. Kalau bisa akses situs Mangafox, beberapa scan karya Kyoko dapat ditemukan disana.

Berikut beberapa judul yang beredar di Indonesia:

gambar dari sini
Favorit saya? GIRLS
Cerita komik ini sungguh komedi. Goodreads memberikan rating 3,97.
Kisahnya adalah tentang persahabatan tiga gadis bernama Chika, Tomomi dan Kaede. Ketiganya memiliki perangai yang berbeda, ada yang tomboi, tulalit dan sabar. Satu yang paling membekas untuk saya adalah permainan kata-kata Kaede yang sungguh lucu, terutama dalam menentukan tempat makan atau judul film yang akan ditonton. Sifat Chika yang tidak sabaran menjadi satu bentrokan meriah dengan Kaede. Mustahil tidak tertawa, atau setidaknya menyunggingkan senyum, saat membaca komik ini.


Nah, itu dia semua komik-komik Jepang kesukaan saya dari tahun 90an. Bikin pengen koleksi komik lagi ya.
Ada yang memiliki selera yang sama kah?

Saturday, April 7, 2018

Serigala Buku yang Baik Hati

foto dari sini


Dua kali sudah datang ke Big Bad Wolf (BBW) Books Jakarta tahun 2018 ini, keduanya pengalaman yang super menyenangkan. Pertama kali datang saat preview sale tanggal 28 Maret kemudian kedua kali, di hari Sabtu pagi di 31 Maret. 

Beberapa perbaikan sistem di sana sini menunjukkan perubahan yang sangat baik dibandingkan tahun sebelumnya. 

Apa saja yang terjadi di BBW Jakarta tahun ini dan membuat pengalaman berbelanja buku menjadi lebih menyenangkan?

ANTRIAN KASIR MENYENANGKAN

Tahun ini saya punya dua tiket masuk untuk preview sale, satu hari sebelum BBW resmi dibuka untuk umum. Satu tiket berasal dari membership bbw sementara tiket lain untuk  blogger review yang saya dapat dengan menuliskan pengalaman bbw tahun sebelumnya di sini.

Tahu 2017 lalu saya juga sempat mengikuti preview sale dan terus terang, pengalamannya jauh dari menyenangkan. Area pameran sangat padat oleh pengunjung, jasa titip besar menguasai berpalet-palet buku dan yang paling parah adalan antrian kasir. Antrian kasir luar biasa berantakan, panjang dan lama. Sungguh pengalaman yang melelahkan, saya ingat harus mengantri sekitar satu jam tanpa kejelasan sebelum akhirnya saya berinisiatif mencari penanggung jawab area. Saya tidak tahu apa yang terjadi apabila saya tidak mencari penanggung jawab area, mungkin saya akan tetap mengantri untuk berjam-jam kedepan, seperti yang saya lihat di testimonial laman pelanggan BBW lainnya. 

Tahun ini alhamdulillah, penyelenggara mengerjakan pekerjaan rumah utamanya dengan baik.



Jalur antrian dibuat rapi berkelok-kelok lumayan panjang, sehingga pengunjung dapat mengantri dengan nyaman. Foto di atas diambil ketika saya selesai berbelanja saat preview sale, sekitar pukul 1 siang. Proses dari saat tiba di gerbang pembayaran sampai selesai proses pembayaran, memakan waktu tidak sampai 15 menit! Luar biasa, mengingat buku-buku yang saya beli pun lumayan banyak.



Perubahan lain yang cukup rapi adalah pemisahan kasir, seperti layaknya di supermarket. Terdapat kasir khusus pembayaran tunai, kasir untuk pembayaran dengan kartu dan kasir terpisah untuk pembelian skala besar atau bulk buyer. Pemisahan jenis kasir terakhir ini cukup membantu pembeli biasa, seperti saya, terpisah antrian dengan pembeli buku berpalet-palet.


