Wednesday, September 2, 2020

Alasan Menulis Blog Versi Astiwisnu.com

 

alasan menulis blog

Sudah cukup lama tema alasan menulis ini muncul di pikiran saya, tapi selalu urung untuk menuangkannya. Mungkin karena saya sendiri merasa masih kurang banyak menulis, sepertinya kok belum pantas ya menuliskan alasan menulis saya kalau belum punya banyak pengalaman.  

Padahal sebenarnya, menulis itu banyak manfaatnya dan tidak perlu memiliki bakat khusus untuk memulai. Menulis manual, cukup mengambil selembar kertas dan pulpen/pensil lalu mulai menggoreskan isi pikiran. Lebih mudah lagi, mengingat hampir semua orang memiliki ponsel, membuka ponsel dan mulai menulis - di notes, aplikasi percakapan, status sosial media, apa saja.


Minggu ini, saya baru saja dapat ilmu keren terkait Mahir Menulis dan Editing Blog. Judulnya memang mahir menulis dan mengedit, tapi sebelum sampai sana, tentu harus tahu dulu alasannya mulai menulis.

Alasan Menulis untuk Diri Sendiri 


Untuk saya sendiri, alasan menulis ini lebih banyak mendominasi. Saya memulai untuk kembali akrab dengan hobi masa kecil ini sejak dua tahun terakhir. Entah mengapa, dorongan untuk membagikan cerita dan lebih bagus lagi apabila ada pengalaman nyata yang terselip di dalamnya begitu besar.

Kutipan di bawah ini cocok sekali untuk saya:

Kutipan alasan menulis untuk diri sendiri

lebih baik menulis untuk diri sendiri dan tidak memiliki pembaca, daripada menulis untuk orang lain namun kehilangan diri sendiri

Sebuah tamparan banget ya, ternyata sebaiknya alasan menulis sangat baik apabila dimulai untuk kepentingan diri sendiri. 

Kenapa juga kita harus menulis untuk diri sendiri?

Melepaskan Penat


Dear Diary,

Duh, masih ingat enggak sih masa kecil ketika menuliskan curhatan sehari-hari di buku rahasia yang kalau sampai ada yang baca, rasanya ingin mati saja? 😆

Sebenarnya, semakin dewasa justru kehidupan semakin kompleks dan lebih banyak hal yang bisa diceritakan. Anggap saja seperti curhat, tapi dibagikan ke ranah publik. Siapa tahu ada yang pernah mengalami kejadian yang sama bisa memberi saran atau sekadar tebar pukpuk.

Menyalurkan Hobi


Salah satu alasan menulis saya adalah menyalurkan hobi masa kecil yang terlupakan ketika beranjak dewasa. Padahal dahulu kala, tugas mengarang ketika mata pelajaran Bahasa Indonesia tiba adalah momen kesukaan saya. Duh, bisa panjang lah tulisannya. Saya ingat, guru dan teman SMA saya pernah terkejut dengan imajinasi saya saat mengarang bebas dengan tema 'kehilangan'. Ketika banyak teman-teman sekelas bercerita mengenai bentuk kehilangan fisik akan benda atau seseorang, saya bercerita tentang impian yang pupus. 

Berat banget ya untuk ukuran anak SMA 😅

Nah, siapa tahu hobi kamu dulu menulis dan sekarang karena banyak kesibukan yang melanda, jadi terlupakan. Ayo segera buka ponsel dan mulai menuliskan apa saja yang sedang dipikirkan otak saat ini. Tidak masalah apabila awalnya hanya dipenuhi dengan rutinitas rumah tangga atau pekerjaan misalnya, karena pengalaman nyata sehari-hari lebih seru untuk dibagikan dan dibaca juga lho.

Membagikan Pengalaman



Nah, pengalaman nyata sehari-hari ini membawa kita masuk ke alasan menulis untuk diri sendiri yang ketiga. 

Pengalaman adalah Guru Terbaik


Sering dengar kan istilah tersebut? 

Saya sendiri termasuk seseorang yang senang mencari ulasan tentang sesuatu hal melalui tulisan-tulisan di blog orang-orang.  Seperti saat ini ketika tengah mempersiapkan kelahiran saat masa pandemi, saya sering blogwalking tema-tema terkait 'pengalaman melahirkan di masa pandemi' atau 'pengalaman mencari lokasi persalinan di saat pandemi'. Spesifik pengalaman karena saya mau tahu secara real apa yang terjadi dan bisa lebih mempersiapkan diri.

Baca juga: Hamil di Masa Pandemi 

Jadi, jangan ragu untuk membagikan pengalamanmu ya. Banyak yang menunggu di luar sana. 

Sebagai Sarana Dokumentasi


Alasan menulis paling mudah dilakukan, dokumentasi sebuah momen, bisa perjalanan, acara atau kegiatan. 

Saya termasuk pelupa, karenanya saat mempersiapkan segala sesuatunya tuh harus detail dan terperinci. Namun, walaupun sudah dilakukan berulang-ulang (mis. mau melakukan perjalanan bisnis), selalu ada yang terlupa. Akhirnya browsing lagi terkait 'tips melakukan perjalanan bisnis yang efektif' atau tanya-tanya orang/teman sekantor.

Nggak efektif banget kan? Apalagi metode satu orang dengan yang lain bisa berbeda.

Solusinya? Tuliskan pengalaman melakukan perjalanan bisnis yang terakhir kali dilakukan, sedetail mungkin kalau bisa, sehingga setidaknya bisa jadi pengingat untuk diri sendiri.

Syukur-syukur ada yang butuh juga yaa...


Nah, adakah salah satu alasan menulis untuk diri sendiri yang sesuai untuk kamu?


Kutipan Alasan Menulis

Alasan Menulis untuk Orang Lain


Dunia saat ini ketika segala sesuatu dapat menjadi konten, sudah lumrah sebenarnya ya ketika seseorang menulis untuk orang lain. Walaupun sebenarnya ini bukan hal yang baru, surat kabar apa kabar, namun sekarang menjadi semakin mudah prosesnya. 

Saya sendiri tidak menampuk keinginan untuk menulis untuk kepentingan lain, apabila kalau demia cuan yaa 😎



Demi Cuan


Tentu saja alasan menulis pertama yang muncul ketika ditanya 'kenapa sih mau menulis untuk orang lain?'

Seperti sudah disinggung sebelumnya, dunia konten sekarang semakin berkarya. Siapa saja dapat membuat konten di bermacam platform, siapa saja bebas mengemukakan pendapat/ulasan/komentar sesuka hati. Jadi, kenapa tidak sekalian dimaksimalkan?

Brand-brand besar juga diuntungkan dengan sistem ini. Mereka dapat mengeluarkan biaya marketing yang sama namun dengan hasil yang lebih berdampak.

Bayangkan: membuat satu acara besar di TV dengan dampak penonton menyaksikannya sekali saja atau memberikan produknya pada para content creator secara berkala untuk di-posting sehingga calon pengguna dapat melihatnya muncul berkali-kali di timeline

Jangan remehkan 'the power of word of mouth' 👍


Membagikan Pengalaman Orang Lain


Walaupun menulis itu buat semua orang dan tidak memerlukan bakat khusus untuk melakukannya, namun untuk berbagi cerita yang baik tentu dibutuhkan teknik tersendiri. Bandingkan membaca karya tulis seorang penulis kenamaan dengan mereka yang baru kenal PUEBI, pasti terasa beda sekali kenyamanannya.

Demikian juga ketika seseorang memiliki kisah menarik untuk dibagikan, dan orang tersebut juga tidak keberatan apabila ceritanya dibagikan, namun ia tidak dapat menuangkannya dalam kata-kata. Bingung memulai dari mana, tidak tahu bagian mana yang harus diceritakan atau kasus paling ekstrem - takut menuliskannya karena akan membuatnya mengingat semua pengalaman tersebut sehingga tidak akan pernah menyelesaikannya.

Coba tengok kanan dan kirimu, mungkin ada kisah-kisah menarik dari orang yang kita kenal untuk dibagikan. 


