Sunday, August 9, 2020

Sunday, July 26, 2020

Hamil di Masa Pandemi





Saat pertama tahu hamil di awal tahun ini, sempat terkejut karena tidak menyangka sama sekali akan tiba saatnya (kembali) hamil. Setelah menunggu dari kelahiran anak pertama di 2015, keinginan menambah anak sebenarnya sempat sirna. Jadi tentu saja ini sebuah hadiah awal tahun yang luar biasa untuk saya. 

Sempat bingung karena di awal tahun ini, ada beberapa agenda aktivitas yang sedang dan akan saya lakukan. Berbeda dengan kehamilan di tahun 2015, di mana fokus utama saya hanya bekerja, dua tahun terakhir ini saya memutuskan untuk lebih fokus pada area pengembangan diri - salah satunya tentu mengikuti berbagai macam kegiatan dan komunitas. Selain itu, di tahun 2015 saya dan suami juga memiliki waktu kerja yang hampir sama - otomatis setiap hari kami selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Tahun ini? Jam kerja kami sangat berbeda, mau tidak mau saya harus menggunakan transportasi umum. Padahal kalau melihat segi usia, sudah jauh sekali juga kondisinya dibandingkan lima tahun lalu haha. 

Kemudian entah apakah ini anugerah dari Tuhan atau caraNya memberikan kemudahan, pandemi terjadi dan segala sesuatunya (mau tidak mau) melambat. Saya pun memiliki alasan untuk mengurangi kegiatan dan fokus pada kehamilan.

Namun, masalah lain muncul. 

Bagaimana menjaga diri dan kandungan selama pandemi? Apakah aman memeriksakan diri di rumah sakit dalam kondisi seperti saat ini? Ketika menjelang saatnya bersalin nanti, bagaimana protokol yang akan berlaku? Dan sejuta tanya lainnya.

Tujuh bulan terakhir, ini yang saya lakukan.

Menghindari Rumah Sakit



Saat-saat awal memastikan kehamilan, saya masih memeriksakan diri di rumah sakit langganan - tempat saya melahirkan anak pertama. Awal Februari situasi di Jakarta masih sangat kondusif dan walau virus Corona sudah datang di berbagai belahan dunia lain, Indonesia belum menunjukkan adanya kekhawatiran akan datangnya virus ini.

Jadi, saya masih tenang temu kangen dengan obgyn favorite dahulu kala, yang juga menyambut kedatangan kami dengan bahagia. Akhirnya, kata beliau saat menyambut kami.

Masuk bulan ketiga, pemerintah mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Protokol kesehatan pun diperketat, terutama tentu saja rumah sakit. Rumah sakit tujuan saya juga menjadi rujukan pasien yang terkena Covid-19. Tentu saja saya mundur teratur untuk kembali kontrol kandungan.

Mulailah pencarian klinik bersalin, rumah sakit ibu dan anak atau rumah bersalin dilakukan. Apa saja yang meminimalisir pertemuan dengan pasien sakit. 

Setelah mencoba satu rumah bersalin dekat rumah, yang tentu saja fasilitasnya kalah dengan rumah sakit langganan, saya pun tidak tahan untuk tidak kembali lagi ke obgyn langganan. Namun saat kontrol, sungguh shock sekali melihat protokol rumah sakit yang sangat ketat dan obgyn yang memakai perlindungan ekstra. 

Bulan ketujuh ini saya mencoba klinik lainnya dan cukup puas untuk sekedar kontrol, karena klinik ini tidak menyediakan fasilitas bersalin. Bulan depan sudah harus kontrol lagi dan sampai sekarang, saya masih belum tahu akan kontrol kemana.

Tentu saja tidak kembali ke rumah sakit. Angka pasien terinfeksi masih sangat tinggi, better be safe than sorry.

Bergabung dengan Support Group



Birth Club (BC) atau komunitas support group yang terdiri dari ibu-ibu yang memiliki bayi dengan bulan atau tahun kelahiran yang sama, saat ini marak di Indonesia. Tren ini sepertinya sudah berjalan hampir satu dekade terakhir. 

Apabila sebelumnya komunitas ini banyak ada di forum-forum internet, beberapa tahun terakhir lebih banyak ditemukan dalam versi whatsapp group. Saya sendiri bergabung dengan komunitas bulan kelahiran anak pertama saya setelah satu bulan melahirkan. Telat mengetahui keberadaan komunitas tersebut pastinya.

Saya mendapatkan banyak manfaat dari bergabung dengan BC anak pertama saya, apalagi ibu baru kan ya, semuanya masih serba aneh. Di sini, saya bisa bebas berbagi cerita dan mendapat banyak masukan juga untuk berbagai hal. Mengingat anak-anak kami semuanya seusia, mudah juga untuk saling bertanya masalah-masalah tumbuh kembang anak. 

Berbekal pengalaman tersebut, kali ini saya lebih cepat mencari kalau-kalau ada komunitas BC untuk calon anak kedua saya. Mencarinya mudah kok, search saja di instagram dengan kata kunci: october2020 atau bcoctober2020 misalnya. Pasti ada saja yang sudah membuat akun instagram dan mengajak calon ibu-ibu yang akan melahirkan di bulan bersangkutan untuk bergabung. 

BC ini membantu saya untuk refresh persiapan (kembali) menyongsong bayi dan update dengan dunia perbayian yang sudah saya tinggalkan lima tahun lalu. 

Update Kondisi Setiap Saat



Terakhir dan paling penting, walau tampak menakutkan, tetap  harus selalu update akan perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia, terutama di daerah tempat tinggal kita.

Hamil memang bukan berarti sakit, tapi daya tahan tubuh juga berbeda dengan ketika tidak mengandung. Kali ini, ada satu nyawa lagi yang sedang kita bawa, jadi alangkah egoisnya apabila calon ibu tidak memperhatikan kesehatan diri dan sang jabang bayi.

Mengikuti perkembangan kasus Covid-19 sebenarnya salah satu cara saya untuk bertanggung jawab terhadap calon anak kedua saya, agar saya tahu apa yang sebaiknya saya lakukan dan tidak lakukan. Demi keselamatan bersama.

***

Apa saja yang sudah Anda lakukan di kehamilan selama masa pandemi ini?









Sunday, June 14, 2020

Narabahasa Mengingatkan Indahnya Berbahasa Indonesia

This cover has been designed using resources from Freepik.com

Mereka (mahasiswa) menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak perlu dipelajari karena mereka merasa sudah mampu menggunakannya dalam berkomunikasi sehari-hari dan merasa jenuh karena bahasa Indonesia sudah dipelajari sejak lahir.
Pengaruh Persepsi Mahasiswa atas Bahasa Indonesia dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia; Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. II no.2 Juli 2015.

Anggapan tersebut tercetus dalam penelitian yang dilakukan seorang mahasiswi Sastra Indonesia di sebuah sekolah tinggi di wilayah Jakarta Selatan. Para subyek penelitian menganggap bahasa Indonesia sudah rutin mereka gunakan sejak lahir, sehingga kata-kata yang didengar tidak lagi asing. Informasi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik di tahun 2011 (yang diambil dari sini) juga menguatkan anggapan tersebut, 90% lebih penduduk Jakarta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari.

Namun, artikel ini berkata lain.

