Saat ini, menonton film tidak lagi cukup hanya dengan melihat layar dan mendengar suara. Saya ingin sesuatu yang lebih — pengalaman yang benar-benar melibatkan seluruh panca indera. Itulah alasan saya memilih menonton di 4DX, bukan di cinema biasa. Dengan efek gerakan, angin, kabut, bahkan aroma yang dihadirkan langsung di studio, 4DX menawarkan sensasi seolah benar-benar berada di dalam cerita, bukan sekadar menyaksikannya dari kejauhan.
Awalnya saya pikir, menonton film horor di bioskop cukup dengan layar besar dan suara menggelegar. Tapi malam itu di CGV Central Park, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih nyata. Menonton Exhuma dalam format 4DX bukan hanya soal melihat atau mendengar — melainkan ikut merasakan. Saat ritual dijalankan, kursi di bawah saya bergetar perlahan, seolah lantai dunia lain terbuka. Ketika para karakter memanggil arwah, tiba-tiba aroma kemenyan memenuhi udara, menusuk hidung, membuat bulu kuduk merinding. Di dalam gelapnya studio, saya benar-benar merasa seperti bagian dari dunia mistis yang selama ini hanya bisa saya bayangkan.
Lokasi, Fasilitas, dan Harga Tiket 4DX di CGV Central Park
Saya memilih menonton di CGV Central Park, salah satu bioskop yang cukup terkenal di Jakarta Barat dengan fasilitas 4DX-nya. Begitu memasuki area CGV di Central Park Mall, suasananya terasa modern dan hidup, namun ketika mendekati area studio 4DX, atmosfer mulai terasa lebih fokus dan intens. Lorong menuju studio didesain dengan pencahayaan sedikit redup, menambah kesan misterius — cocok untuk film horor seperti Exhuma.
Harga tiket 4DX untuk film ini sekitar Rp170.000 pada hari biasa, dan berkisar Rp190.000–Rp200.000 pada akhir pekan. Meskipun tergolong mahal dibandingkan tiket reguler, pengalaman yang ditawarkan terasa sepadan. CGV Central Park juga sering memberikan promo khusus untuk member CGV atau pengguna kartu kredit tertentu, yang dapat sedikit mengurangi biaya.
Fasilitas studio 4DX sendiri sangat memadai. Kursinya besar, empuk, dan dilengkapi sabuk pengaman di pinggang. Setiap empat kursi tergabung di atas satu platform mekanik yang dapat bergerak dan berguncang sesuai adegan film. Di belakang kepala terdapat lubang udara untuk efek hembusan angin, sementara sprayer kecil di depan kursi digunakan untuk efek kabut tipis atau percikan air.
Saat adegan cipratan air dan goyangan terjadi bersamaan.
Pengalaman Sensorik Selama Menonton Exhuma di 4DX
Pengalaman menonton Exhuma di 4DX adalah salah satu pengalaman sinematik paling intens yang pernah saya rasakan. Efek getaran mulai terasa sejak adegan ritual pembukaan, saat genderang dan mantra mulai bergema. Kursi bergetar mengikuti irama, menciptakan sensasi seolah saya berada di dalam ruangan ritual itu.
Saat adegan pemanggilan arwah berlangsung, studio tiba-tiba dipenuhi dengan aroma kemenyan. Aromanya tajam dan khas, membangkitkan suasana yang mencekam. Ini bukan sekadar gimmick; aroma tersebut benar-benar memperkaya pengalaman visual dan auditif menjadi pengalaman multisensori yang utuh.
Hembusan angin digunakan dengan sangat efektif dalam beberapa adegan, seperti saat karakter berlari di hutan atau saat kamera menukik cepat ke dalam liang kubur ketika dilakukan penggalian atas peti mati.
Walaupun Exhuma bukan film aksi penuh hujan deras, beberapa adegan berkabut tetap dilengkapi semprotan kabut tipis dari sprayer kecil di kursi. Efek ini memperkuat atmosfer kelam dan mistis, terutama di adegan-adegan pegunungan dan makam. Kabut ini tidak basah, hanya membuat udara terasa lebih dingin dan berat — cocok banget untuk membangun ketegangan.
Seolah Menjadi Bagian dari Dunia Mistis Exhuma
Yang membuat pengalaman 4DX terasa luar biasa adalah bagaimana semua indera terlibat dalam cerita. Tidak hanya mata dan telinga, tetapi juga penciuman, kulit, dan keseimbangan tubuh ikut merasakan apa yang dialami karakter dalam film.
Saat dunia roh dalam film mulai menyeruak ke dunia nyata, saya merasa jantung berdebar lebih cepat, bulu kuduk merinding, dan refleks menggenggam erat sandaran kursi ketika kursi berguncang tiba-tiba. Semua efek ini membantu memperdalam keterlibatan emosional dengan cerita.
Film Exhuma memang memiliki atmosfer mistis yang kuat, tetapi dengan tambahan pengalaman 4DX, intensitasnya terasa meningkat drastis. Selesai menonton, saya masih merasa sedikit limbung, seolah benar-benar baru saja keluar dari dunia ritual yang penuh misteri.
Wajib Coba 4DX untuk Film Horor?
Jawabannya: 100% iya!
Kalau kamu ingin pengalaman nonton film horor yang lebih hidup, lebih intens, dan lebih immersive, menonton film seperti Exhuma di CGV Central Park dengan format 4DX adalah pilihan yang wajib dicoba.
Yang membuat pengalaman nonton Exhuma di 4DX ini begitu mengesankan adalah bagaimana seluruh indera kita ikut diajak "main." Tidak cuma mata dan telinga, tapi juga kulit, penciuman, bahkan keseimbangan tubuh terasa dipancing.
Harga tiket yang sedikit lebih mahal terasa sepadan dengan pengalaman imersif yang ditawarkan. Dengan semua efek yang dikurasi secara presisi, menonton Exhuma di 4DX terasa seperti benar-benar ikut masuk dalam dunia mistis yang penuh ketegangan dan kejutan.
Bersiaplah — karena sekali merasakan sensasi ini, Anda mungkin akan ketagihan mencari pengalaman 4DX untuk film-film berikutnya!
