Showing posts with label #katahatiproduction. Show all posts
Showing posts with label #katahatiproduction. Show all posts

Tuesday, February 12, 2019

Kisah Pemberangusan Buku dan Literasi Indonesia



Penempatan Indonesia sebagai negara ke-60 dari 61 negara dalam World's Most Literate Nations menjadi satu masalah dan kekhawatiran tersendiri bagi dunia literasi Indonesia. Menurut daftar yang dibuat oleh Central Connecticut State University tahun ini, Indonesia bahkan menempati urutan kedua terendah dan hanya setingkat di atas Botswana (negara kecil di Afrika) dalam hal literasi.

Meningkatnya Penjualan Buku di Indonesia


Rendahnya semangat literasi masyarakat Indonesia membuat pemerintah sebaiknya mulai berpikir cara untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Industri percetakan sendiri saat ini tengah bergairah. Tirto.id mengungkap jumlah anggota Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) telah mencapai lebih dari 1.000 anggota. Toko buku ritel terbesar di Indonesia, Gramedia, mencatat pertumbuhan penjualan buku meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya di 2018. Tidak ada masalah dari sisi permintaan dan penyediaan, karena tidak mungkin Gramedia bisa meningkatkan penjualan apabila tidak ada permintaan dari masyarakat. Sekarang tinggal dukungan dari pemerintah saja yang seharusnya semakin menyuburkan minat baca masyarakat.

Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKB) mengungkap cara terbaik meningkatkan minat baca dengan memfasilitasi akses masyarakat ke sumber bacaan. Ada tiga pihak yang sebaiknya bekerja sama: penulis, penerbit dan pemerintah. Menilik dari data IKAPI dan Gramedia sebelumnya, terlihat jelas kerjasama antara penulis dan penerbit sudah terjalin dengan baik. Satu yang tersisa, pemerintah. Dukungan pemerintah yang paling bermanfaat adalah memberikan akses yang mudah untuk masyarakat ke sumber bacaan. Beberapa contoh yang dikemukakan BPKB meliputi membentuk dan mempercantik perpustakaan sekolah, daerah dan nasional. Setelah itu, mempromosikannya. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) di Medan Merdeka, Jakarta, contohnya. Gedung perpustakaan dibuat nyaman untuk tempat membaca atau sekadar bersantai, sistem peminjaman buku mudah dan lokasinya terbuka untuk dipakai berbagai macam acara, terutama yang berkenaan dengan literasi. Salah satu cara promosi yang baik untuk perpustakaan tersebut.

Acara Gramedia Writing & Readers Forum di Perpusnas (gambar dari sini)

Inisiatif pemerintah yang sudah baik dengan perpusnas ini misalnya, sangat sayang apabila dinodai dengan tindakan-tindakan pemberangusan buku yang banyak terjadi belakangan ini. Fokus pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dapat dengan mudah terpecah. Masyarakat bisa saja semakin malas membaca. Karena belum apa-apa, ada-ada saja pihak yang sudah memutuskan tentang buku apa yang boleh dan tidak boleh dibaca oleh warga negara. Bisa jadi, kasus pemberangusan buku ini malah memiliki efek domino.

Maraknya Pemberangusan Buku di Indonesia


Namun, alih-alih berupaya meningkatkan literasi Indonesia yang tengah menyandang predikat miris, malah akhir-akhir ini pemberangusan buku marak dilakukan. Sejak akhir Desember tahun lalu, aparat yang bertugas di beberapa daerah menyambangi toko buku dan menyita buku-buku ‘kiri’, khususnya yang dianggap menganut paham komunis.

Konyolnya, mereka merasa bertindak heroik dengan mata tertutup. Bisa ditakar pengetahuan mereka perihal buku-buku yang mereka sita seenaknya, hanya bermodal sampul dan judul, semua buku disapu rata untuk diamankan. Padahal, kebijakan peredaran buku sudah diatur dalam UU Nomor 3 tahun 2017, tentang sistem perbukuan. Pasal 69 dalam UU tersebut menyebutkan pengawasan buku seharusnya dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku perbukuan dan masyarakat dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik dengan tetap menjaga kebebasan berekspresi.

