Showing posts with label kulwap. Show all posts
Showing posts with label kulwap. Show all posts

Thursday, September 3, 2020

Alasan Menulis Blog Versi Astiwisnu.com

 

alasan menulis blog

Sudah cukup lama tema alasan menulis ini muncul di pikiran saya, tapi selalu urung untuk menuangkannya. Mungkin karena saya sendiri merasa masih kurang banyak menulis, sepertinya kok belum pantas ya menuliskan alasan menulis saya kalau belum punya banyak pengalaman.  

Padahal sebenarnya, menulis itu banyak manfaatnya dan tidak perlu memiliki bakat khusus untuk memulai. Menulis manual, cukup mengambil selembar kertas dan pulpen/pensil lalu mulai menggoreskan isi pikiran. Lebih mudah lagi, mengingat hampir semua orang memiliki ponsel, membuka ponsel dan mulai menulis - di notes, aplikasi percakapan, status sosial media, apa saja.


Minggu ini, saya baru saja dapat ilmu keren terkait Mahir Menulis dan Editing Blog. Judulnya memang mahir menulis dan mengedit, tapi sebelum sampai sana, tentu harus tahu dulu alasannya mulai menulis.

Alasan Menulis untuk Diri Sendiri 


Untuk saya sendiri, alasan menulis ini lebih banyak mendominasi. Saya memulai untuk kembali akrab dengan hobi masa kecil ini sejak dua tahun terakhir. Entah mengapa, dorongan untuk membagikan cerita dan lebih bagus lagi apabila ada pengalaman nyata yang terselip di dalamnya begitu besar.

Kutipan di bawah ini cocok sekali untuk saya:

Kutipan alasan menulis untuk diri sendiri

lebih baik menulis untuk diri sendiri dan tidak memiliki pembaca, daripada menulis untuk orang lain namun kehilangan diri sendiri

Sebuah tamparan banget ya, ternyata sebaiknya alasan menulis sangat baik apabila dimulai untuk kepentingan diri sendiri. 

Kenapa juga kita harus menulis untuk diri sendiri?

Melepaskan Penat


Dear Diary,

Duh, masih ingat enggak sih masa kecil ketika menuliskan curhatan sehari-hari di buku rahasia yang kalau sampai ada yang baca, rasanya ingin mati saja? 😆

Sebenarnya, semakin dewasa justru kehidupan semakin kompleks dan lebih banyak hal yang bisa diceritakan. Anggap saja seperti curhat, tapi dibagikan ke ranah publik. Siapa tahu ada yang pernah mengalami kejadian yang sama bisa memberi saran atau sekadar tebar pukpuk.

Menyalurkan Hobi


Salah satu alasan menulis saya adalah menyalurkan hobi masa kecil yang terlupakan ketika beranjak dewasa. Padahal dahulu kala, tugas mengarang ketika mata pelajaran Bahasa Indonesia tiba adalah momen kesukaan saya. Duh, bisa panjang lah tulisannya. Saya ingat, guru dan teman SMA saya pernah terkejut dengan imajinasi saya saat mengarang bebas dengan tema 'kehilangan'. Ketika banyak teman-teman sekelas bercerita mengenai bentuk kehilangan fisik akan benda atau seseorang, saya bercerita tentang impian yang pupus. 

Berat banget ya untuk ukuran anak SMA 😅

Nah, siapa tahu hobi kamu dulu menulis dan sekarang karena banyak kesibukan yang melanda, jadi terlupakan. Ayo segera buka ponsel dan mulai menuliskan apa saja yang sedang dipikirkan otak saat ini. Tidak masalah apabila awalnya hanya dipenuhi dengan rutinitas rumah tangga atau pekerjaan misalnya, karena pengalaman nyata sehari-hari lebih seru untuk dibagikan dan dibaca juga lho.

Membagikan Pengalaman



Nah, pengalaman nyata sehari-hari ini membawa kita masuk ke alasan menulis untuk diri sendiri yang ketiga. 

Pengalaman adalah Guru Terbaik


Sering dengar kan istilah tersebut? 

Saya sendiri termasuk seseorang yang senang mencari ulasan tentang sesuatu hal melalui tulisan-tulisan di blog orang-orang.  Seperti saat ini ketika tengah mempersiapkan kelahiran saat masa pandemi, saya sering blogwalking tema-tema terkait 'pengalaman melahirkan di masa pandemi' atau 'pengalaman mencari lokasi persalinan di saat pandemi'. Spesifik pengalaman karena saya mau tahu secara real apa yang terjadi dan bisa lebih mempersiapkan diri.