Kelihatan sekilas kan betapa kalapnya saya saat preview sale kemarin, bawa bocah pula. Kayaknya kalau sampai ketemu satu trolley lagi, pasti langsung penuh. Saya sedikit bersyukur juga saat preview sale, jumlah trolley cepat habis, sehingga saya awalnya hanya berbelanja buku dengan cart dorong kecil. Lumayan membantu mengontrol isi keranjang. Trolley ini baru ditemukan suami saya menjelang akhir- akhir belanja, dan langsung penuh 🙈


Hal yang berbeda juga kali ini, kita dapat meminta buku-buku untuk dikemas dalam kardus. Lumayan praktis sih untuk saya. Saya sendiri tidak tahu ada fasilitas ini, sampai ditawarkan oleh kasir. Saya dengar dari beberapa teman, ternyata tidak semua kasir mau membungkus dengan kardus, mungkin terbatas ya jumlahnya.



Nah yang sedikit jadi pe-er saat belanjaan dibungkus kardus adalah ketika tiba di pintu keluar. Trolley hanya boleh sampai pintu ini saja, sementara lobi ICE untuk menunggu kendaraan masih lumayan jauh. Yah walaupun super deket, kayaknya ga mungkin juga bawa-bawa kardus isi kiloan buku sendiri ya, kecuali kalau rela tendang-tendang lol. 
Tapi kalau semua belanjaan dalam bentuk kantong plastik sih lebih nyaman ya, tinggal ditenteng langsung saja. Mungkin akan sedikit bolak-balik kalau cukup banyak.


Solusi untuk pelanggan yang memiliki belanjaan cukup banyak atau menggunakan kardus sudah dipikirkan oleh manajemen BBW, tenang saja. Ada banyak petugas-petugas BBW yang siap membantu dengan trolley dorong seperti di gambar atas. Tinggal sabar-sabar saja menunggu, karena jumlah mereka memang terbatas. Oh iya, sedikit saran, jangan lupa diberikan tips ya. Lumayan soalnya mereka bantuin angkat-angkat segala. Sekedar ucapan terima kasih untuk bantuannya.


Saat akhir pekan, 31 Maret, saya kembali lagi ke BBW dini hari, sekitar pukul empat lah ya. Hari sebelumnya, Jumat adalah libur hari raya, suasana BBW sangat padat. Saya mengetahui dari teman-teman yang berkunjung antrian sangat panjang, namun suasana tetap kondusif dan bagaikan jalanan, padat merayap namun tetap jalan. Sehingga saya pilih datang pagi-pagi untuk menghindari hal tersebut. 

Well, ternyata tetap saja padat. Gambar di atas adalah suasana antrian yang cukup banyak dibandingkan saat preview sale yang cenderung lengang.  So far, kurang lebih sekitar 20-30 menit lah kali ini saya habiskan waktu. Tetap tergolong cepat dan nyaman. 

Kerja yang bagus BBW, tepuk tangan luar biasa saya berikan untuk mengerjakan pe-er tahun lalu.

Yang terakhir setor barang bukti:



BUKTI KALAP DUA KALI BBW 😹😹😹😹

VOUCHER BBW

Satu gimmick menarik tahun ini adalah penukaran voucher pembelanjaan BBW. Apabila melakukan pembayaran dengan debit atau kartu kredit dari Bank Mandiri dengan sejumlah pembayaran tertentu, dapat memperoleh voucher pembelanjaan senilai tertentu.

aturan penukaran voucher

Hanya ada dua kali waktu penukaran: 09.00 dan 15.00
Kuota penukaran pun terbatas sesuai dengan flyer di atas.


Sewaktu preview sale, lokasi booth penukaran ada di dalam hall, tepat setelah kasir. Namun, saat saya kembali kedua kalinya, lokasinya telah pindah di luar. Di area pameran ICE. 


Area lobi dimana banyak stand booth terpasang. Salah satunya adalah lokasi penukaran voucher BBW dengan pembelanjaan menggunakan debit/card Bank Mandiri.