Putusan MK Nomor 6-13-20/PUU-VIII/2010 menyatakan untuk menangani barang cetakan, jaksa agung tetap harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Seakan mengabaikan konstitusi, aparat keamanan bergerak melakukan razia buku sejak akhir Desember kemarin. Bermula pada 26 Desember 2018 di Kediri, disusul 8 dan 9 Januari 2019 di kota Padang dan Tarakan. Kejadian yang semakin memperkuat pemberangusan buku ini adalah pernyataan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo pada rapat kerja dengan komisi III DPR RI, Rabu, 23 Januari 2019. Bahwa perlu dilakukan razia buku yang memang mengandung unsur PKI dan perlu dilakukan perampasan di mana pun buku itu berada.

Buku-buku yang diberangus di Ternate (gambar dari sini, aslinya dari sini)

Pemberangusan buku yang 'katanya' mengandung paham ‘kiri’ dan berbau komunisme adalah gambaran betapa ketakutannya beberapa pihak di negeri ini. Cara untuk menutup mata dari peristiwa yang terjadi di tahun 1965. Memotong akses. Bahkan ketakutan-ketakutan itu hanyalah berdasarkan pada buku-buku dengan judul dan cover berbau paham kiri tadi. Merusak ideologi, katanya. Toh, mereka-mereka yang katanya aparat, jika ditanya tentang isi dari buku-buku yang mereka sita, belum tentu tahu dan paham. Jangankan tahu, membuka buku itu saja, rasanya tidak. Mereka terlalu dibutakan dengan pemikiran bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan ‘antek PKI’ ataupun marxisme haruslah dimusnahkan, tidak untuk dipublikasikan. Biar tetap bungkam. Biar tak lagi diungkit. Biar yang terjadi di masa lalu hanya menjadi sejarah yang benar-benar punah. Mereka bahkan lupa bahwa buku adalah jendela ilmu. Ada fakta-fakta yang diungkap di dalamnya. Kalau bukan dengan buku, lalu dengan apa sejarah bisa mengungkap fakta. Sekali lagi, don’t judge the book by its cover.


Manusia Makhluk Pintar



Memang benar, pemikiran seseorang tergambar dari apa yang mereka baca. Tapi, bukankah manusia adalah makhluk yang sempurna. Diciptakan Tuhan dengan memiliki akal dan pikiran. Maka ketika membaca buku-buku ‘terlarang’ tadi, tak lantas berarti langsung menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari bahan bacaan tersebut. Sebab, seseorang bebas memilah dan memilih. Untuk tahu mana hal yang baik, maka seseorang juga perlu tahu apa-apa yang buruk. Untuk tahu jalan yang lurus, maka perlu tahu dulu mana jalan yang menyimpang. Cukup tahu, bukan untuk masuk dan menjadi bagian di dalamnya. Lalu, ketika seorang hendak mencari tahu apa itu komunisme, paham kiri, dan berbagai sejarah yang katanya menyimpang, dari mana mereka bisa mendapatkan informasi, jika bukan dari buku-buku yang justru diberanguskan? Padahal bisa saja tujuan si orang tadi membaca, hanyalah untuk studi sejarah dan keilmuan.


Masyarakat seakan dibuat buta, tapi tidaklah perlu dibodoh-bodohi. Putusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010 saja menyatakan bahwasanya dalam menangani barang cetakan, jaksa agung juga harus ada pembatasan yang jelas yaitu harus terlebih dahulu mendapat penetapan izin pengadilan negeri dan berdasar pada alasan yang jelas dan pasti. Dengan kata lain, proses pemberangusan buku-buku tanpa melalui proses peradilan, sama halnya dengan mengambil hak pribadi secara sewenang-wenang yang melanggar Pasal 28H ayat (4) UUD 1945. Lalu berhakkah para aparat dengan semena-mena memberanguskan buku-buku tadi tanpa prosedur yang sesuai dan mengabaikan hukum yang berlaku? Seperti kasus pemberangusan buku yang terjadi di Kediri, Padang dan Tarakan. Sedang di sisi lain, pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Sekali lagi, setiap orang, khususnya para penulis, berhak berekspresi. Tinggal para pembaca yang dituntut cerdas memilih apa yang cocok dan hendak mereka baca. Bukan malah mendukung terjadinya proses pemberangusan buku-buku hanya karena sebuah kekalutan, pun ketakutan yang katanya akan merusak ideologi bangsa.

Kalau menurut kamu sendiri, apakah langkah pemberangusan buku ini sudah tepat?