Baca juga: Hamil di Masa Pandemi 

Jadi, jangan ragu untuk membagikan pengalamanmu ya. Banyak yang menunggu di luar sana. 

Sebagai Sarana Dokumentasi


Alasan menulis paling mudah dilakukan, dokumentasi sebuah momen, bisa perjalanan, acara atau kegiatan. 

Saya termasuk pelupa, karenanya saat mempersiapkan segala sesuatunya tuh harus detail dan terperinci. Namun, walaupun sudah dilakukan berulang-ulang (mis. mau melakukan perjalanan bisnis), selalu ada yang terlupa. Akhirnya browsing lagi terkait 'tips melakukan perjalanan bisnis yang efektif' atau tanya-tanya orang/teman sekantor.

Nggak efektif banget kan? Apalagi metode satu orang dengan yang lain bisa berbeda.

Solusinya? Tuliskan pengalaman melakukan perjalanan bisnis yang terakhir kali dilakukan, sedetail mungkin kalau bisa, sehingga setidaknya bisa jadi pengingat untuk diri sendiri.

Syukur-syukur ada yang butuh juga yaa...


Nah, adakah salah satu alasan menulis untuk diri sendiri yang sesuai untuk kamu?


Kutipan Alasan Menulis

Alasan Menulis untuk Orang Lain


Dunia saat ini ketika segala sesuatu dapat menjadi konten, sudah lumrah sebenarnya ya ketika seseorang menulis untuk orang lain. Walaupun sebenarnya ini bukan hal yang baru, surat kabar apa kabar, namun sekarang menjadi semakin mudah prosesnya. 

Saya sendiri tidak menampuk keinginan untuk menulis untuk kepentingan lain, apabila kalau demia cuan yaa 😎



Demi Cuan


Tentu saja alasan menulis pertama yang muncul ketika ditanya 'kenapa sih mau menulis untuk orang lain?'

Seperti sudah disinggung sebelumnya, dunia konten sekarang semakin berkarya. Siapa saja dapat membuat konten di bermacam platform, siapa saja bebas mengemukakan pendapat/ulasan/komentar sesuka hati. Jadi, kenapa tidak sekalian dimaksimalkan?

Brand-brand besar juga diuntungkan dengan sistem ini. Mereka dapat mengeluarkan biaya marketing yang sama namun dengan hasil yang lebih berdampak.

Bayangkan: membuat satu acara besar di TV dengan dampak penonton menyaksikannya sekali saja atau memberikan produknya pada para content creator secara berkala untuk di-posting sehingga calon pengguna dapat melihatnya muncul berkali-kali di timeline

Jangan remehkan 'the power of word of mouth' 👍


Membagikan Pengalaman Orang Lain


Walaupun menulis itu buat semua orang dan tidak memerlukan bakat khusus untuk melakukannya, namun untuk berbagi cerita yang baik tentu dibutuhkan teknik tersendiri. Bandingkan membaca karya tulis seorang penulis kenamaan dengan mereka yang baru kenal PUEBI, pasti terasa beda sekali kenyamanannya.

Demikian juga ketika seseorang memiliki kisah menarik untuk dibagikan, dan orang tersebut juga tidak keberatan apabila ceritanya dibagikan, namun ia tidak dapat menuangkannya dalam kata-kata. Bingung memulai dari mana, tidak tahu bagian mana yang harus diceritakan atau kasus paling ekstrem - takut menuliskannya karena akan membuatnya mengingat semua pengalaman tersebut sehingga tidak akan pernah menyelesaikannya.

Coba tengok kanan dan kirimu, mungkin ada kisah-kisah menarik dari orang yang kita kenal untuk dibagikan. 


Sarana Menyerap Ilmu Baru


Saat kita mulai menulis untuk kepentingan orang lain - entah itu klien atau menceritakan pengalaman teman - mau tidak mau ada banyak hal yang akan kita serap dari kegiatan ini.

Diminta menulis terkait tema keuangan, padahal sebelumnya topik ini sama sekali tidak pernah tersentuh. Diminta menceritakan ulang kasus teman yang mengalami PCOS, karena kita belum familiar dengan gangguan hormon ini, mau tidak mau harus mencari tahu dulu sebelumnya agar tulisan kita juga lebih bermakna.

Seru kan? Setiap melakukan kegiatan menulis, satu ilmu baru terserap.


Terpaksa Sosialisai


Eh, kok terpaksa?

Habis, dunia tulis menulis itu kan sebenarnya dunia yang sunyi. Hanya ada diri kita dan pikiran. Ketika harus menulis untuk orang lain, mau tidak mau harus banget bertemu orang dan mau tidak mau berperilaku seperti makhluk sosial yang beradab.