Tidak hanya media di atas yang menyoroti terkait lemahnya penggunaan bahasa Indonesia di kalangan siswa, beberapa media lainnya pun sudah sering menyoroti terkait hal yang sama, dengan sudut pandang yang berbeda. Ada yang beranggapan penggunaannya kalah dengan bahasa asing, ada yang beralasan penggunaan bahasa daerah lebih mendominasi

Satu yang pasti, tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah. Secara tidak langsung, rendahnya minat membaca tentu berpengaruh dengan pemahaman dalam berbahasa. 

Kehadiran Narabahasa untuk Mengajarkan Bahasa Indonesia


sumber: twitter Narabahasa


Sosok Ivan Lanin tentu sudah cukup dikenal sebagai penggiat bahasa Indonesia. Aktivitas yang dimulai dengan aktif sebagai wikipediawan di tahun 2006, membawa Ivan Lanin menjadi pakar yang dikenal menganjurkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta rutin memperkenalkan padanan Indonesia dari istilah asing.

Sejak awal tahun 2020 ini, ketiadaan lembaga bahasa Indonesia yang mengajarkan bahasa Indonesia dengan benar membawa Ivan Lanin mendirikan Narabahasa. Dikutip dari situs resminya, Narabahasa adalah penyedia edukasi, konsultasi, publikasi, dan aplikasi kebahasaan dengan visi "kuasai bahasa, kuasai dunia". Walaupun usianya belum genap satu tahun, Narabahasa sudah rutin memberikan banyak pelatihan daring. Saya sendiri berkesempatan ikut dalam salah satu pelatihannya di akhir bulan Mei lalu.

Tahun 2018 saya sempat menyaksikan langsung Ivan Lanin sebagai salah satu pemateri dalam sesi BukaTalks-nya BukaLapak, dan terus terang saja saya cukup terkesan dengan materi yang dibawakannya. Banyak hal menarik yang saya dapatkan selama kurang lebih satu jam sesi yang dibawakan. Sehingga ketika saya mengetahui terkait kelas-kelas yang dibuka oleh Narabahasa melalui akun Facebook mereka, tentu saja saya sangat tertarik mengikuti. Kapan lagi saya mengikuti sesi yang langsung dipandu oleh Ivan Lanin?


Kelas pertama Narabahasa yang saya ikuti

Jadwal kelas daring mereka cukup padat, bahkan terkadang Ivan Lanin menggaet pembicara lain sebagai narasumber bersama dengan dirinya. Saya sendiri kemarin mengambil kelas Bahasa Media Sosial yang dimentori langsung oleh Ivan Lanin, tanpa narasumber pendamping. 

Mengingat usianya yang masih sangat muda, sangat terkejut sih melihat padatnya jadwal pelatihan yang dibuka. Nampaknya Narabahasa sangat memanfaatkan situasi pandemi saat ini, ketika banyak orang lebih banyak berdiam di dalam rumah. 


Bahasa Media Sosial


Photo by dole777 on Unsplash

Sesi yang dijadwalkan selama 2,5 jam ini berlangsung hampir tiga jam melalui media zoom. Peserta yang dibatasi maksimal 100 saja per sesi sebenarnya sudah terlihat cukup banyak untuk saya. Namun, metode zoom seminar yang dipilih ternyata cukup membuat diskusi nyaman, diskusi dapat berjalan satu arah saat Ivan Lanin memberikan materi dan baru dibuka untuk peserta ikut berdiskusi ketika sesi pertanyaan dibuka. 

Secara garis besar, ada tiga bahasan utama yang diangkat dalam sesi Bahasa Media Sosial ini: wacana yang akan disampaikan, keterampilan penggunaan bahasa dan tata bahasa serta ejaan. Tiga bagian besar ini masing-masing dibagi lagi dalam beberapa pecahan. Untuk sesi 2,5 jam, materi yang diberikan cukup padat dan tidak semua dapat dibahas dengan detail. Karena kurangnya waktu, hanya ada enam pertanyaan yang sempat diberikan oleh peserta saat sesi tanya jawab langsung.

Sisi bagus dari Narabahasa, mereka memberikan kesempatan peserta melemparkan pertanyaan terpisah setelah sesi yang notulensinya dikirimkan ke surel semua peserta setelah dijawab. Sangat rapi dan membantu peserta yang mungkin terlewat menyimak atau bertanya. 



Narabahasa juga mengirimkan materi pelatihan sehari sebelum pelaksanaan sesi, lengkap dengan tata cara bergabung melalui zoom sekaligus tata tertib kelas. Tujuannya tentu dapat dipahami, agar peserta lebih siap menghadapi sesi. Saya sendiri menyukai bagian pemberian materi di awal sesi, jadi saya dapat membaca dahulu apa saja yang akan diberikan dan menyiapkan pertanyaan yang mengusik. Walau terus terang saja, selama sesi saya sedikit terganggu dengan cara Ivan Lanin yang membacakan materi dengan detail, padahal para peserta dapat melihat sendiri. Akan lebih baik apabila Ivan Lanin lebih fokus dengan pemberian contoh sehingga peserta dapat memahami maksud dari teori yang ada.

Selain materi, Ivan Lanin juga mengajak peserta aktif berpikir. Sebelum sesi dimulai, dengan bantuan Kahoot!, peserta diajak untuk ikut menentukan mana kata yang baku dan tidak. Selama sesi, ada dua kali Ivan mengajak peserta latihan penulisan kalimat serta melakukan pengecekan ejaan yang benar. Kesalahan-kesalahan seperti penempatan tanda baca, ketiadaan subyek atau pengulangan kata yang tidak perlu ternyata sering ditemukan dan dianggap umum.

Baku Tetapi Tidak Kaku




Sama seperti yang ditekankannya di sesi BukaTalks di medio 2018 lalu, Ivan Lanin juga kembali menekankan tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baku bukan berarti terdengar atau terucap kaku. Pemilihan diksi, penggunaan kata sapaan dan emoji, struktur kalimat yang enak dibaca dan didengar sampai selipan fatis (contoh: dong, deh, sih) dapat digunakan dan divariasikan. Khusus tentang fatis -kosakata yang tidak memiliki arti, namun membantu memberikan emosi- sendiri, Ivan Lanin menekankan tentang kekayaan ini yang tidak dimiliki bahasa lain. Fatis sering membuat orang asing yang belajar bahasa Indonesia menjadi bingung dalam mengartikan, sementara penggunaannya sendiri membantu meluweskan ucapan.

Misalnya saja, saat mengajak seseorang agar tidak terkesan memerintah, tentu lebih enak bilang ikut gue ke kantin sekarang, dong daripada ikut gue ke kantin sekarang bukan?

Berbahasa dengan baik dan benar juga dapat disesuaikan dengan konteksnya masing-masing. Misalnya saja media yang dipakai dalam berkomunikasi, situasi yang dihadapi sampai bidang yang ditekuni. Masing-masing tentu memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya saja, dalam salah satu pertanyaan yang diberikan peserta, Ivan Lanin dengan tegas menyatakan bahasa media sosial instansi pemerintah tentu tidak bisa santai karena bisa mencederai citra instansi. Namun, agar tetap terkesan familiar, bisa menggunakan teknik lain. 

Contohnya apa yang dilakukan OMBUDSMAN RI ini:


Teknik di atas dikenal sebagai teknik menunggang gelombang (riding the wave), terkenalnya poster film Korea Selatan yang menang Oscar tahun ini -Parasite- membuat banyak parodi poster yang sama dan mencuri perhatian masyarakat dengan cepat. 