Sewaktu saya menukarkan voucher saat preview sale, suasananya sangat kondusif dan saya cukup mengantri sekitar 40 menit untuk penukaran, namun beberapa hari terakhir sepertinya antrian cukup panjang. Bahkan ada yang sengaja menginap demi menukarkan voucher.

Sepertinya manajemen BBW kurang siap dengan antusias pecinta buku yang kalau belanja buku tidak tanggung-tanggung.

AREA MAKAN

Area makan di BBW tahun ini lebih luas dan nyaman dibandingkan tahun sebelumnya. Tentu saja ini pendapat pribadi ya.

Namun saya dan teman-teman yang datang bersama anak-anak cukup nyaman saat mencari makan dan tempat duduk di lokasi makan. 


Sedikit disayangkan, area permainan seperti tahun lalu tidak ada ya. Padahal lumayan menghibur anak-anak yang bosan menunggu orangtuanya mencari buku.

SORTING AREA



Area untuk para kalapers sorting buku sebelum membayar 😹
Lumayan sih ada area ini, win-win solution untuk pembeli dan manajemen sebenarnya. Pembeli punya waktu sortir buku-buku mana yang akan dibeli dan tidak untuk terakhir kalinya, sementara manajemen BBW dapat mengumpulkan buku tidak diinginkan jadi satu, sehingga mudah mengembalikannya.

Menyenangkan!

WRAP UP

Tidak sabar untuk balik lagi ke BBW deh, untuk pecinta buku pertanyaannya pasti akan berapa kali ke BBW?






Lihat tumpukan-tumpukan buku itu kan surga banget ya?
Duh, janganlah berakhir BBW Jakarta 2018 💓💓💓

Kalau kamu, berapa kali balik ke BBW?

Monday, April 2, 2018

Baca Happy di Cabaca




Siapa sih yang tidak suka gratisan? Apalagi kalau berkaitan dengan bacaan, duh saya paling depan deh semangatnya. Haha. Salah satu gratisan yang saya suka adalah membaca di platform menulis. Platform menulis mempertemukan penulis dan pembaca secara langsung. Semakin banyaknya media online yang ada saat ini, membuat pembaca semakin diuntungkan. Hobi membaca tidak lagi terhalang dana. 

Salah satu platform baru yang muncul adalah cabaca, platform ini dapat di-akses melalui website-nya di sini atau unduh aplikasinya melalui PlayStore atau AppStore. Sistem bacanya adalah tiga bab pertama gratis, bab berikutnya membayar dengan mata uang berupa kerang. Pembaca dapat mendapatkan kerang dengan membeli paket kerang yang ditawarkan, bisa melalui transfer atau potong pulsa, atau memberikan komentar. Setiap komentar di masing-masing bab cerita, akan mendapatkan tiga kerang secara gratis. Apabila membaca melalui aplikasi ponsel, dapat memasukkan kode-kode yang suka diberikan oleh penulis cabaca, untuk mendapatkan 50 kerang. 

Awal mula cabaca bisa dilihat di sini oleh salah satu konseptornya. Konsep cabaca adalah online publisher dimana penulis dan pembaca sama-sama diuntungkan. Penulis dapat mempublikasikan tulisannya sekaligus mendapatkan penghasilan dari tulisan yang dibuatnya, sementara pembaca dapat membeli cerita yang menarik baginya setelah mencoba membaca tiga bab pertama secara gratis. Cabaca juga mengakomodir berbagai macam genre, sehingga penulis dan pembaca sama-sama bebas eksplorasi berbagai genre.