Terbukalah jaringan pertemanan yang pada akhirnya membuka pintu pada banyak kesempatan untuk menulis lebih sering lagi. 


Kenapa menulis



Sudah diberikan berbagai macam alasan menulis tapi belum juga tergerak untuk mulai menulis?

Jangan khawatir, mungkin insight dari Monica Anggen yang baru berbagi materi keren yang sempat saya singgung di atas bisa membantu atau menguatkan alasan menulis teman-teman.



Apapun Alasan Menulis, Pilih Satu yang Terkuat


Alasan yang paling banyak mencuat untuk motivasi menulis menurut Mbak Monica sudah saya tuliskan di atas: Uang dan Keinginan Berbagi.

Tidak ada yang salah dengan kedua motivasi tersebut, namun perlu diingat untuk memilih satu saja yang dirasakan paling kuat dan mewakili diri. Nantinya, satu hal ini akan selalu menjadi pengingat diri ketika menemui hambatan dan tantangan di jalan.

Untuk saya, sempat terpecah antara membagikan pengalaman dan sarana dokumentasi, karena agak mirip ya keduanya. Namun semakin ke sini, saya semakin condong ke sarana dokumentasi - ini berarti saya mencoba sedetail mungkin saat berbagi informasi (kalau bisa dengan foto dan bukti-bukti kegiatan) sehingga saat malas menyerang, saya ingat lagi tujuan menulis saya ini. Agar 5-10 tahun ke depan saya masih bisa mengingat momen-momen yang telah berlalu.


Pentingnya Menuliskan Ulang dan Perbanyak Referensi


Mau bercerita tentang pengalaman jalan-jalan ke Singapura kok sudah banyak yang cerita ya?
Harus mengulas satu produk tertentu tapi hanya dikasih panduan dari brand sebanyak satu halaman saja?

Membuat malas banget untuk mulai menulis ya. Kasus pertama sudah melemahkan di awal, karena berpikir enggak akan banyak yang baca. Sementara kasus kedua membuat kita jadi menuliskan saja apa adanya dari panduan dengan pengulangan beberapa kalimat (atau paragraf).

Sayangnya, kedua hal tersebut sebenarnya bisa dicegah. Mbak Monica menekankan pentingnya banyak-banyak mencari referensi terkait topik yang akan ditulis kemudian tuliskan dengan gaya kita. Setiap manusia berbeda, sehingga walaupun pengalaman yang didapat sama - tentu apa yang dirasakan dan dipikirkan pasti tidak 100% identik.





Menulis fiksi atau non fiksi



Menulis Fiksi atau Nonfiksi?


Mbak Monica sudah banyak sekali memiliki karya-karya tulis yang telah terbit dalam bentuk buku, baik berupa tulisan fiksi atau nonfiksi.

Mengutip dari laman Goodreads Monica Anggen, setidaknya ada 28 buku yang terpajang di sana. Walaupun Mbak Monica bilang lebih sering menulis buku nonfiksi, tapi nyatanya buku-buku fiksi beliau juga banyak sekali (dan saya sudah tertarik dengan beberapa judul - langsung masukin daftar TBR 😄)

Beberapa judul buku miliknya antara lain:

  • Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh...!
  • Yakin Selamanya Mau Di Pojokan?!
  • 99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes
  • 99 Cara Mengasah Intuisi ala Sherlock Holmes
  • 99 Cara Perbedaan Mengelola Waktu Miliarder vs Orang Biasa
  • 99 Cara Bangkit dari Keterpurukan Miliarder vs Orang Biasa
Mengingat Mbak Monica aktif menulis baik fiksi maupun nonfiksi, simak sedikit yuk alasan mengapa harus menulis fiksi atau kenapa fokus di nonfiksi saja juga bisa.

Alasan Menulis Fiksi


Buku The Empty Heart



Aku tidak tau rasa itu datang. Kita seperti dua kutub magnet yang bersebrangan. Saling tolak menolak sekaligus selalu berusaha untuk tarik - menarik . Aku sama sekali tidak bisa melepaskan tatapanku darimu Aku tidak bisa membiarkanmu menghilang dari pandanganku. Karena ketika itu terjadi... Maka hatiku terasa kosong. - Jang Geun Seok -


Sebagai pecinta drama Korea, membaca blurb novel di atas tentu langsung tertarik dong. Apalagi ketika Mbak Monica cerita tentang alasannya menulis fiksi untuk kepuasan pribadi, saya sungguh setuju dengan pendapat ini.

