Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Sunday, November 14, 2021

Persiapan Journaling menggunakan Handmade Journal Hibrkraft

 


Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat posting tentang menulis sebagai salah satu cara untuk terapi diri. Menulis dipercaya sebagai sarana pelepasan emosi yang positif, terutama apabila kita melakukannya manual di selembar kertas, bukan dengan mengetik. Selengkapnya ada di sini.

Beberapa tahun belakangan, kegiatan journaling atau menulis jurnal semakin marak dilakukan dan dipercaya sebagai cara terbaik mengevaluasi, refleksi sampai menyembuhkan diri.

Journaling helps control your symptoms and improve your mood by: Helping you prioritize problems, fears, and concerns. Tracking any symptoms day-to-day so that you can recognize triggers and learn ways to better control them.

- University of Rochester, Medical Center. 

Menulis jurnal, membantu kita merunut peristiwa yang terjadi setiap harinya. Melakukannya dengan rutin, membuat kita menyadari dan semakin memahami diri sendiri. Apa saja yang membuat saya senang, apa yang membuat saya kecewa atau sedih, atau hal apa yang akan membuat semangat saya bangkit kembali. 

Persis seperti melakukan pencatatan pemasukan dan pengeluaran sebagai salah satu langkah menerapkan perencanaan keuangan, menulis jurnal membantu kita mengetahui aspek-aspek dalam diri yang mudah sekali terlupakan apabila tidak dicatat. 

Ketika saya membaca ulang salah satu tulisan saya di jurnal, beberapa hari yang lalu ketika saya berulangtahun, saya menuliskan:

- kejutan kecil ketika mendapat ucapan selamat dari teman-teman lama, yang jangankan selama pandemi ini, jauh sebelumnya pun sudah lama tidak berhubungan,

- ucapan selamat ulang tahun dari suami dan anak tepat jam dua belas malam, sesuatu yang sudah lama sekali tidak saya dapatkan beberapa tahun terakhir (karena biasanya diucapkan pagi atau siang harinya),

Dua coretan saya ketika berulangtahun kemarin membuat saya otomatis membandingkan perasaan saya ketika ulang tahun sebelumnya. Tahun lalu saya berulangtahun tidak lama setelah memiliki bayi, masih repot sekali sampai tidak sempat merayakan dengan orang terdekat, plus pandemi juga baru berjalan. Tahun ini, sudah satu tahun adaptasi memiliki bayi dan hidup dalam pandemi, sehingga perasaan lebih santai dan hangat. 

Akan berbeda rasanya apabila saya tidak menuliskan pengalaman saya dan mengingatnya mengandalkan ingatan saja. 



Jadi apa saja yang saya siapkan sebelum mulai menulis jurnal?

Persiapan Menulis Jurnal

Untuk saya, cukup dua hal: pulpen/spidol warna-warni dan buku catatan/agenda tanpa garis (blank). Keduanya cukup untuk membuat saya semangat menuliskan, kadang menggambar, apa yang saya alami sehari-hari. Saya tidak terlalu kaku untuk jenis, merk atau tipe spidol serta agenda yang digunakan, selama terlihat nyaman pasti saya pakai. Namun saya tetap punya favorit.


Peralatan Wajib Menulis Jurnal

Pulpen Warna-warni untuk Menulis Jurnal

Saya menemukan produk ini lewat salah satu marketplace. Sempat khawatir karena kok murah banget, tetapi kemudian membaca ulasan-ulasan yang masuk, akhirnya saya coba beli.


Kedua model alat tulis di atas cukup nyaman saya gunakan. Sebelah kiri pulpen merk-nya Flower Tree buatan Cina, tintanya baik sesuai gambar, warnanya cukup terang dan tidak tembus di kertas tipis standar buku tulis/agenda. Sedangkan satu lagi adalah merk lokal, Deli, yang lebih berbentuk spidol sehingga tintanya lebih tebal dan membutuhkan agenda yang cukup tebal lembar halamannya agar warna tinta tidak menembus halaman di belakangnya.

Saya biasanya menggunakan pulpen untuk menulis, warna-warni dipakai untuk membedakan peristiwa atau memberi penekanan akan inti dari kejadian yang saya alami. Sementara spidol lebih banyak saya gunakan untuk menambahkan ilustrasi, doodling atau kalau lagi mood - coloring. Sst.. mewarnai juga memiliki manfaat hampir sama dengan menulis, membuat diri kita lebih tenang atau bahasa kerennya - regulasi emosi.

Handmade Journal Hibrkraft untuk Menulis Jurnal

Seperti saya tulis sebelumnya, saya suka menggunakan kertas kosong tanpa garis untuk menuliskan jurnal atau sekadar membuat catatan. Untuk saya, garis seperti memberikan batasan, saya jadi tidak leluasa menambahkan tulisan atau gambar. Sementara untuk ukurannya, saya suka yang tidak terlalu besar, sehingga masih cukup diselipkan ke dalam tas tangan, misalnya.



Saya punya satu agenda favorit: handmade journal Hibrkraft yang memiliki sampul terbuat dari bahan kulit kemudian halaman dalam terbuat dari kertas daur ulang. Warna cokelat kertas membuat mata adem dan nyaman saat menulis atau membaca ulang catatan. Dan entah bagaimana, kertasnya terasa empuk untuk saya, sehingga membuat sesi menulis tangan semakin lancar.

Cukup banyak produk-produk yang dimiliki Hibrkraft, pun demikian dengan jurnal. Kalau merujuk ke situs Hibrkraft, terdapat 30 jenis jurnal yang berbeda. Punya saya sendiri tipe Travel Journal Trevi Pro by Hiberkraft. Tipe jurnal ini ringan, dan isinya dapat diganti apabila sudah habis. Jadi saat agenda ini sudah penuh dengan tulisan, saya tinggal simpan saja halaman yang terisi penuh lalu menggantinya dengan yang kosong. 

Praktis dan simpel. 


Jurus Andalan untuk Menulis Jurnal Rutin



Untuk saya, konsistensi adalah musuh utama dalam menulis jurnal (dan dalam banyak hal lainnya, tetapi itu masalah yang berbeda). Jadi, saya punya dua jurus andalan untuk memastikan saya konsisten menulis jurnal, selain ketersediaan alat tulis warna-warni atau handmade journal Hibrkraft. 

Memiliki Journal Prompt

Journal prompt adalah ide/topik yang dapat digunakan sebagai petunjuk apa yang akan kita tulis setiap harinya. Menggunakan journal prompts akan membantu kita untuk mendapat arah yang lebih jelas sebelum mulai menulis. Kadang kan kita bingung ya, mau nulis apa sih hari ini, atau kalau nulis seadanya nanti malah jadi curhat atau kayak diary saat sekolah (walaupun tidak ada yang salah ya dengan ini, kalau memang dirasa nyaman. ). 