Sarana Menyerap Ilmu Baru


Saat kita mulai menulis untuk kepentingan orang lain - entah itu klien atau menceritakan pengalaman teman - mau tidak mau ada banyak hal yang akan kita serap dari kegiatan ini.

Diminta menulis terkait tema keuangan, padahal sebelumnya topik ini sama sekali tidak pernah tersentuh. Diminta menceritakan ulang kasus teman yang mengalami PCOS, karena kita belum familiar dengan gangguan hormon ini, mau tidak mau harus mencari tahu dulu sebelumnya agar tulisan kita juga lebih bermakna.

Seru kan? Setiap melakukan kegiatan menulis, satu ilmu baru terserap.


Terpaksa Sosialisai


Eh, kok terpaksa?

Habis, dunia tulis menulis itu kan sebenarnya dunia yang sunyi. Hanya ada diri kita dan pikiran. Ketika harus menulis untuk orang lain, mau tidak mau harus banget bertemu orang dan mau tidak mau berperilaku seperti makhluk sosial yang beradab.

Terbukalah jaringan pertemanan yang pada akhirnya membuka pintu pada banyak kesempatan untuk menulis lebih sering lagi. 


Kenapa menulis



Sudah diberikan berbagai macam alasan menulis tapi belum juga tergerak untuk mulai menulis?

Jangan khawatir, mungkin insight dari Monica Anggen yang baru berbagi materi keren yang sempat saya singgung di atas bisa membantu atau menguatkan alasan menulis teman-teman.



Apapun Alasan Menulis, Pilih Satu yang Terkuat


Alasan yang paling banyak mencuat untuk motivasi menulis menurut Mbak Monica sudah saya tuliskan di atas: Uang dan Keinginan Berbagi.

Tidak ada yang salah dengan kedua motivasi tersebut, namun perlu diingat untuk memilih satu saja yang dirasakan paling kuat dan mewakili diri. Nantinya, satu hal ini akan selalu menjadi pengingat diri ketika menemui hambatan dan tantangan di jalan.

Untuk saya, sempat terpecah antara membagikan pengalaman dan sarana dokumentasi, karena agak mirip ya keduanya. Namun semakin ke sini, saya semakin condong ke sarana dokumentasi - ini berarti saya mencoba sedetail mungkin saat berbagi informasi (kalau bisa dengan foto dan bukti-bukti kegiatan) sehingga saat malas menyerang, saya ingat lagi tujuan menulis saya ini. Agar 5-10 tahun ke depan saya masih bisa mengingat momen-momen yang telah berlalu.


Pentingnya Menuliskan Ulang dan Perbanyak Referensi


Mau bercerita tentang pengalaman jalan-jalan ke Singapura kok sudah banyak yang cerita ya?
Harus mengulas satu produk tertentu tapi hanya dikasih panduan dari brand sebanyak satu halaman saja?

Membuat malas banget untuk mulai menulis ya. Kasus pertama sudah melemahkan di awal, karena berpikir enggak akan banyak yang baca. Sementara kasus kedua membuat kita jadi menuliskan saja apa adanya dari panduan dengan pengulangan beberapa kalimat (atau paragraf).

Sayangnya, kedua hal tersebut sebenarnya bisa dicegah. Mbak Monica menekankan pentingnya banyak-banyak mencari referensi terkait topik yang akan ditulis kemudian tuliskan dengan gaya kita. Setiap manusia berbeda, sehingga walaupun pengalaman yang didapat sama - tentu apa yang dirasakan dan dipikirkan pasti tidak 100% identik.





Menulis fiksi atau non fiksi



Menulis Fiksi atau Nonfiksi?


Mbak Monica sudah banyak sekali memiliki karya-karya tulis yang telah terbit dalam bentuk buku, baik berupa tulisan fiksi atau nonfiksi.

Mengutip dari laman Goodreads Monica Anggen, setidaknya ada 28 buku yang terpajang di sana. Walaupun Mbak Monica bilang lebih sering menulis buku nonfiksi, tapi nyatanya buku-buku fiksi beliau juga banyak sekali (dan saya sudah tertarik dengan beberapa judul - langsung masukin daftar TBR 😄)

Beberapa judul buku miliknya antara lain:

  • Nggak Usah Kebanyakan Teori Deh...!
  • Yakin Selamanya Mau Di Pojokan?!
  • 99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes
  • 99 Cara Mengasah Intuisi ala Sherlock Holmes
  • 99 Cara Perbedaan Mengelola Waktu Miliarder vs Orang Biasa
  • 99 Cara Bangkit dari Keterpurukan Miliarder vs Orang Biasa
Mengingat Mbak Monica aktif menulis baik fiksi maupun nonfiksi, simak sedikit yuk alasan mengapa harus menulis fiksi atau kenapa fokus di nonfiksi saja juga bisa.

Alasan Menulis Fiksi


Buku The Empty Heart



Aku tidak tau rasa itu datang. Kita seperti dua kutub magnet yang bersebrangan. Saling tolak menolak sekaligus selalu berusaha untuk tarik - menarik . Aku sama sekali tidak bisa melepaskan tatapanku darimu Aku tidak bisa membiarkanmu menghilang dari pandanganku. Karena ketika itu terjadi... Maka hatiku terasa kosong. - Jang Geun Seok -


Sebagai pecinta drama Korea, membaca blurb novel di atas tentu langsung tertarik dong. Apalagi ketika Mbak Monica cerita tentang alasannya menulis fiksi untuk kepuasan pribadi, saya sungguh setuju dengan pendapat ini.

Saya sendiri memulai rajin menulis novel dengan gaya bercerita fanfiction (tokoh di dalam cerita adalah selebritas ternama). Saat itu rasanya bahagia banget kalau ada sesama fans dari tokoh yang saya ceritakan ikut komentar. Rasa yang sama saya pertahankan saat mulai menulis novel dengan cerita yang saya buat sendiri. 

Bagaimana ya menciptakan sebuah dunia yang orang lain bisa related dan membuat mereka komentar 'duh, gue banget nih?'

Komentar-komentar seperti itu adalah pengalaman tertinggi yang bisa saya nikmati sebagai penulis cerita fiksi. 


Alasan Menulis Nonfiksi



99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes



Buku '99 Cara Berpikir Ala Sherlock Holmes' keluaran tahun 2015 ini menerima paling banyak ulasan di Goodreads. Membuat saya penasaran akan isinya, banyak banget habisnya sampai 99 hal dibahas.

Melihat dari cerita dan riwayat buku karya Mbak Monica, memang area nonfiksi mendominasi. Bisa jadi, karena memang banyaknya permintaan akan buku-buku sejenis dari penerbit. Tidak banyak penulis yang dapat menuliskan buku nonfiksi dengan gaya bertutur yang enak dan tidak terkesan menggurui.

Mungkin itu kuncinya.

Alasan menulis buku nonfiksi haruslah mampu membuat pembacanya dapat menyelesaikan keseluruha buku dan mengambil intisarinya, tanpa keburu jatuh tertidur di tengah-tengah buku (atau saat baru saja membuka kata pengantar).



Semoga dengan membaca sharing dari kelas Mbak Monica tersebut, teman-teman jadi memiliki motivasi menulis yang kuat ya saat ini.

Yuks, mari sama-sama mulai menulis.



 

Sunday, August 9, 2020

Merawat 'Inner Child' Sebelum Menjadi Ibu

 

Inner Child
Menjadi seorang Ibu adalah memulai perjalanan baru dengan memiliki rute yang belum pernah dilalui sebelumnya, tidak ada petanya dan tidak akan ada bocoran seperti apa lika-liku perjalanan yang akan terjadi nantinya. 

Pembahasan tentang inner child cukup populer beberapa tahun kebelakang. Cukup beruntung saya bergabung dengan support group birth club October 2020 yang rajin banget bikin kulwap, dimulai dari sesi pertama tentang 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu' yang dilakukan melalui metode kuliah whatsapp.

Narasumber psikolog handal Mbak Widya S Sari kali ini membagikan ilmu dan menjawab antusiasme calon ibu serta ibu-ibu yang haus ilmu dan ingin memperbaiki diri.


Apa itu Inner Child?