Beruntung sekali bergabung di komunitas penulis Cloverline di grup Facebook, saya dapat kesempatan sharing langsung terkait Cabaca oleh konseptornya, Mbak Asya Azalea tadi yang Project Manager sekaligus Co-Founder. Menurut Mbak Asya yang membedakan Cabaca dengan platform lainnya adalah sbb:

1. Sesimpel mungkin.
2. Semenyenangkan dan seinteraktif mungkin
3. Sevaluable mungkin
4. Sebisa mungkin membantu penulis

Hal yang menyenangkan di Cabaca, berbagai macam genre tersedia untuk dibaca. Cabaca sangat terbuka dengan semua tipe cerita. Cerita-cerita yang eksperimental seperti fantasi dan science fiction sangat diterima. Selama cerita itu memiliki keunikan, serta narasi dan pemotongan bab yang pas, pasti dapat ditemukan di Cabaca. 

Nah, karena sedang ngobrolin cabaca, saya sekalian mau review empat cerita yang masuk deretan cerita populer-nya cabaca.

BANGKU POJOK



Penulis: Honey Dee
Genre: Horor


Berkisah tentang Kalila yang ditinggal Ayahnya, sehingga ia dan Ibunya harus berpindah tempat tinggal. Memasuki sekolah baru yang sebelumnya bekas penjara Belanda membuat Kalila banyak menemui berbagi macam keanehan. Tentang sosok Rosaleen yang misterius serta misteri bangku pojok di salah satu kelas. 

Cerita ini tidak hanya murni horor, namun memiliki bumbu teen-lit di dalamnya. Tentang Kalila yang ternyata menyukai dunia menulis dan memiliki alter-ego Bella Donna, penulis sukses. Kalila juga memiliki aktivitas menarik bergabung dengan tim jurnalistik sekolah, setelah diajak bergabung salah satu teman sekelasnya, Alpha.

Hal yang menonjol di cerita ini untuk saya adalah penggambaran latar cerita yang sangat detail, tentang kota baru yang sekarang ditinggali oleh Kalila serta gambaran sekolah tempat Kalila belajar. Seakan-akan pembaca dapat melihat apa yang dlihat oleh Kalila. Penggunaan POV 1 juga semakin membuat pembaca merasakan apa yang dirasakan oleh Kalila. Rasa penasaran yang dimilikinya serta ketakutannya.

Cerita ini memiliki banyak potensi berkembang, masih banyak tanda tanya yang ada di benak pembaca dan dapat digali lebih jauh oleh penulis. Mulai dari hal yang terlihat jelas, terkait sosok Rosaleen, sampai dengan kemungkinan hubungan Kalila dan Alpha yang mungkinkah berakhir indah, atau akankah kedok Kalila sebagai Bella Donna akan terbongkar.

Walau untuk saya kesan horor dalam cerita ini masih berupa tempelan, karena aroma teen-lit lebih terasa, namun tetap mampu membuat bulu kuduk meremang. Memikirkan siapa dan kenapa yang membuat Kalila ketakutan.

Cerita ini baru berjalan tiga bab, berikutnya sudah harus bayar nih. Namun jangan kuatir, masukkan kode penulis honeydee1710 di aplikasi cabaca untuk mendapatkan tambahan kerang gratis 50 buah. Sehari hanya bisa sekali yaa memasukkan kode ini. Lumayan, nabung kerang sambil nunggu ceritanya di-update lagi.

PAINLESS


Penulis: Betty
Genre: Thriller

Ide cerita ini segar, tentang penderita kelainan Congenital Insentivity to Pain. Kondisi ini adalah kelainan bawaan dimana seseorang tidak dapat merasakan rasa sakit, keadaan ini akibat mutasi dari salah satu gen dalam tubuh. Nira yang baru saja memasuki bangku SMA, mengalami kondisi ini. Karena ketidakmampuannya merasakan rasa sakit, ia sangat dijaga oleh kedua orangtuanya serta sahabatnya sejak kecil, Kristi.