Saya sendiri memulai rajin menulis novel dengan gaya bercerita fanfiction (tokoh di dalam cerita adalah selebritas ternama). Saat itu rasanya bahagia banget kalau ada sesama fans dari tokoh yang saya ceritakan ikut komentar. Rasa yang sama saya pertahankan saat mulai menulis novel dengan cerita yang saya buat sendiri. 

Bagaimana ya menciptakan sebuah dunia yang orang lain bisa related dan membuat mereka komentar 'duh, gue banget nih?'

Komentar-komentar seperti itu adalah pengalaman tertinggi yang bisa saya nikmati sebagai penulis cerita fiksi. 


Alasan Menulis Nonfiksi



99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes



Buku '99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes' keluaran tahun 2015 ini menerima paling banyak ulasan di Goodreads. Membuat saya penasaran akan isinya, banyak banget habisnya sampai 99 hal dibahas.

Melihat dari cerita dan riwayat buku karya Mbak Monica, memang area nonfiksi mendominasi. Bisa jadi, karena memang banyaknya permintaan akan buku-buku sejenis dari penerbit. Tidak banyak penulis yang dapat menuliskan buku nonfiksi dengan gaya bertutur yang enak dan tidak terkesan menggurui.

Mungkin itu kuncinya.

Alasan menulis buku nonfiksi haruslah mampu membuat pembacanya dapat menyelesaikan keseluruha buku dan mengambil intisarinya, tanpa keburu jatuh tertidur di tengah-tengah buku (atau saat baru saja membuka kata pengantar).



Semoga dengan membaca sharing dari kelas Mbak Monica tersebut, teman-teman jadi memiliki motivasi menulis yang kuat ya saat ini.

Yuks, mari sama-sama mulai menulis.



 

Sunday, August 9, 2020

Merawat 'Inner Child' Sebelum Menjadi Ibu

 

Inner Child
Menjadi seorang Ibu adalah memulai perjalanan baru dengan memiliki rute yang belum pernah dilalui sebelumnya, tidak ada petanya dan tidak akan ada bocoran seperti apa lika-liku perjalanan yang akan terjadi nantinya. 

Pembahasan tentang inner child cukup populer beberapa tahun kebelakang. Cukup beruntung saya bergabung dengan support group birth club October 2020 yang rajin banget bikin kulwap, dimulai dari sesi pertama tentang 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu' yang dilakukan melalui metode kuliah whatsapp.

Narasumber psikolog handal Mbak Widya S Sari kali ini membagikan ilmu dan menjawab antusiasme calon ibu serta ibu-ibu yang haus ilmu dan ingin memperbaiki diri.


Apa itu Inner Child?


Inner child merupakan akumulasi peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk pribadi mereka hingga dewasa - Psychology Today 

Bahasa lugas yang cepat dimengerti oleh kaum awam adalah sisi kekanak-kanakan yang dimiliki seseorang - kepribadian seseorang yang berlaku dan terasa seperti anak kecil. 

Mbak Widya sendiri menuliskan pengertian inner child adalah bagian dari konsep diri yang terbangun di masa kecil. Konsep diri ini kemudian menetap di alam bawah sadar dan berperan dalam menentukan bagaimana seseorang akan merasakan dan memberikan respon akan satu kejadian.

Masa kecil yang telah kita lalui tidak begitu saja kita tinggalkan di masa lalu. Sekecil apapun, masa-masa tersebut telah meninggalkan 'jejak'.


Inner Child


 Inner Child yang 'Terluka'


Jejak yang ditinggalkan dari masa kecil ini baru dapat terlihat ketika kita beranjak besar, atau malah sudah menetap sebagai bagian dari kepribadian sebagai orang dewasa. Jejak ini sebenarnya adalah luka yang disebabkan oleh trauma-trauma yang terjadi di masa kecil tadi. Jangan bayangkan suatu gangguan psikologis yang luar biasa dahulu ketika mendengar kata 'trauma', namun lihatlah akan perilaku-perilaku maladaptif yang terlihat selama ini.

Perilaku tersebut dapat saja berupa agresivitas, ketergantungan akan orang lain, persepsi diri yang negatif, harga diri rendah, suasana hati tidak stabil, emosional bahkan sesimpel adanya masalah dengan nafsu makan.