---

Tulisan ini dibuat bersama oleh Asti, Fian dan Niar dalam rangka memenuhi tantangan menulis #katahatichallenge #katahatiproduction

---

Sumber Artikel:

- https://nasional.kompas.com/read/2016/05/12/21141091/Pemberangusan.Buku.Dinilai.Melanggar.Konstitusi
- https://tirto.id/kebodohan-razia-di-tengah-peningkatan-minat-konsumsi-buku-deyy
- https://katakerjalampau.wordpress.com/2019/01/17/ketika-para-penguasa-memilih-takut-dengan-buku/

Friday, June 1, 2018

Ketika Satu Bagian dari Dirimu Hilang


Banyak Anak, Banyak Rejeki
Untuk masyarakat  Indonesia, ungkapan tersebut bukan lagi hal asing untuk didengar. Walau telah berkali-kali pemerintah mencanangkan program pengendalian penduduk, tetap saja istilah tersebut tidak lekang oleh waktu. 

Nah, kebayang apa jadinya pasangan yang telah menikah, minimal di atas satu tahun, yang tidak kunjung memiliki anak? Saya contohnya, lima tahun menikah dan tidak kunjung memiliki anak. Pertanyaan semodel:

"Nunda-nunda ya?"
"Makanya jangan keasyikan kerja,"
"Udah cek ke dokter belum?"
"Coba, deh, program ini katanya bagus untuk cepat dapat keturunan"
"Nanti keburu tua makin susah loh hamil,"

Adalah jenis pertanyaan-pertanyaan standar yang sering saya konsumsi, tidak hanya dari teman terdekat, bahkan dari orang-orang yang bertemu pun jarang. Mungkin karena saya cuek, bagaikan angin lalu, saya biarkan pertanyaan itu terus bergulir. Toh, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan mereka pula yang akan membayar semua keperluan saya melakukan cek ke dokter atau ikut program macam-macam.

Saya sendiri semenjak tahun-tahun awal menikah, bahkan sebelum menikah, sudah melakukan cek kandungan. Demikian juga dengan suami saya, melakukan semua cek keseluruhan. Tidak ada masalah pada kami berdua, memang belum dipercaya saja untuk memiliki anak. Sempat mencoba beberapa program, namun belum ada yang berhasil. Sampai akhirnya kami tiba di fase pasrah. Tidak ada lagi yang ingin kami lakukan kecuali merayakan hari ini. Dan itulah yang kami lakukan.

liburan tahun 2014
Tahun 2014, selepas berlibur bersama, kami mendapat kejutan. Saya hamil. Suatu hal yang tidak disangka-sangka, saya dan suami terima setelah lima tahun menikah. Tentu saja bahagianya luar biasa. Rasanya saat itu juga saya ingin berteriak ke seluruh dunia betapa bahagianya diri. Namun, karena dasarnya saya pencemas, sempat berpikir untuk merahasiakan kehamilan dulu sampai yakin. Setidaknya ada informasi pasti dari tenaga profesional, yaitu dokter.

Februari 2014, saya ingat sekali, kali pertama kami berkunjung ke dokter kandungan. Kehamilan saya berjalan sempurna dan detak jantung janin sudah terdengar. Resmi sudah, saya akan menjadi calon ibu. Saatnya kami beritahu keluarga, dan atasan saya di kantor tentu saja. Takutnya kalau terjadi sesuatu dengan saya, atasan tahu sebabnya. 

Tidak lama setelah pemberitahuan saya ke atasan, beliau menginformasikan rencana untuk tugas luar kota sekitar pertengahn tahun. Kondisi ini membuat saya mau tak mau harus melakukan cek kondisi kandungan, apakah cukup kuat kalau dibawa bepergian. Hitung-hitungan yang saya lakukan sendiri, seharusnya saya sudah masuk trimester kedua saat tugas luar kota terjadi, sehingga kandungan sudah cukup kuat.

Saat kembali bertemu dokter kandungan untuk kedua kalinya, pertanyaan itu adalah yang pertama saya tanyakan. Kondisi saya untuk melakukan perjalanan jauh. Sang dokter hanya tersenyum sambil mengatakan untuk melakukan pengecekan dahulu. Raut muka sang dokter saat melakukan pengecekan saat itu tidak akan saya lupakan sampai kapanpun. Pucat, bingung, heran, perpaduan semua hal itu. Saya mulai mencium ada yang tidak beres dan bertukar pandang dengan suami saya.
Ini detak jantungnya tidak terdengar lagi
Vonis sang dokter.


Saat itu juga saya divonis harus merelakan janin yang baru bersama saya sepuluh minggu. Tidak dapat berpikir lama, saya hanya mengikuti semua anjuran sang dokter. Saya hanya ingat terduduk di mobil, sendiri. Suami saya sibuk melakukan seluruh proses pendaftaran, sementara keluarga saya lainnya tidak ikut mengantar. 