Inner child merupakan akumulasi peristiwa-peristiwa baik maupun buruk yang dialami anak dan membentuk pribadi mereka hingga dewasa - Psychology Today 

Bahasa lugas yang cepat dimengerti oleh kaum awam adalah sisi kekanak-kanakan yang dimiliki seseorang - kepribadian seseorang yang berlaku dan terasa seperti anak kecil. 

Mbak Widya sendiri menuliskan pengertian inner child adalah bagian dari konsep diri yang terbangun di masa kecil. Konsep diri ini kemudian menetap di alam bawah sadar dan berperan dalam menentukan bagaimana seseorang akan merasakan dan memberikan respon akan satu kejadian.

Masa kecil yang telah kita lalui tidak begitu saja kita tinggalkan di masa lalu. Sekecil apapun, masa-masa tersebut telah meninggalkan 'jejak'.


Inner Child


 Inner Child yang 'Terluka'


Jejak yang ditinggalkan dari masa kecil ini baru dapat terlihat ketika kita beranjak besar, atau malah sudah menetap sebagai bagian dari kepribadian sebagai orang dewasa. Jejak ini sebenarnya adalah luka yang disebabkan oleh trauma-trauma yang terjadi di masa kecil tadi. Jangan bayangkan suatu gangguan psikologis yang luar biasa dahulu ketika mendengar kata 'trauma', namun lihatlah akan perilaku-perilaku maladaptif yang terlihat selama ini.

Perilaku tersebut dapat saja berupa agresivitas, ketergantungan akan orang lain, persepsi diri yang negatif, harga diri rendah, suasana hati tidak stabil, emosional bahkan sesimpel adanya masalah dengan nafsu makan.

Perilaku-perilaku tadi dapat memicu masalah yang lebih besar lain, seperti:

  • Krisis identitas
  • masalah komitmen
  • melukai diri sendiri
  • Pelaku kriminal

  • Melakukan kebohongan berlebihan

Pangkal yang dapat ditarik dari trauma yang terjadi di masa kecil, bisa jadi:

Kehilangan orang tua · Kekerasan fisik atau kelalaian · Penyalahgunaan atau pengabaian emosional · Pelecehan seksual · Penyakit serius · Intimidasi yang parah · Bencana alam · Perpisahan keluarga · Menjadi korban kekerasan · Penyalahgunaan zat dalam rumah tangga · Kekerasan dalam rumah tangga · Penyakit mental anggota keluarga · Merasa terisolasi dari keluarga mereka

(sumber: Tirto.id)



Trauma Inner Child



Jadi, apa dong yang harus dilakukan kalau inner child kita sudah terlanjur terluka? 😔


Mengetahui Inner Child

Pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui terlebih dahulu inner child apa yang terluka dalam diri kita.

Tipe Inner child Carl Jung


Video berikut akan menjelaskan mengenai tipe-tipe inner child yang ada




Melalui narasi video tersebut, terlihat ada enam tipe Inner Child. Dilansir dari laman Jennifer Soldner, berikut penjelasan tertulis keenam tipe tersebut:

Orphan Child



Orphan Child Archetype


Kadang-kadang disebut sebagai anak terlantar, menunjukkan dirinya sebagai orang yang cenderung mandiri sepanjang hidupnya. Seringkali memiliki riwayat merasa kesepian, ditinggalkan secara emosional, lebih suka mempelajari berbagai hal sendiri, menghindari kelompok, dan menaklukkan ketakutan mereka sendiri.

Dalam sudut pandang negatif, pola dasar anak ini dapat mendorong orang lain menjauh sehingga merugikan mereka sendiri, mengisolasi diri mereka sendiri dan tidak membiarkan orang yang dicintai masuk. Mereka juga mungkin memberi kompensasi berlebihan dengan terus mencari keluarga pengganti untuk mengisi kekosongan emosional.

Wounded Child


wounded child archetype



Mereka menyimpan ingatan akan masa lalu yang penuh kekerasan atau traumatis, mungkin telah mengalami banyak pelecehan fisik dan emosional selama hidup mereka, sering kali di tangan lebih dari satu orang. Jika tumbuh dengan baik, ketika dewasa dapat memberikan belas kasih yang sangat dalam bagi orang lain yang menderita situasi yang melecehkan. Fokus mereka pengampunan serta membantu anak-anak yang terluka seperti mereka.

Namun, dalam sudut pandang negatif, anak ini mungkin tetap terjebak dalam pola pelecehan yang berulang dengan mitra, atasan, dan persahabatan. Mereka menjadi terbiasa menjadi korban dan menyalahkan semua masalah mereka pada masa lalu mereka yang tidak berfungsi.


Eternal Child


Eternal Child Archetype



Tipe anak yang selamanya muda. Menunjukkan karakteristik klasik kekanak-kanakan, menolak tumbuh dewasa, terus mencari cara yang menyenangkan dan menyenangkan untuk memandang kehidupan. Semacam Peter Pan, tipe ini bertekad untuk tetap awet muda dalam pikiran, tubuh, dan jiwa, dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dalam pandangan negatif, anak ini mungkin menjadi tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diandalkan, tidak mampu melakukan tugas orang dewasa. Mereka mungkin berjuang dengan batasan-batasan pribadi yang diterapkan orang lain dan menjadi terlalu bergantung pada orang yang dicintai untuk menjaga mereka.


Magical Child


Magical Child Archetype



Mereka selalu terpesona akan diri dan melihat dunia dengan berbagai kemungkinan yang ada. Seringkali tanpa beban, pola dasar anak ini mencari keindahan dan keajaiban dalam segala hal, percaya bahwa segala sesuatu mungkin. Mereka adalah pemimpi sejati.

Namun, bila tidak seimbang, pola ini bisa tumbuh menjadi pesimis dan tertekan. Keyakinan mereka dipadamkan dan mereka menjadi sinis terhadap hal-hal yang pernah mereka impikan. Mereka mungkin juga mundur ke dunia fantasi, mempelajari permainan peran, buku, atau film, kehilangan kontak dengan kenyataan dan mengambil sedikit tindakan dalam kehidupan sehari-hari.


Divine Child


Divine Child Archetype


Mereka mencolok akan kepolosan, kemurnian, dan kualitas yang hampir seperti Tuhan. Mereka memiliki keyakinan akan pengampunan dan sering kali terlihat beragama. Pola dasar anak ini mungkin tampak mistis dan surealis. Beberapa memilih pola dasar ini untuk diri mereka sendiri karena mereka tidak percaya mereka memiliki kemampuan ini di dalam diri, padahal bisa saja kekuatan ini ada, menunggu keseimbangan untuk mencapai potensi yang sesungguhnya.

Karakteristik negatifnya mungkin terasa lebih familiar. Pola dasar ini sering kali diliputi oleh energi negatif dan merasa tidak mampu membela diri. Mereka mungkin mudah marah dan tidak bisa mengendalikan diri saat menghadapi kejahatan, membuat mereka kehilangan kendali dan menakuti diri sendiri.


Nature Child


Nature Child Archetype



Pola dasarnya selalu terasa terkait dengan tumbuhan, hewan, dan bumi di sekitarnya. Mereka merasa paling nyaman saat dikelilingi oleh binatang dan mungkin memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam. Pola dasar ini sangat tertarik pada pemandu roh binatang dan sering memimpikannya.

Sisi lain mereka menyerang secara fisik pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin melecehkan hewan, tumbuhan, dan bahkan manusia. Terlepas dari hubungan mereka yang dalam, tipe ini menggunakan alam sebagai hukuman daripada kegembiraan

Tipe Inner Child yang Mana kah Kamu?


Setelah membaca semua penjelasan di atas, biasanya sudah ada gambaran diri kita tergolong inner child yang mana ya. Sehingga terlihat jelas perkiraan peristiwa di masa kecil yang menjadi 'trauma' untuk diri yang terbawa sampai besar. 

Namun, apabila belum yakin atau perlu memantapkan diri, bisa coba tes berikut untuk mengetahui tipe inner child kita:



Nah, sekarang semoga sudah ketahuan ya tipe Inner Child kamu.

Sekarang, kalau sudah tahu, untuk apa dong?