Ivan Lanin memberikan banyak rujukan terkait bahasa Indonesia, untuk pilihan penggunaan kata dan kalimat yang tepat. Situs rujukan tersebut beberapa di antaranya sebagai berikut:

Tujuh situs dan atau kanal di atas dapat dipakai sebagai rujukan menemukan pilihan kata yang tepat untuk digunakan, agar kalimat yang akan disampaikan tidak terkesan kaku. 

Utamakan Bahasa Indonesia


Setiap selesai mengikuti sesi-sesi Ivan Lanin, saya selalu tercengang akan kekayaan Bahasa Indonesia yang seringsekali kita lupakan. Bukan karena tidak ingat, mungkin karena sudah terlalu biasa digunakan sehari-hari sehingga menjadi tidak ada yang istimewa. Ketika mencoba menelaahnya lebih dalam, ternyata banyak sekali keistimewaan Bahasa Indonesia yang belum saya ketahui dan merupakan keunggulan dibandingkan bahasa lain. 


Poster di atas selalu membuat saya sadar, mengutamakan Bahasa Indonesia bukan berarti melupakan keberadaan bahasa-bahasa lainnya. 

Sudahkah kamu mengutamakan Bahasa Indonesia?







Sunday, May 17, 2020

Review: Pelajaran Hidup dari The World of the Married


Bukan sekadar drama pelakor, the World of the Married memberikan banyak pelajaran hidup


Drama Korea (drakor) The World of the Married (TWOTM) besutan JTBC yang menjadi perbincangan sejak awal tayang, menutup episode final dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan. Bukan sesuatu yang aneh, drama ini benar-benar memberikan cerita yang tidak bisa ditebak dan penuh plot twist sepanjang episodenya. Menonton setiap episode TWOTM tidak memberi ruang penonton untuk berpaling sedetikpun, karena setiap adegannya sangat bermakna walaupun tanpa dialog. Saya sendiri merasakannya terutama di episode 10, apalagi di menit-menit akhir. 

TWOTM memang konsisten mencatat rating tinggi sejak episode pertama, dan terus memiliki rating dua digit di episode ketiga sampai terakhir pada tanggal 16 Mei kemarin. Tidak hanya itu, di Indonesia pun, setiap akhir pekan TWOTM selalu memuncaki trending topic twitter. Banyak orang Indonesia yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti drakor, penasaran dengan drama ini dan memutuskan menontonnya. Saya sendiri yang sudah sekitar satu tahun tidak menonton drakor, akhirnya turun gunung juga karena melihat seringnya berseliweran di timeline haha.

Adaptasi dari serial BBC UK - Doctor Foster

TWOTM diadaptasi dari serial Doctor Foster yang ditayangkan BBC UK. Apabila Doctor Foster terdiri dari dua musim dengan total episode 10, maka TWOTM memiliki jumlah 16 episode. Menilik dari posternya yang terfokus akan adanya darah pada cincin pernikahan, sudah terlihat garis besar cerita yang akan terpusat pada dunia pernikahan. Serial Koreanya memiliki fokus pada pasangan menikah yang tinggal di kota kecil Gosan, tidak hanya pada masalah sang tokoh utama seperti serial aslinya. Perbedaan tersebut membuat drakor ini memiliki banyak pelajaran hidup yang dapat ditarik.

Postingan ini mungkin mengandung spoiler, karena mengandung semua yang terjadi dari episode awal sampai terakhir. Jadi, silakan berhenti di sini apabila belum menonton drakornya dan tidak mau tahu lebih jauh ya.

Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Lemah, Melainkan Awal dari Berdamai dengan Diri Sendiri

ki-ka Da Kyung, Ye Rim dan Sun Woo

Ji Sun Woo, Yeo Da Kyung dan Go Ye Rim terlihat sebagai wanita yang kuat dengan pendirian masing-masing yang sulit digoyahkan. Ketiga wanita ini berusaha mempertahankan harga diri masing-masing, dengan berbagai cara, yang akhirnya malah menjerumuskan mereka pada penderitaan lain. Saat kita mampu mengakui kelemahan diri, jalan menuju kedamaian hidup pun tercipta. Ketiga wanita ini contohnya. 



Ji Sun Woo yang tidak lagi memiliki keluarga, hanya punya Joon Young sang anak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keberadaan sang anak di sisinya. Keinginannya ini diwujudkan dengan berbagai cara, mulai dari memastikan Tae Oh sang mantan suami menjauh dari hidup anaknya (dengan membuat sandiwara yang hampir menewaskan dirinya), melabrak pembuat gosip yang mengganggu pikiran anaknya (yang ujung-ujungnya justru membuat sang anak malu), menyalahkan rekan psikiaternya karena menyembunyikan konsultasi yang dilakukan Joon Young sampai membela anak sepenuh hati tanpa pernah paham masalah yang menimpa anaknya serta mengatur seluruh aspek kehidupan si anak.

Ketika Joon Young muak dan akhirnya memilih tinggal dengan sang ayah, barulah Sun Woo terpuruk. Ia pun mencari bantuan ke psikiater. Sayangnya, di sini Sun Woo masih menyalahkan dirinya sendiri yang berujung dengan keputusasaan yang kembali hampir merenggut jiwanya. Pada episode final, ketika Joon Young yang kembali tidak tahan dengan sang ibu memilih melarikan diri, Sun Woo menyerah dan mengakui kesalahan dirinya. Selama ini ia selalu berusaha mempertahankan banyak hal namun tidak tahu apa yang sebenarnya penting untuk dirinya. Kali ini, Sun Woo membiarkan Joon Young dengan kehidupan barunya (dan cukup melihat dari kejauhan) dan menunggu sampai anaknya itu siap kembali ke pelukannya.



Yeo Da Kyung terus memiliki kecurigaan akan kelakuan suaminya, Tae Oh. Da Kyung curiga Tae Oh masih berhubungan dengan mantan istrinya, Sun Woo. Da Kyung bahkan menugaskan salah satu karyawan Tae Oh untuk memata-matai suaminya itu. Berbagai bukti yang diterima dari si karyawan, peringatan Sun Woo bahkan Ye Rim, yang terus menyebutkan tentang kelakuan Tae Oh yang tidak akan pernah berubah tidak digubrisnya. Salah satu langkah yang dilakukan Da Kyung untuk menyelamatkan pernikahannya adalah membawa Joon Young, anak Tae Oh dan Sun Woo, ke rumahnya. Da Kyung bahkan menyelamatkan Joon Young dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah demi membuat Tae Oh terkesan.

Da Kyung juga masih memberi Tae Oh kesempatan walau suaminya telah mengakui berselingkuh dengan Sun Woo. Ia melakukan apapun demi mempertahankan imej pernikahan yang sempurna. Namun, semuanya jatuh ketika Sun Woo kembali memperlihatkan pada Da Kyung seperti apa pribadi asli Tae Oh. Saat itu juga Da Kyung menyadari kebodohannya, dan memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan Gosan (untuk kedua kalinya). Memulai kehidupan barunya, Da Kyung kembali ke bangku kuliah dan melupakan cinta untuk sementara waktu.


Go Ye Rim adalah perempuan lain yang berusaha keras mempertahankan pernikahannya. Saya sempat kesal melihat perempuan ini mau saja menjadi bulan-bulanan suaminya. Je Hyuk, sang suami, terang-terangan memuji wanita lain di hadapan Ye Rim. Je Hyuk bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya didengar sang istri. Je Hyuk memperlakukan Ye Rim seperti pembantu, dan tidak pernah mau mendengar keinginan sang istri. Ye Rim pun bukan tidak tahu semua kelakuan sang suami di belakangnya, namun ia memilih bertahan. Ketika Je Hyuk berselingkuh dengan Sun Woo pun, dengan pongahnya Ye Rim mengatakan pada Sun Woo kalau hal itu tidak akan menghancurkan pernikahannya. 