Saya hanya duduk diam di dalam mobil. Merenung. Menyalahkan diri saya atas semua hal yang terjadi. Mengingat-ingat dimana tepatnya kesalahan yang saya lakukan. Apa yang saya lewatkan. Kenapa janin saya pergi secepat ini. Mengapa satu bulan saja saya merasakan indahnya memiliki harapan menjadi seorang ibu.

Saat itu akhir bulan Maret 2014. Dalam sekejap anugerah terbaik dalam hidup saya harus dilepaskan.

Saya ingat pasti lagu apa yang saya dengar saat itu di radio, yang ditinggalkan menyala oleh suami untuk menghibur. Namun, ternyata berfungsi sebaliknya.

Some people wait a lifetime for a chance like this
I’ve waited enough
Baby, no, I won’t let you go
I’m sick of tears and being fierce

Proses kuret hanya memakan waktu sebentar, karena dilakukan sore hari, saya pun memutuskan untuk menginap dan baru pulang keesokan harinya. Semua terjadi di hari Sabtu dan hari Senin saya langsung masuk kantor, tidak cuti yang diambil. Saya pikir, untuk apa saya beristirahat di rumah kalau kondisi saya baik-baik saja. Padahal, saya berhak untuk cuti satu setengah bulan.

Saya salah. 

Secara fisik, saya memang baik-baik saja, tapi tidak dari sisi mental. Efeknya berlanjut berbulan-bulan bahkan satu tahun kemudian. Ketika saya dipercaya hamil kembali, kecemasan selalu melingkupi diri saya selama tiga puluh delapan minggu, sampai akhirnya saya melahirkan. Berulang-ulang saat cek kandungan, pertanyaan saya selalu: bagaimana memastikan kandungan ini bertahan.

Kehamilan pertama terlalu banyak memberikan euforia pada diri saya, take it for granted dapat dibilang. Saat janin saya diambil pun, tidak seharusnya saya menyalahkan dan pasrah terhadap diri saya.  Pasti ada alasan yang terjadi di belakangnya, sesuatu yang tersirat.

Sekarang, empat tahun kemudian, saya menuliskan cerita ini. Sebagai bagian dari pengingat diri saya sendiri tentang kehidupan dan kebenaran dari istilah: indah pada waktunya.

Monday, May 28, 2018

Liburan Hemat Tanpa Utang - Pilih Pulang di Hari Senin

Photo by James Coleman on Unsplash

Liburan bukan satu barang mewah lagi saat ini. Untuk sebagian besar orang, liburan bahkan sudah menjadi gaya hidup, bagian dari kebutuhan sehari-hari. Namun lebih dari sekedar gaya hidup, liburan juga memiliki banyak kualitas baik. Sehingga sangat disarankan untuk menjadwalkan waktu untuk sekedar berlibur di sela-sela waktu kita. 

Salah satu penyebab meningkatnya liburan menjadi gaya hidup masyarakat, seperti diungkapkan melalui saluran berita berikut, adalah perkembangan teknologi yang demikian pesat. Saat ini, siapapun dapat dengan mudah melakukan perjalanan wisata sendiri, dengan bermodalkan internet dan ponsel.

Tidak heran apabila melihat dua sisi ini, gaya hidup dan kemudahan, banyak yang rela berutang demi dapat berlibur. Kasus Fransisca Paisal (Sisspai) adalah salah satu yang ramai diperbincangkan di media masa. Seperti gali lubang tutup lubang, demi memanjakan hasrat jalan-jalan, Sisspai rela berhutang sana-sini untuk membiayai hobinya tersebut. Demi sekali.

jangan sampai terjadi ya...
Padahal ada cara mudah untuk memastikan kantong tidak berlubang, sementara eksis jalan terus. Salah satu trik yang banyak dilakukan traveler dunia adalah memilih jam penerbangan dengan baik. Seperti kita ketahui, bepergian dengan pesawat terbang salah satu pilihan transportasi yang paling efektif. Cermat memilih penerbangan, dipastikan akan membantu kita lebih segar saat tiba di tempat tujuan, mengingat waktu tempuh yang lebih singkat, dibandingkan moda transportasi lainnya.

Namun, biaya tiket pesawat sangat tidak bersahabat dengan deretan angka di buku tabungan kita. Alih-alih mendapatkan keuntungan waktu tempuh singkat, ternyata rekening tabungan kita mendapat angka merah. Bikin trauma mau balik liburan lagi jadinya, ingat perjuangan luar biasa yang harus dilakukan untuk mengembalikan saldo.