Perilaku-perilaku tadi dapat memicu masalah yang lebih besar lain, seperti:

  • Krisis identitas
  • masalah komitmen
  • melukai diri sendiri
  • Pelaku kriminal

  • Melakukan kebohongan berlebihan

Pangkal yang dapat ditarik dari trauma yang terjadi di masa kecil, bisa jadi:

Kehilangan orang tua · Kekerasan fisik atau kelalaian · Penyalahgunaan atau pengabaian emosional · Pelecehan seksual · Penyakit serius · Intimidasi yang parah · Bencana alam · Perpisahan keluarga · Menjadi korban kekerasan · Penyalahgunaan zat dalam rumah tangga · Kekerasan dalam rumah tangga · Penyakit mental anggota keluarga · Merasa terisolasi dari keluarga mereka

(sumber: Tirto.id)



Trauma Inner Child



Jadi, apa dong yang harus dilakukan kalau inner child kita sudah terlanjur terluka? 😔


Mengetahui Inner Child

Pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui terlebih dahulu inner child apa yang terluka dalam diri kita.

Tipe Inner child Carl Jung


Video berikut akan menjelaskan mengenai tipe-tipe inner child yang ada




Melalui narasi video tersebut, terlihat ada enam tipe Inner Child. Dilansir dari laman Jennifer Soldner, berikut penjelasan tertulis keenam tipe tersebut:

Orphan Child



Orphan Child Archetype


Kadang-kadang disebut sebagai anak terlantar, menunjukkan dirinya sebagai orang yang cenderung mandiri sepanjang hidupnya. Seringkali memiliki riwayat merasa kesepian, ditinggalkan secara emosional, lebih suka mempelajari berbagai hal sendiri, menghindari kelompok, dan menaklukkan ketakutan mereka sendiri.

Dalam sudut pandang negatif, pola dasar anak ini dapat mendorong orang lain menjauh sehingga merugikan mereka sendiri, mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak membiarkan orang yang dicintai masuk. Mereka juga mungkin memberi kompensasi berlebihan dengan terus mencari keluarga pengganti untuk mengisi kekosongan emosional.

Wounded Child


wounded child archetype



Mereka menyimpan ingatan akan masa lalu yang penuh kekerasan atau traumatis, mungkin telah mengalami banyak pelecehan fisik dan emosional selama hidup mereka, sering kali di tangan lebih dari satu orang. Jika tumbuh dengan baik, ketika dewasa dapat memberikan belas kasih yang sangat dalam bagi orang lain yang menderita situasi yang melecehkan. Fokus mereka pengampunan serta membantu anak-anak yang terluka seperti mereka.

Namun, dalam sudut pandang negatif, anak ini mungkin tetap terjebak dalam pola pelecehan yang berulang dengan mitra, atasan, dan persahabatan. Mereka menjadi terbiasa menjadi korban dan menyalahkan semua masalah mereka pada masa lalu mereka yang tidak berfungsi.


Eternal Child


Eternal Child Archetype



Tipe anak yang selamanya muda. Menunjukkan karakteristik klasik kekanak-kanakan, menolak tumbuh dewasa, terus mencari cara yang menyenangkan dan menyenangkan untuk memandang kehidupan. Semacam Peter Pan, tipe ini bertekad untuk tetap awet muda dalam pikiran, tubuh, dan jiwa, dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dalam pandangan negatif, anak ini mungkin menjadi tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diandalkan, tidak mampu melakukan tugas orang dewasa. Mereka mungkin berjuang dengan batasan-batasan pribadi yang diterapkan orang lain dan menjadi terlalu bergantung pada orang yang dicintai untuk menjaga mereka.


Magical Child


Magical Child Archetype



Mereka selalu terpesona akan diri dan melihat dunia dengan berbagai kemungkinan yang ada. Seringkali tanpa beban, pola dasar anak ini mencari keindahan dan keajaiban dalam segala hal, percaya bahwa segala sesuatu mungkin. Mereka adalah pemimpi sejati.

Namun, bila tidak seimbang, pola ini bisa tumbuh menjadi pesimis dan tertekan. Keyakinan mereka dipadamkan dan mereka menjadi sinis terhadap hal-hal yang pernah mereka impikan. Mereka mungkin juga mundur ke dunia fantasi, mempelajari permainan peran, buku, atau film, kehilangan kontak dengan kenyataan dan mengambil sedikit tindakan dalam kehidupan sehari-hari.


Divine Child


Divine Child Archetype


Mereka mencolok akan kepolosan, kemurnian, dan kualitas yang hampir seperti Tuhan. Mereka memiliki keyakinan akan pengampunan dan sering kali terlihat beragama. Pola dasar anak ini mungkin tampak mistis dan surealis. Beberapa memilih pola dasar ini untuk diri mereka sendiri karena mereka tidak percaya mereka memiliki kemampuan ini di dalam diri, padahal bisa saja kekuatan ini ada, menunggu keseimbangan untuk mencapai potensi yang sesungguhnya.

