Friday, August 3, 2018

Buka Talks: Menjadikan Bahasa Indonesia Bukan Pilihan

gambar dari sini
Kamis malam kemarin (2/8) saya menghadiri acara Buka Talks: Berkarya dalam Bahasa Indonesia yang bertempat di Aula Bukalapak, Plaza City View Kemang. Sungguh sangat jarang bukan acara baru semalam, hari ini saya sudah unggah ceritanya haha. Soalnya banyak sekali informasi baru yang saya dapatkan semalam dan ingin rasanya langsung berbagi.

Saya sendiri tertarik sekali datang ke acaranya karena salah satu pembicaranya. Ivan Lanin, seorang Ahli Bahasa yang menyebut dirinya Wikipediawan sejak tahun 2005, adalah alasan utama saya datang ke acara ini. Sosok Ivan ini menurut saya sungguh menarik. Seorang sarjana Teknik Kimia, kemudian melanjutkan magister pendidikan Teknologi Informasi,  kemudian berbelok menjadi penggiat bahasa Indonesia. Cuitannya di media sosial twitter seringkali menjadi viral dan, buat saya terutama, menohok. Ivan kerapkali berbagi terkait penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia juga tidak segan membalas pertanyaan dari 600 ribu lebih pengikutnya. Melalui sesi semalam, Ivan mengungkapkan sekitar satu dua jam waktunya dihabiskan dalam sehari untuk membalas setiap pertanyaan yang masuk.


Acara Buka Talks sendiri sebenarnya acara rutin yang diselenggarakan oleh market place BukaLapak, market place nomor satu di Indonesia saat ini. Saya sendiri terus terang bukan pengguna aktif BukaLapak, ada tempat belanja daring lainnya yang saya lebih suka, namun saya suka BukaLapak karena komitmen mereka terhadap dunia literasi. Bukan kali pertama mereka membuat acara yang terkait dengan literasi, bulan Juli lalu mereka mengadakan acara yang sama dengan judul 'Enriching Life Through Literacy'. Acara tersebut menghadirkan A. Fuadi dalam sesi 'The Power of Writing' dan Aan Mansyur membicarakan 'The Art of Saying the Unsaid'.

Sesi Agustus ini dengan mengambil judul: Berkarya dalam Bahasa Indonesia, tiga pembicara dihadirkan. Selain Ivan Lanin yang sudah saya singgung di atas, hadir juga Alanda Kariza (penulis) dan Sapto Anggor (Pimred Tirto.id). Oh iya, hari ini juga Tirto berulangtahun yang kedua, sehingga semua informasi yang dibagikan di situsnya hanya berupa infografik saja.

Acara dimulai pukul 18.30 sesuai undangan. Saya sendiri sampai sana pukul 18.20, lumayan cepat ternyata dari kantor sekitar setengah jam saja. Setelah menunjukkan aplikasi bukalapak di ponsel dan mengisi daftar absensi, saya diarahkan ke area aula. Oh iya, tiket acara ini walaupun gratis tetap harus dibeli melalui aplikasi ya. Saya coba beli di situs diarahkan untuk mengunduh aplikasinya. Cara yang jitu ya untuk membuat calon pelanggan terbiasa menggunakan aplikasi.

tiket acara semalam
Setelah melakukan pembelian, saya menerima tiket melalui surel. Agak janggal juga sih kenapa masih harus mengisi daftar absensi, bukan lebih enak pindai kode palangnya saja ya. Soalnya kan BukaLapak perusahaan yang pastinya sangat melek digital ya.