Nah, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Expedia di tahun 2015, ternyata ada kunci terbaik untuk memilih tiket penerbangan dengan harga bersahabat. Hari terbaik untuk terbang rata-rata jatuh di pertengahan minggu, antara senin-kamis. Apapun pilihan hari berangkat, pastikan kembali ke kota asal di hari Senin.



Common sense-nya kenapa Senin, tentu saja berkaitan dengan peralihan antara hari paling ramai penerbangan (akhir pekan) dan paling sepi (selasa). Awal minggu banyak pekerja, terikat ataupun tidak, memulai hari dengan berbagai macam tantangan. Sehingga sangat jarang ditemukan seseorang pergi berwisata, atau bahkan melakukan business trip pada hari Senin. Senin adalah saatnya meeting mingguan secara rutin.

Coba deh mulai cek-cek tiket penerbangan, tentukan saat kembali di hari Senin, siapa tahu tujuan wisatamu berikutnya lebih murah dari yang dibayangkan. 

Kasih tahu hasil pencarianmu di bawah sini ya!



Saturday, May 26, 2018

Review: Sukses Kelola Manusia - Karena Manusia adalah Makhluk Sosial


Sering sekali kita mendengar bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ungkapan ini pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles untuk membedakan manusia dan hewan, terkenal dengan istilah Zoon Politikon. Sejatinya, manusia memang ditakdirkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Prakteknya, tentu banyak benturan yang akan terjadi, mengingat keunikan setiap manusia. 

Nah, buku ini membuka pikiran saya tentang manusia dan semua yang terjadi di sekitarnya.

Judul buku : Sukses Kelola Manusia
Penulis : Eileen Rachman 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 400 halaman
Harga : Rp. 78.400,- (bukabuku.com)

---

Saya pernah melakukan resensi terhadap buku ini sekilas di instagram beberapa hari lalu, untuk meramaikan hari buku nasional, namun tidak cukup rasanya. Banyak insight positif yang saya dapat dari dalamnya.

Sebagai praktisi sdm, baca buku terkait pengembangan manusia malah jarang. Haha. Soalnya, terkadang pengemasan bukunya terlalu banyak teori kaku, kurang praktis. Apapun juga, di dunia kerja pragmatis masih dicari. Sehingga ketika menemukan buku @eileenrachman ini bagaikan oase. Saya rutin mengikuti kolom beliau di @hariankompas, sehingga cukup familiar dengan cara bertutur beliau. Buku ini adalah kumpulan artikel pendek beliau di harian tersebut, namun dibuat dalam struktur seperti layaknya perjalanan hidup karyawan dalam satu organisasi. Dimulai dari diri sendiri, tim kerja hingga tiba di pucuk pimpinan. Buku yang cocok untuk mereka yang membutuhkan motivasi, menjaga spirit kerja atau bahkan menambah optimisme diri kemudian menyebarkannya kepada lingkungan. Culture is not developed. It is accumulated (p.114) ... #BincangHariBuku
Sebuah kiriman dibagikan oleh A S T I (@astiwisnu) pada


Sehingga sayang rasanya tidak saya ulas lebih lanjut buku yang membuka banyak hal tentang manusia ini. Walaupun ditulis oleh pakar sumber daya manusia (sdm) sekaligus pendiri salah satu konsultan sdm terbaik di Indonesia, Eileen Rachman, namun buku ini tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang bergelut di industri sdm. Insight utama yang ditawarkan penulis adalah memahami tingkah polah manusia dan bagaimana seseorang dapat memanfaatkannya untuk kesuksesan bersama.

Gaya penulisan yang dipakai adalah artikel pendek-pendek, wajar saja mengingat isinya diambil dari kolom tetap penulisnya di salah satu harian besar di Indonesia. Contoh gaya penulisan beliau bisa dilihat juga di sini. Keuntungan cara menulis model artikel membuat pembaca dapat memilih sendiri cerita mana yang akan dibaca lebih dulu. Judul setiap artikel juga memikat dan memancing rasa penasaran.

Are You Happy?