Karakteristik negatifnya mungkin terasa lebih familiar. Pola dasar ini sering kali diliputi oleh energi negatif dan merasa tidak mampu membela diri. Mereka mungkin mudah marah dan tidak bisa mengendalikan diri saat menghadapi kejahatan, membuat mereka kehilangan kendali dan menakuti diri sendiri.


Nature Child


Nature Child Archetype



Pola dasarnya selalu terasa terkait dengan tumbuhan, hewan, dan bumi di sekitarnya. Mereka merasa paling nyaman saat dikelilingi oleh binatang dan mungkin memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam. Pola dasar ini sangat tertarik pada pemandu roh binatang dan sering memimpikannya.

Sisi lain mereka menyerang secara fisik pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin melecehkan hewan, tumbuhan, dan bahkan manusia. Terlepas dari hubungan mereka yang dalam, tipe ini menggunakan alam sebagai hukuman daripada kegembiraan

Tipe Inner Child yang Mana kah Kamu?


Setelah membaca semua penjelasan di atas, biasanya sudah ada gambaran diri kita tergolong inner child yang mana ya. Sehingga terlihat jelas perkiraan peristiwa di masa kecil yang menjadi 'trauma' untuk diri yang terbawa sampai besar. 

Namun, apabila belum yakin atau perlu memantapkan diri, bisa coba tes berikut untuk mengetahui tipe inner child kita:



Nah, sekarang semoga sudah ketahuan ya tipe Inner Child kamu.

Sekarang, kalau sudah tahu, untuk apa dong?


Berdamai dengan Inner Child


Berdamai dengan Inner Child


Balik lagi ke tema tulisan terkait 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu', setelah tahu kira-kira akar masalah kita apa, sekarang tentu saatnya 'merawat' atau 'berdamai' dengan inner child tersebut. Jangan sampai perilaku maladaptif yang muncul akan mengganggu hubungan dengan sang buah hati kelak kan yaaa...

Ada beberapa pilihan untuk berdamai dengan inner child kita.

Tetap Berpikiran Terbuka

Kamu tidak harus melihat inner child ini sebagai pribadi atau kepribadian yang terpisah. Sebaliknya, anggaplah mereka sebagai representasi dari pengalaman masa lalu. Akui, terima dan maafkan mereka apa adanya.

Bagi kebanyakan orang, masa lalu mengandung campuran peristiwa positif dan negatif. Keadaan ini membantu membentuk karakter serta memandu pilihan dan tujuan ketika beranjak dewasa dan pada akhirnya mencapai usia dewasa.

Observasi Anak-anak Kecil di Sekitar Kita

Anak-anak dapat mengajari banyak hal tentang hidup, dari menemukan kegembiraan dalam hal-hal kecil hingga hidup di saat ini.

Jika kesulitan memikirkan kembali pengalaman masa kecil yang menyenangkan, terlibat dalam permainan kreatif dengan anak-anak dapat membantu menghidupkan kembali kenangan ini.


Tinjau Kembali Kenangan Masa Kecil 

Menjelajahi ingatan dari masa lalu juga dapat membantu berhubungan dengan inner child.

Untuk melihat ke belakang, dapat mencoba aktivitas seperti membolak-balik album foto dan buku tahunan sekolah, atau membaca ulang buku harian masa kecil. Bisa juga dengan menonton film atau acara televisi dari masa kecil, atau membaca ulang beberapa buku favorit, juga bisa menjadi cara yang membantu untuk membangkitkan perasaan positif.

Jika orang tua, saudara kandung, atau teman masa kecil kamu memiliki cerita untuk dibagikan, kenangan ini mungkin membangkitkan perasaan dan kenangan yang benar-benar telah dilupakan.

Luangkan Waktu Melakukan Sesuatu yang Dulu Disukai


Saat mengenal inner child kamu, pikirkan tentang hal-hal yang membuat bahagia di masa kecil.

Mungkin bersepeda ke sungai setiap musim panas dengan teman-teman untuk berenang atau memancing. Atau mungkin menghabiskan liburan dengan membaca di loteng. Mungkin menghabiskan berjam-jam untuk kerajinan tangan, atau bermain sepatu roda lalu membeli camilan sepulang sekolah.

Sebagai seorang anak, kamu mungkin melakukan banyak hal hanya untuk kesenangan. Mungkin kesulitan mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu dalam kehidupan dewasa hanya karena itu membuat kita bahagia.