Baiklah, kita lupakan soal tiket dan kembali ke acara. Area kantor BukaLapak ini seru banget, khas kantor perusahaan rintisan (start-up) yang tidak biasa. Berwarna-warni dan banyak ornamen-ornamen unik. Saya melewati area santai dimana terdapat beberapa meja kursi untuk duduk-duduk dan bahkan terdapat gerbong kereta untuk makan di dalamnya. Duh, saya ga sempat foto di area ini karena saya pikir saya sudah telat ya, jadi segera masuk ke dalam. Sambil cari posisi duduk strategis juga sih, posisi duduk menentukan prestasi katanya kan haha.

gambar dari sini
seru ya lokasi panggungnya


Saya dapat tempat duduk sekitar tiga baris dari depan, jadi lumayan strategis untuk melihat panggung di hadapan saya. Acaranya ternyata tidak mulai 18.30, masih menunggu peserta yang lain sepertinya. Sambil menunggu, panita mempersilakan untuk mengambil cemilan dan botol air mineral yang disiapkan di sisi aula. Jadi, sambil menunggu, saya memilih menghabiskan waktu membuka beberapa akun media sosial saya. Tadinya mau membaca sebenarnya, saya selalu membawa buku kemana-mana, tapi cahaya di dalam aula kurang mendukung. 

Sekitar 19.05 acara baru dimulai dengan Ivan Lanin sebagai pembicara utama. Ivan membuka sesi dengan tema: Bahasa Indonesia itu Indah. Baru pembukaan saja sudah seru, karena ia mengganti kata BukaTalks menjadi BukaBincang. Menurutnya, kenapa harus pakai bahasa Inggris kalau Indonesia saja bagus lho. Haha. Tohokan pertama malam ini.


Ivan membuka sesinya dengan bercerita tentang riwayat dan sejarah Bahasa Indonesia. Banyak fakta menarik yang diungkapkan, dan dalam setiap penjabarannya ia selalu menyisipkan pesan untuk bangga dengan Bahasa Indonesia. Salah satu contoh yang ia ungkapkan terkait rekannya yang harus melakukan praktek kerja di luar Jakarta, temannya tidak perlu khawatir akan komunikasi karena dimanapun mereka berada, komunikasi yang dilakukan pasti dalam bahasa Indonesia. Apapun bahasa daerah yang dimiliki satu area tersebut. Bandingkan dengan Singapura misalnya, dimana mereka harus selalu menggunakan empat bahasa dalam setiap acara kenegaraan; Tamil, Inggris, Mandarin dan Melayu. Kebayang kan kalau semua pemilik bahasa hanya mau menggunakan bahasa mereka masing-masing.

Satu fakta lainnya yang diungkap adalah terkait kata serapan dari bahasa asing. Ivan mengungkapkan, 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah serapan. Ini juga satu kebanggaan, mengingat bahasa kita  berarti cukup luwes menerima berbagai bahasa lain untuk dijadikan bahasa kesatuan. 

Syarat-syarat dimana kata asing dapat diserap itu ada lima:
- Singkat, lebih singkat dibandingkan menciptakan kata baru
- Memiliki konotasi yang baik
- Masih terdengar enak
- Bentuknya masih seturut dengan kaidah Bahasa Indonesia
- Unik

Contohnya misalnya kata-kata berikut:
- Vegan ini lebih mudah diserap menjadi bahasa Indonesia karena secara pelafalan sesuai dengan ejaan dan struktur kata kita.
- Outbound ini tidak dapat diserap, karena untuk menuliskannya saja berbeda dengan pelafalan. Out seharusnya dibaca out kalau mengikuti kaidah bahasa Indonesia, tapi ini menjadi aut. Sehingga kata outbound diganti dengan mancakrida sebagai padanannya. Manca adalah luar, krida adalah kegiatan. Kegiatan luar ruangan.


Ivan juga memberikan beberapa contoh kesalahan dalam berbahasa, biasanya terjadi karena peluruhan atau penyambungan kata yang tidak tepat. Contoh yang diberikan beberapa awalan yang salah kaprah seperti penggunaan awalan di seperti di mana dan ke pada kepada. Contoh lainnya misalnya mengaji dan mengkaji. Ivan memberikan penakanan pada mengubah dan merubah yang paling sering salah kaprah. Tohokan kedua. 