Artikel pertama dalam buku ini membuat saya tersentak. Pertanyaan sederhana namun susah sekali rasanya langsung mengeluarkan jawaban. Untuk seseorang yang tidak pernah kehabisan kata-kata dalam berbicara seperti saya, tentunya menjadi satu pertanyaan besar kenapa saya tidak langsung dapat menjawabnya. Mungkin karena bahagia itu sebenarnya mindset, bukan hasil, begitu saya pikir. Pertanyaan berikutnya jadi, apakah mindset saya bahagia? Karena itu yang menentukan seluruh hasil dari apa yang saya lakukan.

Kutipan menarik dari Martin Seligman, pakar psikologi positif, didapatkan dari buku ini (hal. 14)
it is not an easy task, but it is easily the most important one that we have in our lives. After all, what is the point of living if we are not happy?
Tulisan dari buku ini, karena memang ditulis dalam lingkup organisasi, memiliki alur yang cukup rapi. Dimulai dari cerita 'are you happy?' tadi yang berpusat pada diri sendiri, hingga berujung pada cerita tentang tipe pemimpin yang diharapkan. Pengalaman hidup yang beragam dimiliki penulis, sehingga membuat tulisannya menjadi kaya akan perpaduan teoretis dan pengalaman dari lapangan.

Beberapa tulisan menyentuh cara untuk memecahkan masalah, dimana kuncinya adalah memahami betul apa akar masalahnya, sebelum beranjak pada action plan. Teori sederhana untuk dapat diterapkan pada kehidupan pribadi juga sebenarnya. Sebutlah kita memiliki masalah yang pelik, sebelum bingung dengan pilihan-pilihan yang harus diambil sebagai jalan keluarnya, pahami dulu akar masalah. Pilihannya akan ketemu dengan sendirinya saat benang masalah terurai. Salah satu kuncinya adalah dengan bertanya. Untuk saya, seseorang yang masa kecilnya sering dipenuhi dengan kata-kata 'kamu nanya-nanya mulu sih' atau 'gitu aja kok ga tahu' setiap mengajukan pertanyaan, tentu ini hal yang cukup sulit. Tidak hanya saya sepertinya, banyak masyarakat Indonesia mengalami hal ini. Tidak heran apabila pada banyak meeting atau pelatihan, saat sesi pertanyaan diajukan, hanya terdapat hening yang mengemuka.

If I had one hour to save the world, I would spend fifty-five minutes defining the problem and only five minutes finding the solution
Einstein (hal. 126)

Banyak kutipan-kutipan bermakna lainnya yang saya dapat dari sini. Cukup baik untuk dipakai sebagai tambahan dalam pekerjaan saya, yang kadang harus memuat materi pelatihan, namun cukup cantik juga digunakan sebagai caption di media sosial. Sangat instagramable kalau kata anak jaman now.



Penulis mengajak pembaca melakukan refleksi diri pada setiap tulisannya, ini membuat saya sangat terhubung dengan buku ini. Bahasa yang digunakan sederhana, berbeda dengan kebanyakan buku terkait perilaku manusia lainnya di pasaran, sehingga mudah untuk saya menangkap langsung artinya dan mengaitkannya dengan hidup saya.

Artikel yang reflektif untuk saya misalnya pada tulisan berjudul 'Bebas Bertanggung Jawab' (hal. 173). Penulis memulai tulisan dengan mengutip penggalan lagu lama dari Indra & Mira Lesmana yang bercerita tentang keinginan hidup tanpa batasan, kemudian mengaitkannya dengan kemerdekaan Indonesia. Disini saya dihadapkan pada refleksi akan arti kebebasan yang ada saat ini, siapkah saya hidup di dalamnya dan bagaimana saya dapat memaksimalkannya. Misalnya saja dengan berkembangnya media sosial, membuat saya dapat posting apa saja yang saya suka namun timbal baliknya, saya harus siap juga dengan segala komentar-komentar yang akan muncul dari sana.

Tanpa kita sadari, kebebasan datang bersamaan dengan kesulitan membangun tatanan sosial di organisasi, perusahaan dan masyarakat.
(hal. 177)

Empat ratus halaman buku ini belum cukup rasanya untuk menangkap semua perilaku manusia, beserta dampaknya terhadap lingkungan. Saya sendiri sangat menikmati lahapan halaman demi halaman yang tersaji di dalamnya. Saya percaya demikian juga pembaca lainnya. 



Semoga review saya cukup membantu untuk mereka yang mencari referensi tentang perilaku manusia, atau sekedar ingin mendapatkan motivasi hidup. Apapun juga, sebagai manusia, kita tidak akan terlepas dengan interaksi dengan sesama manusia lainnya. Sehingga sampai kapanpun, cerita tentang manusia akan selalu relevan.