Penyesalan pertama Ye Rim muncul ketika Je Hyuk yang tidak pernah menginginkan kehadiran anak, tiba-tiba saja menyetujui keinginan sang istri memiliki anak. Kebahagiaan Ye Rim bersifat sementara, karena di tengah-tengah euforia proses persiapan memiliki anak, Ye Rim kembali mengetahui sang suami selingkuh. Saat itulah Ye Rim memutuskan bercerai. Je Hyuk yang tidak ingin kehilangan Ye Rim, terus berusaha mendekati mantan istrinya itu sampai akhirnya mereka menikah kembali. Namun, sejarah perselingkuhan Je Hyuk membuat Ye Rim trauma dan memilih meninggalkan Je Hyuk (dan Gosan) selamanya. Melalui episode terakhir, terlihat Ye Rim bahagia dengan keputusannya ini, dan sang mantan suami malah sepenuhnya belum bisa move on.

Setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya dan Terkadang Karma itu Nyata Adanya




Melihat Lee Tae Oh terpuruk di episode 15 dan 16 pasti membuat semua penonton TWOTM bersorak gembira, saya salah satunya haha. Laki-laki yang sudah memiliki segalanya, dan melepas semua namun pada akhirnya tidak bisa sepenuhnya melepaskan kehidupan yang sudah ditinggalkannya ini benar-benar bikin emosi. Maunya apa? Sebelumnya sudah punya keluarga yang sempurna, namun ditinggalkan. Keluarga baru yang dimilikinya pun tak kalah sempurna, tapi masih saja ingin memiliki keluarga yang lama. Kan maruk ya. Sempat terpikir apakah pria ini akan menerima karmanya, karena setiap episode kok malah semakin jemawa dan enggak tahu malu ya. Namun akhirnya episode 15 memberikan jawabannya, Tae Oh kehilangan semua yang dimilikinya dalam satu hari. Salah satu adegan yang paling memorable buat saya ketika ia memungut uang yang dilemparkan Sun Woo, sungguh harga dirinya sudah jatuh ke titik terendah.

Kehidupannya semakin menyedihkan di episode 16, ketika ia memohon kepada Sun Woo untuk menerima dirinya kembali. Konsisten enggak tahu malu sampai episode terakhir ya pria ini. Namun, kepergian Joon Young akhirnya membuat Tae Oh sadar untuk menata kembali hidupnya.  Ia mulai mencari pekerjaan dan berusaha hidup lebih baik.


Episode 9 tentu paling ditunggu-tunggu untuk semua penonton drakor ini yang kesal banget sama Da Kyung. Kali pertama Da Kyung mengetahui kalau sang suami, Tae Oh, masih terobsesi pada mantan istrinya. Penggambaran adegannya pun persis sama ketika Sun Woo mengetahui perselingkuhan suaminya dulu di episode 1. Da Kyung yang terus mengabaikan semua peringatan orang tentang perangai Tae Oh yang tidak mungkin berubah (once a cheater, always a cheater), akhirnya merasakan akibatnya.

Walaupun banyak penonton mengutarakan kekecewaan mereka akan ending drama ini yang dinilai menguntungkan Da Kyung, mengingat ia mendapat kesempatan kembali ke bangku kuliah dan ditaksir cowok tampan pula, namun saya justru berpikir sebaliknya. Masa muda Da Kyung yang seharusnya menyenangkan, malah hancur karena bertemu Tae Oh. Da Kyung harus menerima kenyataan menjadi dewasa lebih cepat, memiliki anak sekaligus bercerai di usia muda. Saya pikir konsekuensi itu cukup berat untuk seorang perempuan yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, namun menghancurkannya karena salah mengambil keputusan.



Walaupun kelihatannya hidup Son Je Hyuk baik-baik saja setelah berpisah (kedua kalinya) dengan sang istri, Yerim, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Je Hyuk tersiksa. Salah satu adegan di episode terakhir memperlihatkan Je Hyuk mengamati kue kesukaan sang mantan istri cukup lama. Ini sejalan dengan pernyataan Je Hyuk di salah satu episode, pria tidak akan mudah melupakan cinta yang datang sebelumnya. Walaupun saat mengatakannya, Je Hyuk merujuk pada kondisi Tae Oh, tapi di episode 16 ini terlihat kalau sebenarnya kata-kata itu lebih cocok disematkan untuk dirinya. 

Je Hyuk memang memiliki banyak ucapan yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada episode awal, pria ini juga menyebutkan tentang pria yang tidak mungkin bisa hidup dengan satu perempuan saja. Nyatanya, saat Yerim minta cerai pertama kali, Je Hyuk langsung tertekan dan kemudian berusaha memenangkan hati Ye Rim. Kim Young Min (pemeran Son Je Hyuk) memang sangat baik berakting sebagai pria playboy yang berhati Rinto, tidak heran kalau tahun 2020 ini ia pun menyabet nominasi Baeksang untuk kategori Best Supporting Actor.

Jadi, hati-hati dengan ucapan ya.


Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Jahat (atau Baik)

Tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau baik di drama ini, termasuk Sun Woo. Namun, kudos terbaik saya berikan untuk dr. Sul Myung-Sook! dr Sul yang merupakan rekan Sun Woo di rumah sakit ini sejak episode satu sudah terlihat bermuka dua, kalah pokoknya ular. Sun Woo sampai bilang kalau temannya ini seorang agen ganda, terlihat mendukung Sun Woo namun di belakangnya, siap menjatuhkan. Perempuan ini pun konsisten melakukan peran agen ganda ini selama sembilan episode pertama, benar-benar definisi orang paling cari aman sedunia. Pokoknya apa yang akan dia lakukan, tergantung situasi mana yang menguntungkannya.

Episode 10 mengubah semuanya.



dr. Sul yang tertarik menggantikan posisi Sun Woo sebagai associate director di Rumah Sakit, tersinggung dengan ucapan dr. Kong (pemimpin rumah sakit) yang menolak permohonan naik jabatannya. Menurut dr. Kong, dr. Sul harus ingat kalau perempuan tidak seharusnya memiliki ambisi yang berlebihan, apalagi kalau single, tidak ada orang lain pula yang harus dinafkahi. Padahal, sebelumnya dr. Kong menawarkan posisi yang sama pada dr. Kim yang juga single, namun karena pria jadi dianggap lebih cocok memegang posisi tinggi.

Selepas kejadian itu, terlihat dr. Sul mengalami perubahan karakter. Ia mulai berempati pada Sun Woo yang harus menanggung stigma perempuan bercerai, karena dirinya pun memiliki stigma perempuan lajang yang ditempelkan padanya. Beberapa episode selanjutnya menunjukkan dr. Sul yang lebih positif dan bahkan memiliki teman kencan. Salah satu adegan yang saya sukai ketika dr. Sul minum-minum dengan Sun Woo dan Ye Rim (dimana keduanya telah bercerai), dia senang sekali karena akhirnya punya teman-teman yang lajang haha. 

Berikut beberapa kata-kata yang diucapkan dr.Sul untuk Sun Woo dan Ye Rim.