Ivan juga menjelaskan, Baku tak Mesti Kaku. Ivan paham dengan komentar yang menyebutkan berbahasa Indonesia itu membuat percakapan atau tulisan menjadi kaku, formal, tidak luwes. Sebagai seseorang yang mengaplikasikan Bahasa Indonesia dengan baik sehari-hari, ia berpendapat bahasa kita itu luwes dan mudah menyesuaikan. Setidaknya ada enam aspek yang membuatnya bisa tetap baku namun tidak kaku, yaitu: pilihan diksi, struktur, intonasi, fatis, alih kode serta emotikon.

Diksi terkait pilihan kata yang dapat digunakan, tentu dalam suasana berbicara dengan teman di kafe dan rapat di kantor pilihan kata bisa berbeda. Bahasa Indonesia memiliki ragam diksi yang sangat banyak, belum lagi variasi bahasa daerah yang dapat menyertai. Banyak-banyaklah membaca, klaim Ivan untuk mendapat banyak informasi diksi. Struktur dan intonasi pun disesuaikan dengan konteks saat pembicaraan dilakukan, apakah formal atau kasual, kepada orangtua, rekan kerja atau teman.

Fatis adalah ilmu baru yang baru saya dapat semalam. Fatis adalah kosakata yang tidak memiliki arti, namun membantu memberikan emosi, sehingga tulisan menjadi lebih luwes. Contoh fatis adalah ah, eh, dong, deh, ih dan semacamnya. Fatis membantu kalimat menjadi terdengar lebih menarik dan tidak canggung. Sementara alih kode berarti menyesuaikan kata pada satu struktur kalimat dalam bahasa yang sama. Misalnya, daripada menyebutkan aku tuh selalu download di website ini bisa menjadi aku selalu mengunduh di situs ini. 

Terkait alih kode, ada cerita lucu sisa semalam. Pimred Tirto.id, Sapto, sempat tersindir karena salah satu materi presentasinya menggunakan judul sastrawi nan indepth bukan sastrawi mendalam. Sapto sempat meminta maaf terlebih dahulu sebelum memulai sesinya malam itu haha. Tohokan ketiga.

Sementara emotiko sendiri kita semua sudah familiar, terutama dalam ragam bahasa tulis. Emotikon adalah penyempurna akhir kalimat atau percakapan yang manis untuk memberi penekanan pada emosi yang ingin disampaikan. Apakah itu sedih, senang, kesal atau yang lainnya.

pesan terakhir dari sesi menyegarkan Ivan malam itu
Sesi kedua diisi oleh Alanda Kariza, seorang penulis yang telah menerbitkan buku pertamanya sejak usia 15 tahun. Alanda banyak bercerita pengalamannya dalam menulis berbagai buku yang telah diterbitkannya, baik fiksi maupun non fiksi. Sesinya lebih fokus kepada penggunaan bahasa Indonesia dalam karya.


Terkait penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Alanda mengungkapkan ia selalu malu dengan novel pertamanya. Novel tersebut sangat jauh dari kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga ia malu mengakui keberadaan novel tersebut. Satu hal yang mendorongnya untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah teguran seorang guru bahasa yang ditemuinya di salah satu acara. Guru tersebut mengungkapkan Alanda senang sekali memasukkan kosakata Inggris ke dalam novelnya, membuatnya seakan-akan tidak mampu menulis dalam bahasa Indonesia.

Karenanya, Alanda membagi periode waktu menulisnya menjadi dua; sebelum 2012 dan setelah 2013. Periode waktu pertama saat ia belum paham penulisan dengan baik, dan periode waktu kedua setelah ia cukup paham. Mungkin belum sempurna, tapi setidaknya jauh lebih baik dari periode waktu pertama.

Melalui sesi ini, ada dua hal berharga yang dibagikan oleh Alanda, yaitu tahapan untuk mengembangkan tulisan fiksi dan non fiksi.

Pengembangan tulisan fiksi dilakukan dengan tahapan berikut: ide/premis/tagline - sinopsi - plot - penokohan - pengadeganan - riset - menulis.