Aktivitas kreatif seperti mewarnai, mencoret-coret, atau melukis juga dapat membantu. Ketika kita membiarkan pikiran aktif beristirahat, emosi yang biasanya tidak dipertimbangkan dapat muncul.




Berbicara dengan inner Child

Salah satu cara terbaik untuk berhubungan dengan inner child adalah dengan membuka percakapan dengannya.

Menulis dapat menjadi alat yang ampuh untuk terhubung dengan inner child.

Menulis surat, atau menulis bebas tentang kenangan masa kecil, dapat membantu untuk menjelajahi pengalaman masa lalu dan memilah emosi yang terkait.

Cobalah menahan pikiran tertentu di kepala kemudian menuliskan surat atau latihan jurnal atau ekspresikan pikiran apa pun yang muncul di benak.

Kita bahkan dapat membingkainya sebagai latihan tanya jawab. Izinkan dirimu yang dewasa untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, kemudian dengarkan bagaimana kira-kira respon inner child kita.

Tetapi pikirkan latihan ini sebagai cara untuk membangun dan memperkuat ikatan antara diri kita dan sang inner child. 



Mencari Bantuan Profesional


Apabila semua telah ditempuh dan masih terasa mengganggu, memicu ketidaknyamanan atau emosi yang menyakitkan, termasuk kesedihan, kenangan traumatis, dan perasaan tidak berdaya atau takut, maka carilah bimbingan dari seorang profesional kesehatan mental.

Jika memungkinkan, carilah terapis yang berpengalaman dengan terapi inner child. 

Belajar untuk "mereparasi" inner child dalam terapi dapat membantu untuk memulai menangani dan mengatasi masalah yang ada.




 
Jadi, sudah siapkah untuk merawat inner child kita?


 





Sunday, August 5, 2018

Asyiknya Menulis (Karya) Antologi


Beruntung sekali saya akhirnya dapat merasakan bergabung dengan grup whatsapp One Day One Post (ODOP) berkat informasi dari mamah merah. Grup ODOP ini mulanya berasal dari facebook, dengan judul ODOPfor99days dimana tujuannya adalah mengajak anggotanya untuk rajin menulis, setidaknya satu hari satu tulisan yang dipublikasikan, baik lewat blog pribadi atau media daring lainnya. Tentu satu grup yang saya perlukan untuk mendukung niat saya rajin menulis.

Setelah sekitar dua bulan kalau tidak salah rajin mengikuti grup-nya, mereka memilih peserta-peserta yang konsisten menulis untuk masuk ke dalam grup whatsapp. Ada 60an peserta yang beruntung bergabung di grup whatsapp. Keistimewaan utama grup whatsapp tentunya kesempatan mengikuti kulwap (kuliah whatsapp), yang tidak didapat mereka yang hanya bergabung di facebook.

Nah Jumat malam (3/8) kemarin saya beruntung mengikuti kulwap pertama grup whatsapp dengan judul 'suka duka menulis buku antologi'.


Narasumbernya adalah Teteh Ai Sundari yang sudah memiliki banyak antologi. Teh Ai sendiri sudah menulis tujuh buku antologi, dua dengan tema dewasa (33 Kisah Me Time & Chamomile Tea For Wonderful Moms) serta lima dengan cerita anak-anak (43 Dongeng Amazing, Meraih Bintang Surga, Tahukah Kamu, Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara, Semarak Idul Adha Di 5 Benua 
Antologi sendiri menurut definisi KKBI adalah: kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. 20 Negara). Yang menarik, dua cerita anak terakhir diterbitkan oleh penerbit mayor. 
Sesi kulwap dimulai dengan tanya-jawab dari peserta yang telah dikumpulkan sehari sebelumnya. Ada tujuh pertanyaan yang telah disiapkan, saya sendiri ikut menyumbang satu pertanyaan. Pertanyaan yang ditanyakan bervariasi, dari mulai mencari ide menulis, mengatur waktu, suka duka menulis antologi sampai cara promosi yang efektif.

Teh Ai mengungkapkan hambatan utama menulis antologi adalah tenggat waktu yang mepet, biasanya sekitar dua minggu. "...saya perlu menyiasati waktu untuk menulis naskah." Terkait mengatur waktu untuk menulis Teh Ai memaparkan strateginya, "waktunya, ini yang masih tricky, hehe. Kapan saja saat sempat. Dalam batas deadline ya. Karena ide sudah terbayang biasanya saya reka dulu di kepala. Langsung tuangkan di laptop saat sempat. Biasanya malam hari saat anak saya ada yang menemani. Kirim dulu naskah lalu revisi lagi. Untuk merampungkan naskah saya targetkan 1 hari selesai. Atau bahkan semalaman." Duh kebayang ya manajemen waktunya luar biasa, di sela-sela mengurus rumah tangga lho menulisnya.