Agak susah menemukan journal prompts dalam bahasa Indonesia, tetapi versi Bahasa Inggris cukup mudah dimengerti kok . Atau serahkan pada google translate yang sekarang bisa melakukan translasi dengan foto. 

Lagu yang Cocok Menemani Sesi Menulis Jurnal

Saya suka mendengarkan lagu, dan menemukan lagu yang tepat untuk setiap situasi membuat mood saya lebih baik. Demikian juga ketika menulis jurnal.

 

Saya suka musik di kafe, terutama Starbucks (bukan sponsor, benar suka kok). Menurut saya ambience-nya dapat banget untuk membangkitkan motivasi bekerja, atau menulis. Jadi saya suka memutar lagu seperti itu untuk menemani sesi menulis jurnal. Tentu setiap orang memiliki selera yang berbeda ya akan musik yang tepat. Intinya, kalau membantu, ciptakan suasana nyaman dan tenang untuk menulis dengan musik yang tepat. 



Jadi, sudah siap menulis jurnal?


Sunday, August 9, 2020

Merawat 'Inner Child' Sebelum Menjadi Ibu

 

Inner Child
Menjadi seorang Ibu adalah memulai perjalanan baru dengan memiliki rute yang belum pernah dilalui sebelumnya, tidak ada petanya dan tidak akan ada bocoran seperti apa lika-liku perjalanan yang akan terjadi nantinya. 

Pembahasan tentang inner child cukup populer beberapa tahun kebelakang. Cukup beruntung saya bergabung dengan support group birth club October 2020 yang rajin banget bikin kulwap, dimulai dari sesi pertama tentang 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu' yang dilakukan melalui metode kuliah whatsapp.

Narasumber psikolog handal Mbak Widya S Sari kali ini membagikan ilmu dan menjawab antusiasme calon ibu serta ibu-ibu yang haus ilmu dan ingin memperbaiki diri.


Apa itu Inner Child?


Inner child merupakan akumulasi peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk pribadi mereka hingga dewasa - Psychology Today 

Bahasa lugas yang cepat dimengerti oleh kaum awam adalah sisi kekanak-kanakan yang dimiliki seseorang - kepribadian seseorang yang berlaku dan terasa seperti anak kecil. 

Mbak Widya sendiri menuliskan pengertian inner child adalah bagian dari konsep diri yang terbangun di masa kecil. Konsep diri ini kemudian menetap di alam bawah sadar dan berperan dalam menentukan bagaimana seseorang akan merasakan dan memberikan respon akan satu kejadian.

Masa kecil yang telah kita lalui tidak begitu saja kita tinggalkan di masa lalu. Sekecil apapun, masa-masa tersebut telah meninggalkan 'jejak'.


Inner Child


 Inner Child yang 'Terluka'


Jejak yang ditinggalkan dari masa kecil ini baru dapat terlihat ketika kita beranjak besar, atau malah sudah menetap sebagai bagian dari kepribadian sebagai orang dewasa. Jejak ini sebenarnya adalah luka yang disebabkan oleh trauma-trauma yang terjadi di masa kecil tadi. Jangan bayangkan suatu gangguan psikologis yang luar biasa dahulu ketika mendengar kata 'trauma', namun lihatlah akan perilaku-perilaku maladaptif yang terlihat selama ini.

Perilaku tersebut dapat saja berupa agresivitas, ketergantungan akan orang lain, persepsi diri yang negatif, harga diri rendah, suasana hati tidak stabil, emosional bahkan sesimpel adanya masalah dengan nafsu makan.

Perilaku-perilaku tadi dapat memicu masalah yang lebih besar lain, seperti:

  • Krisis identitas
  • masalah komitmen
  • melukai diri sendiri
  • Pelaku kriminal

  • Melakukan kebohongan berlebihan

Pangkal yang dapat ditarik dari trauma yang terjadi di masa kecil, bisa jadi:

Kehilangan orang tua · Kekerasan fisik atau kelalaian · Penyalahgunaan atau pengabaian emosional · Pelecehan seksual · Penyakit serius · Intimidasi yang parah · Bencana alam · Perpisahan keluarga · Menjadi korban kekerasan · Penyalahgunaan zat dalam rumah tangga · Kekerasan dalam rumah tangga · Penyakit mental anggota keluarga · Merasa terisolasi dari keluarga mereka

(sumber: Tirto.id)



Trauma Inner Child



Jadi, apa dong yang harus dilakukan kalau inner child kita sudah terlanjur terluka? 😔


Mengetahui Inner Child

Pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui terlebih dahulu inner child apa yang terluka dalam diri kita.

Tipe Inner child Carl Jung


Video berikut akan menjelaskan mengenai tipe-tipe inner child yang ada




Melalui narasi video tersebut, terlihat ada enam tipe Inner Child. Dilansir dari laman Jennifer Soldner, berikut penjelasan tertulis keenam tipe tersebut:

Orphan Child



Orphan Child Archetype


Kadang-kadang disebut sebagai anak terlantar, menunjukkan dirinya sebagai orang yang cenderung mandiri sepanjang hidupnya. Seringkali memiliki riwayat merasa kesepian, ditinggalkan secara emosional, lebih suka mempelajari berbagai hal sendiri, menghindari kelompok, dan menaklukkan ketakutan mereka sendiri.

Dalam sudut pandang negatif, pola dasar anak ini dapat mendorong orang lain menjauh sehingga merugikan mereka sendiri, mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak membiarkan orang yang dicintai masuk. Mereka juga mungkin memberi kompensasi berlebihan dengan terus mencari keluarga pengganti untuk mengisi kekosongan emosional.

Wounded Child


wounded child archetype



Mereka menyimpan ingatan akan masa lalu yang penuh kekerasan atau traumatis, mungkin telah mengalami banyak pelecehan fisik dan emosional selama hidup mereka, sering kali di tangan lebih dari satu orang. Jika tumbuh dengan baik, ketika dewasa dapat memberikan belas kasih yang sangat dalam bagi orang lain yang menderita situasi yang melecehkan. Fokus mereka pengampunan serta membantu anak-anak yang terluka seperti mereka.

Namun, dalam sudut pandang negatif, anak ini mungkin tetap terjebak dalam pola pelecehan yang berulang dengan mitra, atasan, dan persahabatan. Mereka menjadi terbiasa menjadi korban dan menyalahkan semua masalah mereka pada masa lalu mereka yang tidak berfungsi.


Eternal Child


Eternal Child Archetype



Tipe anak yang selamanya muda. Menunjukkan karakteristik klasik kekanak-kanakan, menolak tumbuh dewasa, terus mencari cara yang menyenangkan dan menyenangkan untuk memandang kehidupan. Semacam Peter Pan, tipe ini bertekad untuk tetap awet muda dalam pikiran, tubuh, dan jiwa, dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dalam pandangan negatif, anak ini mungkin menjadi tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diandalkan, tidak mampu melakukan tugas orang dewasa. Mereka mungkin berjuang dengan batasan-batasan pribadi yang diterapkan orang lain dan menjadi terlalu bergantung pada orang yang dicintai untuk menjaga mereka.