Berdamai dengan Inner Child


Berdamai dengan Inner Child


Balik lagi ke tema tulisan terkait 'Merawat Inner Child Sebelum Menjadi Ibu', setelah tahu kira-kira akar masalah kita apa, sekarang tentu saatnya 'merawat' atau 'berdamai' dengan inner child tersebut. Jangan sampai perilaku maladaptif yang muncul akan mengganggu hubungan dengan sang buah hati kelak kan yaaa...

Ada beberapa pilihan untuk berdamai dengan inner child kita.

Tetap Berpikiran Terbuka

Kamu tidak harus melihat inner child ini sebagai pribadi atau kepribadian yang terpisah. Sebaliknya, anggaplah mereka sebagai representasi dari pengalaman masa lalu. Akui, terima dan maafkan mereka apa adanya.

Bagi kebanyakan orang, masa lalu mengandung campuran peristiwa positif dan negatif. Keadaan ini membantu membentuk karakter serta memandu pilihan dan tujuan ketika beranjak dewasa dan pada akhirnya mencapai usia dewasa.

Observasi Anak-anak Kecil di Sekitar Kita

Anak-anak dapat mengajari banyak hal tentang hidup, dari menemukan kegembiraan dalam hal-hal kecil hingga hidup di saat ini.

Jika kesulitan memikirkan kembali pengalaman masa kecil yang menyenangkan, terlibat dalam permainan kreatif dengan anak-anak dapat membantu menghidupkan kembali kenangan ini.


Tinjau Kembali Kenangan Masa Kecil 

Menjelajahi ingatan dari masa lalu juga dapat membantu berhubungan dengan inner child.

Untuk melihat ke belakang, dapat mencoba aktivitas seperti membolak-balik album foto dan buku tahunan sekolah, atau membaca ulang buku harian masa kecil. Bisa juga dengan menonton film atau acara televisi dari masa kecil, atau membaca ulang beberapa buku favorit, juga bisa menjadi cara yang membantu untuk membangkitkan perasaan positif.

Jika orang tua, saudara kandung, atau teman masa kecil kamu memiliki cerita untuk dibagikan, kenangan ini mungkin membangkitkan perasaan dan kenangan yang benar-benar telah dilupakan.

Luangkan Waktu Melakukan Sesuatu yang Dulu Disukai


Saat mengenal inner child kamu, pikirkan tentang hal-hal yang membuat bahagia di masa kecil.

Mungkin bersepeda ke sungai setiap musim panas dengan teman-teman untuk berenang atau memancing. Atau mungkin menghabiskan liburan dengan membaca di loteng. Mungkin menghabiskan berjam-jam untuk kerajinan tangan, atau bermain sepatu roda lalu membeli camilan sepulang sekolah.

Sebagai seorang anak, kamu mungkin melakukan banyak hal hanya untuk kesenangan. Mungkin kesulitan mengingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu dalam kehidupan dewasa hanya karena itu membuat kita bahagia.

Aktivitas kreatif seperti mewarnai, mencoret-coret, atau melukis juga dapat membantu. Ketika kita membiarkan pikiran aktif beristirahat, emosi yang biasanya tidak dipertimbangkan dapat muncul.




Berbicara dengan inner Child

Salah satu cara terbaik untuk berhubungan dengan inner child adalah dengan membuka percakapan dengannya.

Menulis dapat menjadi alat yang ampuh untuk terhubung dengan inner child.

Menulis surat, atau menulis bebas tentang kenangan masa kecil, dapat membantu untuk menjelajahi pengalaman masa lalu dan memilah emosi yang terkait.

Cobalah menahan pikiran tertentu di kepala kemudian menuliskan surat atau latihan jurnal atau ekspresikan pikiran apa pun yang muncul di benak.

Kita bahkan dapat membingkainya sebagai latihan tanya jawab. Izinkan dirimu yang dewasa untuk mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, kemudian dengarkan bagaimana kira-kira respon inner child kita.

Tetapi pikirkan latihan ini sebagai cara untuk membangun dan memperkuat ikatan antara diri kita dan sang inner child. 



Mencari Bantuan Profesional


Apabila semua telah ditempuh dan masih terasa mengganggu, memicu ketidaknyamanan atau emosi yang menyakitkan, termasuk kesedihan, kenangan traumatis, dan perasaan tidak berdaya atau takut, maka carilah bimbingan dari seorang profesional kesehatan mental.

Jika memungkinkan, carilah terapis yang berpengalaman dengan terapi inner child. 

Belajar untuk "mereparasi" inner child dalam terapi dapat membantu untuk memulai menangani dan mengatasi masalah yang ada.




 
Jadi, sudah siapkah untuk merawat inner child kita?


 





Sunday, July 26, 2020

Hamil di Masa Pandemi





Saat pertama tahu hamil di awal tahun ini, sempat terkejut karena tidak menyangka sama sekali akan tiba saatnya (kembali) hamil. Setelah menunggu dari kelahiran anak pertama di 2015, keinginan menambah anak sebenarnya sempat sirna. Jadi tentu saja ini sebuah hadiah awal tahun yang luar biasa untuk saya. 

Sempat bingung karena di awal tahun ini, ada beberapa agenda aktivitas yang sedang dan akan saya lakukan. Berbeda dengan kehamilan di tahun 2015, di mana fokus utama saya hanya bekerja, dua tahun terakhir ini saya memutuskan untuk lebih fokus pada area pengembangan diri - salah satunya tentu mengikuti berbagai macam kegiatan dan komunitas. Selain itu, di tahun 2015 saya dan suami juga memiliki waktu kerja yang hampir sama - otomatis setiap hari kami selalu berangkat dan pulang kerja bersama. Tahun ini? Jam kerja kami sangat berbeda, mau tidak mau saya harus menggunakan transportasi umum. Padahal kalau melihat segi usia, sudah jauh sekali juga kondisinya dibandingkan lima tahun lalu haha. 

Kemudian entah apakah ini anugerah dari Tuhan atau caraNya memberikan kemudahan, pandemi terjadi dan segala sesuatunya (mau tidak mau) melambat. Saya pun memiliki alasan untuk mengurangi kegiatan dan fokus pada kehamilan.

Namun, masalah lain muncul. 

Bagaimana menjaga diri dan kandungan selama pandemi? Apakah aman memeriksakan diri di rumah sakit dalam kondisi seperti saat ini? Ketika menjelang saatnya bersalin nanti, bagaimana protokol yang akan berlaku? Dan sejuta tanya lainnya.

Tujuh bulan terakhir, ini yang saya lakukan.

Menghindari Rumah Sakit



Saat-saat awal memastikan kehamilan, saya masih memeriksakan diri di rumah sakit langganan - tempat saya melahirkan anak pertama. Awal Februari situasi di Jakarta masih sangat kondusif dan walau virus Corona sudah datang di berbagai belahan dunia lain, Indonesia belum menunjukkan adanya kekhawatiran akan datangnya virus ini.

Jadi, saya masih tenang temu kangen dengan obgyn favorite dahulu kala, yang juga menyambut kedatangan kami dengan bahagia. Akhirnya, kata beliau saat menyambut kami.

Masuk bulan ketiga, pemerintah mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia. Protokol kesehatan pun diperketat, terutama tentu saja rumah sakit. Rumah sakit tujuan saya juga menjadi rujukan pasien yang terkena Covid-19. Tentu saja saya mundur teratur untuk kembali kontrol kandungan.

Mulailah pencarian klinik bersalin, rumah sakit ibu dan anak atau rumah bersalin dilakukan. Apa saja yang meminimalisir pertemuan dengan pasien sakit. 

Setelah mencoba satu rumah bersalin dekat rumah, yang tentu saja fasilitasnya kalah dengan rumah sakit langganan, saya pun tidak tahan untuk tidak kembali lagi ke obgyn langganan. Namun saat kontrol, sungguh shock sekali melihat protokol rumah sakit yang sangat ketat dan obgyn yang memakai perlindungan ekstra. 

Bulan ketujuh ini saya mencoba klinik lainnya dan cukup puas untuk sekedar kontrol, karena klinik ini tidak menyediakan fasilitas bersalin. Bulan depan sudah harus kontrol lagi dan sampai sekarang, saya masih belum tahu akan kontrol kemana.