Saat Pernikahan Berakhir, Hubungan itu Tetap Ada dan (ketika ada) Anak Akan Menjadi Korban



Sesuai dengan judul drakor, The World of the Married, cerita yang disuguhkan di dalam drama ini semuanya terpusat pada dunia pernikahan. Awal cerita memang banyak fokus pada kemelut cinta segitiga Sun Woo - Tae Oh - Da Kyung, lalu merembet ke hubungan rumah tangga Ye Rim dan Je Hyuk, kemudian melebar ke beberapa hubungan tidak sehat. Seperti pernikahan Ketua Choi yang dipertahankan sang istri walau ia tahu suaminya selingkuh, hubungan pacaran Park In Kyu dan Min  Hyun Seo yang penuh kekerasan emosional sampai kehidupan dewasa lajang yang diwakili oleh dr. Kim dan dr. Sul. 

Saat Sun Woo dan Ye rim memutuskan bercerai, bukan berarti hubungan mereka dengan sang mantan suami putus. Sebaliknya, ikatan itu tetap ada. 



Ketika memiliki anak, maka relasi itu semakin nyata adanya dan tidak akan terputus. Satu ungkapan yang saya ingat, ada sebutan mantan istri atau suami, tapi tidak ada sebutan mantan ayah, ibu bahkan mantan anak. Sun Woo dan Tae Oh terus mengalami naik-turun hubungan karena adanya Joon Young di antara mereka. Mereka berdua berebut menunjukkan siapa yang pantas menjadi wali Joon Young, tanpa menyadari sang anak memiliki luka yang dalam

Luka pertama ditunjukkan Joon Young ketika Sun Woo melarikannya jauh dari ayahnya. Joon Young yang selama ini memang lebih dekat dengan sang ayah tentu saja protes. Tanpa berusaha memahami alasan Joon Young, Sun Woo malah merasakan ini sebagai ancaman akan kehilangan hak asuh sang anak, Ujungnya, seperti saya ceritakan sedikit di atas, Sun Woo merancang skenario yang membuat Tae Oh kehilangan hak asuh sekaligus hak mengunjungi. 

Luka berikutnya terus terjadi karena hubungan Sun Woo dan Tae Oh yang tidak stabil. Tanpa mereka berdua sadari, Joon Young harus menghadapi konflik batin tersendiri. Semakin mendekati episode final, semakin terlihat nyata kalau Joon Young adalah korban sebenarnya dari perseteruan ayah dan ibunya. 

Jeon Jin Seo si aktor cilik yang sangat baik memerankan konflik internal anak korban perceraian

karena itu, akhirnya...

Anak Juga Manusia


Walaupun anak berbeda usia jauh dengan orangtuanya, bukan berarti mereka tidak paham akan masalah yang menimpa kedua orang tuanya. Joon Young pertama kali mengungkapkan kekesalannya pada kedua orangtuanya ketika Sun Woo dan Tae Oh dipanggil ke sekolah karena laporan kekerasan yang dilakukan Joon Young (episode 13). Alih-alih mencoba memahami apa yang terjadi pada sang anak, baik Sun Woo maupun Tae Oh sama-sama tidak sabar mencoba mencari tahu penyebab sang anak melakukan kekerasan tersebut. 

Sebelumnya, dalam episode-episode awal, diceritakan Joon Young tidak pernah punya pilihan dalam berbagai kesempatan. Sun Woo selalu memilihkan kegiatan untuknya, sementara sang ayah tidak memiliki hak bicara sama sekali ketika Sun Woo sudah bertitah. Pada episode akhir, terlihat Sun Woo pun masih memilihkan pakaian untuk Joon Young. Namun karena hubungan mereka yang membaik, Sun Woo akhirnya mengalah dan mengatakan Joon Young dapat membeli pakaiannya sendiri.  



Hubungan yang baik antara Sun Woo dan sang anak, Joon Young, tentu tidak tercipta begitu saja. Semua dimulai ketika Sun Woo jujur menceritakan permasalahan dirinya. Tidak bersikap diktator seperti biasanya, Sun Woo memperlakukan Joon Young sebagai teman. Perlakuan ini pun terus diterapkannya ketika ia meminta pendapat Joon Young. Ia menyerahkan keputusan penting, yang juga terkait akan hidupnya sendiri, ke tangan sang anak.

Penting sekali untuk orang tua menyadari, kalau anak juga manusia. Mereka memiliki keinginan dan aspirasi sendiri. Awalnya memang berat untuk orangtua menyadari kalau keinginan anak mungkin tak sejalan dengan keinginan mereka, namun pada akhirnya, kepercayaan sang anak adalah taruhannya. Saat orangtua memperlakukan anak sebagai rekan satu level, saat itulah sang anak juga akan menghargai orangtuanya.

Pada akhir drama ini, Joon Young kembali terpuruk ketika melihat ibunya tidak dapat memenuhi janjinya. Sang ibu yang sudah berkata hubungannya dengan sang ayah berakhir ternyata masih terlihat gamang, dan akhirnya Joon Young memutuskan untuk melarikan diri. Lepas dari kekalutan hubungan kompleks ayah dan ibunya.


Masih banyak banget sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari drama ini, tapi nanti tulisan saya jadi essay ya haha. Satu yang pasti, pantas sekali untuk drakor ini memegang rating tertinggi pada setiap episodenya, terutama episode akhir. Episode akhir mengandung banyak sekali petuah-petuah hidup yang sampai saya menulis ini saja membuat saya banyak berpikir. 

Terutama ini:

Ngena banget ini kata-kata :(

Satu yang pasti, kita tidak pernah tahu perjuangan setiap orang. Dalam hidup, lakukan saja yang terbaik. Ikuti petuah istri ketua Choi berikut agar hidup (sedikit) lebih tenang, enggak perlu misuh-misuh ngomongin orang kalau diri sendiri saja masih punya banyak masalah.



Kalau Anda sendiri, apa yang terkenang dari drama ini?



Thursday, May 7, 2020

Sejarah Republik Korea Selatan



Sebagai penyuka banyak hal terkait negara ginseng ini, selalu menjadi pertanyaan dalam hati mengenai sejarah terbentuknya Korea Selatan. Apalagi para penikmat drama korea, pasti sangat familiar dengan genre drama saeguk. Drama saeguk adalah sebuah drama yang berlatar-belakang sejarah Korea, paling sering tentu dengan latar belakang kerajaan. Melihat banyaknya kerajaan yang berkuasa - jadi bertanya-tanya sejak kapan sebenarnya Korea Selatan ini terbentuk menjadi Republik? Bergeser model pemerintahan dari kerajaan ke sistem Republik.

Alhasil, ke-kepo-an tersebut belanjut pada baca dan nonton sana-sini untuk tahu sejarahnya. Luar biasa banget deh, panjang juga ya sejarah Republik Korea Selatan itu haha. Secara garis besar, mungkin bisa dibagi dalam empat linimasa.


Tiga Kerajaan Besar Korea



Sejarah di Semenanjung Korea dimulai dari tahun pertama masehi (1 M). Semenanjung Korea dan sebagian Manchuria (yang sekarang menjadi wilayah milik Tiongkok dan Rusia) terbagi menjadi tiga kerajaan besar. Tiga kerajaan tersebut adalah Baekje (백제, 百濟), Silla (신라, 新羅) dan Goguryeo (고구려, 高句麗). Kerajaan Baekje dan Silla menempati bagian selatan Semenanjung Korea dan Tamna (sekarang: Pulau Jeju), sementara Kerajaan Goguryeo menguasai area yang lebih besar di Semenanjung Liaodong, Manchuria dan bagian utara Semenanjung Korea.