Magical Child


Magical Child Archetype



Mereka selalu terpesona akan diri dan melihat dunia dengan berbagai kemungkinan yang ada. Seringkali tanpa beban, pola dasar anak ini mencari keindahan dan keajaiban dalam segala hal, percaya bahwa segala sesuatu mungkin. Mereka adalah pemimpi sejati.

Namun, bila tidak seimbang, pola ini bisa tumbuh menjadi pesimis dan tertekan. Keyakinan mereka dipadamkan dan mereka menjadi sinis terhadap hal-hal yang pernah mereka impikan. Mereka mungkin juga mundur ke dunia fantasi, mempelajari permainan peran, buku, atau film, kehilangan kontak dengan kenyataan dan mengambil sedikit tindakan dalam kehidupan sehari-hari.


Divine Child


Divine Child Archetype


Mereka mencolok akan kepolosan, kemurnian, dan kualitas yang hampir seperti Tuhan. Mereka memiliki keyakinan akan pengampunan dan sering kali terlihat beragama. Pola dasar anak ini mungkin tampak mistis dan surealis. Beberapa memilih pola dasar ini untuk diri mereka sendiri karena mereka tidak percaya mereka memiliki kemampuan ini di dalam diri, padahal bisa saja kekuatan ini ada, menunggu keseimbangan untuk mencapai potensi yang sesungguhnya.

Karakteristik negatifnya mungkin terasa lebih familiar. Pola dasar ini sering kali diliputi oleh energi negatif dan merasa tidak mampu membela diri. Mereka mungkin mudah marah dan tidak bisa mengendalikan diri saat menghadapi kejahatan, membuat mereka kehilangan kendali dan menakuti diri sendiri.


Nature Child


Nature Child Archetype



Pola dasarnya selalu terasa terkait dengan tumbuhan, hewan, dan bumi di sekitarnya. Mereka merasa paling nyaman saat dikelilingi oleh binatang dan mungkin memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam. Pola dasar ini sangat tertarik pada pemandu roh binatang dan sering memimpikannya.

Sisi lain mereka menyerang secara fisik pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin melecehkan hewan, tumbuhan, dan bahkan manusia. Terlepas dari hubungan mereka yang dalam, tipe ini menggunakan alam sebagai hukuman daripada kegembiraan

Tipe Inner Child yang Mana kah Kamu?


Setelah membaca semua penjelasan di atas, biasanya sudah ada gambaran diri kita tergolong inner child yang mana ya. Sehingga terlihat jelas perkiraan peristiwa di masa kecil yang menjadi 'trauma' untuk diri yang terbawa sampai besar. 

Namun, apabila belum yakin atau perlu memantapkan diri, bisa coba tes berikut untuk mengetahui tipe inner child kita:



Nah, sekarang semoga sudah ketahuan ya tipe Inner Child kamu.

Sekarang, kalau sudah tahu, untuk apa dong?


Berdamai dengan Inner Child


Berdamai dengan Inner Child


Balik lagi ke tema tulisan terkait 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu', setelah tahu kira-kira akar masalah kita apa, sekarang tentu saatnya 'merawat' atau 'berdamai' dengan inner child tersebut. Jangan sampai perilaku maladaptif yang muncul akan mengganggu hubungan dengan sang buah hati kelak kan yaaa...

Ada beberapa pilihan untuk berdamai dengan inner child kita.

Tetap Berpikiran Terbuka

Kamu tidak harus melihat inner child ini sebagai pribadi atau kepribadian yang terpisah. Sebaliknya, anggaplah mereka sebagai representasi dari pengalaman masa lalu. Akui, terima dan maafkan mereka apa adanya.

Bagi kebanyakan orang, masa lalu mengandung campuran peristiwa positif dan negatif. Keadaan ini membantu membentuk karakter serta memandu pilihan dan tujuan ketika beranjak dewasa dan pada akhirnya mencapai usia dewasa.

Observasi Anak-anak Kecil di Sekitar Kita

Anak-anak dapat mengajari banyak hal tentang hidup, dari menemukan kegembiraan dalam hal-hal kecil hingga hidup di saat ini.

Jika kesulitan memikirkan kembali pengalaman masa kecil yang menyenangkan, terlibat dalam permainan kreatif dengan anak-anak dapat membantu menghidupkan kembali kenangan ini.


Tinjau Kembali Kenangan Masa Kecil 

Menjelajahi ingatan dari masa lalu juga dapat membantu berhubungan dengan inner child.

Untuk melihat ke belakang, dapat mencoba aktivitas seperti membolak-balik album foto dan buku tahunan sekolah, atau membaca ulang buku harian masa kecil. Bisa juga dengan menonton film atau acara televisi dari masa kecil, atau membaca ulang beberapa buku favorit, juga bisa menjadi cara yang membantu untuk membangkitkan perasaan positif.

Jika orang tua, saudara kandung, atau teman masa kecil kamu memiliki cerita untuk dibagikan, kenangan ini mungkin membangkitkan perasaan dan kenangan yang benar-benar telah dilupakan.

Luangkan Waktu Melakukan Sesuatu yang Dulu Disukai


Saat mengenal inner child kamu, pikirkan tentang hal-hal yang membuat bahagia di masa kecil.

Mungkin bersepeda ke sungai setiap musim panas dengan teman-teman untuk berenang atau memancing. Atau mungkin menghabiskan liburan dengan membaca di loteng. Mungkin menghabiskan berjam-jam untuk kerajinan tangan, atau bermain sepatu roda lalu membeli camilan sepulang sekolah.

Sebagai seorang anak, kamu mungkin melakukan banyak hal hanya untuk kesenangan. Mungkin kesulitan mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu dalam kehidupan dewasa hanya karena itu membuat kita bahagia.

Aktivitas kreatif seperti mewarnai, mencoret-coret, atau melukis juga dapat membantu. Ketika kita membiarkan pikiran aktif beristirahat, emosi yang biasanya tidak dipertimbangkan dapat muncul.




Berbicara dengan inner Child

Salah satu cara terbaik untuk berhubungan dengan inner child adalah dengan membuka percakapan dengannya.

Menulis dapat menjadi alat yang ampuh untuk terhubung dengan inner child.

Menulis surat, atau menulis bebas tentang kenangan masa kecil, dapat membantu untuk menjelajahi pengalaman masa lalu dan memilah emosi yang terkait.

Cobalah menahan pikiran tertentu di kepala kemudian menuliskan surat atau latihan jurnal atau ekspresikan pikiran apa pun yang muncul di benak.

Kita bahkan dapat membingkainya sebagai latihan tanya jawab. Izinkan dirimu yang dewasa untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, kemudian dengarkan bagaimana kira-kira respon inner child kita.