Film EXHUMA Mendapat Nominasi Baeksang ke-60 Terbanyak
Sejak penayangan pertamanya di Indonesia pada 28 Februari 2024 lalu, saya sudah menonton film EXHUMA ini sebanyak 5 kali! Fantastis sekali untuk saya yang jarang sekali mengulang menonton film yang sama, apalagi menontonnya di cinema langsung. Untuk saya, film yang terbagi menjadi enam bagian ini memiliki banyak keseruan yang berhasil menghipnotis banyak penonton untuk menontonnya lebih dari sekali.
Sampai tulisan ini dibuat, Exhuma berhasil ditonton 11 juta orang di negara asalnya, Korea, dan 2,4 juta penonton di Indonesia. Ini adalah rekor tertinggi sebuah film Korea ditonton di Indonesia. Sebelumnya, rekor ini dipegang Parasite yang berhasil ditonton 700 ribu penonton Indonesia. Dalam enam minggu penayangan, Exhuma berhasil memecahkan rekor Parasite sampai tiga kali lipatnya.
Belum lama ini, film horor gaib EXHUMA baru saja meraih pencapaian luar biasa dengan mendapatkan nominasi di Baeksang Arts Awards ke-60, salah satu penghargaan paling bergengsi di Korea Selatan. Tidak hanya 1 -2 nominasi, EXHUMA meraih total 8 nominasi Baeksang. Terbanyak tahun ini. Selain sutradara handal Jang Jaehyun, keempat aktor utama Exhuma juga mendapat nominasi. Kategori bergengsi film dan skenario terbaik juga berhasil mendapatkan nominasi.
Baeksang Arts Awards ke-60 (The 60th Baeksang Arts Awards - 제60회 백상예술대상) akan diselenggarakan pada 7 Mei 2024 hari Selasa bulan depan, pukul 17.00 KST di Coex Hall D. Acara tersebut akan disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi JBT, JTBC2, dan JTBC 4.
Untuk saya, delapan nominasi Baeksang membuktikan kehebatan film Exhuma. Namun kalau masih b butuh alasan lainnya, berikut adalah beberapa keunggulan Exhuma yang berhasil menarik banyak penonton:
Cerita yang Menarik dan Menegangkan
Film ini mengisahkan tentang dua orang dukun modern yang diminta keluarga kaya untuk mencari tahu kutukan yang menimpa keluarga mereka. Dibagi dalam enam tahapan, kedua dukun ini nantinya akan bertemu dengan ahli fengshui dan pemakaman yang akan membantu untuk membuka misteri yang ada. Ceritanya akan penuh dengan kejutan dan ketegangan yang membuat penonton penasaran dan terpaku pada layar. Ada plot twist yang sangat mengubah alur cerita tepat di tengah-tengah film.
Film ini menghadirkan tema-tema yang relatable seperti keluarga, trauma masa lalu, dan pengorbanan.
Akting yang Memukau
Para aktor dan aktris dalam film ini menampilkan akting yang luar biasa dan believable. Perpaduan Choi Min Sik dan Kim Go Eun adalah nyawa utama film ini. Selain mereka berdua, kehadiran Lee Dohyun menjadi angin segar dan menunjukkan chemistry yang kuat dengan Goeun sehingga berhasil membawa karakter mereka menjadi hidup. Untuk saya, karakter keduanya bukan dalam hal romance ya, tapi lebih sebagai partner kerja yang bersedia saling berkorban untuk satu sama lain.
Efek Visual yang Menakjubkan
Tahukah kamu kalau banyak efek visual dalam film ini benar-benar dilakukan manual tanpa sepenuhnya bergantung pada teknologi?
Adegan api yang menyala terang di dalam film atau ketika monster setinggi atap rumah muncul misalnya, semua dilakukan dengan menggunakan api dan aktor asli.
Sutradara yang Berpengalaman
Salah satu film horor Korea terbaik sepajang masa adalah The Wailing. Disutradarai oleh orang yang sama, Jang Jaehyun kembali mengulang kesuksesannya dengan Exhuma. Adegan-adegan yang dibuatnya sangat cerdas tanpa perlu banyak jump scare, penonton akan dibuat merinding ketakutan.
Promosi yang Efektif
Di Korea, stage greeting atau menonton film yang dibuka dengan para pemain filmnya mengunjungi cinema sering dilakukan. Strategi ini sebenarnya juga banyak dilakukan di Indonesia, perbedaannya lebih di aspek kedekatan antara pemain dan penonton. Di Korea, para pemerannya tidak segan-segan turun ke arah bangku penonton untuk berfoto langsung dengan para penontonnya. Promosi tambahan yang hanya dilakukan di Indonesia dan membuat penonton Korea iri adalah pembagian photocard setiap pembelian tiket Exhuma. Strategi ini dilakukan cinema Cinepolis dan sukses membuat banyak penonton ingin mengoleksi semua photocard yang ada.
Mohon diingat film ini tidak direkomendasikan untuk anak-anak di bawah 13 tahun karena mengandung adegan yang disturbing dan mengerikan. Jadi, bijak saat memilih tontonan ya.
Nah, itu tadi semua alasan yang bisa saya kemukakan untuk segera menonton Exhuma mumpung masih tayang di beberapa layar cinema.
Semenjak pandemi mulai di tahun lalu, penikmat drama korea (drakor) di Indonesia semakin meningkat. Untuk saya yang sudah jarang sekali mengikuti drama, kalaupun ada pun biasanya drama yang sudah selesai, mulai tahun lalu kembali menonton drama korea (dengan sangat sangat relijius lol!). Hebatnya lagi, setelah berpuluh tahun nonton drakor dan enggak mau terjebak drama on-going (drama yang masih tayang di Korea Selatan - belum selesai ceritanya), setahun terakhir saya malah happy menonton banyak drama on-going. Benar kalau dibilang pandemi mengubah banyak aspek dalam kehidupan haha.
Berbeda dengan menonton drama yang sudah selesai, menonton drama korea on-going punya sensasi tersendiri. Paling seru tentu ikutan menebak-nebak jalan cerita bareng semua penggemar drakor lainnya.