Terkait ide untuk menulis antologi, Teh Ai mengungkapkan enaknya menulis antologi karena temanya sudah diberikan. "...di awal sudah ada pembagian topik sehingga tidak terlalu sulit mencari ide. Cukup mengembangkan, mencari topik spesifik yang unik, memasukkan unsur menghibur, mendidik dan konflik dalam cerita anak," ungkap Teh Ai menambahkan terkait tema menulis. "...untuk proses kreatif, biasanya gagasan/ide muncul dari hal-hal yang sudah terjadi. Concern saya saat ini adalah menulis naskah cerita anak dengan panjang 1-2 halaman saja. Ide yang saya tuangkan dalam naskah seringkali diambil dari hal-hal yang dialami anak saya, atau saya pribadi saat kecil dan hasil pengamatan saya pada beberapa anak. Digabungkan dengan faktor pendukung di sekitar, jadilah sebuah cerita," lanjut Teh Ai terkait proses kreatif di belakang penulisan karya-karyanya.

dua karya Teh Ai - gambar dari facebook Teh Ai
Menulis antologi itu menyenangkan, setidaknya ada dua alasan yang diungkapkan Teh Ai kenapa senang sekali terlibat dalam proses antologi, sekarang malah sedang semangat-semangatnya beliau.

Proses Latihan
"...buat saya turut menulis di buku antologi itu seperti latihan, saya juga senang membaca naskah teman lain dan mendapatkan masukkan dari penulis lain. Melalui proses membaca dan direview saya belajar lebih banyak. Nah proses latihan ini saya harap bisa lebih mengasah kemampuan saya." Selain itu Teh Ai juga belajar banyak terkait Bahasa Indonesia. "Tahu bagaimana menulis sebuah percapakan yang baik dan benar, karena sebelumnya saya tidak tahu. Membuka mata saya bahwa bahasa Indonesia itu luar biasa, banyak sekali kosa katanya."

Isinya Kaya dan Unik
"...yang bikin buku antologi rich and unique justru karena gaya penyampaian cerita dari tiap penulis yang beragam. Ini membuat cerita dalam satu buku berwarna."

Kedua hal diatas membuat seluruh proses penulisan antologi menjadi berwarna dan meninggalkan kesan tersendiri untuk Teh Ai. Ada pembelajaran yang dapat diambil dari setiap karyanya. Berbicara mengenai karya antologi paling berkesan, Teh Ai mengungkapkan satu buku yang menurutnya meninggalkan kesan tersendiri baginya.

Karya ini diterbitkan penerbit mayor Ziyad
Karya yang paling berkesan adalah Semarak Idul Adha di 5 Benua - 20 Negara karena terbit mayor, yang merupakan impiannya. Full color, ilustrasinya menarik. Teh Ai mengakui bahwa ia lebih menyukai buku yang berwarna. Selain itu keuntungan penerbit mayor tentunya saat terbit, selain buku ceritanya full color, lebih menarik, dibuatkan iklan, ada tim marketing tersendiri dan penulis mendapatkan royalti. Misal untuk buku ini saja, terjual 5000 eksemplar tapi yang memesan ke penulis sendiri tidak banyak. Hikmahnya, buku tetap terjual banyak meski sebagai penulis tidak terlalu gencar promosi.

Terkait promosi, memang ada positif negatif tersendiri terkait terbit mayor atau indie. Karya indie bisa jadi lebih bagus dan lebih menguntungkan serta lebih cepat terbit. Buku-buku karya Teh Ai sendiri terbit dalam dua versi, 5 buku indie dan 2 terbit mayor. Hasil karya penulis dari indie pun sepenuhnya masuk ke kantong penulis.

Akhir kata, Teh Ai mengungkapkan untuk penulis dapat membuat dirinya dikenal, beserta dengan semua kualitas yang dimiliki. Jangan lupa ikut komunitas agar teman-teman di komunitas banyak yang ikut pesan juga. Semua ini akan berguna saat nantinya kita harus mempromosikan karya.

Teh Ai sendiri memulai perjalanan menulis antologi melalui grup ODOP lho. Keren ya. Jangan lupa kepo-in bukunya yang terbaru. Bisa pesan langsung di nomor: 0811-820-1524


Sampai jumpa di Kulwap selanjutnya ya.