Tetapi pikirkan latihan ini sebagai cara untuk membangun dan memperkuat ikatan antara diri kita dan sang inner child. 



Mencari Bantuan Profesional


Apabila semua telah ditempuh dan masih terasa mengganggu, memicu ketidaknyamanan atau emosi yang menyakitkan, termasuk kesedihan, kenangan traumatis, dan perasaan tidak berdaya atau takut, maka carilah bimbingan dari seorang profesional kesehatan mental.

Jika memungkinkan, carilah terapis yang berpengalaman dengan terapi inner child. 

Belajar untuk "mereparasi" inner child dalam terapi dapat membantu untuk memulai menangani dan mengatasi masalah yang ada.




 
Jadi, sudah siapkah untuk merawat inner child kita?


 





Sunday, May 17, 2020

Review: Pelajaran Hidup dari The World of the Married


Bukan sekadar drama pelakor, the World of the Married memberikan banyak pelajaran hidup


Drama Korea (drakor) The World of the Married (TWOTM) besutan JTBC yang menjadi perbincangan sejak awal tayang, menutup episode final dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan. Bukan sesuatu yang aneh, drama ini benar-benar memberikan cerita yang tidak bisa ditebak dan penuh plot twist sepanjang episodenya. Menonton setiap episode TWOTM tidak memberi ruang penonton untuk berpaling sedetikpun, karena setiap adegannya sangat bermakna walaupun tanpa dialog. Saya sendiri merasakannya terutama di episode 10, apalagi di menit-menit akhir. 

TWOTM memang konsisten mencatat rating tinggi sejak episode pertama, dan terus memiliki rating dua digit di episode ketiga sampai terakhir pada tanggal 16 Mei kemarin. Tidak hanya itu, di Indonesia pun, setiap akhir pekan TWOTM selalu memuncaki trending topic twitter. Banyak orang Indonesia yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti drakor, penasaran dengan drama ini dan memutuskan menontonnya. Saya sendiri yang sudah sekitar satu tahun tidak menonton drakor, akhirnya turun gunung juga karena melihat seringnya berseliweran di timeline haha.

Adaptasi dari serial BBC UK - Doctor Foster

TWOTM diadaptasi dari serial Doctor Foster yang ditayangkan BBC UK. Apabila Doctor Foster terdiri dari dua musim dengan total episode 10, maka TWOTM memiliki jumlah 16 episode. Menilik dari posternya yang terfokus akan adanya darah pada cincin pernikahan, sudah terlihat garis besar cerita yang akan terpusat pada dunia pernikahan. Serial Koreanya memiliki fokus pada pasangan menikah yang tinggal di kota kecil Gosan, tidak hanya pada masalah sang tokoh utama seperti serial aslinya. Perbedaan tersebut membuat drakor ini memiliki banyak pelajaran hidup yang dapat ditarik.

Postingan ini mungkin mengandung spoiler, karena mengandung semua yang terjadi dari episode awal sampai terakhir. Jadi, silakan berhenti di sini apabila belum menonton drakornya dan tidak mau tahu lebih jauh ya.

Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Lemah, Melainkan Awal dari Berdamai dengan Diri Sendiri

ki-ka Da Kyung, Ye Rim dan Sun Woo

Ji Sun Woo, Yeo Da Kyung dan Go Ye Rim terlihat sebagai wanita yang kuat dengan pendirian masing-masing yang sulit digoyahkan. Ketiga wanita ini berusaha mempertahankan harga diri masing-masing, dengan berbagai cara, yang akhirnya malah menjerumuskan mereka pada penderitaan lain. Saat kita mampu mengakui kelemahan diri, jalan menuju kedamaian hidup pun tercipta. Ketiga wanita ini contohnya. 



Ji Sun Woo yang tidak lagi memiliki keluarga, hanya punya Joon Young sang anak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keberadaan sang anak di sisinya. Keinginannya ini diwujudkan dengan berbagai cara, mulai dari memastikan Tae Oh sang mantan suami menjauh dari hidup anaknya (dengan membuat sandiwara yang hampir menewaskan dirinya), melabrak pembuat gosip yang mengganggu pikiran anaknya (yang ujung-ujungnya justru membuat sang anak malu), menyalahkan rekan psikiaternya karena menyembunyikan konsultasi yang dilakukan Joon Young sampai membela anak sepenuh hati tanpa pernah paham masalah yang menimpa anaknya serta mengatur seluruh aspek kehidupan si anak.

Ketika Joon Young muak dan akhirnya memilih tinggal dengan sang ayah, barulah Sun Woo terpuruk. Ia pun mencari bantuan ke psikiater. Sayangnya, di sini Sun Woo masih menyalahkan dirinya sendiri yang berujung dengan keputusasaan yang kembali hampir merenggut jiwanya. Pada episode final, ketika Joon Young yang kembali tidak tahan dengan sang ibu memilih melarikan diri, Sun Woo menyerah dan mengakui kesalahan dirinya. Selama ini ia selalu berusaha mempertahankan banyak hal namun tidak tahu apa yang sebenarnya penting untuk dirinya. Kali ini, Sun Woo membiarkan Joon Young dengan kehidupan barunya (dan cukup melihat dari kejauhan) dan menunggu sampai anaknya itu siap kembali ke pelukannya.



Yeo Da Kyung terus memiliki kecurigaan akan kelakuan suaminya, Tae Oh. Da Kyung curiga Tae Oh masih berhubungan dengan mantan istrinya, Sun Woo. Da Kyung bahkan menugaskan salah satu karyawan Tae Oh untuk memata-matai suaminya itu. Berbagai bukti yang diterima dari si karyawan, peringatan Sun Woo bahkan Ye Rim, yang terus menyebutkan tentang kelakuan Tae Oh yang tidak akan pernah berubah tidak digubrisnya. Salah satu langkah yang dilakukan Da Kyung untuk menyelamatkan pernikahannya adalah membawa Joon Young, anak Tae Oh dan Sun Woo, ke rumahnya. Da Kyung bahkan menyelamatkan Joon Young dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah demi membuat Tae Oh terkesan.

Da Kyung juga masih memberi Tae Oh kesempatan walau suaminya telah mengakui berselingkuh dengan Sun Woo. Ia melakukan apapun demi mempertahankan imej pernikahan yang sempurna. Namun, semuanya jatuh ketika Sun Woo kembali memperlihatkan pada Da Kyung seperti apa pribadi asli Tae Oh. Saat itu juga Da Kyung menyadari kebodohannya, dan memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan Gosan (untuk kedua kalinya). Memulai kehidupan barunya, Da Kyung kembali ke bangku kuliah dan melupakan cinta untuk sementara waktu.