Tentu saja tidak kembali ke rumah sakit. Angka pasien terinfeksi masih sangat tinggi, better be safe than sorry.

Bergabung dengan Support Group



Birth Club (BC) atau komunitas support group yang terdiri dari ibu-ibu yang memiliki bayi dengan bulan atau tahun kelahiran yang sama, saat ini marak di Indonesia. Tren ini sepertinya sudah berjalan hampir satu dekade terakhir. 

Apabila sebelumnya komunitas ini banyak ada di forum-forum internet, beberapa tahun terakhir lebih banyak ditemukan dalam versi whatsapp group. Saya sendiri bergabung dengan komunitas bulan kelahiran anak pertama saya setelah satu bulan melahirkan. Telat mengetahui keberadaan komunitas tersebut pastinya.

Saya mendapatkan banyak manfaat dari bergabung dengan BC anak pertama saya, apalagi ibu baru kan ya, semuanya masih serba aneh. Di sini, saya bisa bebas berbagi cerita dan mendapat banyak masukan juga untuk berbagai hal. Mengingat anak-anak kami semuanya seusia, mudah juga untuk saling bertanya masalah-masalah tumbuh kembang anak. 

Berbekal pengalaman tersebut, kali ini saya lebih cepat mencari kalau-kalau ada komunitas BC untuk calon anak kedua saya. Mencarinya mudah kok, search saja di instagram dengan kata kunci: october2020 atau bcoctober2020 misalnya. Pasti ada saja yang sudah membuat akun instagram dan mengajak calon ibu-ibu yang akan melahirkan di bulan bersangkutan untuk bergabung. 

BC ini membantu saya untuk refresh persiapan (kembali) menyongsong bayi dan update dengan dunia perbayian yang sudah saya tinggalkan lima tahun lalu. 

Update Kondisi Setiap Saat



Terakhir dan paling penting, walau tampak menakutkan, tetap  harus selalu update akan perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia, terutama di daerah tempat tinggal kita.

Hamil memang bukan berarti sakit, tapi daya tahan tubuh juga berbeda dengan ketika tidak mengandung. Kali ini, ada satu nyawa lagi yang sedang kita bawa, jadi alangkah egoisnya apabila calon ibu tidak memperhatikan kesehatan diri dan sang jabang bayi.

Mengikuti perkembangan kasus Covid-19 sebenarnya salah satu cara saya untuk bertanggung jawab terhadap calon anak kedua saya, agar saya tahu apa yang sebaiknya saya lakukan dan tidak lakukan. Demi keselamatan bersama.

***

Apa saja yang sudah Anda lakukan di kehamilan selama masa pandemi ini?









Sunday, June 14, 2020

Narabahasa Mengingatkan Indahnya Berbahasa Indonesia

This cover has been designed using resources from Freepik.com

Mereka (mahasiswa) menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak perlu dipelajari karena mereka merasa sudah mampu menggunakannya dalam berkomunikasi sehari-hari dan merasa jenuh karena bahasa Indonesia sudah dipelajari sejak lahir.
Pengaruh Persepsi Mahasiswa atas Bahasa Indonesia dan Minat Belajar Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia; Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. II no.2 Juli 2015.

Anggapan tersebut tercetus dalam penelitian yang dilakukan seorang mahasiswi Sastra Indonesia di sebuah sekolah tinggi di wilayah Jakarta Selatan. Para subyek penelitian menganggap bahasa Indonesia sudah rutin mereka gunakan sejak lahir, sehingga kata-kata yang didengar tidak lagi asing. Informasi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik di tahun 2011 (yang diambil dari sini) juga menguatkan anggapan tersebut, 90% lebih penduduk Jakarta menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari.

Namun, artikel ini berkata lain.

Tidak hanya media di atas yang menyoroti terkait lemahnya penggunaan bahasa Indonesia di kalangan siswa, beberapa media lainnya pun sudah sering menyoroti terkait hal yang sama, dengan sudut pandang yang berbeda. Ada yang beranggapan penggunaannya kalah dengan bahasa asing, ada yang beralasan penggunaan bahasa daerah lebih mendominasi

Satu yang pasti, tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah. Secara tidak langsung, rendahnya minat membaca tentu berpengaruh dengan pemahaman dalam berbahasa. 

Kehadiran Narabahasa untuk Mengajarkan Bahasa Indonesia


sumber: twitter Narabahasa


Sosok Ivan Lanin tentu sudah cukup dikenal sebagai penggiat bahasa Indonesia. Aktivitas yang dimulai dengan aktif sebagai wikipediawan di tahun 2006, membawa Ivan Lanin menjadi pakar yang dikenal menganjurkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta rutin memperkenalkan padanan Indonesia dari istilah asing.

Sejak awal tahun 2020 ini, ketiadaan lembaga bahasa Indonesia yang mengajarkan bahasa Indonesia dengan benar membawa Ivan Lanin mendirikan Narabahasa. Dikutip dari situs resminya, Narabahasa adalah penyedia edukasi, konsultasi, publikasi, dan aplikasi kebahasaan dengan visi "kuasai bahasa, kuasai dunia". Walaupun usianya belum genap satu tahun, Narabahasa sudah rutin memberikan banyak pelatihan daring. Saya sendiri berkesempatan ikut dalam salah satu pelatihannya di akhir bulan Mei lalu.

Tahun 2018 saya sempat menyaksikan langsung Ivan Lanin sebagai salah satu pemateri dalam sesi BukaTalks-nya BukaLapak, dan terus terang saja saya cukup terkesan dengan materi yang dibawakannya. Banyak hal menarik yang saya dapatkan selama kurang lebih satu jam sesi yang dibawakan. Sehingga ketika saya mengetahui terkait kelas-kelas yang dibuka oleh Narabahasa melalui akun Facebook mereka, tentu saja saya sangat tertarik mengikuti. Kapan lagi saya mengikuti sesi yang langsung dipandu oleh Ivan Lanin?


Kelas pertama Narabahasa yang saya ikuti

Jadwal kelas daring mereka cukup padat, bahkan terkadang Ivan Lanin menggaet pembicara lain sebagai narasumber bersama dengan dirinya. Saya sendiri kemarin mengambil kelas Bahasa Media Sosial yang dimentori langsung oleh Ivan Lanin, tanpa narasumber pendamping. 

Mengingat usianya yang masih sangat muda, sangat terkejut sih melihat padatnya jadwal pelatihan yang dibuka. Nampaknya Narabahasa sangat memanfaatkan situasi pandemi saat ini, ketika banyak orang lebih banyak berdiam di dalam rumah. 


Bahasa Media Sosial


Photo by dole777 on Unsplash

Sesi yang dijadwalkan selama 2,5 jam ini berlangsung hampir tiga jam melalui media zoom. Peserta yang dibatasi maksimal 100 saja per sesi sebenarnya sudah terlihat cukup banyak untuk saya. Namun, metode zoom seminar yang dipilih ternyata cukup membuat diskusi nyaman, diskusi dapat berjalan satu arah saat Ivan Lanin memberikan materi dan baru dibuka untuk peserta ikut berdiskusi ketika sesi pertanyaan dibuka. 

Secara garis besar, ada tiga bahasan utama yang diangkat dalam sesi Bahasa Media Sosial ini: wacana yang akan disampaikan, keterampilan penggunaan bahasa dan tata bahasa serta ejaan. Tiga bagian besar ini masing-masing dibagi lagi dalam beberapa pecahan. Untuk sesi 2,5 jam, materi yang diberikan cukup padat dan tidak semua dapat dibahas dengan detail. Karena kurangnya waktu, hanya ada enam pertanyaan yang sempat diberikan oleh peserta saat sesi tanya jawab langsung.

Sisi bagus dari Narabahasa, mereka memberikan kesempatan peserta melemparkan pertanyaan terpisah setelah sesi yang notulensinya dikirimkan ke surel semua peserta setelah dijawab. Sangat rapi dan membantu peserta yang mungkin terlewat menyimak atau bertanya. 