Memasuki tahun 2021, terutama di bulan Februari ini, banyak drakor yang mulai tayang dan ada lima judul yang sejauh ini menarik perhatian saya. Siapa tahu ada yang butuh rekomendasi drakor juga di awal tahun 2021 ini, silakan ya.
Urutan drama berikut berdasarkan jadwal tayang perdana.
1. Love ft. Marriage and Divorce
Drama TV Chosun ini dapat disaksikan di Netflix mulai 23 Januari 2021 lalu, berjumlah total 16 episode. Tayang setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 9 malam.
Love ft. Marriage and Divorce adalah drama milik TV Chosun dengan rating tertinggi yang pernah mereka peroleh saat ini. Mungkin mengikuti jejak The World of Married Couple (TWotMC) dan The Penthouse tahun lalu yang mengusung tema perselingkuhan - drakor ini juga menuai sukses.
Berbeda dengan TWotMC yang merupakan drama adaptasi dan Penthouse yang berkisar di kisah keluarga kaya, Love ft. Marriage and Divorce membawa permasalahan yang lebih nyata. Drama ini mengisahkan 3 pasangan menikah usia 30an tahun, 40an tahun dan 50an tahun yang memiliki kesamaan - para suami meminta cerai karena memiliki perempuan lain.
Pasangan berusia 30 tahun adalah pengacara Pan Sa Hyun yang menikah dengan penyiar radio Boo Hye Ryung. Mereka telah menikah selama tiga tahun dan sepakat tidak memiliki anak - walau sebenarnya ini adalah murni keinginan sang istri, sementara Sa Hyun sangat ingin memiliki anak. Ia akhirnya mengajukan cerai dari sang istri karena telah menghamili wanita lain, walaupun menurut pengakuan Sa Hyun, sang wanita tidak meminta dinikahi.
Hye Ryung yang keras kepala, vokal dan gengsi-an tentu murka mendengar suaminya memiliki wanita lain. Ia berusaha meminta cerai yang berusaha digagalkan mertuanya - orangtua Sa Hyun - dengan alasan klise, tidak ada dalam sejarah keluarga mereka pasangan bercerai.
Kedua orangtua Sa Hyun juga memiliki cerita yang menarik. Pasangan lanjut usia yang menikah karena dijodohkan ini suka sekali bertengkar, walaupun sebenarnya mereka saling peduli satu sama lain. Melihat mereka, saya malah senang karena tidak ada masalah yang mereka pendam - semua langsung dikomunikasikan (walau dengan teriakan haha).
Pasangan kedua yang berusia 40 tahun adalah Sa Pi Young seorang produser radio tempat Hye Ryung bekerja dan psikiater Shin Yoo Shin. Keduanya digambarkan sebagai pasangan paling penuh cinta dan saling menyanyangi satu sama lain. Bertiga dengan putri satu-satunya, Pi Young dan Yoo Shin adalah gambaran ideal keluarga bahagia.
Sampai Pi Young sangat percaya diri ketika mengatakan ini...
Mari ya Ibu-ibu, mohon jangan lengah adalah pesan sponsor dari drama ini 😆
Pasangan ketiga terlihat paling menyebalkan di episode-episode awal drama ini, jadi tolong siapkan emosi dengan baik. Drakor ini sangat tidak disarankan untuk Anda yang lemah hati.
Penulis Lee Si Eun dan dosen Park Hae Ryoon telah bersama sejak muda, keduanya adalah cinta pertama masing-masing. Hidup dengan dua orang anak usia remaja dan sekolah dasar - Si Eun sibuk bekerja dan mengurus rumah tangga sehingga lupa memperhatikan suaminya. Banyak dialog-dialog yang sangat menyentuh keluar dari mulut anak-anak mereka ketika Hae Ryoon meminta cerai dari istrinya.
Drakor 16 episode yang terus menuai rating tinggi untuk TV Chosun ini sampai akan dibuatkan musim keduanya. Alurnya memang sedikit lambat, bahkan sampai setengah jalan penonton masih diajak menebak-nebak siapakah selingkuhan dari para pria ini dan kenapa mereka selingkuh. Namun, dialog-dialog yang terjadi di antara para tokoh sangat menyentuh dan mengajak penonton berpikir ulang tentang alasan dan tujuan menikah.
karakter relasi dari drama Love ft. Marriage and Divorce
Apakah semudah itu meminta berpisah ketika ada orang lain yang lebih menarik dari pasangan kita?
2. Sisyphus: The Myth
Drama milik JTBC ini mulai tayang 17 Februari 2021 lalu dengan total 16 episode dan dapat disaksikan di Netflix. Sisyphus:The Myth tayang setiap hari Rabu dan Kamis pukul 9 malam.
Tema tentang time travel enggak pernah lekang akan waktu. Tahun lalu ada The King: Eternal Monarch dan Alice yang mengusung tema ini. Tahun ini selain Sisyphus: The Myth, drama lainnya yang tayang di slot Rabu-Kamis juga, Hello Me akan membawa tema yang sama.
Saya sebenarnya enggak terlalu suka cerita dengan genre fiksi ilmiah seperti perjalanan waktu ini, selain suka bikin bingung - akhir ceritanya suka menyebalkan alias gantung 😑 Tetapi berkat Alice, walau tentu saya enggak suka dengan akhirnya, saya jadi menyukai cerita fiksi ilmiah seperti ini. Ketegangan dan menebak-nebak plot-nya cukup seru.
Sisyphus: The Myth bercerita tentang seorang genius pemilik perusahaan besar Quantum and Time, Han Tae Sul yang selalu dihantui perasaan bersalah akibat kematian kakaknya, Tragedi kecelakaan pesawat yang ditumpangi Tae Sul membuka kemungkinan kalau kakaknya sebenarnya masih hidup. Berbekal rasa penasaran, Tae Sul mencari tahu tentang keberadaan kakaknya. Rasa penasaran ini membuat dirinya tidak sadar sedang menjadi target pembunuhan. Kang Seo Hae yang datang dari masa depan, bertugas untuk melindunginya.
Penggambaran sosok Tae Sul di sini sungguh unik. Ia digambarkan penyuka wanita, super pintar, nyeleneh dan suka seenaknya. Mirip karakter Tony Stark si Iron Man. Tingkah laku Tae Sul membuat banyak orang membencinya, bahkan manajemen perusahaan yang didirikannya sendiri berencana menggesernya dari tampuk pimpinan. Terlebih semenjak kematian kakaknya, Tae Sul menjadi tidak stabil jiwanya dan berpengaruh ke harga saham perusahaan menjadi fluktuatif.