Go Ye Rim adalah perempuan lain yang berusaha keras mempertahankan pernikahannya. Saya sempat kesal melihat perempuan ini mau saja menjadi bulan-bulanan suaminya. Je Hyuk, sang suami, terang-terangan memuji wanita lain di hadapan Ye Rim. Je Hyuk bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya didengar sang istri. Je Hyuk memperlakukan Ye Rim seperti pembantu, dan tidak pernah mau mendengar keinginan sang istri. Ye Rim pun bukan tidak tahu semua kelakuan sang suami di belakangnya, namun ia memilih bertahan. Ketika Je Hyuk berselingkuh dengan Sun Woo pun, dengan pongahnya Ye Rim mengatakan pada Sun Woo kalau hal itu tidak akan menghancurkan pernikahannya. 

Penyesalan pertama Ye Rim muncul ketika Je Hyuk yang tidak pernah menginginkan kehadiran anak, tiba-tiba saja menyetujui keinginan sang istri memiliki anak. Kebahagiaan Ye Rim bersifat sementara, karena di tengah-tengah euforia proses persiapan memiliki anak, Ye Rim kembali mengetahui sang suami selingkuh. Saat itulah Ye Rim memutuskan bercerai. Je Hyuk yang tidak ingin kehilangan Ye Rim, terus berusaha mendekati mantan istrinya itu sampai akhirnya mereka menikah kembali. Namun, sejarah perselingkuhan Je Hyuk membuat Ye Rim trauma dan memilih meninggalkan Je Hyuk (dan Gosan) selamanya. Melalui episode terakhir, terlihat Ye Rim bahagia dengan keputusannya ini, dan sang mantan suami malah sepenuhnya belum bisa move on.

Setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya dan Terkadang Karma itu Nyata Adanya




Melihat Lee Tae Oh terpuruk di episode 15 dan 16 pasti membuat semua penonton TWOTM bersorak gembira, saya salah satunya haha. Laki-laki yang sudah memiliki segalanya, dan melepas semua namun pada akhirnya tidak bisa sepenuhnya melepaskan kehidupan yang sudah ditinggalkannya ini benar-benar bikin emosi. Maunya apa? Sebelumnya sudah punya keluarga yang sempurna, namun ditinggalkan. Keluarga baru yang dimilikinya pun tak kalah sempurna, tapi masih saja ingin memiliki keluarga yang lama. Kan maruk ya. Sempat terpikir apakah pria ini akan menerima karmanya, karena setiap episode kok malah semakin jemawa dan enggak tahu malu ya. Namun akhirnya episode 15 memberikan jawabannya, Tae Oh kehilangan semua yang dimilikinya dalam satu hari. Salah satu adegan yang paling memorable buat saya ketika ia memungut uang yang dilemparkan Sun Woo, sungguh harga dirinya sudah jatuh ke titik terendah.

Kehidupannya semakin menyedihkan di episode 16, ketika ia memohon kepada Sun Woo untuk menerima dirinya kembali. Konsisten enggak tahu malu sampai episode terakhir ya pria ini. Namun, kepergian Joon Young akhirnya membuat Tae Oh sadar untuk menata kembali hidupnya.  Ia mulai mencari pekerjaan dan berusaha hidup lebih baik.


Episode 9 tentu paling ditunggu-tunggu untuk semua penonton drakor ini yang kesal banget sama Da Kyung. Kali pertama Da Kyung mengetahui kalau sang suami, Tae Oh, masih terobsesi pada mantan istrinya. Penggambaran adegannya pun persis sama ketika Sun Woo mengetahui perselingkuhan suaminya dulu di episode 1. Da Kyung yang terus mengabaikan semua peringatan orang tentang perangai Tae Oh yang tidak mungkin berubah (once a cheater, always a cheater), akhirnya merasakan akibatnya.

Walaupun banyak penonton mengutarakan kekecewaan mereka akan ending drama ini yang dinilai menguntungkan Da Kyung, mengingat ia mendapat kesempatan kembali ke bangku kuliah dan ditaksir cowok tampan pula, namun saya justru berpikir sebaliknya. Masa muda Da Kyung yang seharusnya menyenangkan, malah hancur karena bertemu Tae Oh. Da Kyung harus menerima kenyataan menjadi dewasa lebih cepat, memiliki anak sekaligus bercerai di usia muda. Saya pikir konsekuensi itu cukup berat untuk seorang perempuan yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, namun menghancurkannya karena salah mengambil keputusan.



Walaupun kelihatannya hidup Son Je Hyuk baik-baik saja setelah berpisah (kedua kalinya) dengan sang istri, Yerim, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Je Hyuk tersiksa. Salah satu adegan di episode terakhir memperlihatkan Je Hyuk mengamati kue kesukaan sang mantan istri cukup lama. Ini sejalan dengan pernyataan Je Hyuk di salah satu episode, pria tidak akan mudah melupakan cinta yang datang sebelumnya. Walaupun saat mengatakannya, Je Hyuk merujuk pada kondisi Tae Oh, tapi di episode 16 ini terlihat kalau sebenarnya kata-kata itu lebih cocok disematkan untuk dirinya. 

Je Hyuk memang memiliki banyak ucapan yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada episode awal, pria ini juga menyebutkan tentang pria yang tidak mungkin bisa hidup dengan satu perempuan saja. Nyatanya, saat Yerim minta cerai pertama kali, Je Hyuk langsung tertekan dan kemudian berusaha memenangkan hati Ye Rim. Kim Young Min (pemeran Son Je Hyuk) memang sangat baik berakting sebagai pria playboy yang berhati Rinto, tidak heran kalau tahun 2020 ini ia pun menyabet nominasi Baeksang untuk kategori Best Supporting Actor.

Jadi, hati-hati dengan ucapan ya.


Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Jahat (atau Baik)

Tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau baik di drama ini, termasuk Sun Woo. Namun, kudos terbaik saya berikan untuk dr. Sul Myung-Sook! dr Sul yang merupakan rekan Sun Woo di rumah sakit ini sejak episode satu sudah terlihat bermuka dua, kalah pokoknya ular. Sun Woo sampai bilang kalau temannya ini seorang agen ganda, terlihat mendukung Sun Woo namun di belakangnya, siap menjatuhkan. Perempuan ini pun konsisten melakukan peran agen ganda ini selama sembilan episode pertama, benar-benar definisi orang paling cari aman sedunia. Pokoknya apa yang akan dia lakukan, tergantung situasi mana yang menguntungkannya.

Episode 10 mengubah semuanya.



dr. Sul yang tertarik menggantikan posisi Sun Woo sebagai associate director di Rumah Sakit, tersinggung dengan ucapan dr. Kong (pemimpin rumah sakit) yang menolak permohonan naik jabatannya. Menurut dr. Kong, dr. Sul harus ingat kalau perempuan tidak seharusnya memiliki ambisi yang berlebihan, apalagi kalau single, tidak ada orang lain pula yang harus dinafkahi. Padahal, sebelumnya dr. Kong menawarkan posisi yang sama pada dr. Kim yang juga single, namun karena pria jadi dianggap lebih cocok memegang posisi tinggi.