Sementara pengembangan tulisan non fiksi dilakukan dengan tahapan berikut: mencatat & menampung ide - mengembangkan konsep - membuat kerangka tulisan - riset - menulis.


Sesi terakhir malam itu dibawakan oleh Sapto Anggor, CEO sekaligus pemimpin redaksi Tirto.id. Media daring Tirto hari ini tepat berusia dua tahun dan menjadi salah satu rujukan berita yang dapat dipercaya. Sapto berbagi tata cara berbicara dalam media dgital serta perbedaan Tirto dan media lain.


Tirto bertujuan untuk menyajikan informasi berkualitas, berbasis fakta dan didukung data, analisa, ditulis secara menarik dilengkapi infografik agar mudah dipahami pembaca.
Tirto mengawinkan aspek jurnalisme dan sastra, mereka menyebutkan sastrawi mendalam, tidak sekedar mengawinkan antara jurnalisme dan sastra. Jurnalisme sastrawi diboboti beberapa atribusi khas yaitu mendalam, kaya dengan data dan informasi yang jadi latar belakang dan konteks, penuh rincian dan (seringkali) panjang, serta utuh.

proses kerja artikel sebelum diterbitkan di Tirto
Tantangan terbesar media daring adalah memberikan informasi yang menyenangkan pembaca namun tetap mendapat pendapatan. Apalagi untuk media gratis seperti Tirto, tantanganya bertambah agar pembaca saat itu tetap mendapatkan konten yang freemium kalau kata Sapto, free biaya berlangganan namun dengan kualitas konten premium. Haha.

Momen pilkada dan pilpres ini, tantangan media semakin besar untuk membantu melakukan pengecekan antara kata dan fakta. Apa yang diungkapkan para calon kepala daerah/presiden nantinya, dalam sepersekian menit harus mampu mereka munculkan datanya. Ini untuk melakukan serangan balik elegan terhadap data para kandidat yang tidak valid.

Acara berjalan cukup panjang sampai lewat pukul sembilan malam, dari sejatinya 20.30 sudah selesai. Saya sendiri tidak mampu berlama-lama ya, mengingat balik dari Kemang ini lumayan pe-er kalau sudah malam haha.


Terima kasih sekali untuk BukaLapak yang membuat sesi yang sangat bermanfaat ini. Membuat saya berusaha membuat artikel ini dengan bahasa Indonesia yang sebaik-baiknya dan mengeliminasi sebanyak mungkin bahasa Inggris yang bisa dialihbahasakan.

Pokoknya teringat selalu kalau Bahasa Indonesia itu bukan pilihan untuk kita diantara semua bahasa yang ada, tapi persyaratan wajib sebagai rakyat Indonesia. Mengingat keistimewaan serta kekayaannya.

lebih gampang bahasa Indonesia kan? haha

Ditunggu acara selanjutnya ya BukaLapak :)



8 comments:

  1. Bagus banget, Mbak Asti. Ini benar-benar bermanfaat untukku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada lagi ikutan bareng yuks, kalau dirimu available tentu saja haha...

      Delete
  2. Mbak,kalo judul dalam bahasa asing gimana dong? Seringnya kita buat untuk menarik pembaca..seperti Kirigami Heart misalnya..itu sah-sah aja atau gimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alanda juga judul-judul bukunya bahasa Inggris semua mbak, dengan alasan yang sama. Kalau nanya pendapat Ivan mah udah pasti ga setuju dia haha, menurut dia Bahasa Indonesia ga kalaj kaya dan unik. Balik ke masing-masing saja kali ya paling.

      Delete
  3. Baru tahu kalau Bukalapak mulai pro literasi. Infonya sangat bermanfaat mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. akupun baru ngeh setelah lihat-lihat tema event Buka Talks sebelumnya

      Delete
  4. Wah, terimakasih sudah berbagi informasi. Makin cinta deh dengan Bahasa Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata bahasa kita bagus yaa dan kaya sekali....

      Delete