Ketiga kerajaan besar ini saling bersaing dalam sektor ekonomi dan militer, dengan Baekje dan Goguryeo yang dianggap dua kerajaan yang lebih kuat dibandingkan Silla. Salah satu penyebabnya mungkin karena Baekje dan Goguryeo berbagi mitos pendiri yang kemungkinan besar berasal dari Kerajaan Kuno Buyeo. Walau pada akhirnya nanti, Kerajaan Silla yang mampu menyatukan tiga kerajaan ini menjadi Silla Bersatu di tahun 676 M.

Di Tiongkok, tiga kerajaan Korea ini dikenal dengan sebutan Samhan sejak awal abad ke-7. Penggunaan nama Samhan ini merujuk kepada lokasi tiga kerajaan ini yang berada dalam area Dinasti Tang. Dinasti Tang sendiri adalah salah satu dinasti Tiongkok terbesar. Fun fact, "Han" yang sering disebut pada Kekaisaran Korea, Daehan Jeguk, dan Republik Korea (Korea Selatan), Daehan Minguk atau Hanguk, dinamai sesuai dengan Tiga Kerajaan Korea.

Catatan mengenai tiga kerajaan besar ini dapat ditemukan melalui catatan sejarah bernama Samguk sagi (tertulis dalam bahasa Mandarin) serta Samguk yusa yang memuat detail lebih lengkap, seperti periode sebelum dan sesudah Samhan.

Aliansi Kerajaan Silla dengan Dinasti Tang dari Tiongkok akhirnya membuat Kerajaan ini mampu melumpuhkan dua kerajaan lain, serta beberapa kerajaan kecil lainnya, di tahun 668 SM. Untuk pertama kalinya, Semenanjung Korea disatukan dalam Kerajaan Silla Bersatu (Later Silla/Unified Silla).

Kejayaan Dinasti di Korea


Walaupun secara politis, Silla Bersatu tidak stabil, namun Kerajaan itu merupakan kerajaan yang makmur. Ibukota Silla Bersatu di Seorabeol (sekarang: Gyeongju) adalah kota terbesar keempat di dunia saat itu. Sayangnya, Raja terakhir Silla Bersatu (Raja Gyeongsun) akhirnya menyerah kalah pada Wang Geon (penemu Dinasti Goryeo). Setelah jatuhnya Silla bersatu di akhir abad ke-9, muncullah Dinasti pertama yang memimpin Korea, Dinasti Goryeo. Sejarah Korea modern bahkan mendebat, Dinasti Goryeo lah yang sebenarnya dapat disebut menyatukan Semenanjung Korea untuk pertama kalinya, bukan Kerajaan Silla Bersatu.

Dinasti Goryeo disebut-sebut sebagai 'true national unification' (penyatuan nasional sejati), karena tidak hanya menyatukan tiga kerajaan besar sebelumnya, namun juga menggabungkan banyak kelas penguasa kerajaan Utara. Asal nama Korea yang kita kenal saat ini pun berasal dari 'Goryeo' (dieja Koryo) yang pertama kali digunakan pada abad ke-5 oleh Goguryeo.

Selama masa pemerintahan Goryeo, berbagai macam hal berkembang pesat, hukum dibuat, pelayanan masyarakat terbentuk dan penyebaran agama Buddha merebak. Masa kekuasaan Dinasti Goryeo adalah periode emas penyebaran agama Buddha di Korea. Sekitar 70 kuil Buddha dibuat hanya di pusat pemerintahan saja di abad ke-11. Seni dan budaya juga berkembang cukup pesat di masa ini, dengan munculnya banyak kerajinan tembikar dan porselen yang disebut Koryo Celadon, serta terciptanya Tripitaka Koreana.

Dinasti Goryeo yang berusia 400 tahun mulai mengalami kemunduran pada akhir abad ke-14 karena dilemahkan oleh perebutan kekuasaan internal dan pendudukan nominal oleh Kekaisaran Mongol. Dinasti baru, Dinasti Joseon (tahun 1392), didirikan oleh  Jenderal Yi Seong-Gye (kemudian dikenal sebagai Raja Taejo). Raja Taejo memindahkan ibukota ke Hanyang dari sebelumnya di Kaesong, lalu membangun Istana Gyeongbokgung serta mengesahkan Konfusianisme sebagai agama nasional, menggantikan agama Buddha yang sebelumnya mayoritas.

Dinasti Joseon disebut sebagai awal dari sejarah Korea modern. Dinasti ini memiliki usia pemerintahan terpanjang di Asia Timur selama lima abad, mulai dari bulan Juli 1392 sampai dengan Oktober 1897 dengan total 27 raja yang memimpin. Perkembangan pesat dalam ilmu pengetahuan dan budaya juga terjadi selama periode kekuasaan dinasti ini. Satu yang terbesar tentu saja penemuan abjad asli Korea (Hangeul) oleh Raja Sejong. Raja Sejong sendiri salah satu raja yang kuat selama masa pemerintahan Dinasti Joseon, patungnya yang terkenal sampai sekarang terdapat di Gwanghwamun Square yang terletak di pusat kota Seoul.

Perkembangan pesat dalam budaya selama masa Dinasti Joseon terdapat dalam enam aspek: pakaian, seni, arsitektur, literasi, pendidikan, agama (utamanya Buddha dan Konfusius), serta musik. Sisi arsitektur tentu menjadi salah satu peninggalan penting dari periode ini, mengingat lima istana (Five Grand Royal Palaces) yang berlokasi di Seoul - Istana Gyeongbokgung, Istana Changdeokgung, Istana Changgyeonggung dan Istana Deoksugung, serta Kuil Jongmyo. Saya sendiri sempat menulis pengalaman mengunjungi salah satu Istana tersebut - Istana Changdeokgung - di sini. Lima tempat ini masuk sebagai salah satu destinasi wajib wisatawan yang berkunjung ke Seoul sampai sekarang.

Dinasti Joseon di bawah pemerintahan Raja Sejong yang Agung adalah periode kemajuan ilmiah terbesar di Korea, yang terjadi di abad ke-15. Salah satu penemuan terbaik terjadi di bidang astronomi, yaitu terciptanya perangkat seperti bola langit yang menunjukkan posisi matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Sejarah Korea pada masa Kerajaan dan Dinasti ini sebenarnya begitu pelik, saya hanya mencoba menceritakan garis besarnya saja. Lebih lengkapnya dapat merujuk pada video di bawah ini yang runut memberi informasi dan cukup mudah dimengerti.


Era keemasan Dinasti Joseon, yang membawa begitu banyak sumbangan budaya untuk bangsa Korea sampai dengan masa sekarang, akhirnya berakhir di tangan Jepang yang memang berkali-kali berusaha menginvasi Korea. Periode terganas terjadi pada tahun1592-1598, ketika dinasti Joseon banyak mendapat serangan dari Jepang. Periode ini dikenal dengan sebutan Perang Imjin (invasi Jepan ke Semenanjung Korea). Tepat pada tahun 1910, setelah Korea terpaksa menandatangani  Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai  protektorat Jepang, Jepang resmi menjajah Korea.

Perang Dunia II


Awal terbentuknya Korea Selatan yang ada saat ini bermula ketika Perang Dunia Kedua pecah. Masa pendudukan Jepang selama 35 tahun di Korea Selatan penuh gejolak penolakan dari rakyat Korea sendiri. Korea sampai mendirikan Pemerintahan Sementara Korea (Korean Provisional Government/KPG) yang bermarkas di Tiongkok. Korea akhirnya terlepas dari penjajahan Jepang ketika negara Sakura tersebut kalah dalam Perang Dunia Kedua.