Selepas kejadian itu, terlihat dr. Sul mengalami perubahan karakter. Ia mulai berempati pada Sun Woo yang harus menanggung stigma perempuan bercerai, karena dirinya pun memiliki stigma perempuan lajang yang ditempelkan padanya. Beberapa episode selanjutnya menunjukkan dr. Sul yang lebih positif dan bahkan memiliki teman kencan. Salah satu adegan yang saya sukai ketika dr. Sul minum-minum dengan Sun Woo dan Ye Rim (dimana keduanya telah bercerai), dia senang sekali karena akhirnya punya teman-teman yang lajang haha. 

Berikut beberapa kata-kata yang diucapkan dr.Sul untuk Sun Woo dan Ye Rim.




Saat Pernikahan Berakhir, Hubungan itu Tetap Ada dan (ketika ada) Anak Akan Menjadi Korban



Sesuai dengan judul drakor, The World of the Married, cerita yang disuguhkan di dalam drama ini semuanya terpusat pada dunia pernikahan. Awal cerita memang banyak fokus pada kemelut cinta segitiga Sun Woo - Tae Oh - Da Kyung, lalu merembet ke hubungan rumah tangga Ye Rim dan Je Hyuk, kemudian melebar ke beberapa hubungan tidak sehat. Seperti pernikahan Ketua Choi yang dipertahankan sang istri walau ia tahu suaminya selingkuh, hubungan pacaran Park In Kyu dan Min  Hyun Seo yang penuh kekerasan emosional sampai kehidupan dewasa lajang yang diwakili oleh dr. Kim dan dr. Sul. 

Saat Sun Woo dan Ye rim memutuskan bercerai, bukan berarti hubungan mereka dengan sang mantan suami putus. Sebaliknya, ikatan itu tetap ada. 



Ketika memiliki anak, maka relasi itu semakin nyata adanya dan tidak akan terputus. Satu ungkapan yang saya ingat, ada sebutan mantan istri atau suami, tapi tidak ada sebutan mantan ayah, ibu bahkan mantan anak. Sun Woo dan Tae Oh terus mengalami naik-turun hubungan karena adanya Joon Young di antara mereka. Mereka berdua berebut menunjukkan siapa yang pantas menjadi wali Joon Young, tanpa menyadari sang anak memiliki luka yang dalam

Luka pertama ditunjukkan Joon Young ketika Sun Woo melarikannya jauh dari ayahnya. Joon Young yang selama ini memang lebih dekat dengan sang ayah tentu saja protes. Tanpa berusaha memahami alasan Joon Young, Sun Woo malah merasakan ini sebagai ancaman akan kehilangan hak asuh sang anak, Ujungnya, seperti saya ceritakan sedikit di atas, Sun Woo merancang skenario yang membuat Tae Oh kehilangan hak asuh sekaligus hak mengunjungi. 

Luka berikutnya terus terjadi karena hubungan Sun Woo dan Tae Oh yang tidak stabil. Tanpa mereka berdua sadari, Joon Young harus menghadapi konflik batin tersendiri. Semakin mendekati episode final, semakin terlihat nyata kalau Joon Young adalah korban sebenarnya dari perseteruan ayah dan ibunya. 

Jeon Jin Seo si aktor cilik yang sangat baik memerankan konflik internal anak korban perceraian

karena itu, akhirnya...

Anak Juga Manusia


Walaupun anak berbeda usia jauh dengan orangtuanya, bukan berarti mereka tidak paham akan masalah yang menimpa kedua orang tuanya. Joon Young pertama kali mengungkapkan kekesalannya pada kedua orangtuanya ketika Sun Woo dan Tae Oh dipanggil ke sekolah karena laporan kekerasan yang dilakukan Joon Young (episode 13). Alih-alih mencoba memahami apa yang terjadi pada sang anak, baik Sun Woo maupun Tae Oh sama-sama tidak sabar mencoba mencari tahu penyebab sang anak melakukan kekerasan tersebut. 

Sebelumnya, dalam episode-episode awal, diceritakan Joon Young tidak pernah punya pilihan dalam berbagai kesempatan. Sun Woo selalu memilihkan kegiatan untuknya, sementara sang ayah tidak memiliki hak bicara sama sekali ketika Sun Woo sudah bertitah. Pada episode akhir, terlihat Sun Woo pun masih memilihkan pakaian untuk Joon Young. Namun karena hubungan mereka yang membaik, Sun Woo akhirnya mengalah dan mengatakan Joon Young dapat membeli pakaiannya sendiri.  



Hubungan yang baik antara Sun Woo dan sang anak, Joon Young, tentu tidak tercipta begitu saja. Semua dimulai ketika Sun Woo jujur menceritakan permasalahan dirinya. Tidak bersikap diktator seperti biasanya, Sun Woo memperlakukan Joon Young sebagai teman. Perlakuan ini pun terus diterapkannya ketika ia meminta pendapat Joon Young. Ia menyerahkan keputusan penting, yang juga terkait akan hidupnya sendiri, ke tangan sang anak.

Penting sekali untuk orang tua menyadari, kalau anak juga manusia. Mereka memiliki keinginan dan aspirasi sendiri. Awalnya memang berat untuk orangtua menyadari kalau keinginan anak mungkin tak sejalan dengan keinginan mereka, namun pada akhirnya, kepercayaan sang anak adalah taruhannya. Saat orangtua memperlakukan anak sebagai rekan satu level, saat itulah sang anak juga akan menghargai orangtuanya.

Pada akhir drama ini, Joon Young kembali terpuruk ketika melihat ibunya tidak dapat memenuhi janjinya. Sang ibu yang sudah berkata hubungannya dengan sang ayah berakhir ternyata masih terlihat gamang, dan akhirnya Joon Young memutuskan untuk melarikan diri. Lepas dari kekalutan hubungan kompleks ayah dan ibunya.


Masih banyak banget sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari drama ini, tapi nanti tulisan saya jadi essay ya haha. Satu yang pasti, pantas sekali untuk drakor ini memegang rating tertinggi pada setiap episodenya, terutama episode akhir. Episode akhir mengandung banyak sekali petuah-petuah hidup yang sampai saya menulis ini saja membuat saya banyak berpikir. 

Terutama ini:

Ngena banget ini kata-kata :(

Satu yang pasti, kita tidak pernah tahu perjuangan setiap orang. Dalam hidup, lakukan saja yang terbaik. Ikuti petuah istri ketua Choi berikut agar hidup (sedikit) lebih tenang, enggak perlu misuh-misuh ngomongin orang kalau diri sendiri saja masih punya banyak masalah.



Kalau Anda sendiri, apa yang terkenang dari drama ini?