Park Shin Hye melanjutkan kehebatan akting yang tahun lalu ditunjukkannya lewat film The Call. Perannya sebagai Seo Hae si pelindung Tae Sul, membuat wanita ini banyak melakukan adegan aksi penuh trik berkelahi. Seo Hae digambarkan harus berpisah dengan keluarganya demi melindungi Tae Sul. Menarik menunggu alasan kenapa hanya Seo Hae yang dapat melindungi Tae Sul.
Empat episode awal Sisyphus: The Myth penuh pertanyaan, misteri serta aksi yang super keren. Efek animasi drakor ini juga enggak main-main. Dibandingkan menonton drama, saya seperti menonton film dengan semua efek dan sinematografi yang hebat. Kelihatan banget kalau biaya produksi drakor ini sangat mahal. Semoga saja ending ceritanya nanti enggak kentang seperti Alice aamiin.
3. Hello Me
Drama adaptasi dari novel berjudul Fantastic Me milik KBS ini mulai tayang 17 Februari 2021 lalu, dengan total 16 episode dan dapat disaksikan di Netflix. Hello Me tayang setiap hari Rabu dan Kamis pukul 9 malam.
Memilih menonton drama ini karena lihat posternya yang ceria - berbeda dengan drakor lainnya yang tayang di bulan Februari yang rata-rata posternya gelap dan suram - poster drakor Hello Me penuh dengan warna-warna terang dan mencolok mata. Saya memang biasanya memilih menonton drama lihat dari poster atau aktor/aktris yang main. Jalan cerita baru saya pertimbangkan ketika sudah menontonnya, biar enggak tertipu dengan sinopsis yang terkesan keren tetapi eksekusinya berantakan.
Terpikirkah ketika kita berusia 17 tahun, bagaimana diri kita 20 tahun mendatang?
Ketika berusia 37 tahun, terpikirkah apakah diri kita saat ini seperti yang diimpikan saat kita berusia 17 tahun?
Bahn Ha Ni baru saja terlibat masalah dengan salah satu pelanggan ketika tengah menjalani pekerjaannya sebagai SPG makanan ringan. Ketika atasannya menyuruh ia untuk minta maaf kepada sang pelanggan, Ha Ni malah ditangkap polisi karena kasus lain. Ketika mendekam di dalam sel, ia bertemu dengan pemuda aneh yang ditangkap karena berpakaian tidak sopan.
Ketika terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, Ha Ni bertemu dengan dirinya yang berusia 17 tahun di rumah sakit. Belum hilang penat Ha Ni yang bertemu versi mudanya, ia juga kembali bertemu dengan sang pemuda aneh, Kim Yoo Hyun, yang terus berusaha meminjam uang darinya.
Genre drama ini memang komedi, dengan banyak adegan kocak dan absurd antara Ha Ni, Yoo Hyun serta pemeran lainnya. Namun, dibalik semua tawa yang ada - banyak terselip pesan moral yang membuat haru. Sepanjang tayang empat episode sejauh ini - setiap episode penuh dengan cerita-cerita kocak di 80% pertama, kemudian ditutup dengan kisah mengharukan. Siap-siap tisu saja menonton serial ini.
Banyak sekali pesan yang bisa diambil dari drakor Hello Me ini. Tentang mimpi masa remaja yang kandas karena kenyataan hidup. Ha Ni usia muda berulang kali menanyakan, bagaimana bisa dirinya yang populer dan optimis ketika remaja - hidup mengenaskan di usia 37 tahun. Jangankan memiliki rumah, pekerjaan saja tidak pasti.
Menonton drama ini membuat saya berpikir banyak hal tentang hidup. Apalagi usia Ha Ni dewasa dan saya tidak terpaut jauh. Saya separti related dengan drama ini dan jadi mengingat-ingat mimpi-mimpi masa muda dahulu.
4. The Penthouse 2
Drama yang ditayangkan SBS ini mulai tayang di 19 Februari 2021 lalu dengan total 12 episode (ada gosip akan tambah 1 jadi 13 episode). The Penthouse 2 tayang setiap hari Jumat dan Sabtu di negara asalnya, tetapi baru dapat disaksikan di hari Sabtu dan Minggu melalui Viu Indonesia.
Drakor yang paling saya tunggu-tunggu penayangannya ini selalu memecahkan ratingnya sendiri pada setiap episode penayangannya. Drama ini memang fenomenal di Korea sana, di Indonesia juga gaungnya sangat terdengar. Tidak heran saat penayangan Season 1 yang belum selesai, kabar tentang season 2 dan 3 sudah beredar.
Dari lima drama lain yang ada di daftar ini dan sedang saya ikuti, Penthouse 2 memang ada di urutan teratas drama yang SELALU saya tunggu-tunggu setiap minggunya. Untung saja kru produksi The Penthouse 2 sangat memanjakan penontonnya, tidak perlu menunggu lama dari Season 1 yang baru saja selesai di bulan Januari lalu, bulan ini Season 2 telah tayang.
Bagan relasi The Penthouse
Menonton Penthouse 2 tanpa menyaksikan Season 1 akan membuat penonton bingung mengikuti alur ceritanya. Kisah tentang para penghuni Hera Place serta siswa-siswi sekolah seni Cheong Ah ini memang bersambung. Berpusat di Shim Su Ryeon yang elegan, Cheon Seo Jin yang ambisius serta Oh Yeon Hee yang berkemauan kuat - Penthouse Season 1 menceritakan kisah ketiga wanita ini serta keluarga mereka yang saling yang bersinggungan satu sama lain dalam persaingan serta usaha balas dendam.
Kematian Shim Su Ryeon di Season 1 menjadi plot twist paling mengejutkan dari seluruh plot twist yang ada di dalam drama ini. Salah satu faktor yang menyebabkan drakor Penthouse sangat digandrungi memang alur ceritanya yang tidak tertebak. Penthouse 2 melanjutkan kisah Yeon Hee yang dituduh sebagai pembunuh Su Ryeon dalam membuka tabir kebenaran. Yeon Hee berada di lokasi kejadian ketika Su Ryeon meregang nyawa dan mengetahui siapa pembunuh sebenarnya.