Kedua orangtua Nira dan Kristi selalu menjaganya dengan ketat, tidak memperbolehkannya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dirasakan akan membahayakan dirinya. Namun sebagai gadis muda yang memiliki banyak keinginan, Nira memiliki mimpi bergabung dengan klub cheerleader. Mengingat gerakan cheerleader membutuhkan aktivitas fisik yang rentan cedera, tentu Nira harus sembunyi-sembunyi mengikuti kegiatan ini agar Kristi tidak tahu. Sayang, satu kesalahan saat latihan membuat Nira harus menjalani operasi kecil. Di rumah sakit inilah, Nira bertemu Vero, gadis yang  tengah berjuang melawan kanker ganas.

Cerita ini membawa pembaca menyadari dua sisi kehidupan yang berbeda, Nira dengan ketidakmampuannya merasakan sakit dan Vero yang luar biasa menahan sakit akibat kanker stadium akut yang dideritanya, bahkan membuat salah satu kakinya sampai diamputasi. Kedua keadaan yang bertolakbelakang ini sangat menjanjikan banyak konflik di bab-bab berikutnya.

Selain ide yang segar, sinopsis cerita ini pun cukup membuat pembaca tergelitik untuk melahapnya lebih jauh. Akhir bab ketiga pun cukup bikin penasaran pembaca apa yang akan terjadi selanjutnya, pas banget bikin pembaca menghitung kerang yang dimiliki cukup atau tidak untuk lanjut baca saat sudah ada update nanti. Haha.

Hal yang sedikit mengganggu saya adalah jalan cerita yang terlalu cepat berpindah adegan. Hal ini terasa ketika Nira sudah kembali ke rumah setelah operasi dan mengajak kedua orangtuanya bepergian. Tampak adegan ini muncul tiba-tiba, tidak ada alasan cukup kuat kenapa Nira tiba-tiba ingin berlibur. Namun lebih dari itu, adegan pun cepat berganti dari permintaan liburan, menentukan lokasi hingga tiba-tiba mereka sudah berada di dalam mobil siap berwisata.

Terlepas dari hal tersebut, cerita ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Sejauh ini tidak tampak adanya sosok cowok yang akan muncul, sehingga cerita nampaknya akan fokus pada konflik Nira dan Vero. Dua gadis dengan penyakitnya masing-masing. Sisi kemanusiaan akan banyak digali dari cerita ini nampaknya.

Oh ya, penulisnya juga menyediakan kode kerang gratis lho. Jangan lupa masukkan kode Betty428 di aplikasi cabaca-mu ya. Kode ini belum dapat dimasukkan di versi website, hanya versi aplikasi saja ya. 


WISH UPON A STAR


Penulis: Natka
Genre: Romantic Comedy


Kisah kasih di sekolah adalah ide cerita yang tidak pernah lekang oleh zaman. Banyak cerita, film serta lagu terkenal memiliki ide yang berasal dari kisah kasih saat sekolah. Cerita ini pun memiliki ide dasar yang sama, tentang pelajar dan semua permasalahannya.

Katia, siswi kelas dua belas, memiliki masalah dalam pelajaran Fisika. Semua nilai mata pelajaran yang lain oke, kecuali Fisika. Salah satu program sekolah bernama Tutor Sebaya mempertemukannya dengan Joshe. Joshe yang dikenal sebagai cowok pintar namun terkenal dingin di sekolah akan menjadi tutor untuk Katia, yang sudah antipati duluan dengan Joshe bahkan sebelum bertemu. Joshe bukan satu-satunya laki-laki yang hadir dalam kehidupan Katia, sudah ada Ben yang terlebih dahulu hadir sebagai salah satu sahabat Katia. Ben yang vokalis grup Chronicle dan salah satu cowok populer di sekolah.

Sudah mulai kelihatan cerita akan mengarah ke konflik cinta segitiga Ben-Katia-Joshe. Kepribadian Joshe yang hangat serta terbuka akan berbanding terbalik dengan Ben yang dingin dan tertutup. Sejauh ini penulis menggunakan POV3 dari kedua tokoh utamanya, Katia dan Joshe. Pembaca diajak menyelami diri serta pikiran Katia dan Joshe, mencoba memahami tingkah laku mereka. 