Narabahasa juga mengirimkan materi pelatihan sehari sebelum pelaksanaan sesi, lengkap dengan tata cara bergabung melalui zoom sekaligus tata tertib kelas. Tujuannya tentu dapat dipahami, agar peserta lebih siap menghadapi sesi. Saya sendiri menyukai bagian pemberian materi di awal sesi, jadi saya dapat membaca dahulu apa saja yang akan diberikan dan menyiapkan pertanyaan yang mengusik. Walau terus terang saja, selama sesi saya sedikit terganggu dengan cara Ivan Lanin yang membacakan materi dengan detail, padahal para peserta dapat melihat sendiri. Akan lebih baik apabila Ivan Lanin lebih fokus dengan pemberian contoh sehingga peserta dapat memahami maksud dari teori yang ada.

Selain materi, Ivan Lanin juga mengajak peserta aktif berpikir. Sebelum sesi dimulai, dengan bantuan Kahoot!, peserta diajak untuk ikut menentukan mana kata yang baku dan tidak. Selama sesi, ada dua kali Ivan mengajak peserta latihan penulisan kalimat serta melakukan pengecekan ejaan yang benar. Kesalahan-kesalahan seperti penempatan tanda baca, ketiadaan subyek atau pengulangan kata yang tidak perlu ternyata sering ditemukan dan dianggap umum.

Baku Tetapi Tidak Kaku




Sama seperti yang ditekankannya di sesi BukaTalks di medio 2018 lalu, Ivan Lanin juga kembali menekankan tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang baku bukan berarti terdengar atau terucap kaku. Pemilihan diksi, penggunaan kata sapaan dan emoji, struktur kalimat yang enak dibaca dan didengar sampai selipan fatis (contoh: dong, deh, sih) dapat digunakan dan divariasikan. Khusus tentang fatis -kosakata yang tidak memiliki arti, namun membantu memberikan emosi- sendiri, Ivan Lanin menekankan tentang kekayaan ini yang tidak dimiliki bahasa lain. Fatis sering membuat orang asing yang belajar bahasa Indonesia menjadi bingung dalam mengartikan, sementara penggunaannya sendiri membantu meluweskan ucapan.

Misalnya saja, saat mengajak seseorang agar tidak terkesan memerintah, tentu lebih enak bilang ikut gue ke kantin sekarang, dong daripada ikut gue ke kantin sekarang bukan?

Berbahasa dengan baik dan benar juga dapat disesuaikan dengan konteksnya masing-masing. Misalnya saja media yang dipakai dalam berkomunikasi, situasi yang dihadapi sampai bidang yang ditekuni. Masing-masing tentu memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya saja, dalam salah satu pertanyaan yang diberikan peserta, Ivan Lanin dengan tegas menyatakan bahasa media sosial instansi pemerintah tentu tidak bisa santai karena bisa mencederai citra instansi. Namun, agar tetap terkesan familiar, bisa menggunakan teknik lain. 

Contohnya apa yang dilakukan OMBUDSMAN RI ini:


Teknik di atas dikenal sebagai teknik menunggang gelombang (riding the wave), terkenalnya poster film Korea Selatan yang menang Oscar tahun ini -Parasite- membuat banyak parodi poster yang sama dan mencuri perhatian masyarakat dengan cepat. 

Ivan Lanin memberikan banyak rujukan terkait bahasa Indonesia, untuk pilihan penggunaan kata dan kalimat yang tepat. Situs rujukan tersebut beberapa di antaranya sebagai berikut:

Tujuh situs dan atau kanal di atas dapat dipakai sebagai rujukan menemukan pilihan kata yang tepat untuk digunakan, agar kalimat yang akan disampaikan tidak terkesan kaku. 

Utamakan Bahasa Indonesia


Setiap selesai mengikuti sesi-sesi Ivan Lanin, saya selalu tercengang akan kekayaan Bahasa Indonesia yang seringsekali kita lupakan. Bukan karena tidak ingat, mungkin karena sudah terlalu biasa digunakan sehari-hari sehingga menjadi tidak ada yang istimewa. Ketika mencoba menelaahnya lebih dalam, ternyata banyak sekali keistimewaan Bahasa Indonesia yang belum saya ketahui dan merupakan keunggulan dibandingkan bahasa lain. 


Poster di atas selalu membuat saya sadar, mengutamakan Bahasa Indonesia bukan berarti melupakan keberadaan bahasa-bahasa lainnya. 

Sudahkah kamu mengutamakan Bahasa Indonesia?







Sunday, May 17, 2020

Review: Pelajaran Hidup dari The World of the Married


Bukan sekadar drama pelakor, the World of the Married memberikan banyak pelajaran hidup


Drama Korea (drakor) The World of the Married (TWOTM) besutan JTBC yang menjadi perbincangan sejak awal tayang, menutup episode final dengan rating tertinggi sepanjang sejarah TV kabel di Korea Selatan. Bukan sesuatu yang aneh, drama ini benar-benar memberikan cerita yang tidak bisa ditebak dan penuh plot twist sepanjang episodenya. Menonton setiap episode TWOTM tidak memberi ruang penonton untuk berpaling sedetikpun, karena setiap adegannya sangat bermakna walaupun tanpa dialog. Saya sendiri merasakannya terutama di episode 10, apalagi di menit-menit akhir. 

TWOTM memang konsisten mencatat rating tinggi sejak episode pertama, dan terus memiliki rating dua digit di episode ketiga sampai terakhir pada tanggal 16 Mei kemarin. Tidak hanya itu, di Indonesia pun, setiap akhir pekan TWOTM selalu memuncaki trending topic twitter. Banyak orang Indonesia yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti drakor, penasaran dengan drama ini dan memutuskan menontonnya. Saya sendiri yang sudah sekitar satu tahun tidak menonton drakor, akhirnya turun gunung juga karena melihat seringnya berseliweran di timeline haha.

Adaptasi dari serial BBC UK - Doctor Foster

TWOTM diadaptasi dari serial Doctor Foster yang ditayangkan BBC UK. Apabila Doctor Foster terdiri dari dua musim dengan total episode 10, maka TWOTM memiliki jumlah 16 episode. Menilik dari posternya yang terfokus akan adanya darah pada cincin pernikahan, sudah terlihat garis besar cerita yang akan terpusat pada dunia pernikahan. Serial Koreanya memiliki fokus pada pasangan menikah yang tinggal di kota kecil Gosan, tidak hanya pada masalah sang tokoh utama seperti serial aslinya. Perbedaan tersebut membuat drakor ini memiliki banyak pelajaran hidup yang dapat ditarik.

Postingan ini mungkin mengandung spoiler, karena mengandung semua yang terjadi dari episode awal sampai terakhir. Jadi, silakan berhenti di sini apabila belum menonton drakornya dan tidak mau tahu lebih jauh ya.

Mengakui Kesalahan Bukan Berarti Lemah, Melainkan Awal dari Berdamai dengan Diri Sendiri

ki-ka Da Kyung, Ye Rim dan Sun Woo

Ji Sun Woo, Yeo Da Kyung dan Go Ye Rim terlihat sebagai wanita yang kuat dengan pendirian masing-masing yang sulit digoyahkan. Ketiga wanita ini berusaha mempertahankan harga diri masing-masing, dengan berbagai cara, yang akhirnya malah menjerumuskan mereka pada penderitaan lain. Saat kita mampu mengakui kelemahan diri, jalan menuju kedamaian hidup pun tercipta. Ketiga wanita ini contohnya. 



Ji Sun Woo yang tidak lagi memiliki keluarga, hanya punya Joon Young sang anak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan keberadaan sang anak di sisinya. Keinginannya ini diwujudkan dengan berbagai cara, mulai dari memastikan Tae Oh sang mantan suami menjauh dari hidup anaknya (dengan membuat sandiwara yang hampir menewaskan dirinya), melabrak pembuat gosip yang mengganggu pikiran anaknya (yang ujung-ujungnya justru membuat sang anak malu), menyalahkan rekan psikiaternya karena menyembunyikan konsultasi yang dilakukan Joon Young sampai membela anak sepenuh hati tanpa pernah paham masalah yang menimpa anaknya serta mengatur seluruh aspek kehidupan si anak.