Layaknya Season 1, The Penthouse 2 juga dimulai dengan kematian salah satu tokoh. Sejauh empat episode penayangan, masih belum tertebak siapa yang terbunuh. Selama empat episode ini, alur drama sangat cepat di episode 1 dan 2, lalu mulai melambat di episode ketiga. Minggu depan saat episode 5 dan 6 tayang, sepertinya tabir siapa yang terbunuh akan terbuka.
Walau untuk saya terasa kurang greget dibandingkan Season 1, namun drama ini terus memecahkan rekor rating yang diperolehnya. Rating terbaru yang mereka peroleh di episode 4 kemarin adalah 24, mengalahkan semua weekend drama yang saat ini tayang di Korea - kecuali drama keluarga milik KBS yang memang selalu merajai rating drama akhir pekan.
Membicarakan Penthouse tidak lengkap tanpa karakter Cheon Seo Jin yang culas tetapi sebenarnya rapuh. Dua puluh tahun yang lalu saya mengenal Kim So Yeon (pemeran Cheon Seo Jin) lewat drama Korea pertama yang saya tonton, All About Eve, memerankan orang yang sangat menyebalkan. Kali ini, aura antagonisnya semakin terasa dan alih-alih sebal, saya malah kagum sekali dengan totalitas aktingnya. Emosinya ketika marah, sedih, kecewa dan duka semua bercampur dengan baik.
Kalau harus merekomendasikan satu saja drakor untuk ditonton, tanpa pikir panjang, saya akan memilih The Penthouse 2 untuk menghibur Anda. Semua aspek drakor ada di Penthouse - keluarga, percintaan dewasa dan remaja, perselingkuhan, persahabatan, pengkhianatan, persaingan, lengkap!
5. Vincenzo
Drama TvN ini mulai tayang 20 Februari 2021 lalu dengan total 20 episode dan dapat disaksikan di Netflix. Vincenzo tayang setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 9 malam.
Vincenzo adalah contoh drama yang membuat saya tertipu dengan posternya yang suram dan gelap 😂 Drama ini memang mengangkat tema persaingan bisnis dan dunia mafia yang kelam, tetapi disajikan dengan sangat komedi.
Vincenzo Cassano menceritakan seorang pemuda Korea yang diadopsi keluarga Italia sejak usia delapan tahun. Ketika ayah angkatnya meninggal, pengganti sang Ayah berusaha membunuhnya yang membuat Vincenzo melarikan diri ke Seoul. Di Seoul, ia berusaha mengambil emas-emas yang disembunyikan di sebuah kompleks apartemen. Rencananya, emas itu akan dijadikannya modal untuk membalas dendam nantinya. Sayangnya, perusahaan besar bernama Babel sudah mengambilalih kompleks apartemen bernama Plaza Geumga tersebut. Mau tidak mau Vincenzo terpaksa berurusan dengan korporasi Babel yang suka menghalalkan segala cara untuk memperluas bisnisnya.
Vincenzo adalah comeback Song Joong Ki ke layar kaca setelah tahun 2019 tampil dalam mini seri Arthdal Chronicles. Bulan Februari ini memang bulan sibuk untuk Joong Ki, setelah film layar lebarnya - Space Sweepers - tayang eksklusif di Netflix, drakornya menyusul tayang akhir bulan ini. Sisi menarik dari drakor ini adalah kemampuan Joong Ki berbicara bahasa Italia yang berulangkali dipraktekkannya pada setiap episode. Adegan pertengkarannya dengan Hong Cha Young yang diperankan oleh Jeon Yeo Bin juga mencuri perhatian. Tidak sabar melihat bagaimana karakter mereka akan saling jatuh cinta nantinya.
bagan karakterisasi Vincenzo
Walaupun penuh dengan adegan absurd dan komedi, Vincenzo membawa pesan moral tentang keluarga. Vincenzo yang seorang anak angkat - mencoba berdamai dengan sang ibu yang membuangnya ketika kecil. Sementara Cha Young bermasalah dengan sang Ayah yang dituduhnya tidak berbuat apa-apa untuk menyelamatkan sang Ibu dari kematian.
Para penghuni kompleks apartemen Geumga juga menarik untuk dilihat karakter-karakternya. Para biksu yang hidup untuk umat, seorang Ibu yang membiayai anak semata wayang dengan membuka kedai kecil, kelas piano dan tari, restoran Italia, usaha cuci baju dan jahit yang semuanya mencoba bertahan hidup di tengah-tengah kerasnya kota Seoul.
Untuk saya pribadi, dua faktor utama yang membuat betah menonton Vincenzo adalah wajah tampan Song Joongki yang benar-benar memanjakan mata serta raut muka Jeon Yeo Bin yang sungguh meme-able dengan tingkah-tingkah kocaknya. Pokoknya durasi sekitar satu setengah jam jadi tidak terasa setiap menyaksikan tiap episodenya.
Bagaimana, dengan membaca tulisan ini apakah anda sudah menentukan drakor apa yang akan ditonton di awal tahun 2021 ini?
Bukan sekadar drama pelakor, the World of the Married memberikan banyak pelajaran hidup
Drama Korea (drakor) The World of the Married (TWOTM) besutan JTBC yang menjadi perbincangan sejak awal tayang, menutup episode final dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan. Bukan sesuatu yang aneh, drama ini benar-benar memberikan cerita yang tidak bisa ditebak dan penuh plot twist sepanjang episodenya. Menonton setiap episode TWOTM tidak memberi ruang penonton untuk berpaling sedetikpun, karena setiap adegannya sangat bermakna walaupun tanpa dialog. Saya sendiri merasakannya terutama di episode 10, apalagi di menit-menit akhir.
TWOTM memang konsisten mencatat rating tinggi sejak episode pertama, dan terus memiliki rating dua digit di episode ketiga sampai terakhir pada tanggal 16 Mei kemarin. Tidak hanya itu, di Indonesia pun, setiap akhir pekan TWOTM selalu memuncaki trending topic twitter. Banyak orang Indonesia yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti drakor, penasaran dengan drama ini dan memutuskan menontonnya. Saya sendiri yang sudah sekitar satu tahun tidak menonton drakor, akhirnya turun gunung juga karena melihat seringnya berseliweran di timeline haha.