Gaya penceritaan POV3 dari tokoh utama membuat pembaca mampu memberikan simpati lebih kepada masing-masing tokoh. Pembaca diajak untuk ikut berpikir seperti layaknya sang tokoh, dan ikutan mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Beberapa inkonsistensi seperti profesi Pak Leo, yang di awal adalah guru Fisika namun berubah menjadi guru BP di pertengahan cerita, tidak terlalu mengganggu jalannya cerita. Untuk saya pribadi, cerita ini paling berpotensi membuat pembaca terhanyut dalam kisah Katia dan kedua pria dalam hidupnya.

Setiap bab menyuguhkan kisah yang berbeda dan membuka tabir pribadi masing-masing tokoh, namun tetap menyelipkan rasa keingintahuan pembaca di akhir cerita. Saat ini cerita ini sudah memiliki enam bab, cukup membuat pembaca senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku para pelajar yang sedang menikmati masa mudanya ini.

Seperti biasa, sang penulis juga memiliki kode tersendiri untuk mendapatkan tambahan kerang gratis. Jangan lupa masukkan kode Natka75 ya saat membuka aplikasi cabaca di ponsel Android atau iOs-mu.

DEAR SWEETHEART


Penulis: Sulistyowati
Genre: Romantic Comedy

Cerita terakhir yang saya share adalah cerita yang sudah memiliki jumlah bab yang banyak, yaitu sebelas bab. Sama seperti Wish Upon A Star, kisah kasih di sekolah adalah ide utama cerita ini. Tentu dengan bumbu-bumbu taburan kebencian di antara tokoh-tokoh utamanya. 

Rafael dan Ayana terpaksa bekerjasama karena menerima hukuman dari salah satu guru mereka. Keduanya diminta melakukan misi yang nampak mustahil, melakukan wawancara serta menulis biografi pelukis yang misterius keberadaannya. Rafael dan Ayana memiliki sifat yang bertolak belakang, Rafael seorang cowok ganteng serta pintar dan dingin sementara Ayana adalah gadis slebor yang hobi tidur dimana saja.

Pertikaian keduanya bermula saat tidak sengaja keduanya saling menghancurkan karya seni masing-masing. Sehingga mengharuskan mereka berdua menerima hukuman. Latar belakang seni, umpamanya seni lukis, yang menghiasi cerita ini cukup membuat cerita sedikit berbeda dengan kisah-kasih percintaan remaja lainnya. Aspek keluarga pun cukup kental menaungi cerita ini, mulai dari kehidupan keluarga Rafael dan Ayana yang berbeda, hingga kehidupan Maher sang Pelukis yang tumbuh besar di lingkungan Panti Asuhan.

Hal yang sedikit mengganjal bagi saya adalah alur yang berjalan sedikit lambat. Penulis nampak berusaha mengulur waktu untuk pelan-pelan tiba di puncak konflik. Sebenarnya apabila penguluran cerita dilakukan untuk membuat pembaca lebih mengenal tokoh, seperti adegan Ayana ke rumah Rafael, tentu tidak masalah. Namun apabila penguluran cerita dilakukan seperti saat Ayana kehilangan ponselnya, nampak terlalu panjang kalau tujuannya memberi penekanan pada sifat slebornya. Sifat slebor ini bisa dimasukkan pada adegan lain yang lebih berarti, seperti kebisaan Ayana tidur di mana saja yang ditunjukkan ketika ia bertamu ke rumah Rafael.

Menarik mengikuti tingkah laku Ayana yang bebas dan ceria berhadapan dengan Rafael yang pendiam dan dingin. Perpaduan keduanya membuat petualangan mereka untuk menulis biografi Maher sang Pelukis Misterius menjadi seru untuk diikuti. Apalagi melihat getar-getar asmara yang timbul di hati Ayana. Duh, bikin senyum-senyum sendiri.




Cerita mana lagi yang kamu sukai di Cabaca?
Kasih tahu di komen yuk.