Ketika Joon Young muak dan akhirnya memilih tinggal dengan sang ayah, barulah Sun Woo terpuruk. Ia pun mencari bantuan ke psikiater. Sayangnya, di sini Sun Woo masih menyalahkan dirinya sendiri yang berujung dengan keputusasaan yang kembali hampir merenggut jiwanya. Pada episode final, ketika Joon Young yang kembali tidak tahan dengan sang ibu memilih melarikan diri, Sun Woo menyerah dan mengakui kesalahan dirinya. Selama ini ia selalu berusaha mempertahankan banyak hal namun tidak tahu apa yang sebenarnya penting untuk dirinya. Kali ini, Sun Woo membiarkan Joon Young dengan kehidupan barunya (dan cukup melihat dari kejauhan) dan menunggu sampai anaknya itu siap kembali ke pelukannya.



Yeo Da Kyung terus memiliki kecurigaan akan kelakuan suaminya, Tae Oh. Da Kyung curiga Tae Oh masih berhubungan dengan mantan istrinya, Sun Woo. Da Kyung bahkan menugaskan salah satu karyawan Tae Oh untuk memata-matai suaminya itu. Berbagai bukti yang diterima dari si karyawan, peringatan Sun Woo bahkan Ye Rim, yang terus menyebutkan tentang kelakuan Tae Oh yang tidak akan pernah berubah tidak digubrisnya. Salah satu langkah yang dilakukan Da Kyung untuk menyelamatkan pernikahannya adalah membawa Joon Young, anak Tae Oh dan Sun Woo, ke rumahnya. Da Kyung bahkan menyelamatkan Joon Young dari kemungkinan dikeluarkan dari sekolah demi membuat Tae Oh terkesan.

Da Kyung juga masih memberi Tae Oh kesempatan walau suaminya telah mengakui berselingkuh dengan Sun Woo. Ia melakukan apapun demi mempertahankan imej pernikahan yang sempurna. Namun, semuanya jatuh ketika Sun Woo kembali memperlihatkan pada Da Kyung seperti apa pribadi asli Tae Oh. Saat itu juga Da Kyung menyadari kebodohannya, dan memutuskan untuk bercerai lalu meninggalkan Gosan (untuk kedua kalinya). Memulai kehidupan barunya, Da Kyung kembali ke bangku kuliah dan melupakan cinta untuk sementara waktu.


Go Ye Rim adalah perempuan lain yang berusaha keras mempertahankan pernikahannya. Saya sempat kesal melihat perempuan ini mau saja menjadi bulan-bulanan suaminya. Je Hyuk, sang suami, terang-terangan memuji wanita lain di hadapan Ye Rim. Je Hyuk bahkan beberapa kali mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya didengar sang istri. Je Hyuk memperlakukan Ye Rim seperti pembantu, dan tidak pernah mau mendengar keinginan sang istri. Ye Rim pun bukan tidak tahu semua kelakuan sang suami di belakangnya, namun ia memilih bertahan. Ketika Je Hyuk berselingkuh dengan Sun Woo pun, dengan pongahnya Ye Rim mengatakan pada Sun Woo kalau hal itu tidak akan menghancurkan pernikahannya. 

Penyesalan pertama Ye Rim muncul ketika Je Hyuk yang tidak pernah menginginkan kehadiran anak, tiba-tiba saja menyetujui keinginan sang istri memiliki anak. Kebahagiaan Ye Rim bersifat sementara, karena di tengah-tengah euforia proses persiapan memiliki anak, Ye Rim kembali mengetahui sang suami selingkuh. Saat itulah Ye Rim memutuskan bercerai. Je Hyuk yang tidak ingin kehilangan Ye Rim, terus berusaha mendekati mantan istrinya itu sampai akhirnya mereka menikah kembali. Namun, sejarah perselingkuhan Je Hyuk membuat Ye Rim trauma dan memilih meninggalkan Je Hyuk (dan Gosan) selamanya. Melalui episode terakhir, terlihat Ye Rim bahagia dengan keputusannya ini, dan sang mantan suami malah sepenuhnya belum bisa move on.

Setiap Perbuatan Pasti ada Konsekuensinya dan Terkadang Karma itu Nyata Adanya




Melihat Lee Tae Oh terpuruk di episode 15 dan 16 pasti membuat semua penonton TWOTM bersorak gembira, saya salah satunya haha. Laki-laki yang sudah memiliki segalanya, dan melepas semua namun pada akhirnya tidak bisa sepenuhnya melepaskan kehidupan yang sudah ditinggalkannya ini benar-benar bikin emosi. Maunya apa? Sebelumnya sudah punya keluarga yang sempurna, namun ditinggalkan. Keluarga baru yang dimilikinya pun tak kalah sempurna, tapi masih saja ingin memiliki keluarga yang lama. Kan maruk ya. Sempat terpikir apakah pria ini akan menerima karmanya, karena setiap episode kok malah semakin jemawa dan enggak tahu malu ya. Namun akhirnya episode 15 memberikan jawabannya, Tae Oh kehilangan semua yang dimilikinya dalam satu hari. Salah satu adegan yang paling memorable buat saya ketika ia memungut uang yang dilemparkan Sun Woo, sungguh harga dirinya sudah jatuh ke titik terendah.

Kehidupannya semakin menyedihkan di episode 16, ketika ia memohon kepada Sun Woo untuk menerima dirinya kembali. Konsisten enggak tahu malu sampai episode terakhir ya pria ini. Namun, kepergian Joon Young akhirnya membuat Tae Oh sadar untuk menata kembali hidupnya.  Ia mulai mencari pekerjaan dan berusaha hidup lebih baik.


Episode 9 tentu paling ditunggu-tunggu untuk semua penonton drakor ini yang kesal banget sama Da Kyung. Kali pertama Da Kyung mengetahui kalau sang suami, Tae Oh, masih terobsesi pada mantan istrinya. Penggambaran adegannya pun persis sama ketika Sun Woo mengetahui perselingkuhan suaminya dulu di episode 1. Da Kyung yang terus mengabaikan semua peringatan orang tentang perangai Tae Oh yang tidak mungkin berubah (once a cheater, always a cheater), akhirnya merasakan akibatnya.

Walaupun banyak penonton mengutarakan kekecewaan mereka akan ending drama ini yang dinilai menguntungkan Da Kyung, mengingat ia mendapat kesempatan kembali ke bangku kuliah dan ditaksir cowok tampan pula, namun saya justru berpikir sebaliknya. Masa muda Da Kyung yang seharusnya menyenangkan, malah hancur karena bertemu Tae Oh. Da Kyung harus menerima kenyataan menjadi dewasa lebih cepat, memiliki anak sekaligus bercerai di usia muda. Saya pikir konsekuensi itu cukup berat untuk seorang perempuan yang seharusnya memiliki masa depan yang cerah, namun menghancurkannya karena salah mengambil keputusan.



Walaupun kelihatannya hidup Son Je Hyuk baik-baik saja setelah berpisah (kedua kalinya) dengan sang istri, Yerim, sebenarnya jauh di lubuk hatinya Je Hyuk tersiksa. Salah satu adegan di episode terakhir memperlihatkan Je Hyuk mengamati kue kesukaan sang mantan istri cukup lama. Ini sejalan dengan pernyataan Je Hyuk di salah satu episode, pria tidak akan mudah melupakan cinta yang datang sebelumnya. Walaupun saat mengatakannya, Je Hyuk merujuk pada kondisi Tae Oh, tapi di episode 16 ini terlihat kalau sebenarnya kata-kata itu lebih cocok disematkan untuk dirinya. 

Je Hyuk memang memiliki banyak ucapan yang pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Pada episode awal, pria ini juga menyebutkan tentang pria yang tidak mungkin bisa hidup dengan satu perempuan saja. Nyatanya, saat Yerim minta cerai pertama kali, Je Hyuk langsung tertekan dan kemudian berusaha memenangkan hati Ye Rim. Kim Young Min (pemeran Son Je Hyuk) memang sangat baik berakting sebagai pria playboy yang berhati Rinto, tidak heran kalau tahun 2020 ini ia pun menyabet nominasi Baeksang untuk kategori Best Supporting Actor.