Friday, June 22, 2018

Mengapa Selective Attention (Perhatian Selektif) itu Ada

negativespace.co at pexels
Mengapa dari gambar di atas, mata kita langsung tertuju pada gagang telepon, padahal posisinya hanya memenuhi 20% dari keseluruhan bidang foto?
Mengapa kita bisa mengobrol akrab dengan teman ketika makan siang, walaupun restoran tempat kita berada terletak di tengah-tengah keramaian pusat perbelanjaan?
Mengapa tanggal lahir anggota keluarga, misal orangtua atau anak, lebih mudah diingat dibandingkan dengan tanggal lahir rekan satu meja di kantor?
Mengapa satu lagu tertentu bisa menjadi lagu favorit diantara jutaan lagu yang dirilis di luar sana?
Mengapa kita bisa sangat berkonsentrasi dengan ponsel di tengah hiruk-pikuk suara televisi dan orang berbicara di ruang keluarga?

Coba lihat video berikut dan fokuskan perhatian pada instruksi yang diberikan:


Video di atas menjelaskan sistem kerja pikiran untuk melakukan fokus hanya pada tugas yang diberikan, dan melupakan hal lain yang tidak dianggap penting. Dalam hal ini, menghitung banyaknya bola yang dilempar di antara pemain berkaus putih dianggap penting dan secara alamiah membuat pikiran menutup diri akan kejadian-kejadian yang terjadi diluar aktivitas tersebut. Tentu saja tujuannya agar lebih fokus dalam menghitung.

Manusia menerima bermacam stimulus dalam setiap aktivitas kehidupannya melalui panca indranya. Sekitar 15% stimulus diterima melalui pendengaran dan 80% melalui penglihatan (visual). Bayangkan kalau manusia menerima semua stimulus yang ada, bahkan dalam ruangan yang kosong tanpa aktivitas apapun, panca indra manusia tetap bekerja. Dalam keadaan diam tanpa kegiatan, kinerja indra akan lebih cepat. Suara sekecil apapun terdengar, misalnya.
Selective attention is the ability to notice and pay attention to some environmental stimuli and not others.

Attentive atau perhatian merupakan aktivitas menjaga sesuatu tetap dalam pikiran yang membutuhkan kerja mental dan konsentrasi. Satu eksperimen menarik dilakukan Colin Cherry terkait selective attention. Asal muasalnya adalah sebagai insinyur, ia ingin membantu petugas traffic controller yang bertugas di bandara untuk mengeliminasi suara-suara yang tidak penting dan fokus pada sinyal tertentu. 

Eksperimen yang dilakukannya sederhana. Ia mengirimkan dua pesan yang berbeda pada kedua telinga responden pada saat bersamaan, pada beberapa situasi berbeda. Hasilnya, mudah sekali untuk manusia menyaring apa yang ingin didengar. 

gambar dari sini
Teori ini dikenal dengan nama cocktail party effect. Seperti dalam suatu pesta, di tengah bisingnya suasana, kita tetap mampu berkomunikasi dengan seseorang. Walau mungkin harus meninggikan suara lebih dari biasanya.

Alamiah rasanya selective attention itu ada dalam diri manusia, namun bukan berarti dapat dijadikan alasan. Kembali kepada tes menghitung lemparan bola di atas, saking fokusnya pada satu tugas yang diberikan membuat kita melupakan suasana sekitar. Bayangkan dalam situasi lain, ketika diri hanya fokus pada hal yang menarik hati, melupakan ada banyak orang lain yang mungkin tidak memiliki ketertarikan yang sama. Apakah itu berarti kita benar dan orang lain salah? Apakah kita yang mementingkan meluangkan waktu untuk bertemu dengan teman-teman, lebih baik dari mereka yang memilih menyendiri menghabiskan waktu dengan hobi yang berbeda? Apakah solusi atas rencana keuangan yang kita pilih lebih baik dari cara orang lain mengelola keuangannya?

Kembali lagi, selective attention melakukan penyaringan banyak informasi yang menurut kita tidak penting. Padahal penting itu relatif. Tentu tidak salah memiliki perhatian selektif, hidup akan menjadi lebih fokus pastinya dan less stress. Perlu diingat hanya pentingnya menyadari bahwa pilihan lain itu ada, dan siapa tahu mengenalinya ternyata menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini belum terjawab. 

Mau coba memulai mengenali sekitar?
Coba cek kembali video di bawah ini:



Apakah kali ini kita cukup memerhatikan sekitar kita?


Tuesday, May 29, 2018

Writing Therapy: Alternatif Pelepasan Emosi


Photo by J. Kelly Brito on Unsplash

Menulis belum menjadi budaya masyarakat Indonesia. Pembahasan media terkait susahnya menumbuhkan kebiasaan menulis menjadi salah satu indikasinya, seperti tertulis di sini dan sini.  Banyak anggapan banwa menulis hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki profesi penulis, diperlukan bakat untuk melakukannya. Namun sebenarnya, berbeda dengan bentuk karya seni lainnya seperti melukis, menyanyi atau menari, menulis justru tidak memerlukan bakat khusus. Semua orang dapat menulis.

Disarikan beberapa artikel terkait aspek psikologis menulis, dari sini dan sini, menulis dipercaya sebagai sarana pelepasan emosi yang positif. Aktivitas menulis dapat meningkatkan aspek pengembangan sekaligus sarana pengobatan diri. Dalam ilmu psikologi, dikenal dengan istilah katarsis.

Katarsis adalah metode psikologi yang menghilangkan beban mental seseorang, dengan menghilangkan ingatan traumatis dengan membiarkannya menceritakan semuanya

JS Badudu

Berdasar dari ilmu teoretis menulis sebagai katarsis, talkshow writing therapy yang diadakan pada Sabtu, 26 Mei lalu diadakan. Acara ini diselenggarakan oleh komunitas menulis yang didirikan oleh Deka Amalia, Women Script Communitysebagai bagian dari acara launching dua buku terbitan Writerpreneur Club.

Nuzulia Rahma & Deka Amalia saat memberikan paparan materi

Acara ini dipandu oleh Deka Amalia sendiri, dengan narasumber Nuzulia Rahma. Nuzulia Rahma adalah seorang psikolog yang sudah piawai dalam melakukan terapi psikologi melalui aktivitas menulis. Nuzulia, atau akrab dipanggil Mbak Lia, menceritakan pengalamannya dalam melakukan terapi menulis, serta manfaat-manfaat yang didapatkan darinya.

Manusia memiliki banyak peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dalam satu hari pun, banyak hal terjadi, dari mulai bangun tidur sampai kemudian kembali lagi ke tempat tidur. Semua peristiwa ini, kapanpun terjadinya, nantinya akan tersimpan di alam bawah sadar. Hal ini adalah fitrah, ada bagian otak yang sadar dalam berpikir dan ada bagian yang tidak sadar, yang kita kenal dengan alam bawah sadar itu. 