Menyerahnya Jepang di tahun 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk kelanjutan Semenanjung Korea, namun rencana tersebut tidak pernah terlaksana. Apa yang terjadi berikutnya malah sebaliknya, dua negara tersebut malah membagi kekuasaan atas Semenanjung Korea, tanpa melibatkan pendapat dari rakyat Korea sama sekali. Selama tiga tahun ke depan (1945-1948), tentara dan perwakilan Soviet, membangun rezim komunis di wilayah utara. Sementara di bagian selatan, pemerintah militer dibentuk (didukung oleh Amerika Serikat).

Kedua wilayah Semenanjung Korea (yang kemudian dikenal dengan Korea Utara dan Korea Selatan) tersebut dibagi oleh garis lintang 38 derajat (38th parallel - yang kemudian akan dikenal dengan sebutan DMZ - demilitarized zone saat ini).

Tiga tahun masa pendudukan sementara oleh Soviet dan Amerika Serikat selesai di tahun 1948, Amerika Serikat meminta PBB untuk melakukan pemilihan suara di Korea. Namun, pihak Utara menolak berpartisipasi yang menyebabkan pihak Selatan membentuk pemerintahannya yang berpusat di Seoul – dipimpin oleh Syngman Rhee. Area utara juga tidak mau kalah dan mendirikan negara komunis yang berpusat di Pyongyang, dengan Kim Il Sung sebagai perdana menteri pertama.

Ketegangan antara kedua negara Korea tersebut terus berlanjut sampai Perang Korea meletus tahun 1950, ketika pihak Korea Utara menyerang Korea Selatan. Perang Korea disebut-sebut sebagai perang paling destruktif di era modern, dengan sekitar 3 juta kematian akibat perang dan jumlah kematian warga sipil proporsional yang lebih besar dibandingkan korban Perang Dunia II atau Perang Vietnam. Gambaran kekejaman Perang Korea salah satunya dapat dilihat dalam film Taegukgi.

Perang Korea tidak bisa dikatakan benar-benar berhenti sampai sekarang, yang terjadi saat ini hanyalah gencatan senjata lanjutan dari yang terjadi di tahun 1953 untuk mengakhiri konflik. Saat itu Zona demiliterisasi (DMZ) didirikan untuk membelah semenanjung Korea dan membuat perbatasan yang jelas. Hingga saat ini, tidak ada perjanjian damai yang ditandangani.

Video berikut menjelaskan dengan lebih detail bagaimana akhirnya Semenanjung Korea dapat terbagi dua (hingga sekarang).


Video tersebut dibuat tahun 2018 lalu, namun sampai tulisan ini dibuat di tahun 2020, keadaan kedua Korea masih cukup sama seperti tergambar dalam video.

Republik Korea Selatan


Semenanjung Korea bagian selatan dengan pemimpin pertama Syngman Rhee, akhirnya memiliki wujud sebagai negara Republik Korea Selatan pada tahun 1948. Masa-masa pembangunan Korea Selatan menjadi negara yang dikenal masyarakat umum seperti saat ini tidak mudah. 

Lepas dari pembagian wilayah Semenanjung Korea sepeninggalan Jepang, wilayah Selatan yang ditempati Korea Selatan saat ini mendapatkan pembagian wilayah pertanian, yang meskipun produktif, tetapi ini hampir tidak cukup untuk memberi makan populasi padat penduduk yang tumbuh di negara tersebut. Berbeda dengan wilayah utara yang mewarisi sebagian besar industri yang ditinggalkan oleh kolonial Jepang, termasuk 80 persen sumber pembangkit listrik. 

Linimasa perkembangan Korea Selatan menjadi negara yang sangat diperhitungkan dunia dapat dlihat di sini. Titik balik kecepatan industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan terjadi sejak masa kepemimpinan Jenderal Park Chung-hee mulai tahun 1961. Percepatan kemakmuran yang dialami Korea Selatan sekitar 50 tahun terakhir ini sering disebut sebagai Keajaiban Sungai Han (The Miracle of Han River). 

Demikian sedikit sejaran Republik Korea Selatan yang dapat saya ceritakan kali ini. Semoga sehabis membaca tulisan ini, banyak hal yang dapat kita tarik hikmahnya. Misalnya saja kekuatan rakyat Korea Selatan akan harapan, optimis, keinginan kuat, dan kerja keras yang dapat kita contoh. Yah, setidaknya saya juga tidak penasaran lagi dengan sejarah negara ini haha. 

Siapkah kita menjadi maju seperti Korea Selatan?



Monday, May 4, 2020

Tokyo Love Story 2020 vs 1991

Tokyo Love Story - semua versi

Masih ingat kisah Rika Akana dan Kanji Nagao?

Remake, recycle, aransemen ulang, versi baru, daur ulang, tribute, adaptasi, adopsi, yah apapun namanya, intinya bukan versi pertama. Mungkin kedua, ketiga atau lebih. Sudah lama cara ini ditempuh industri hiburan dengan dalih membuat versi baru yang lebih modern, supaya mudah diterima generasi baru sekaligus menimbulkan nuansa nostalgia untuk generasi sebelumnya.

Tokyo Love Story tidak luput dari tren tersebut. Anak-anak 90an pasti sedikit banyak ingat akan dorama satu ini.

Awal dekade 90an, tepatnya tahun 1994, dorama (serial Jepang) produksi Fuji TV ini tayang pertama kali di stasiun TV swasta, Indosiar. Tokyo Love Story mengawali hujan dorama di tv Indonesia yang mengikuti setelahnya. Sampai saat ini, dorama ini masih dikenal sebagai salah satu dorama terbaik yang pernah diproduksi, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu drama romansa Jepang terbaik sepanjang masa.

Soundtrack drama ini yang berjudul Love Story wa Totsuzen ni yang dinyanyikan Kazumada Oda adalah lagu terlaris ke-sembilan sepanjang masa di Jepang. Saat ditayangkan di tv swasta Indonesia, Tokyo Love Story dialihbahasa ke bahasa Indonesia, termasuk lirik lagu temanya.


di hari itu dan di tempat itubila kita tak pernah berjumpamungkin kita tak akan percayakau dan aku saling suka dan cinta
Siapa yang otomatis menyanyi saat membaca lirik lagu di atas?

Tokyo Love Story - yang diangkat dari manga berjudul sama karangan Saimon Fumi (1988 - 1990) -bercerita tentang Mikami, Kanji, dan Satomi yang telah berteman sejak mereka masih kanak-kanak dan tumbuh di kota kecil yang sama di Prefektur Ehime di pulau Shikoku. Sekarang, ketiganya telah berusia awal 20-an dan pergi ke Tokyo karena berbagai alasan. Kanji terakhir tiba, setelah pindah ke kantor Tokyo. Di tempat kerja, ia bertemu dengan kolega baru yang lincah, Rika, serta dipersatukan kembali dengan teman-teman baiknya dari rumah — Mikami dan Satomi. Mikami adalah teman pria terbaik Kanji dan Satomi adalah teman wanita platonis mereka yang keduanya taksir sejak SMA.