Jadi, hati-hati dengan ucapan ya.


Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Jahat (atau Baik)

Tidak ada karakter yang sepenuhnya jahat atau baik di drama ini, termasuk Sun Woo. Namun, kudos terbaik saya berikan untuk dr. Sul Myung-Sook! dr Sul yang merupakan rekan Sun Woo di rumah sakit ini sejak episode satu sudah terlihat bermuka dua, kalah pokoknya ular. Sun Woo sampai bilang kalau temannya ini seorang agen ganda, terlihat mendukung Sun Woo namun di belakangnya, siap menjatuhkan. Perempuan ini pun konsisten melakukan peran agen ganda ini selama sembilan episode pertama, benar-benar definisi orang paling cari aman sedunia. Pokoknya apa yang akan dia lakukan, tergantung situasi mana yang menguntungkannya.

Episode 10 mengubah semuanya.



dr. Sul yang tertarik menggantikan posisi Sun Woo sebagai associate director di Rumah Sakit, tersinggung dengan ucapan dr. Kong (pemimpin rumah sakit) yang menolak permohonan naik jabatannya. Menurut dr. Kong, dr. Sul harus ingat kalau perempuan tidak seharusnya memiliki ambisi yang berlebihan, apalagi kalau single, tidak ada orang lain pula yang harus dinafkahi. Padahal, sebelumnya dr. Kong menawarkan posisi yang sama pada dr. Kim yang juga single, namun karena pria jadi dianggap lebih cocok memegang posisi tinggi.

Selepas kejadian itu, terlihat dr. Sul mengalami perubahan karakter. Ia mulai berempati pada Sun Woo yang harus menanggung stigma perempuan bercerai, karena dirinya pun memiliki stigma perempuan lajang yang ditempelkan padanya. Beberapa episode selanjutnya menunjukkan dr. Sul yang lebih positif dan bahkan memiliki teman kencan. Salah satu adegan yang saya sukai ketika dr. Sul minum-minum dengan Sun Woo dan Ye Rim (dimana keduanya telah bercerai), dia senang sekali karena akhirnya punya teman-teman yang lajang haha. 

Berikut beberapa kata-kata yang diucapkan dr.Sul untuk Sun Woo dan Ye Rim.




Saat Pernikahan Berakhir, Hubungan itu Tetap Ada dan (ketika ada) Anak Akan Menjadi Korban



Sesuai dengan judul drakor, The World of the Married, cerita yang disuguhkan di dalam drama ini semuanya terpusat pada dunia pernikahan. Awal cerita memang banyak fokus pada kemelut cinta segitiga Sun Woo - Tae Oh - Da Kyung, lalu merembet ke hubungan rumah tangga Ye Rim dan Je Hyuk, kemudian melebar ke beberapa hubungan tidak sehat. Seperti pernikahan Ketua Choi yang dipertahankan sang istri walau ia tahu suaminya selingkuh, hubungan pacaran Park In Kyu dan Min  Hyun Seo yang penuh kekerasan emosional sampai kehidupan dewasa lajang yang diwakili oleh dr. Kim dan dr. Sul. 

Saat Sun Woo dan Ye rim memutuskan bercerai, bukan berarti hubungan mereka dengan sang mantan suami putus. Sebaliknya, ikatan itu tetap ada. 



Ketika memiliki anak, maka relasi itu semakin nyata adanya dan tidak akan terputus. Satu ungkapan yang saya ingat, ada sebutan mantan istri atau suami, tapi tidak ada sebutan mantan ayah, ibu bahkan mantan anak. Sun Woo dan Tae Oh terus mengalami naik-turun hubungan karena adanya Joon Young di antara mereka. Mereka berdua berebut menunjukkan siapa yang pantas menjadi wali Joon Young, tanpa menyadari sang anak memiliki luka yang dalam

Luka pertama ditunjukkan Joon Young ketika Sun Woo melarikannya jauh dari ayahnya. Joon Young yang selama ini memang lebih dekat dengan sang ayah tentu saja protes. Tanpa berusaha memahami alasan Joon Young, Sun Woo malah merasakan ini sebagai ancaman akan kehilangan hak asuh sang anak, Ujungnya, seperti saya ceritakan sedikit di atas, Sun Woo merancang skenario yang membuat Tae Oh kehilangan hak asuh sekaligus hak mengunjungi. 

Luka berikutnya terus terjadi karena hubungan Sun Woo dan Tae Oh yang tidak stabil. Tanpa mereka berdua sadari, Joon Young harus menghadapi konflik batin tersendiri. Semakin mendekati episode final, semakin terlihat nyata kalau Joon Young adalah korban sebenarnya dari perseteruan ayah dan ibunya. 

Jeon Jin Seo si aktor cilik yang sangat baik memerankan konflik internal anak korban perceraian

karena itu, akhirnya...

Anak Juga Manusia


Walaupun anak berbeda usia jauh dengan orangtuanya, bukan berarti mereka tidak paham akan masalah yang menimpa kedua orang tuanya. Joon Young pertama kali mengungkapkan kekesalannya pada kedua orangtuanya ketika Sun Woo dan Tae Oh dipanggil ke sekolah karena laporan kekerasan yang dilakukan Joon Young (episode 13). Alih-alih mencoba memahami apa yang terjadi pada sang anak, baik Sun Woo maupun Tae Oh sama-sama tidak sabar mencoba mencari tahu penyebab sang anak melakukan kekerasan tersebut. 

Sebelumnya, dalam episode-episode awal, diceritakan Joon Young tidak pernah punya pilihan dalam berbagai kesempatan. Sun Woo selalu memilihkan kegiatan untuknya, sementara sang ayah tidak memiliki hak bicara sama sekali ketika Sun Woo sudah bertitah. Pada episode akhir, terlihat Sun Woo pun masih memilihkan pakaian untuk Joon Young. Namun karena hubungan mereka yang membaik, Sun Woo akhirnya mengalah dan mengatakan Joon Young dapat membeli pakaiannya sendiri.  



Hubungan yang baik antara Sun Woo dan sang anak, Joon Young, tentu tidak tercipta begitu saja. Semua dimulai ketika Sun Woo jujur menceritakan permasalahan dirinya. Tidak bersikap diktator seperti biasanya, Sun Woo memperlakukan Joon Young sebagai teman. Perlakuan ini pun terus diterapkannya ketika ia meminta pendapat Joon Young. Ia menyerahkan keputusan penting, yang juga terkait akan hidupnya sendiri, ke tangan sang anak.

Penting sekali untuk orang tua menyadari, kalau anak juga manusia. Mereka memiliki keinginan dan aspirasi sendiri. Awalnya memang berat untuk orangtua menyadari kalau keinginan anak mungkin tak sejalan dengan keinginan mereka, namun pada akhirnya, kepercayaan sang anak adalah taruhannya. Saat orangtua memperlakukan anak sebagai rekan satu level, saat itulah sang anak juga akan menghargai orangtuanya.

Pada akhir drama ini, Joon Young kembali terpuruk ketika melihat ibunya tidak dapat memenuhi janjinya. Sang ibu yang sudah berkata hubungannya dengan sang ayah berakhir ternyata masih terlihat gamang, dan akhirnya Joon Young memutuskan untuk melarikan diri. Lepas dari kekalutan hubungan kompleks ayah dan ibunya.


Masih banyak banget sebenarnya pelajaran yang bisa diambil dari drama ini, tapi nanti tulisan saya jadi essay ya haha. Satu yang pasti, pantas sekali untuk drakor ini memegang rating tertinggi pada setiap episodenya, terutama episode akhir. Episode akhir mengandung banyak sekali petuah-petuah hidup yang sampai saya menulis ini saja membuat saya banyak berpikir. 

Terutama ini:

Ngena banget ini kata-kata :(

Satu yang pasti, kita tidak pernah tahu perjuangan setiap orang. Dalam hidup, lakukan saja yang terbaik. Ikuti petuah istri ketua Choi berikut agar hidup (sedikit) lebih tenang, enggak perlu misuh-misuh ngomongin orang kalau diri sendiri saja masih punya banyak masalah.



Kalau Anda sendiri, apa yang terkenang dari drama ini?