Adaptasi dari serial BBC UK - Doctor Foster
TWOTM diadaptasi dari serial Doctor Foster yang ditayangkan BBC UK. Apabila Doctor Foster terdiri dari dua musim dengan total episode 10, maka TWOTM memiliki jumlah 16 episode. Menilik dari posternya yang terfokus akan adanya darah pada cincin pernikahan, sudah terlihat garis besar cerita yang akan terpusat pada dunia pernikahan. Serial Koreanya memiliki fokus pada pasangan menikah yang tinggal di kota kecil Gosan, tidak hanya pada masalah sang tokoh utama seperti serial aslinya. Perbedaan tersebut membuat drakor ini memiliki banyak pelajaran hidup yang dapat ditarik.
Postingan ini mungkin mengandung spoiler, karena mengandung semua yang terjadi dari episode awal sampai terakhir. Jadi, silakan berhenti di sini apabila belum menonton drakornya dan tidak mau tahu lebih jauh ya.
Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Lemah, Melainkan Awal dari Berdamai dengan Diri Sendiri
ki-ka Da Kyung, Ye Rim dan Sun Woo
Ji Sun Woo, Yeo Da Kyung dan Go Ye Rim terlihat sebagai wanita yang kuat dengan pendirian masing-masing yang sulit digoyahkan. Ketiga wanita ini berusaha mempertahankan harga diri masing-masing, dengan berbagai cara, yang akhirnya malah menjerumuskan mereka pada penderitaan lain. Saat kita mampu mengakui kelemahan diri, jalan menuju kedamaian hidup pun tercipta. Ketiga wanita ini contohnya.
Ji Sun Woo yang tidak lagi memiliki keluarga, hanya punya Joon Young sang anak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keberadaan sang anak di sisinya. Keinginannya ini diwujudkan dengan berbagai cara, mulai dari memastikan Tae Oh sang mantan suami menjauh dari hidup anaknya (dengan membuat sandiwara yang hampir menewaskan dirinya), melabrak pembuat gosip yang mengganggu pikiran anaknya (yang ujung-ujungnya justru membuat sang anak malu), menyalahkan rekan psikiaternya karena menyembunyikan konsultasi yang dilakukan Joon Young sampai membela anak sepenuh hati tanpa pernah paham masalah yang menimpa anaknya serta mengatur seluruh aspek kehidupan si anak.
Ketika Joon Young muak dan akhirnya memilih tinggal dengan sang ayah, barulah Sun Woo terpuruk. Ia pun mencari bantuan ke psikiater. Sayangnya, di sini Sun Woo masih menyalahkan dirinya sendiri yang berujung dengan keputusasaan yang kembali hampir merenggut jiwanya. Pada episode final, ketika Joon Young yang kembali tidak tahan dengan sang ibu memilih melarikan diri, Sun Woo menyerah dan mengakui kesalahan dirinya. Selama ini ia selalu berusaha mempertahankan banyak hal namun tidak tahu apa yang sebenarnya penting untuk dirinya. Kali ini, Sun Woo membiarkan Joon Young dengan kehidupan barunya (dan cukup melihat dari kejauhan) dan menunggu sampai anaknya itu siap kembali ke pelukannya.
Yeo Da Kyung terus memiliki kecurigaan akan kelakuan suaminya, Tae Oh. Da Kyung curiga Tae Oh masih berhubungan dengan mantan istrinya, Sun Woo. Da Kyung bahkan menugaskan salah satu karyawan Tae Oh untuk memata-matai suaminya itu. Berbagai bukti yang diterima dari si karyawan, peringatan Sun Woo bahkan Ye Rim, yang terus menyebutkan tentang kelakuan Tae Oh yang tidak akan pernah berubah tidak digubrisnya. Salah satu langkah yang dilakukan Da Kyung untuk menyelamatkan pernikahannya adalah membawa Joon Young, anak Tae Oh dan Sun Woo, ke rumahnya. Da Kyung bahkan menyelamatkan Joon Young dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah demi membuat Tae Oh terkesan.
Da Kyung juga masih memberi Tae Oh kesempatan walau suaminya telah mengakui berselingkuh dengan Sun Woo. Ia melakukan apapun demi mempertahankan imej pernikahan yang sempurna. Namun, semuanya jatuh ketika Sun Woo kembali memperlihatkan pada Da Kyung seperti apa pribadi asli Tae Oh. Saat itu juga Da Kyung menyadari kebodohannya, dan memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan Gosan (untuk kedua kalinya). Memulai kehidupan barunya, Da Kyung kembali ke bangku kuliah dan melupakan cinta untuk sementara waktu.
Go Ye Rim adalah perempuan lain yang berusaha keras mempertahankan pernikahannya. Saya sempat kesal melihat perempuan ini mau saja menjadi bulan-bulanan suaminya. Je Hyuk, sang suami, terang-terangan memuji wanita lain di hadapan Ye Rim. Je Hyuk bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya didengar sang istri. Je Hyuk memperlakukan Ye Rim seperti pembantu, dan tidak pernah mau mendengar keinginan sang istri. Ye Rim pun bukan tidak tahu semua kelakuan sang suami di belakangnya, namun ia memilih bertahan. Ketika Je Hyuk berselingkuh dengan Sun Woo pun, dengan pongahnya Ye Rim mengatakan pada Sun Woo kalau hal itu tidak akan menghancurkan pernikahannya.
Penyesalan pertama Ye Rim muncul ketika Je Hyuk yang tidak pernah menginginkan kehadiran anak, tiba-tiba saja menyetujui keinginan sang istri memiliki anak. Kebahagiaan Ye Rim bersifat sementara, karena di tengah-tengah euforia proses persiapan memiliki anak, Ye Rim kembali mengetahui sang suami selingkuh. Saat itulah Ye Rim memutuskan bercerai. Je Hyuk yang tidak ingin kehilangan Ye Rim, terus berusaha mendekati mantan istrinya itu sampai akhirnya mereka menikah kembali. Namun, sejarah perselingkuhan Je Hyuk membuat Ye Rim trauma dan memilih meninggalkan Je Hyuk (dan Gosan) selamanya. Melalui episode terakhir, terlihat Ye Rim bahagia dengan keputusannya ini, dan sang mantan suami malah sepenuhnya belum bisa move on.
Setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya dan Terkadang Karma itu Nyata Adanya
Melihat Lee Tae Oh terpuruk di episode 15 dan 16 pasti membuat semua penonton TWOTM bersorak gembira, saya salah satunya haha. Laki-laki yang sudah memiliki segalanya, dan melepas semua namun pada akhirnya tidak bisa sepenuhnya melepaskan kehidupan yang sudah ditinggalkannya ini benar-benar bikin emosi. Maunya apa? Sebelumnya sudah punya keluarga yang sempurna, namun ditinggalkan. Keluarga baru yang dimilikinya pun tak kalah sempurna, tapi masih saja ingin memiliki keluarga yang lama. Kan maruk ya. Sempat terpikir apakah pria ini akan menerima karmanya, karena setiap episode kok malah semakin jemawa dan enggak tahu malu ya. Namun akhirnya episode 15 memberikan jawabannya, Tae Oh kehilangan semua yang dimilikinya dalam satu hari. Salah satu adegan yang paling memorable buat saya ketika ia memungut uang yang dilemparkan Sun Woo, sungguh harga dirinya sudah jatuh ke titik terendah.
Kehidupannya semakin menyedihkan di episode 16, ketika ia memohon kepada Sun Woo untuk menerima dirinya kembali. Konsisten enggak tahu malu sampai episode terakhir ya pria ini. Namun, kepergian Joon Young akhirnya membuat Tae Oh sadar untuk menata kembali hidupnya. Ia mulai mencari pekerjaan dan berusaha hidup lebih baik.
Episode 9 tentu paling ditunggu-tunggu untuk semua penonton drakor ini yang kesal banget sama Da Kyung. Kali pertama Da Kyung mengetahui kalau sang suami, Tae Oh, masih terobsesi pada mantan istrinya. Penggambaran adegannya pun persis sama ketika Sun Woo mengetahui perselingkuhan suaminya dulu di episode 1. Da Kyung yang terus mengabaikan semua peringatan orang tentang perangai Tae Oh yang tidak mungkin berubah (once a cheater, always a cheater), akhirnya merasakan akibatnya.
Walaupun banyak penonton mengutarakan kekecewaan mereka akan ending drama ini yang dinilai menguntungkan Da Kyung, mengingat ia mendapat kesempatan kembali ke bangku kuliah dan ditaksir cowok tampan pula, namun saya justru berpikir sebaliknya. Masa muda Da Kyung yang seharusnya menyenangkan, malah hancur karena bertemu Tae Oh. Da Kyung harus menerima kenyataan menjadi dewasa lebih cepat, memiliki anak sekaligus bercerai di usia muda. Saya pikir konsekuensi itu cukup berat untuk seorang perempuan yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, namun menghancurkannya karena salah mengambil keputusan.
Walaupun kelihatannya hidup Son Je Hyuk baik-baik saja setelah berpisah (kedua kalinya) dengan sang istri, Yerim, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Je Hyuk tersiksa. Salah satu adegan di episode terakhir memperlihatkan Je Hyuk mengamati kue kesukaan sang mantan istri cukup lama. Ini sejalan dengan pernyataan Je Hyuk di salah satu episode, pria tidak akan mudah melupakan cinta yang datang sebelumnya. Walaupun saat mengatakannya, Je Hyuk merujuk pada kondisi Tae Oh, tapi di episode 16 ini terlihat kalau sebenarnya kata-kata itu lebih cocok disematkan untuk dirinya.
Je Hyuk memang memiliki banyak ucapan yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada episode awal, pria ini juga menyebutkan tentang pria yang tidak mungkin bisa hidup dengan satu perempuan saja. Nyatanya, saat Yerim minta cerai pertama kali, Je Hyuk langsung tertekan dan kemudian berusaha memenangkan hati Ye Rim. Kim Young Min (pemeran Son Je Hyuk) memang sangat baik berakting sebagai pria playboy yang berhati Rinto, tidak heran kalau tahun 2020 ini ia pun menyabet nominasi Baeksang untuk kategori Best Supporting Actor.
Jadi, hati-hati dengan ucapan ya.
Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Jahat (atau Baik)
Tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau baik di drama ini, termasuk Sun Woo. Namun, kudos terbaik saya berikan untuk dr. Sul Myung-Sook! dr Sul yang merupakan rekan Sun Woo di rumah sakit ini sejak episode satu sudah terlihat bermuka dua, kalah pokoknya ular. Sun Woo sampai bilang kalau temannya ini seorang agen ganda, terlihat mendukung Sun Woo namun di belakangnya, siap menjatuhkan. Perempuan ini pun konsisten melakukan peran agen ganda ini selama sembilan episode pertama, benar-benar definisi orang paling cari aman sedunia. Pokoknya apa yang akan dia lakukan, tergantung situasi mana yang menguntungkannya.
Episode 10 mengubah semuanya.
dr. Sul yang tertarik menggantikan posisi Sun Woo sebagai associate director di Rumah Sakit, tersinggung dengan ucapan dr. Kong (pemimpin rumah sakit) yang menolak permohonan naik jabatannya. Menurut dr. Kong, dr. Sul harus ingat kalau perempuan tidak seharusnya memiliki ambisi yang berlebihan, apalagi kalau single, tidak ada orang lain pula yang harus dinafkahi. Padahal, sebelumnya dr. Kong menawarkan posisi yang sama pada dr. Kim yang juga single, namun karena pria jadi dianggap lebih cocok memegang posisi tinggi.
Selepas kejadian itu, terlihat dr. Sul mengalami perubahan karakter. Ia mulai berempati pada Sun Woo yang harus menanggung stigma perempuan bercerai, karena dirinya pun memiliki stigma perempuan lajang yang ditempelkan padanya. Beberapa episode selanjutnya menunjukkan dr. Sul yang lebih positif dan bahkan memiliki teman kencan. Salah satu adegan yang saya sukai ketika dr. Sul minum-minum dengan Sun Woo dan Ye Rim (dimana keduanya telah bercerai), dia senang sekali karena akhirnya punya teman-teman yang lajang haha.