Empat tokoh utama Tokyo Love Story versi Manga
Dorama ini berjumlah 11 episode dan saat ditayangkan pertama kali di tahun 1991, rating Tokyo Love Story selalu tinggi. Puncaknya, ratingnya mencapai angka 32% di episode terakhir. Pantas saja kalau serial ini terus dikenang hingga sekarang. Tidak heran juga kenapa setelah hampir 30 tahun tayang, akhirnya Tokyo Love Story kembali dibuat ulang.

Tokyo Love Story 2020 dijanjikan membawa nuansa modern yang berbeda, di antaranya memasukkan unsur smartphone dan SNS (social networking site - sejauh yang saya tonton sampai episode 2, tentu saja Line Messenger buatan Jepang yang dipakai). Sepertinya akan banyak sekali debat-debat lucu Rika dan Kanji melalui SNS, yang dulunya hanya dilakukan melalui cordless phone.

Langsung saja kita bandingkan empat tokoh pemeran utama versi 1991 dan 2020 sekarang ya...


Rika Akana yang super ikonik dulunya diperankan oleh Honami Suzuki. Suzuki berhasil menghidupkan tokoh Rika yang ceria, bawel, energik, dan spontan. Susah sekali menampik pesona Rika Akana yang diperankan Suzuki di sini, apalagi senyumnya yang khas dan seperti menularkan radiasi. Ishibashi Shizuka akan mengemban misi sulit untuk memerankan seorang Rika yang sangat melegenda. Ini adalah peran utama Shizuka di layar kaca, setelah sebelumnya sempat membintangi banyak film layar lebar.

Sosok Rika Akana versi Shizuka lebih cuek, to the point dan santai. Pada versi 1991, Rika terlihat langsung terobsesi pada Kanji sejak episode pertama, pada versi baru ini - Rika terlihat santai dan belum terlalu menunjukkan perasaannya pada Kanji. Dengan cueknya, Rika bisa mengajak Kanji berhubungan seksual untuk membantu Kanji melupakan Satomi. Rika juga terlihat lebih bebas menunjukkan affairnya dengan sang atasan, dibandingkan versi lama. Mungkin pengaruh budaya yang sudah semakin terbuka juga ya sekarang ini.

Rika Akana yang ikonik

So far sih, Shizuka masih harus berusaha lebih keras untuk mengambil hati penonton. Entah karena saya sudah terbiasa dengan Rika versi lama, atau karena peran Rika di 2 episode pertama Tokyo Love Story 2020 masih kurang banyak, yang jelas Rika versi Shizuka butuh upaya keras untuk membuat penonton memihaknya.


Kanji Nagao tetap seorang pemuda naif, polos, kaku dan sederhana. Pada versi 1991, Yuji Oda memerankan Kanji yang selalu tampak terganggu dengan kehadiran Rika. Kerutan di dahinya selalu muncul setiap bertemu Rika, bahkan ada adegan di mana ia pura-pura tidak melihat keberadaan Rika (karena malu kayaknya sama kelakuan Rika haha). Walaupun begitu, saat tidak sedang berdebat, keduanya bisa saling menghibur satu sama lain.

Pemeran Kanji di seri baru adalah Ito Kentaro, yang terus terang saja dibandingkan dengan Oda yang terlihat dewasa - Kentaro masih terlihat anak-anak di sini. Namun hal ini membuat posisi Rika-Kanji di kantor sebagai senior-yunior lebih tampak terlihat. Entah apakah sengaja dibuat berbeda atau ada maksud lain, Kanji versi Kentaro sangat canggung setiap berhadapan dengan Rika. Berbeda dengan Kanji versi Oda yang tidak butuh waktu lama untuk membalas godaan-godaan Rika, Kanji versi Kentaro masih terlihat bingung dan gugup setiap Rika menggodanya. Akibatnya, Kanji versi baru ini lebih sering mengikuti maunya Rika (sejauh episode 2 ini).



Satomi Sekiguchi yang ditaksir Kanji sejak duduk di bangku sekolah, sekarang adalah seorang guru taman kanak-kanak. Pekerjaan yang pas sekali dengan sosok Satomi yang lembut, sopan, manis dan terus terang saja - labil, haha. Satomi yang berhasil membuat persahabatan Kanji dan Mikami sempat goyah ini tidak banyak berbeda di versi 1991 dan 2020. Narimi Arimori yang memerankan Satomi di tahun 1991 terlihat lebih plinplan, irit bicara dan sering salah menangkap maksud perkataan orang lain.

Sementara Satomi di Tokyo Love Story 2020 yang diperankan Ishii Anna - walau sebagian besar perilakunya sama - nampak lebih memiliki keberanian dalam berpendapat. Salah satunya, Satomi versi Anna mampu menghardik Mikami yang tidak mengindahkan pesan orangtuanya. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan Satomi di tahun 1991. Sepertinya sedikit perbedaan karakter ini membuat saya bisa sedikit menyukai sosok Satomi.

Satomi versi 1991 itu klemer-klemer banget ampun deh, sebel lihatnya lambat banget gerakannya haha.



Kenichi Mikami adalah sosok bad boy berhati rinto yang disukai banyak perempuan, tapi pada akhirnya tidak akan ada yang memilihnya sebagai pasangan hidup. Kalimat itu keluar dari mulut Mikami sendiri sebenarnya, menyadari dengan sepenuhnya kalau dirinya bukan pria yang bisa dibanggakan. Mikami 1991 yang diperankan oleh Yosuke Eguchi ini sungguh bad-boy dan menyebalkan sekali perangainya. Tingkah lakunya seenaknya, walaupun terhadap Satomi, perempuan yang sebenarnya ia taksir.

Berbeda dengan versi 1991, Kiyohara Sho memerankan Mikami versi bucin Satomi. Baru 2 episode saja, mereka berdua sudah pacaran dan Mikami dengan sukarela langsung meninggalkan semua perempuan-perempuan lain yang dekat dengannya, Menarik melihat perkembangan sosok Mikami di Tokyo Love Story 2020 ini.

Kisah Rika-Kanji yang everlasting
Saya sudah menonton dua episode awal Tokyo Love Story 2020 dan sedang menonton-ulang Tokyo Love Story, untuk membandingkan dari segi cerita. Sejauh ini, versi 2020 memiliki pace cerita yang lebih cepat dan selain lebih modern, juga lebih vulgar. Adegan seksual Rika dengan sang atasan dan Kanji sudah menghiasi dua episode awal serial ini. Jadi, hati-hati ya kalau ingin menonton versi 2020 ketika di tempat umum LOL.

Tokyo Love Story 2020 baru saja tayang 29 April 2020 lalu, dan seterusnya akan tayang seminggu sekali setiap hari Rabu sebanyak 11 episode (plus 1 episode spesial kalau mengikuti versi 1991). Dorame versi baru bisa ditonton di viu dengan teks bahasa Indonesia atau Inggris. Sementara untuk yang penasaran dengan versi lamanya, bisa cek di vidio (mumpung ada yang upload lengkap).

Berikutnya teaser Tokyo Love Story 2020


Sejauh ini saya sangat menikmati dua versi dorama ini. Dua-duanya sangat menyegarkan untuk saya. Tokyo Love Story untuk saya selalu identik dengan Rika Akana yang enerjik dan membuat saya selalu tersenyum melihat tingkahnya. Sementara Tokyo Love Story 2020 membawa saya menikmati kehidupan kaum muda urban di Tokyo, dengan tidak adanya satu tokoh pun yang mencolok, sehingga saya bisa menikmati interaksi di antara mereka.

Kamu sendiri, lebih suka versi yang mana?

Simak juga cerita remake versi Mamah Merah selanjutnya ya!