Nah menurut Mbak Lia, dalam perjalanan waktu, tidak semua peristiwa yang terjadi dalam hidup terlupakan begitu saja. Beberapa hal, walau katanya kita sudah melupakan atau move on, tetap masih tersimpan. Misalnya saja, satu peristiwa buruk terjadi dalam hidup, dikhianati teman sendiri. Walau secara lisan telah memaafkan, namun peristiwa menyakitkan ini tidak sepenuhnya hilang dari diri kita. Berkumpulnya semua kejadian hidup dalam diri, senang atau sedih, lama-lama akan menumpuk. Dari penumpukan peristiwa di alam bawah sadar inilah, mulai terjadi berbagai sumbatan emosi. Macam-macam bentuk sumbatan emosi ini, bisa berupa trauma, depresi, agresif, apatis, pasrah pada keadaan, apa saja. 

Melalui menulis, sumbatan emosi ini coba dikeluarkan. Menulis adalah salah satu cara untuk membuang sampah-sampah yang tersimpan di alam bawah sadar. Saat menulis untuk melepaskan emosi, cari tahu tujuan yang ingin kita capai. Meluapkan atau menyelesaikannya.

gambar dari sini

Menulis Sebagai Sarana Meluapkan Emosi

Berbagai macam hal yang dipendam dalam hati, pada akhirnya akan memuncak, keluar dalam bentuk berbagai macam emosi. Menulis dapat digunakan sebagai alat untuk mengeluarkan semua masalah dalam hati. Nyampah, kalau bahasa orang sekarang dan sering kita dengar. Kalau cukup beruntung memiliki orang lain untuk berbagi sampah setiap saat, tentu sangat menyenangkan hidup. Namun tidak selamanya setiap orang siap menerima sampah kita bukan? Bukan karena mereka adalah teman atau pasangan yang tidak baik, namun menerima sampah dari orang lain itu melelahkan. Bayangkan kita menerima curhatan teman setiap saat, setiap hari. Gerah bukan jadinya. 

Cobalah menulis.

Tidak diperlukan keahlian khusus untuk dapat menulis, bukankah ini salah satu keahlian dasar yang kita pelajari sejak kecil? Sampai saat ini pun, hidup kita tidak lepas dari menulis, walau hanya dalam skala membalas pesan whatsapp atau membuat status di salah satu akun media sosial kita. Semua sama aktivitasnya, menulis, hanya medianya yang berbeda.

Artikel ini mempunyai cara menarik untuk membiasakan diri menulis secara teratur, atau setidaknya saat pikiran terasa penat dan lelah.
  1. Free writing - menulis secara bebas, apa saja tanpa sensor, tanpa takut salah. Tuliskan apa saja yang ada di dalam pikiran saat itu. Perasaan kita, aktivitas yang baru saja dilakukan, rencana kerja, apapun.
  2. Pen poetry - tulis dalam kalimat-kalimat pendek tentang berbagai hal, hampir sama dengan free writing, tapi lebih terstruktur. Gunakan alat bantu seperti foto atau barang kenangan, dan tuliskan puisi berdasar hal tersebut.
  3. Menulis surat - untuk orang lain atau diri sendiri. Tidak perlu diberikan, cukup berpura-pura. Mungkin banyak hal yang ingin disampaikan, namun tidak terwujud. Untuk diri sendiri, dapat juga menuliskan surat untuk diri yang berusia lampau, saat masih duduk di bangku SD atau belum bersekolah. Dapat juga menuliskan untuk diri sendiri di masa depan.
Apabila membutuhkan sedikit dorongan untuk memulai, coba beberapa cara yang diambil dari sini berikut:
  • Menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran dengan waktu yang ditentukan, disarankan timing antara lima sampai sepuluh menit
  • Membuat daftar apa saja yang kita syukuri dalam hidup
  • Membuat jurnal yang berisikan selfie diri kita sendiri
  • Membuat catatan atau daftar lagu kesukaan
  • Catat pencapaian terbaik setiap saatnya
gambar dari sini

Menulis Sebagai Sarana Menyelesaikan Masalah

Setelah semua masalah dapat diluapkan melalui berbagai metode di atas, tiba saatnya untuk menyelesaikan semuanya. Kenapa harus diselesaikan? Coba kita lihat dengan analogi cerita berikut, seperti dipaparkan Mbak Lia dan Mbak Deka dalam sesi akhir pekan kemarin.

Pernahkan kita merasakan satu masalah yang sama datang bergantian, berbeda bentuk namun inti tema besarnya tetap sama. Katakanlah, hubungan percintaan yang berkali-kali kandas di tengah jalan, kemarahan tanpa alasan terhadap anak yang sering terjadi, berulang-ulang menjadi kambing hitam pada setiap project di kantor atau entah mengapa kita selalu memiliki teman dengan sifat yang sama menyebalkan sepanjang hidup kita.

Pada kejadian-kejadian tersebut, pernahkah kita melakukan refleksi diri? Apa sebabnya masalah tersebut berulang-ulang terjadi pada diri kita? Mengapa masalah yang sama terus menerus hadir dalam hidup kita?

Mbak Lia mengungkapkan, ada faktor emosi tertentu yang berperan besar disini. Emosi yang sama akan terus menerus menarik peristiwa yang sama pula. Melalui terapi menulis, kita akan diajarkan untuk menulis dengan terarah. Tentu harus dengan panduan profesional, karena salah pengarahan sedikit, bisa-bisa emosi yang keluar nanti malah semakin tidak terkontrol.

keseruan diskusi selama acara dimana partisipan banyak melempar pertanyaan 

Tidak masalah metode penulisan apa yang dipilih. Manual dengan pensil dan kertas atau melalui komputer, selama dilakukan mengikuti panduan yang diberikan, sah saja dilakukan. 

Seperti terapi lainnya, writing therapy ini harus dilakukan dengan penuh kesadaran dari diri sendiri, tidak ada paksaan. Katakan kita bermasalah dengan pasangan, tidak perlu menunggu pasangan untuk mau ikut terapi agar masalah terselesaikan. Apabila baru salah satu pihak yang siap menjalani terapi, lakukan saja dari satu pihak tersebut. Tidak perlu menunggu. 

Layaknya semua terapi psikologi lainnya, terapi akan lebih berhasil apabila ada kesadaran dari diri sendiri, ada masalah yang dimiliki.

Mbak Lia dan Mbak Deka rutin mengadakan terapi menulis ini, yang biasanya berupa workshop satu hari penuh. Saya sendiri jadi tertarik mengikutinya, semoga dalam waktu dekat segera ada kelas yang dibuka.

peluncuran buku antologi yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara sore itu.

Acara hari itu ditutup dengan buka puasa, pembagian door prize dan sesi foto bersama. Sungguh akhir pekan yang penuh dengan insight bermanfaat. 

Jadi tunggu apalagi? Yuk, mulai menulis.