Berikut beberapa kata-kata yang diucapkan dr.Sul untuk Sun Woo dan Ye Rim.
Saat Pernikahan Berakhir, Hubungan itu Tetap Ada dan (ketika ada) Anak Akan Menjadi Korban
Sesuai dengan judul drakor, The World of the Married, cerita yang disuguhkan di dalam drama ini semuanya terpusat pada dunia pernikahan. Awal cerita memang banyak fokus pada kemelut cinta segitiga Sun Woo - Tae Oh - Da Kyung, lalu merembet ke hubungan rumah tangga Ye Rim dan Je Hyuk, kemudian melebar ke beberapa hubungan tidak sehat. Seperti pernikahan Ketua Choi yang dipertahankan sang istri walau ia tahu suaminya selingkuh, hubungan pacaran Park In Kyu dan Min Hyun Seo yang penuh kekerasan emosional sampai kehidupan dewasa lajang yang diwakili oleh dr. Kim dan dr. Sul.
Saat Sun Woo dan Ye rim memutuskan bercerai, bukan berarti hubungan mereka dengan sang mantan suami putus. Sebaliknya, ikatan itu tetap ada.
Ketika memiliki anak, maka relasi itu semakin nyata adanya dan tidak akan terputus. Satu ungkapan yang saya ingat, ada sebutan mantan istri atau suami, tapi tidak ada sebutan mantan ayah, ibu bahkan mantan anak. Sun Woo dan Tae Oh terus mengalami naik-turun hubungan karena adanya Joon Young di antara mereka. Mereka berdua berebut menunjukkan siapa yang pantas menjadi wali Joon Young, tanpa menyadari sang anak memiliki luka yang dalam
Luka pertama ditunjukkan Joon Young ketika Sun Woo melarikannya jauh dari ayahnya. Joon Young yang selama ini memang lebih dekat dengan sang ayah tentu saja protes. Tanpa berusaha memahami alasan Joon Young, Sun Woo malah merasakan ini sebagai ancaman akan kehilangan hak asuh sang anak, Ujungnya, seperti saya ceritakan sedikit di atas, Sun Woo merancang skenario yang membuat Tae Oh kehilangan hak asuh sekaligus hak mengunjungi.
Luka berikutnya terus terjadi karena hubungan Sun Woo dan Tae Oh yang tidak stabil. Tanpa mereka berdua sadari, Joon Young harus menghadapi konflik batin tersendiri. Semakin mendekati episode final, semakin terlihat nyata kalau Joon Young adalah korban sebenarnya dari perseteruan ayah dan ibunya.
Jeon Jin Seo si aktor cilik yang sangat baik memerankan konflik internal anak korban perceraian
karena itu, akhirnya...
Anak Juga Manusia
Walaupun anak berbeda usia jauh dengan orangtuanya, bukan berarti mereka tidak paham akan masalah yang menimpa kedua orang tuanya. Joon Young pertama kali mengungkapkan kekesalannya pada kedua orangtuanya ketika Sun Woo dan Tae Oh dipanggil ke sekolah karena laporan kekerasan yang dilakukan Joon Young (episode 13). Alih-alih mencoba memahami apa yang terjadi pada sang anak, baik Sun Woo maupun Tae Oh sama-sama tidak sabar mencoba mencari tahu penyebab sang anak melakukan kekerasan tersebut.
Sebelumnya, dalam episode-episode awal, diceritakan Joon Young tidak pernah punya pilihan dalam berbagai kesempatan. Sun Woo selalu memilihkan kegiatan untuknya, sementara sang ayah tidak memiliki hak bicara sama sekali ketika Sun Woo sudah bertitah. Pada episode akhir, terlihat Sun Woo pun masih memilihkan pakaian untuk Joon Young. Namun karena hubungan mereka yang membaik, Sun Woo akhirnya mengalah dan mengatakan Joon Young dapat membeli pakaiannya sendiri.
Hubungan yang baik antara Sun Woo dan sang anak, Joon Young, tentu tidak tercipta begitu saja. Semua dimulai ketika Sun Woo jujur menceritakan permasalahan dirinya. Tidak bersikap diktator seperti biasanya, Sun Woo memperlakukan Joon Young sebagai teman. Perlakuan ini pun terus diterapkannya ketika ia meminta pendapat Joon Young. Ia menyerahkan keputusan penting, yang juga terkait akan hidupnya sendiri, ke tangan sang anak.
Penting sekali untuk orang tua menyadari, kalau anak juga manusia. Mereka memiliki keinginan dan aspirasi sendiri. Awalnya memang berat untuk orangtua menyadari kalau keinginan anak mungkin tak sejalan dengan keinginan mereka, namun pada akhirnya, kepercayaan sang anak adalah taruhannya. Saat orangtua memperlakukan anak sebagai rekan satu level, saat itulah sang anak juga akan menghargai orangtuanya.
Pada akhir drama ini, Joon Young kembali terpuruk ketika melihat ibunya tidak dapat memenuhi janjinya. Sang ibu yang sudah berkata hubungannya dengan sang ayah berakhir ternyata masih terlihat gamang, dan akhirnya Joon Young memutuskan untuk melarikan diri. Lepas dari kekalutan hubungan kompleks ayah dan ibunya.
Masih banyak banget sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari drama ini, tapi nanti tulisan saya jadi essay ya haha. Satu yang pasti, pantas sekali untuk drakor ini memegang rating tertinggi pada setiap episodenya, terutama episode akhir. Episode akhir mengandung banyak sekali petuah-petuah hidup yang sampai saya menulis ini saja membuat saya banyak berpikir.
Terutama ini:
Ngena banget ini kata-kata :(
Satu yang pasti, kita tidak pernah tahu perjuangan setiap orang. Dalam hidup, lakukan saja yang terbaik. Ikuti petuah istri ketua Choi berikut agar hidup (sedikit) lebih tenang, enggak perlu misuh-misuh ngomongin orang kalau diri sendiri saja masih punya banyak masalah.
Kalau Anda sendiri, apa yang terkenang dari drama ini?